Sabtu Pagi, Kopi Robusta, dan Percakapan Tentang Keberlanjutan

Pagi tadi Mas Gede menghubungiku lewat WhatsApp.

“Salam, Mas ada di rumah?”

Aku jawab singkat, “Ya di rumah.”

Tak lama kemudian, motor Mas Gede sudah terdengar masuk pagar depan. Sepertinya ia sedang agak terburu-buru karena masih harus mengantar paket ke JNT. Obrolan sederhana singkat itu, bakal berlanjut sepulang dari antar paket, ujarnya sambil berbegas start motornya.

Di saat yang hampir bersamaan, istriku baru pulang dari jalan pagi sambil membawa sayur dan beberapa jajanan. Aku memilih nasi jagung dan kami sempat berbagi beberapa sendok bersama. Setelah makan pelan-pelan, kebiasaan berikutnya tentu saja membuat kopi. Air panas sebenarnya sudah siap, tinggal dipanaskan kembali. Aku menyeduh beberapa gram bubuk robusta, tidak terlalu pekat, sesuai seleraku.

Tak sempat menungggu, rupanya Mas Gede sudah datang, bagiku tak begitu lama meski dia bilang ada tiga tempat yang di kunjungi. Aku langsung berkata, “Wah, kebetulan baru bikin kopi. Ini masih panas.”

Ia tertawa kecil sambil menjawab bahwa dirinya juga membawa kopi sendiri.

“Ayo kita seduh bareng.”

Dari situlah percakapan dimulai.

Kami berbincang tentang dunia kopi hari ini, terutama bagaimana industri kopi semakin kompetitif. Salah satu yang kami bahas adalah fenomena masyarakat desa yang justru lebih memilih kopi industri seperti Kapal Api dibanding kopi sangrai lokal, meskipun kopi lokal mudah ditemukan dan dekat dengan mereka.

Di situ kami sadar bahwa harga adalah hal yang sangat sensitif. Banyak orang akhirnya memilih kopi yang lebih murah, kopi sachetan – terlepas dari bagaimana kualitas atau kemurnian bahan di dalamnya.

Mas Gede kemudian bercerita tentang pengalamannya di Desa Badean. Suatu waktu ia diundang oleh kepala desa dan melihat langsung proses panen hingga pengolahan kopi di sana. Desa itu sebenarnya sudah memiliki bantuan alat pengolahan seperti huller, mesin roasting, dan perlengkapan lain. Namun menurutnya, masyarakat masih belum benar-benar memahami pentingnya proses dan ketelatenan dalam pengolahan kopi.

Karena penasaran, Mas Gede membawa sampel biji kopi dari desa tersebut untuk diproses sendiri di rumahnya. Biji itu ia sortir, ia roasting dengan lebih serius, lalu hasilnya dibawa kembali ke kepala desa.

Respons kepala desa cukup mengejutkan.

“Wah, kok enak sekali?”

Padahal kopi itu berasal dari desa mereka sendiri.

Ketika Mas Gede mencantumkan harga jualnya sekitar dua puluh ribu rupiah per seratus gram untuk robusta hasil proses tersebut, muncul keraguan dari pihak desa. Alasannya sederhana: masyarakat dianggap belum mampu menjangkau harga seperti itu.

Di situlah terlihat adanya jarak antara potensi kualitas dan realitas pasar.

Mas Gede juga bercerita bahwa beberapa pelanggan lamanya mulai beralih ke pemasok lain yang lebih murah. Banyak kedai kopi sekarang sangat sensitif terhadap kenaikan harga sekecil apa pun. Bahkan ada roastery dari Surabaya yang bisa masuk ke salah satu kafe di Jember karena menawarkan harga yang lebih rendah dibanding roastery lokal.

Tentu ada kompromi kualitas di sana.

Namun di sisi lain, kami juga memahami posisi para pemilik kafe. Mereka harus menghitung biaya operasional, menjaga margin, dan tetap bertahan di tengah persaingan yang ketat.

Perbincangan kemudian bergerak pada harapan-harapan kecil yang terasa hangat. Mas Gede ingin suatu hari membuka semacam coffee corner sederhana di rumahnya. Tempat kecil yang teduh, tempat orang-orang sekitar, tetangga, dan lingkaran pertemanan bisa menikmati kopi segar berkualitas sambil ditemani bakery rumahan.

Selama percakapan itu, tentu saja kami juga menikmati sebatang cerutu.

Aku memilih Johnny Half Corona, sementara Mas Gede tetap setia dengan Djanger Half Corona favoritnya. Rupanya perpaduan kopi robusta dan cerutu memang memiliki ritme yang cocok untuk percakapan panjang seperti ini.

Kurang lebih satu jam kami berbincang.

Di tengah obrolan itu, aku sempat mengatakan bahwa untuk usaha kecil seperti kami, yang paling penting sebenarnya bukan menjadi besar secepat mungkin, melainkan keberlanjutan. Semisal memiliki sepuluh pelanggan tetap yang terus kembali setiap bulan, terkadang sudah cukup untuk menjaga usaha kecil kami tetap hidup.

Mas Gede mengangguk.

Ia juga bercerita tentang pelanggan-pelanggannya yang tersebar di Jawa, Jakarta, Makassar, hingga beberapa pulau lain, itu sudah menjelaskan bagusnya sebaran customer. Namun di sisi lain, hubungan dengan petani juga terus berubah. Petani tidak selalu bisa memenuhi kebutuhan prosesor, sementara prosesor pada akhirnya tetap membeli hasil panen mereka dengan pembagian kualitas premium dan standar biasa.

Dan sering kali, kesepakatan sederhana seperti itu pun masih sulit dipenuhi. Petani kurang sependapata dengan cara itu.

Pagi ini menjadi pembuka yang hangat: robusta Jember, sebatang cerutu produksi Jember, dan percakapan panjang tentang kenyataan di balik secangkir kopi.

