Sabtu Pagi, Kopi Robusta, dan Percakapan Tentang Keberlanjutan

Pagi tadi Mas Gede menghubungiku lewat WhatsApp.

“Salam, Mas ada di rumah?”

Aku jawab singkat, “Ya di rumah.”

Tak lama kemudian, motor Mas Gede sudah terdengar masuk pagar depan. Sepertinya ia sedang agak terburu-buru karena masih harus mengantar paket ke JNT. Obrolan sederhana singkat itu, bakal berlanjut sepulang dari antar paket, ujarnya sambil berbegas start motornya.

Di saat yang hampir bersamaan, istriku baru pulang dari jalan pagi sambil membawa sayur dan beberapa jajanan. Aku memilih nasi jagung dan kami sempat berbagi beberapa sendok bersama. Setelah makan pelan-pelan, kebiasaan berikutnya tentu saja membuat kopi. Air panas sebenarnya sudah siap, tinggal dipanaskan kembali. Aku menyeduh beberapa gram bubuk robusta, tidak terlalu pekat, sesuai seleraku.

Tak sempat menungggu, rupanya Mas Gede sudah datang, bagiku tak begitu lama meski dia bilang ada tiga tempat yang di kunjungi. Aku langsung berkata, “Wah, kebetulan baru bikin kopi. Ini masih panas.”

Ia tertawa kecil sambil menjawab bahwa dirinya juga membawa kopi sendiri.

“Ayo kita seduh bareng.”

Dari situlah percakapan dimulai.

Kami berbincang tentang dunia kopi hari ini, terutama bagaimana industri kopi semakin kompetitif. Salah satu yang kami bahas adalah fenomena masyarakat desa yang justru lebih memilih kopi industri seperti Kapal Api dibanding kopi sangrai lokal, meskipun kopi lokal mudah ditemukan dan dekat dengan mereka.

Di situ kami sadar bahwa harga adalah hal yang sangat sensitif. Banyak orang akhirnya memilih kopi yang lebih murah, kopi sachetan – terlepas dari bagaimana kualitas atau kemurnian bahan di dalamnya.

Mas Gede kemudian bercerita tentang pengalamannya di Desa Badean. Suatu waktu ia diundang oleh kepala desa dan melihat langsung proses panen hingga pengolahan kopi di sana. Desa itu sebenarnya sudah memiliki bantuan alat pengolahan seperti huller, mesin roasting, dan perlengkapan lain. Namun menurutnya, masyarakat masih belum benar-benar memahami pentingnya proses dan ketelatenan dalam pengolahan kopi.

Karena penasaran, Mas Gede membawa sampel biji kopi dari desa tersebut untuk diproses sendiri di rumahnya. Biji itu ia sortir, ia roasting dengan lebih serius, lalu hasilnya dibawa kembali ke kepala desa.

Respons kepala desa cukup mengejutkan.

“Wah, kok enak sekali?”

Padahal kopi itu berasal dari desa mereka sendiri.

Ketika Mas Gede mencantumkan harga jualnya sekitar dua puluh ribu rupiah per seratus gram untuk robusta hasil proses tersebut, muncul keraguan dari pihak desa. Alasannya sederhana: masyarakat dianggap belum mampu menjangkau harga seperti itu.

Di situlah terlihat adanya jarak antara potensi kualitas dan realitas pasar.

Mas Gede juga bercerita bahwa beberapa pelanggan lamanya mulai beralih ke pemasok lain yang lebih murah. Banyak kedai kopi sekarang sangat sensitif terhadap kenaikan harga sekecil apa pun. Bahkan ada roastery dari Surabaya yang bisa masuk ke salah satu kafe di Jember karena menawarkan harga yang lebih rendah dibanding roastery lokal.

Tentu ada kompromi kualitas di sana.

Namun di sisi lain, kami juga memahami posisi para pemilik kafe. Mereka harus menghitung biaya operasional, menjaga margin, dan tetap bertahan di tengah persaingan yang ketat.

Perbincangan kemudian bergerak pada harapan-harapan kecil yang terasa hangat. Mas Gede ingin suatu hari membuka semacam coffee corner sederhana di rumahnya. Tempat kecil yang teduh, tempat orang-orang sekitar, tetangga, dan lingkaran pertemanan bisa menikmati kopi segar berkualitas sambil ditemani bakery rumahan.

Selama percakapan itu, tentu saja kami juga menikmati sebatang cerutu.

Aku memilih Johnny Half Corona, sementara Mas Gede tetap setia dengan Djanger Half Corona favoritnya. Rupanya perpaduan kopi robusta dan cerutu memang memiliki ritme yang cocok untuk percakapan panjang seperti ini.

Kurang lebih satu jam kami berbincang.

