Hari kedua Idul Fitri tahun ini terasa berbeda. Tidak terprogram, tidak ada itinerary yang disusun rapi. Semuanya berjalan begitu saja—mengalir seperti aliran yang nantinya akan kami temui di ketinggian.
Pagi itu, kami keduluan keluarga dari Surabaya datang mampir sejenak ke rumah. Mereka berencana pergi ke Mini Zoo bersama keponakan-keponakan. Kami tidak ikut dalam satu mobil. Entah agak siangan kami menyusul yang sebelumnya memang sedianya pagi ini kami bertandang duluan.
Kami bergegas bertandang ke rumah Mbak Sri, beberapa blok ke arah selatan. Di sana, kami bertemu Mbak Sri dan Wasid. Ucapan selamat hari raya mengalir hangat, diselingi cerita ringan—tentang hari ini, dan sedikit kilas balik cerita masa lalu menceritakan anak-anak mbak Sri saat kuliah, menjemput mereka malamnya, dan waktu berlalu sekarang mereka sudah berkeluarga.
Ada satu hal sederhana yang justru cukup menarik: suguhan kue yang berbeda dari yang kami punya di rumah. Kami mencicipinya satu per satu, perlahan, tanpa tergesa – yang ini menjadi guyonan kami. Hal kecil, tapi cukup untuk membuat pagi terasa lengkap di ruang itu yang tertata minimalis.
Waktu berjalan tanpa terasa. Kami berpamitan, beranjak siang, mendekati duhur. Kami sempat terpikir untuk menyusul rombongan keluarga ke Mini Zoo.
Sesampainya di sana, instingku justru mencari satu hal: tempat yang nyaman untuk duduk dan menikmati cerutu. Tapi tidak kami temukan. Tidak ada ruang yang benar-benar terasa pas—tidak ada kursi dengan sandaran yang mengundang untuk stay dan berlama-lama.




Kami tidak masuk ke wahana. Tidak tertarik dengan tiket terusan atau keramaian di dalamnya. Kami hanya mengambil beberapa foto satwa, mengirim pesan bahwa kami sudah sampai, lalu membiarkan grup enjoy dengan kerumunan yang mengalir bersama satwa. Mereka menikmati, dan kami bergeser mencari spot foto lainnya.


Di tengah itu, istriku mengingatkan—sejak pagi kami belum sarapan. Perut perlu diisi dulu.
Kami pun mencari sesuatu yang sederhana. Bakso atau rujak mungkin, yang jelas banyak warung yang tutup. Suasana Lebaran memang seperti itu—hampir semua orang menikmati quality time bersama keluarga, dalam hati kami bergumam itu tidak berlaku buat kebanyakan warung Madura yang tetap buka, meski dalam keadaan genting sekalipun – begitu kelakar kami bersama Supra X125 – berkendara sekaligus test ride untuk rem depan cakram dan karburator yang baru saja di servis sebelum lebaran.
Aku mengusulkan satu hal sederhana:
“Ya sudah, kita jalan saja ke arah utara. Kalau ada yang menarik, kita berhenti.”
Kami sepakat.
Perjalanan berlanjut. Lalu lintas lengang. Kami sempat berhenti untuk sholat duhur, memberi jeda yang menenangkan sebelum melanjutkan perjalanan, agar hati lebih ringan.
Arah kami menuju kawasan Gunung Pasang. Dalam pikiranku, tempat itu biasanya ramai—orang-orang kota datang untuk melepas penat.
Namun kali ini berbeda.
Tidak banyak motor terparkir, apalagi mobil. Justru di situlah kami menemukan sesuatu kebalikannya, dimana justru tempat wisata alam bukan menjadi destinasi populer.





Sepi.
Untungnya kami melihat motor penjual cilok setelah kami hampiri lebih dekat, dan kedai pop mie yang masih buka.
Di ketinggian sekitar 400 mdpl, dengan udara yang sejuk dan suasana teduh, pop mie panas dan cilok dengan bumbu kecap hangat terasa lebih dari cukup. Bukan soal rasa mewah, tapi soal momen yang tepat.
Dan di sinilah, akhirnya, aku benar-benar ingin menikmati cerutu.
Aku keluarkan sebatang Lonsdale dari kotak kecil, aku sempat berhenti sejenak—meraba wrapper-nya, menghirup aromanya, lalu mengambil satu foto sebagai pengingat dari perjalanan ini.






Di depan kami, aliran sungai terdengar jernih. beberapa anak kecil bermain air. Gemericik mengalir melewati batu-batu, dengan jembatan bambu yang tampak sederhana namun tertata alami. Tidak dibuat berlebihan, tidak dipoles menjadi atraksi besar. Playground istimewa bukan soal tiket mahal dan menawarkan banyak wahana—tapi memberikan sesuatu yang lebih esensial: ruang untuk benar-benar hadir.
Sebagai penutup perjalanan kecil ini, kami sepakat naik sedikit lebih tinggi, menuju sekitar 510 mdpl. Di sana ada sebuah tempat yang dikelola oleh pemerintah daerah dan Perhutani, Rimba Camp—sebuah kafe lengkap dengan camping ground dan cottage kabin segitiga yang muat sampai 5 orang.
Beberapa pengunjung terlihat di sana. Ada sekelompok laki-laki yang baru saja turun dari Tancak, tubuh mereka masih berkeringat dan menuntaskan pengalamannya dengan berendam di saluran kali -terdengar gurauannya.









Kami memesan kopi robusta dan pisang goreng.
Menyalakan sebatang Joker Lonsdale yang disusul dengan Rojo Blanco Panatela. Mengambil angel yang tepat untuk jejak digital di galeri ini.
Duduk, diam sejenak, lalu bercengkrama.
Momen ini sederhana. Alami. Tapi terasa mahal.
Kenapa mahal?
Karena belum tentu sebulan sekali kami bisa berada di titik ini. Padahal jaraknya hanya sekitar 14 kilometer dari rumah. Bukan jauh, tapi tetap saja tidak selalu terjangkau oleh waktu dan rutinitas.
Perjalanan ini bahkan tidak direncanakan jauh-jauh hari.
Dan mungkin, justru itu yang membuatnya berarti.
Di sela obrolan dan diam yang nyaman, pikiran mulai bergerak. Ide-ide kecil muncul disela gemericik—tentang langkah berikutnya, agenda selanjutnya dengan tambahan hiking ke Tancak, tentang usaha online cerutu yang ingin kami perkuat, tentang update konten website Griyacerutu dan Debako.
Mood yang ringan membuka ruang untuk berpikir lebih jernih.






Menjelang waktu ashar, kami bersiap pulang. Hujan sempat turun cukup deras, membasahi perjalanan kami sejenak setelah meninggalkan masjid. Tapi tidak lama.
Dan entah kenapa, semua terasa pas.
Kami pulang dengan hati yang riang. Plong.
Di perjalanan, aku sempat melirik dan tersenyum kecil pada Supra X125, ia sudah teruji di rute ini—dari awal hingga pulang, tanpa banyak drama.
Perjalanan sederhana. Tanpa rencana besar.
Tapi penuh makna.
Sampai jumpa di perjalanan berikutnya.
Enjoy your favorite cigar and coffee.
Good luck 👍