Semoga obrolan seperti ini terus berlanjut, bersama Mas Gede dan para prosesor kopi lainnya.

Cigar & Slow Living: Menikmati Ritme yang Tepat, Bukan yang Cepat

Cerutu dan Realitas Kehidupan Sehari-hari

Banyak yang mengira penggemar cerutu identik dengan gaya hidup berlebih, party, dan untuk mereka yang mampu. Namun tidak selalu.

Sebagian memang sudah berada di titik di mana kebutuhan pokok—makan, kebutuhan harian, dan utilitas—tidak lagi menjadi beban pikiran utama. Mereka produktif, punya pekerjaan tetap, dan menjalani hidup dengan ritme yang stabil.

Hari ini, bahkan seorang fresh graduate pun bisa menikmatinya dengan cara yang sederhana. Sebatang cerutu ukuran medium half corona, dengan harga terjangkau 10k IDR, bisa menjadi pelengkap ngopi.

Sepulang kerja, saat tubuh lelah dan pikiran penuh, duduk sejenak dengan kopi dan cerutu bisa menjadi bentuk terapi sederhana. Bukan untuk melarikan diri, tapi untuk meredakan.

Memberi ruang. Menurunkan ritme.


Dari Cerutu ke Slow Living

Di titik inilah aku mulai melihat hubungan yang lebih dalam.

Antara cerutu, kopi, dan slow living.

Kita sering mengira hidup yang baik adalah hidup yang selalu aktif. Selalu hadir. Selalu terlibat dalam banyak hal dan difollow banyak orang.

Padahal, tidak selalu begitu.

Kadang, justru dengan sedikit mundur—menjauh dari keramaian—kita menemukan ritme yang lebih tepat.

Energi yang tidak perlu dikeluarkan untuk hal-hal yang tidak penting, bisa dialihkan ke sesuatu yang lebih bermakna. Sesuatu yang lebih produktif. Bahkan, sesuatu yang bisa membentuk karya.

Slow living bukan tentang menjadi lambat. Tapi tentang menemukan pergerakan yang sesuai.


Ciri Sederhana dari Slow Living

Dalam perjalananku sejak mengenal cerutu dan kopi, aku mulai mengidentifikasi beberapa hal yang terasa berubah:

Hadir sepenuhnya (mindfulness)
Menikmati kopi tanpa distraksi. Duduk dengan cerutu tanpa tergesa. Fokus pada satu hal dalam satu waktu.

Memilih kualitas, bukan kuantitas
Lebih baik sedikit, tapi bermakna. Baik dalam barang, konsumsi, kepemilikan, maupun pengalaman, 

Hidup dengan sengaja (intentional)
Menentukan ritme sendiri, bukan mengikuti tren sosial atau sekadar takut ketinggalan.

Berani berkata “tidak”
Tidak semua undangan dan ajakan harus diikuti. Tidak semua peluang harus diambil.

Menikmati proses
Memasak sendiri, berjalan kaki, membersihkan dan merapikan ruangan, atau sekadar duduk lebih lama—semua menjadi bagian dari pengalaman, bukan sekadar hasil.

Mengurangi konsumsi impulsif
Lebih sadar dalam membeli. Lebih dekat dengan yang lokal, handmade bukan produksi massal, yang cukup.

Menjaga keseimbangan waktu
Ada ruang untuk bekerja, tapi juga ada ruang untuk diam. Untuk diri sendiri, dan untuk orang terdekat. Terapkan konsep minimalis pada ruangan dengan mengurangi distraksi pada barang.


Kenapa Cerutu Selaras dengan Slow Living

Cerutu, secara alami, tidak bisa dinikmati dengan terburu-buru.

Ia menuntut waktu.
Menuntut perhatian. Memilih tempat yang cocok.
Dan secara tidak langsung, mengajak kita untuk hadir dinikmati sendiri atau dengan grup kecil.

Itulah sebabnya kebiasaan ini terasa selaras dengan slow living.

Bukan karena cerutu itu “wah”, tapi karena prosesnya memaksa kita untuk melambat.

Dan saat kita melambat, banyak hal menjadi lebih jelas:

  • mana yang penting
  • mana yang hanya gangguan
  • mana yang layak diberi energi

Bagi sebagian orang yang lebih menghargai ketenangan, slow living menjadi pilihan yang relevan karena menekankan kesadaran penuh dalam menjalani setiap aktivitas. Gaya hidup ini juga cocok bagi mereka yang sedang mengalami burnout atau merasa jenuh dengan rutinitas yang padat. Menariknya, slow living tetap bisa diterapkan di kota besar, meskipun pada praktiknya seringkali terasa lebih mudah dijalani di lingkungan pedesaan.


Hidup dengan Sengaja, Bukan Sekadarnya

Cigar & slow living bukan tentang gaya hidup tertentu.

Mereka hanya medium.

Yang sebenarnya kita cari adalah ruang:

  • Ruang untuk berpikir
  • Ruang untuk bernapas.
  • Ruang untuk memilih dengan sadar.

Ini tentang cara kita mengatur ritme hidup.

  • Bahwa tidak semua harus cepat.
  • Tidak semua harus banyak.
  • Dan tidak semua harus terlihat.

Setelah memahami bagaimana menjalani gaya hidup slow living, kita bisa mulai mempertimbangkan untuk menerapkannya. Gaya hidup ini tidak menghalangi kita untuk tetap berkarya atau meraih kesuksesan—justru membantu menjalani hidup dengan ritme yang lebih manusiawi.

Empat Mahasiswa, Cerutu, dan Malam yang Panjang di Jember

Hari itu, empat mahasiswa dari Universitas Trunojoyo Madura datang berkunjung. Mereka adalah Habibi, Wahab, dan dua rekannya. Kedatangan mereka ke Jember bukan tanpa alasan—sejak sebulan lalu, mereka sedang menjalani magang di PT. Mangli Djaya Raya, Petung – satu fase belajar yang perlu ditempuh agar lebih dekat dengan dunia tembakau dari hulu.