Di tengah obrolan itu, aku sempat mengatakan bahwa untuk usaha kecil seperti kami, yang paling penting sebenarnya bukan menjadi besar secepat mungkin, melainkan keberlanjutan. Semisal memiliki sepuluh pelanggan tetap yang terus kembali setiap bulan, terkadang sudah cukup untuk menjaga usaha kecil kami tetap hidup.

Mas Gede mengangguk.

Ia juga bercerita tentang pelanggan-pelanggannya yang tersebar di Jawa, Jakarta, Makassar, hingga beberapa pulau lain, itu sudah menjelaskan bagusnya sebaran customer. Namun di sisi lain, hubungan dengan petani juga terus berubah. Petani tidak selalu bisa memenuhi kebutuhan prosesor, sementara prosesor pada akhirnya tetap membeli hasil panen mereka dengan pembagian kualitas premium dan standar biasa.

Dan sering kali, kesepakatan sederhana seperti itu pun masih sulit dipenuhi. Petani kurang sependapata dengan cara itu.

Pagi ini menjadi pembuka yang hangat: robusta Jember, sebatang cerutu produksi Jember, dan percakapan panjang tentang kenyataan di balik secangkir kopi.

Semoga obrolan seperti ini terus berlanjut, bersama Mas Gede dan para prosesor kopi lainnya.

Abu Vulkanik: Ketika Petani Tembakau Belajar Bertahan


Tahun ini tepat 10 tahun kala erupsi Gunung Raung 2015 dikenang sebagai realita bencana alam yang pemberitaannya tak terbatas pada penerbangan yang dibatalkan, abu vulkanik yang sampai ke Bali, dan masyarakat terdampak yang setiap hari harus mengenakan masker dan sebagian masyarakat sekitar memperbaiki atap rumahnya.

Tetapi bagi petani tembakau di wilayah terutama Jember, Bondowoso, dan sekitarnya, erupsi Raung 2015 dikenang dengan istilah lain: mereka menyebutnya Musim Abu.

Turun perlahan dan bergerak menyebar disapu angin bukan datang sebagai bencana yang meledak, gerakan yang senyap perlahan, menempel di atap rumah, menutupi halaman dan yang paling menyakitkan: melekat di daun tembakau yang sedang dibesarkan dengan harapan.

Raung meletus berbulan-bulan. Aktivitasnya memuncak sekitar Juni–Juli 2015 dan terus berlangsung hingga sekitar enam bulan lebih dalam status waspada. Setiap pagi petani bangun bukan untuk merawat tanaman, tetapi menebak arah angin. Sebab arah angin menentukan: hari itu kebun membaik, atau kembali kelabu.

Di beberapa desa, orang-orang mulai hidup berdampingan dengan abu. Menyapu halaman, lantai teras; menjadi rutinitas. Sebagian mereka menutupi properti mereka dengan terpal.

Tetapi tembakau harus dibiarkan terbuka dan tak mungkin di bersihkan tiap hari


Seperti tahun tahun sebelumnya, petani dengan optimis menanam tembakau sampai musim panen tiba. Benih ditebar, lahan dirawat, pupuk dibeli, tenaga kerja dibayar. Semua dilakukan dengan keyakinan bahwa saat panen datang, hasilnya bisa mengembalikan biaya satu musim.

Namun musim 2015 arahnya beda.

Abu vulkanik menempel pada daun. Sebagian daun mengalami perubahan kualitas. Penampilan fisik yang biasanya menjadi penentu mutu mulai terganggu.

Ketika panen tiba, hasil yang mereka bawa tidak lagi bernilai seperti yang dibayangkan. Harga turun.


Kerugian sektor tembakau saat itu diperkirakan mencapai ratusan miliar rupiah. Angka yang sering disebut mencapai sekitar Rp340 miliar. Tetapi angka sebesar itu tidak pernah benar-benar menjelaskan isi dapur petani. Yang mereka tahu hanya satu: musim tak berpihak mereka yang ada adalah tagihan.

Saat itu bertepatan musim kampanye: biasalah janji-janji bantuan, perhatian, dan pembicaraan tentang kompensasi untuk petani terdampak. Tetapi seperti kampanye sebelumnya, menguap di kursi dewan.


Gudang dan pabrikan juga menghadapi persoalan baru. Debu vulkanik yang melekat pada daun memaksa penanganan tambahan.

Abu halus menempel pada permukaan daun dan memerlukan penanganan tambahan agar tidak mengganggu proses berikutnya.

Sortasi diperketat. Pembersihan bertambah. Tenaga kerja meningkat. Biaya produksi naik.

Musim itu menghadirkan situasi yang jarang terjadi: Industri mengeluarkan ongkos lebih besar. Petani menerima harga lebih rendah.


Erupsi Raung 2015 bukan sekadar catatan geologi bagi kawasan tembakau. Ia adalah bagian dari ingatan kolektif petani, tentang musim tembakau dan abu vulkanik.