Ketertarikan mereka membawa langkah ke Griyacerutu. Bukan hanya karena ingin mencoba cerutu, tapi juga karena rasa ingin tahu yang lebih dalam: tentang industri, budaya, dan bagaimana tembakau menjadi bagian dari sejarah panjang Jember.


Belajar dari Tanah, Bukan Hanya dari Buku

Selama empat bulan ke depan, mereka akan menjalani proses yang tidak sederhana:

  • melihat bibit tembakau,
  • memindahkannya ke tray,
  • menanam di lahan,
  • merawat hingga masa panen tiba.

Sebuah perjalanan yang mungkin tidak mereka temukan sepenuhnya di ruang kelas.

Menariknya, mereka berasal dari beberapa kota di Jawa Timur —dan dosen mereka merekomendasikan Jember sebagai tempat belajar. Ada satu hal yang dicari di sini: pengalaman langsung dari grower, dari tanah yang benar-benar diolah, dari praktik yang hidup.


Cerutu sebagai Pintu Cerita

Ini bukan kunjungan pertama. Sudah tiga kali mereka datang, dan setiap kunjungan selalu disertai rasa penasaran yang sama.

Mereka mencoba beberapa cerutu kecil—ringan, sebagai pembuka. Sebagian dibawa pulang sebagai oleh-oleh. Tapi yang lebih mereka nikmati bukan hanya rasanya, melainkan cerita di baliknya.

Tentang bagaimana budaya tembakau di Jember telah tumbuh sejak masa kolonial. Tentang bagaimana ketertarikan pada cerutu bisa bermula dari sesuatu yang sederhana—seperti yang kami alami sejak 2017.

Malam itu, cerutu menjadi medium sebagai pertukaran cerita.


Mencari Arah di Tengah Jalan

Di sela obrolan, muncul satu pertanyaan yang cukup jujur:

Seberapa besar pendidikan akademik berpengaruh pada kehidupan kerja?

Ada sedikit kekhawatiran di sana. Bahwa apa yang dipelajari di bangku kuliah seolah belum menjamin jalan hidup setelahnya.

Jawabanku sederhana:
tidak perlu terlalu dikhawatirkan.

Yang penting sekarang adalah menyelesaikan kuliah dengan maksimal. Lulus tepat waktu. Karena setidaknya, mereka yang menempuh pendidikan S1 sudah dibekali satu hal penting: cara berpikir analitis.

Dan itu bekal untuk bertahan.

Aku juga mengingatkan:
jangan terlalu sering membandingkan diri—baik dengan teman satu jurusan, maupun dengan cerita sukses orang lain. Di situlah sering kali kegelisahan justru muncul.

Realita kehidupan tidak berjalan seragam.


Tentang Jalan yang Tidak Selalu Lurus

Ada kemungkinan nanti:

  • pekerjaan tidak sesuai jurusan,
  • arah hidup berubah,
  • atau bahkan minat bergeser jauh dari apa yang dulu dipelajari di kelas perkuliahan.

Dan itu tidak apa-apa.

Yang penting, jalani dulu. Sampai nanti tiba di satu titik di mana keputusan berikutnya bisa diambil dengan lebih sadar—apakah akan tetap melanjutkan, atau mencari jalan lain.

Aku juga sempat bercerita, apa yang terbesit dipikiran: Kadang terlihat enak mereka yang bekerja kantoran dengan gaji tetap. Sementara aku harus terus menyesuaikan dengan ritme usaha, dengan order yang tidak selalu pasti.

Tapi di situlah hidup bekerja, tak bisa memilih – jalani saja.


Jember, Libur Lebaran, dan Rekomendasi Rute Rekreasi.

Di luar aktivitas magang, mereka juga memanfaatkan waktu di Jember dengan baik. Saat libur lebaran, mereka sempat mengunjungi Pantai Papuma dan Watu Ulo.

Aku sempat menyarankan satu tempat lagi:
ke arah utara, sekitar 14 km dari sini—Gunung Pasang.

Sebuah desa yang tenang, cocok untuk menikmati alam… atau sekadar menghisap cerutu dengan ritme yang lebih pelan.

Di sana ada Rimba Camp, di ketinggian sekitar 505 mdpl. Tempat yang cukup ideal jika mereka ingin melanjutkan perjalanan kecil menuju air terjun Tancak.

Salah satu dari mereka tampak antusias. Kata dia, sejak semester dua sudah menyukai aktivitas luar ruang.


Malam yang Terlalu Cepat Larut

Tanpa terasa, waktu berjalan. Jam sudah lewat tengah malam.

Obrolan masih bisa dilanjutkan, tapi malam itu kami sepakat untuk menyudahi.

Mereka berpamitan, lalu pulang berboncengan motor, menembus jalan malam Jember yang sudah sepi.


Tentang Harapan yang Sederhana

Sebelum mereka pergi, aku hanya mengingatkan satu hal:

jangan pernah benar-benar meninggalkan ilmu yang pernah dipelajari.

Walaupun nanti jalan hidup berubah, setidaknya tetap ikuti perkembangan keilmuan itu—sedikit demi sedikit walau tak semua. Karena di situlah bekal jangka panjang sebenarnya.

Sebab banyak juga yang akhirnya berjalan jauh dari jurusan kuliahnya, dan perlahan kehilangan koneksi dengan ilmu yang dulu pernah dipelajari, itulah realita.


Seperti biasa, setiap tamu yang datang selalu membawa satu hal:
Cerita baru atau update yang menarik.

Semoga langkah mereka dimudahkan. Semoga apa yang mereka usahakan hari ini, suatu saat benar-benar bisa membuat orang tua mereka bangga.


.

Cerita Pelan tentang Cerutu, Kopi, dan Hidup Secukupnya

Dulu, aku tidak benar-benar mempertanyakannya.

Uang datang, lalu pergi. Cepat. Hampir tanpa jeda—seperti telur panas yang dikupas sesaat setelah matang.

Setiap keluar rumah selalu ada saja yang ingin dibeli. Hal kecil semacam akssesoris, tapi sering. Bukan karena butuh, tapi karena terasa “ingin”. Dan keinginan itu, entah bagaimana, selalu terasa mendesak.

Seolah harus segera dipenuhi.

Waktu itu, aku pikir itu hal yang biasa. Sampai suatu hari, ritme itu mulai berubah.

Bukan karena aku mulai belajar budgeting. Bukan karena ajaran buku finansial.

Tapi aku mulai temukan saat duduk lebih lama – masuk ke ritme yang pelan

Dengan secangkir kopi dan sesekali, dengan sebatang cerutu.


Jeda yang Sering Kita Abaikan

Ada sesuatu yang berbeda ketika kita duduk dengan secangkir kopi dan menikmati cerutu yang baik.

Kita tidak terburu-buru. Kita tidak mengonsumsinya secara asal. Selalu pilih dan tentukan waktu dan tempat yang cocok.

Duduk diam, tanpa tergesa. Menyalakan cerutu dengan pelan, menghirup aromanya sebelum benar-benar dibakar. Lalu satu dua hisapan, tidak terburu-buru.

Kopi di samping, masih hangat. terdengar senandung musik lirih.

Waktu terasa melambat, di situlah aku menemukan satu hal yang selama ini hilang: jeda.

  • Jeda antara ingin dan membeli.
  • Jeda antara impuls dan keputusan.

Dari situ, perlahan aku mulai berubah. Setiap kali muncul keinginan untuk membeli sesuatu, aku mulai belajar menunda. Bukan dengan menahan secara keras, tapi dengan mengalihkan—duduk sejenak, menyalakan cerutu, menyeduh kopi.

Memberi waktu untuk mencerna, memberi pertimbangan:

  • Apakah aku benar-benar butuh ini? 
  • Apakah benar-benar harus diganti? 
  • Bisakah menunda untuk memberikan masa pakai lebih panjang?  
  • Atau hanya ingin karena fitur yang lebih lengkap dan canggih?

Dan seringkali, jawabannya datang dengan sendirinya.

Tidak perlu.

Di dunia yang terus mendorong kita untuk lebih cepat, lebih banyak, dan sikap mesti dapat sekarang juga—ritme pelan terasa seperti sesuatu yang langka.

Yang kita butuhkan adalah kopi yang kita sajikan sesuai versi masing-masing, bukan gaya petualang tanpa arah mencoba dari kedai satu ke kedai lain. Begitu juga dengan cerutu; simpan secukupnya saja dan order kembali saat stock menipis —ini juga untuk menjaga kualitas tetap optimal.


Simbol yang Berbeda.

Selama bergelut dengan industri cerutu, aku menyadari bahwa cerutu bukan lagi simbol kemewahan, juga bukan tentang selebrasi. Dan jelas bukan untuk dipamerkan.

Tidak ada yang benar-benar peduli kita menghisap cerutu atau tidak. Tidak ada dampaknya ke orang lain, ke follower, atau ke siapa pun di luar diri kita.

Dan justru di situlah letak kejujurannya. Cerutu adalah pengalaman yang personal.
Dan cukup dibagikan seperlunya saja dengan sesama penggemar cerutu dam kopi.


Sebagai seseorang yang tinggal di Jember—yang terkenal sebagai Kota Cerutu Indonesia—aku melihat ini dengan cara yang lebih sederhana.

Budaya cerutu seharusnya tidak jauh dari akar kerakyatannya.

Bukan eksklusif. Bukan mahal yang dipersulit, namun begitu dekat dan terjangkau.

Seperti duduk di teras. Seperti ngobrol santai. Seperti menikmati sore yang berlalu begitu saja.


Hidup Sesuai Kemampuan, Tanpa Merasa Kekurangan

Dari kebiasaan sederhana ini, aku belajar memberi ruang untuk menunggu sebelum mengambil keputusan:

  • Tidak semua keinginan harus diikuti.
  • Tidak semua peluang harus diambil.

Kopi dan cerutu, dengan cara yang sederhana, mengajarkan ruang itu.

Menikmatinya tidak harus sering. Tidak harus banyak.

Cukup di waktu dan tempat yang tepat—sebagai bentuk apresiasi terhadap diri sendiri.


Pada akhirnya, ini bukan tentang kopi. Bukan juga tentang cerutu.

Ini tentang belajar hidup sesuai kemampuan.

Tentang memilih dengan sadar. Tentang menikmati tanpa berlebihan.

Tentang menemukan kembali ritme yang pelan—di tengah dunia yang terus bergerak cepat, di situlah letak kemewahan yang sebenarnya:

Punya ruang untuk berhenti, tanpa perlu menunjukkannya ke siapa pun.

Tembakau Folklore: Kisah Elok dan Jejak Tembakau Jember

Di kota Jember, tembakau bukan sekadar tanaman. Ia adalah cerita panjang tentang tanah, manusia, dan tradisi yang diwariskan lintas generasi. Di balik hamparan daun tembakau yang menguning di bawah matahari, ada banyak tangan yang bekerja—termasuk tangan para perempuan.

Salah satu sosok yang ikut menjaga cerita itu tetap hidup adalah Elok, seorang pemerhati tembakau yang perlahan menemukan jalannya ke dunia cerutu melalui perjalanan yang bertahap.

Tumbuh Bersama Cerita Tembakau

Bagi Ibu Elok, dunia tembakau bukanlah sesuatu yang datang tiba-tiba. Hidup di Jember, yang dikenal sebagai salah satu kota tembakau di Indonesia, membuatnya sejak lama akrab dengan berbagai lapisan masyarakat yang berkaitan dengan industri ini—mulai dari petani, buruh, pekerja pabrik, akademisi, hingga pelaku bisnis.

Sekitar dua dekade lalu, ia terlibat aktif dalam program pemberdayaan anak-anak komunitas tembakau yang didukung organisasi internasional seperti UNICEF dan International Labour Organization. Dari sana, ia mulai semakin dekat dengan dinamika sosial yang mengelilingi industri tembakau.

Perjalanan itu berlanjut ke dunia riset dan penulisan. Beberapa penelitian tentang tembakau yang ia lakukan mendapat dukungan dari berbagai lembaga, termasuk Ford Foundation, serta kolaborasi dengan peneliti dari Leiden University yang meneliti sejarah sosial perkebunan tembakau.

Melalui proses itu, Ibu Elok tidak hanya melihat tembakau sebagai komoditas ekonomi, tetapi juga sebagai bagian dari sejarah dan budaya masyarakat.

Mengenal Lebih Dekat Industri Cerutu

Langkahnya semakin berlanjut ketika pada tahun 2012 ia terlibat dalam pengelolaan majalah Tobacco Information Center (TIC) di bawah Lembaga Tembakau Jember, sebuah unit yang berada di bawah naungan Dinas Perindustrian dan Perdagangan Provinsi Jawa Timur.

Melalui peran tersebut, ia mulai mengenal lebih dekat berbagai pabrik cerutu di Jember serta para pelaku industrinya.

Namun keputusan untuk benar-benar masuk ke bisnis cerutu baru muncul beberapa tahun kemudian. Sekitar 2018, ketika dunia digital dan marketplace mulai terbentukt, ia melihat peluang baru.

Dari sana, ia mulai belajar—memahami produk, pasar, hingga bagaimana memasarkan cerutu secara lebih luas. Sedikit demi sedikit, langkah itu berkembang hingga menjadi usaha yang ia tekuni sampai sekarang.

Empat Prinsip dalam Memilih Jalan

Bagi Ibu Elok, memilih pekerjaan bukan soal laki-laki atau perempuan. Ia memiliki empat prinsip sederhana sebelum memutuskan menekuni sesuatu: kemampuan, kemauan, peluang, dan sistem pendukung.

Jika keempat hal itu ada, maka sebuah pekerjaan layak untuk dijalani.

Karena itulah ia tidak melihat industri cerutu sebagai dunia yang hanya milik satu gender. Siapa pun—baik pria maupun perempuan—bisa terlibat selama memiliki kesiapan dalam empat hal tersebut.

Perempuan dan Industri Cerutu

Dalam pandangannya, pemberdayaan perempuan dalam industri cerutu tidak berbeda dengan dunia bisnis lainnya. Ada beberapa hal penting yang harus dimiliki:

  • meningkatkan kemampuan dan keterampilan
  • memahami produk secara mendalam
  • menguasai manajemen dan pemasaran
  • membangun jaringan dan relasi
  • mengembangkan branding
  • memahami dinamika persaingan pasar

Menurutnya, prinsip-prinsip ini berlaku bagi siapa saja yang ingin serius di dunia usaha—baik perempuan maupun laki-laki.

Dampak yang Lebih Luas

Bagi Ibu Elok, pemberdayaan perempuan bukan sekadar konsep. Ia melihatnya sebagai proses yang nyata.

Ketika seorang perempuan mampu memberdayakan dirinya dan menjalankan bisnis dengan baik, maka dampaknya akan terasa lebih luas. Dalam industri cerutu, hal itu berarti semakin banyak perempuan yang tetap memiliki pekerjaan—baik di sektor tembakau, pengolahan, hingga produksi cerutu.

Dengan kata lain, keberhasilan satu usaha dapat membuka peluang bagi banyak orang di belakangnya.

Makna Kesuksesan

Bagi sebagian orang, kesuksesan mungkin terlihat berbeda. Namun dalam dunia bisnis, menurut Ibu Elok, ada ukuran yang cukup jelas: target usaha.

Kesuksesan dapat dilihat dari beberapa hal sederhana—seperti pertumbuhan omzet, pangsa pasar, dan yang paling penting, kepercayaan pelanggan.

Selama seseorang terus belajar, memperkuat diri, dan berusaha mencapai target bisnisnya, maka peluang untuk berhasil akan selalu terbuka.


Di tengah cerita panjang industri tembakau Jember, sosok seperti Tembakau Folklore mengingatkan kita bahwa dunia cerutu bukan hanya tentang daun tembakau yang digulung dengan rapi. Ia juga tentang manusia, pengetahuan, dan keberanian untuk mengambil peran—termasuk oleh para perempuan yang bekerja di baliknya.

Kopi, Tembakau, dan Cerutu dari Jember

Pada kesempatan kali ini, Griyacerutu berbincang dengan Izul, seorang pecinta kopi dan tembakau yang tinggal di Jember.

Awal Ketertarikan pada Kopi dan Cerutu

Mulai kapan seorang Izul berminat di dunia cerutu dan kopi?

Untuk kopi, sebenarnya saya sudah berminat sejak lama, cuma dulu belum menemukan kopi yang benar-benar pas. Karena yang umum ditemui kan kopi sachet, jadi kecenderungannya ke kopi sachet. Setelah ketemu dengan Griyacerutu.com, literasi kopi meningkat lagi.

Kalau cerutu, awalnya jelas karena kecintaan saya pada tembakau. Saya memang perokok tembakau linting—pecinta tembakau. Tembakau dari Jember atau luar Jember, sedikit banyak sudah pernah saya coba. Lalu setelah ketemu Griyacerutu.com, saya pikir ada relasi kuat antara tembakau, rokok, dan cerutu. Tinggal memperdalam ke cerutunya saja.

Pandangan Tentang Jember sebagai Kota Cerutu Indonesia

Bagaimana pendapat atau sikap Izul tentang Jember sebagai kota cerutu Indonesia?

Saya sangat setuju dengan Jember dinobatkan sebagai kota cerutu Indonesia. Keberagaman tembakau di wilayah Jember itu banyak macamnya. Bahan baku cerutu bisa diambil dari petani lokal Jember, sehingga menghasilkan cita rasa cerutu yang variatif.

Dengan adanya cerutu, komoditas tembakau bisa naik level. Dulu Jember dikenal sebagai kota tembakau saja. Tapi dengan adanya produk cerutu yang bervariatif, harapannya bisa menembus pasar internasional.

Sumber Pengetahuan tentang Cerutu

Selama ini pengetahuan tentang cerutu didapat dari mana saja? Selain dari Griyacerutu.com, apakah ada kunjungan ke pabrik-pabrik cerutu?

Kalau kunjungan ke pabrik cerutu, masih menunggu ajakan dari Griyacerutu.com dong. Hehe.

Kesan Mengikuti Acara Cigarnight

Sebelumnya sempat ikut acara Cigarnight. Bagaimana kesan terhadap nuansa acara dan peserta yang sebagian besar generasi muda?

Kesan saya, suasananya seperti kembali ke rumah. Seperti suasana dapur zaman dulu di pedesaan—ngebul, penuh aroma tembakau murni. Dulu, saat harga rokok pabrikan masih mahal, banyak orang meracik tembakau sendiri, aromanya khas sekali.

Waktu di Cigarnight, perasaan itu muncul lagi. Apalagi acaranya banyak dihadiri anak-anak muda usia 20–30-an, bahkan ada yang masih mahasiswa. Ada live music dari Pak Imam juga. Menurut saya, luar biasa sekali untuk mengenalkan tembakau dan cerutu kepada generasi muda. Ini menegaskan bahwa Jember memang kota cerutu.

Cerutu itu milik kita, warga Jember. Kitalah yang harus memajukan komoditas tembakau di sini, bukan hanya jadi tempat singgah para miliarder untuk mencari untung.

Aroma Cerutu dan Kenangan

Saya sering menggambarkan bahwa aroma tembakau cerutu Jember bisa menghadirkan kembali kenangan atau suasana tertentu. Apakah Izul juga merasakan hal serupa?

Setuju. Aroma itu bisa menjadi pengingat. Bisa muncul kenangan-kenangan manis: waktu itu bersama siapa, di mana, dan suasana apa. Waktu itu tidak akan terulang, tapi aromanya bisa memanggil kembali memori itu.

Tadi sempat menyinggung tentang suasana “zero mind”. Maksudnya bagaimana?

Iya, “zero mind” itu maksudnya suasana ketika kita menikmati cigar dan kopi, apalagi dengan background lagu-lagu tertentu… wah itu luar biasa. Keren banget. Atmosfernya dapat sekali.

Wah ini mengingatkanku pada Inner Child pada seseorang meski telah dewasa, menurutmu gimana

Iya. Menurut saya, manusia itu sampai tua tetap membawa sifat “child”—anak kecilnya. Mainannya saja yang berubah. Nah, Inner child of mind itu berlaku untuk semua usia. Itu sifat psikologis manusia yang memang tidak hilang.

Kalau dikaitkan dengan industri cerutu dan kopi, ini sangat nyambung. Orang tetap butuh permainan, butuh “game”, hanya saja disesuaikan dengan usia dan status sosialnya. Kalau waktu kecil mainannya mobil-mobilan, setelah dewasa punya pendapatan, punya status sosial, bentuk “mainannya” berubah. Dan cerutu itu bisa menjadi salah satu bentuk permainan orang dewasa.

Itu juga berkaitan dengan hierarki kebutuhan Maslow. Ketika kebutuhan dasar sudah terpenuhi, orang mencari kesenangan yang lebih tinggi, termasuk pengalaman, lifestyle, dan kenikmatan seperti cerutu dan kopi.

Komunitas dan Rutinitas

Selain acara offline, apakah ada rencana membentuk komunitas rutin?

Ada. Komunitas cerutu yang ngumpul sebulan sekali itu sangat mungkin. Ide itu sudah masuk, dan menurut saya realistis. Bahkan minimal bisa dibuat dalam bentuk podcast audio.

Podcast dalam bentuk rekaman?

Iya. Tidak perlu setting berlebihan. Ada narasumber, ada moderator, lalu direkam apa adanya. Ambience suaranya itu yang bikin live. Supaya pendengarnya bisa merasakan suasananya.


Oke, nice untuk sesi kali ini. Terima kasih banyak, Izul.

Siap. Terima kasih kembali.

Traveler Malaysia di Bali Order Cerutu Indonesia

Tanggal 25 November 2025 sekitar pukul tiga sore, sebuah WhatsApp masuk ke nomor saya.

“Hi, can I ask if you shipped to Bali?”

Pesan singkat, langsung, menanyakan pengiriman dan seketika aku yakin dia mau order cerutu di kirim ke Bali. Sekarang, banyak traveler mancanegara mencari cerutu Indonesia untuk dinikmati selama liburan atau dibawa pulang sebagai oleh-oleh.

Saya membalas singkat.

“Sure, provide us with complete address. Have you found cigar of your choice?”

Tak lama kemudian dia langsung mengirim alamat pengiriman di Bali. Dari respon singkatnya, saya merasa dia sudah cukup tahu tentang cerutu yang ingin dicari. Dia juga mengirim wishlist beberapa varian cerutu yang ingin dibeli.

Saya cek satu per satu.

“All right, all are available.”

Percakapan kemudian berlanjut soal pengiriman dan pembayaran.

“How much is shipping and do you take online card payment or bank transfer only, or do you provide COD?”

Saya memilih menjawab singkat dan jelas.

“Please proceed via bank transfer. I will prepare the cigars and send athe picture to make sure all are available.”

Tak lama kemudian dia menjawab lagi.

“All right, thank you.”

Menariknya, setelah aku kirim gambarnya, dia kembali menambahkan dua varian cerutu lainnya ke dalam order. Ini pembeli benar-benar serius dan antusias.

Saya jawab sederhana.

“Oke.”

Saya kemudian memastikan ulang seluruh pesanan. Totalnya ada sepuluh item cerutu. Sebelum dikirim, saya foto semuanya agar buyer bisa mengecek kembali pilihan yang sudah disiapkan.

Ordernya cukup besar, jadi saya memutuskan memberikan bonus free ongkir.

Tak lama kemudian dia kembali bertanya.

“May I ask how long it’ll take to arrive?”

Saya jawab:

“2–3 days via JNE. Payment via bank transfer.”

Dia juga sempat bertanya apakah masih ada biaya cukai tambahan. Saya jawab tentu saja tidak ada karena dikirim di wilayah Indonesia.

Menariknya, sebelum transaksi benar-benar selesai, dia kembali menambahkan satu varian lagi: Joker Mareva. Akhirnya semua pesanan saya hitung ulang sesuai total terbaru.

Setelah semuanya fix, saya mengabarkan bahwa paket akan dikirim keesokan paginya.

“We ship the package tomorrow morning. Thank you.”

Sebelum packing ditutup, saya kembali mengirim foto dan memastikan alamat penerima.

“Please check once again for the recipient address.”

Dia menjawab:

“Perfect, thank you so much.”

Itu artinya alamat sudah benar. Lalu ada satu kalimat yang menurut saya cukup berkesan.

“And thank you for taking the time to pack everything and send pictures. Really appreciate the level of professionalism.”

Bagi saya, hal kecil seperti mengirim foto packing, memastikan alamat, dan menjelaskan detail pengiriman memang penting. Terutama untuk pembeli luar negeri yang sedang traveling di Bali dan mungkin baru pertama kali membeli cerutu Indonesia secara online.

Keesokan harinya paket dikirim dan nomor resi langsung saya berikan agar bisa ditracking.

Tanggal 28 November 2025 status paket dinyatakan terkirim. Saya kemudian menghubunginya kembali.

“Have you received the package?”

Dia menjawab dengan antusias.

“Yes, I have. Thank you so much for all of your help. The cigars look absolutely amazing and I cannot wait to dive into them. And you can definitely expect another order to come in the near future.”

Saya membalas singkat.

“Sure, you’re welcome.”

Dari percakapan sederhana itu saya menyadari satu hal: traveler yang datang ke Bali ternyata tidak hanya mencari pantai, sunset, atau beach club. Sebagian dari mereka juga mencari pengalaman menikmati cerutu sambil menikmati suasana tropis Indonesia.

Ada yang menikmatinya langsung selama liburan di Bali. Ada juga yang membawa pulang beberapa batang sebagai oleh-oleh dan aroma rasa perjalanan mereka di Indonesia.

Dan bagi saya, setiap paket cerutu yang berangkat ke Bali selalu membawa cerita kecil seperti ini.

BIN Cigar Menyebarkan Semangat Positif melalui cerutu dan komunitas

BIN (Boss Image Nusantara) Cigar menjalani lima tahun terakhir dengan aktivitas yang sangat dinamis. Bahkan sebagai penyelenggara utama pada event tahunan JKCI (Jember Kota Cerutu Indonesia). Perusahaan yang berdiri pada tahun 2012 ini tetap aktif menghadirkan berbagai seri cerutu premium terbaik, yang berasal dari perkebunan tembakau mereka sendiri di Jember, Jawa Timur.

Imam Wahid Wahyudi, sosok pemimpin yang ramah, menyambut kami dengan senyum hangat khasnya.
“Saya sangat antusias, terima kasih,” ujarnya membuka percakapan. “Selama kita happy, kesibukan kerja akan mengikuti saja.”

Saat berbicara mengenai perkembangan perusahaan, Imam menjelaskan dengan optimis. Menurutnya, cerutu lokal menunjukkan tren yang semakin positif dari tahun ke tahun, terutama dari sisi permintaan pasar. Pencapaian BIN Cigar juga meningkat cukup pesat, terutama setelah peluncuran Boslucks Repackaged Edition beberapa waktu lalu.

Ia menambahkan bahwa media sosial berperan besar dalam memperkenalkan cerutu BIN kepada masyarakat yang lebih luas. Melalui platform digital, berbagai informasi mengenai cerutu dapat disampaikan dengan lebih mudah sehingga semakin banyak orang mengenal produk cerutu Indonesia, khususnya para pecinta cerutu di dalam negeri.

Meski demikian, Imam mengakui bahwa kapasitas produksi BIN Cigar masih terbatas dibandingkan produsen besar lainnya. Namun dari sisi kualitas, ia yakin produknya mampu bersaing. Menurutnya, yang dibutuhkan saat ini adalah kerja sama serta dukungan dari berbagai pihak agar cerutu Indonesia dapat menembus pasar internasional dan semakin dikenal di dunia.

Dari sisi bisnis, perkembangan BIN Cigar juga cukup signifikan. Perusahaan ini telah berhasil mencatatkan omzet lebih dari Rp1 miliar sejak tahun 2016, dan terus menunjukkan pertumbuhan dari tahun ke tahun.

Tren menikmati cerutu atau yang sering disebut “nyigar” di kalangan pecinta cerutu lokal masih sering dianggap sebagai gaya hidup kelas atas. Namun Imam tidak sepakat dengan anggapan tersebut.

“Pendapat itu sebenarnya tidak sepenuhnya benar. Cerutu memiliki banyak variasi bentuk, rasa, dan harga, sehingga dapat dinikmati oleh berbagai kalangan,” jelasnya.

Bagi pemula, ia menyarankan untuk mencoba cerutu yang lebih ringan atau bercita rasa lembut terlebih dahulu sebelum beralih ke cerutu dengan rasa yang lebih kuat. Seiring dengan perkembangan ekonomi dan meningkatnya daya beli masyarakat, Imam percaya cerutu akan menjadi salah satu pilihan untuk dinikmati sebagai bagian dari gaya hidup.

Untuk menikmati cerutu dengan lebih maksimal, biasanya orang memadukannya dengan minuman tertentu. Namun Imam memiliki selera yang berbeda.

“Sebagian orang mungkin memilih minuman beralkohol, tapi saya pribadi lebih menikmati cerutu ditemani secangkir kopi,” tutupnya.

Ritual Minggu: Kopi, Cerutu, dan Menyusun Pikiran

Hari Minggu pagi ini aku sempat terbangun sebentar. Seperti kebanyakan orang, refleks pertama adalah membuka ponsel dan melihat sekilas apa yang terjadi di dunia. Tapi rasanya masih terlalu nyaman untuk benar-benar bangun. Aku pun kembali menarik selimut dan melanjutkan tidur, membiarkan mimpi yang setengah jalan itu berlalu begitu saja. Kadang mimpi yang tidak selesai justru terasa lucu—nanggung tapi tetap menyenangkan.

Sekitar pukul sebelas aku benar-benar bangun. Cuaca di luar mendung, udara terasa lebih dingin dari biasanya. Saat duduk bersila di lantai keramik kamar, dinginnya langsung terasa di kaki. Mungkin ini efek dari semalam tidur cukup larut setelah menyelesaikan satu artikel cigar review.

Aku belum langsung bergegas ke kamar mandi. Meski sebenarnya sudah cukup kebelet pipis, aku sempat menancapkan charger ke iPhone dan receiver bluetooth agar terisi sebagian baterainya. Setelah itu barulah mandi. Air yang menyentuh tubuh membuat badan kembali segar.

Hari Minggu ini tidak ada agenda mendesak. Orderan craft sudah selesai dikemas, nanti malam tinggal kuantar ke agen ekspedisi. Jadi pagi ini benar-benar terasa lapang.


Kopi, Cerutu, dan Ritme yang Pelan

Aku duduk di kursi kayu dan membuka sebatang cerutu half corona. Namun baru sadar kalau aku belum sarapan. Kue semalam yang masih tersisa di piring segera aku kunyah sambil menyalakan kompor untuk memanaskan air. Dalam hitungan menit air mendidih, lalu kutuangkan ke dripper V60 dengan ukuran mug.

Metode ini memang favoritku. Ritmenya pelan—air menetes sedikit demi sedikit melewati bubuk kopi. Kita dipaksa menunggu. Tapi justru di situ kenikmatannya. Ketika tetesan terakhir turun, suhu kopi biasanya sudah pas: tidak terlalu panas, dan aromanya langsung terasa.

Koreknya pun kunyalakan. Ujung cerutu half corona itu perlahan memerah sempurna. Punggungku kusandarkan pada kursi kayu menghadap keluar rumah.

Rasanya ada satu elemen lagi yang belum lengkap: musik.

Ritual ini selalu terasa lebih pas dengan iringan lagu dari Michael Franks atau Sade. Musik yang lembut, santai, dan tidak terburu-buru—seperti suasana Minggu pagi itu sendiri.

Aku mencabut charger ponsel. Baterainya sudah menunjukkan angka di atas 80 persen. Cukup untuk memutar podcast atau musik dari YouTube sepanjang hari dalam mode layar mati.

Dari headphone bluetooth, alunan lagu demi lagu terdengar jernih dan stereo. Tidak berisik bagi sekitar. Hanya ada aku, kopi, cerutu, dan musik.


Menyusun Pikiran di Hari Minggu

Waktu berjalan tanpa terasa. Satu jam berlalu begitu saja.

Di sela-sela itu, aku sesekali melihat layar ponsel. Dunia ternyata tetap bergerak cepat. Berita internasional menampilkan ketegangan baru konflik perang Rusia – Ukraina: serangan ke berbagai kota besar di Ukraina di barengi dengan Krisis Energi: Konflik memicu lonjakan harga minyak mentah dunia US$113,50 per barel.

Saat membaca berita itu, aku sempat terdiam. Betapa kontrasnya suasana yang sedang aku rasakan dengan realitas di tempat lain.

Di sinilah momen menyusun pikiran itu terjadi.

Ritual sederhana seperti kopi dan cerutu ternyata memberi ruang untuk menata kembali isi kepala. Dalam kesibukan sehari-hari, pikiran sering penuh dengan hal kecil: pekerjaan, pesan masuk, rencana yang belum selesai. Tapi ketika duduk diam, menghirup aroma kopi dan kepulan cerutu, semuanya perlahan melambat.

Aku mulai memikirkan apa saja yang ingin kulakukan minggu ini. Artikel apa yang ingin kutulis. Ide apa yang bisa dikembangkan. Bahkan hal kecil seperti bagaimana mengatur ritme kerja agar tetap sederhana tapi produktif.

Kadang menyusun pikiran tidak membutuhkan tempat mewah. Cukup kursi kayu, secangkir kopi, dan sebatang cerutu.


Mensyukuri Hal-Hal Sederhana

Sementara di belahan dunia lain konflik masih terjadi, kita di Indonesia pada hari Minggu ini masih diberi kesempatan menikmati ketenangan.

Kesempatan untuk bersyukur atas hal-hal sederhana.

Kopi yang hangat.
Cerutu yang perlahan habis terbakar.
Dan waktu yang cukup untuk menata kembali arah langkah.

Mungkin inilah esensi kecil dari sebuah ritual Minggu: berhenti sejenak dari hiruk pikuk dunia, lalu kembali menemukan ritme hidup yang lebih tenang.

Semoga kita semua selalu diberi kesehatan dan semangat untuk menjalani hari-hari ke depan.

Salam dari Griyacerutu.