Tembakau Folklore: Kisah dan Jejak Tembakau Jember

Di kota Jember, tembakau bukan sekadar tanaman. Ia adalah cerita panjang tentang tanah, manusia, dan tradisi yang diwariskan lintas generasi. Di balik hamparan daun tembakau yang menguning di bawah matahari, ada banyak tangan yang bekerja—termasuk tangan para perempuan.

Salah satu sosok yang ikut menjaga cerita itu tetap hidup adalah Elok, seorang pemerhati tembakau yang perlahan menemukan jalannya ke dunia cerutu melalui perjalanan yang bertahap.

Tumbuh Bersama Cerita Tembakau

tembakau folklore: kisah dan jejak tembakau jember

Bagi Ibu Elok, dunia tembakau bukanlah sesuatu yang datang tiba-tiba. Hidup di Jember, yang dikenal sebagai salah satu kota tembakau di Indonesia, membuatnya sejak lama akrab dengan berbagai lapisan masyarakat yang berkaitan dengan industri ini—mulai dari petani, buruh, pekerja pabrik, akademisi, hingga pelaku bisnis.

Sekitar dua dekade lalu, ia terlibat aktif dalam program pemberdayaan anak-anak komunitas tembakau yang didukung organisasi internasional seperti UNICEF dan International Labour Organization. Dari sana, ia mulai semakin dekat dengan dinamika sosial yang mengelilingi industri tembakau.

Perjalanan itu berlanjut ke dunia riset dan penulisan. Beberapa penelitian tentang tembakau yang ia lakukan mendapat dukungan dari berbagai lembaga, termasuk Ford Foundation, serta kolaborasi dengan peneliti dari Leiden University yang meneliti sejarah sosial perkebunan tembakau.

Melalui proses itu, Ibu Elok tidak hanya melihat tembakau sebagai komoditas ekonomi, tetapi juga sebagai bagian dari sejarah dan budaya masyarakat.

Mengenal Lebih Dekat Industri Cerutu

Langkahnya semakin berlanjut ketika pada tahun 2012 ia terlibat dalam pengelolaan majalah Tobacco Information Center (TIC) di bawah Lembaga Tembakau Jember, sebuah unit yang berada di bawah naungan Dinas Perindustrian dan Perdagangan Provinsi Jawa Timur.

Melalui peran tersebut, ia mulai mengenal lebih dekat berbagai pabrik cerutu di Jember serta para pelaku industrinya.

Namun keputusan untuk benar-benar masuk ke bisnis cerutu baru muncul beberapa tahun kemudian. Sekitar 2018, ketika dunia digital dan marketplace mulai terbentukt, ia melihat peluang baru.

Dari sana, ia mulai belajar—memahami produk, pasar, hingga bagaimana memasarkan cerutu secara lebih luas. Sedikit demi sedikit, langkah itu berkembang hingga menjadi usaha yang ia tekuni sampai sekarang.

Empat Prinsip dalam Memilih Jalan

Bagi Ibu Elok, memilih pekerjaan bukan soal laki-laki atau perempuan. Ia memiliki empat prinsip sederhana sebelum memutuskan menekuni sesuatu: kemampuan, kemauan, peluang, dan sistem pendukung.

Jika keempat hal itu ada, maka sebuah pekerjaan layak untuk dijalani.

Karena itulah ia tidak melihat industri cerutu sebagai dunia yang hanya milik satu gender. Siapa pun—baik pria maupun perempuan—bisa terlibat selama memiliki kesiapan dalam empat hal tersebut.

Perempuan dan Industri Cerutu

Dalam pandangannya, pemberdayaan perempuan dalam industri cerutu tidak berbeda dengan dunia bisnis lainnya. Ada beberapa hal penting yang harus dimiliki:

  • meningkatkan kemampuan dan keterampilan
  • memahami produk secara mendalam
  • menguasai manajemen dan pemasaran
  • membangun jaringan dan relasi
  • mengembangkan branding
  • memahami dinamika persaingan pasar

Menurutnya, prinsip-prinsip ini berlaku bagi siapa saja yang ingin serius di dunia usaha—baik perempuan maupun laki-laki.

Dampak yang Lebih Luas

Bagi Ibu Elok, pemberdayaan perempuan bukan sekadar konsep. Ia melihatnya sebagai proses yang nyata.

Ketika seorang perempuan mampu memberdayakan dirinya dan menjalankan bisnis dengan baik, maka dampaknya akan terasa lebih luas. Dalam industri cerutu, hal itu berarti semakin banyak perempuan yang tetap memiliki pekerjaan—baik di sektor tembakau, pengolahan, hingga produksi cerutu.

Dengan kata lain, keberhasilan satu usaha dapat membuka peluang bagi banyak orang di belakangnya.

Makna Kesuksesan

Bagi sebagian orang, kesuksesan mungkin terlihat berbeda. Namun dalam dunia bisnis, menurut Ibu Elok, ada ukuran yang cukup jelas: target usaha.

Kesuksesan dapat dilihat dari beberapa hal sederhana—seperti pertumbuhan omzet, pangsa pasar, dan yang paling penting, kepercayaan pelanggan.

Selama seseorang terus belajar, memperkuat diri, dan berusaha mencapai target bisnisnya, maka peluang untuk berhasil akan selalu terbuka.


Di tengah cerita panjang industri tembakau Jember, sosok seperti Tembakau Folklore mengingatkan kita bahwa dunia cerutu bukan hanya tentang daun tembakau yang digulung dengan rapi. Ia juga tentang manusia, pengetahuan, dan keberanian untuk mengambil peran—termasuk oleh para perempuan yang bekerja di baliknya.

Abu Vulkanik: Ketika Petani Tembakau Belajar Bertahan


Tahun ini tepat 10 tahun kala erupsi Gunung Raung 2015 dikenang sebagai realita bencana alam yang pemberitaannya tak terbatas pada penerbangan yang dibatalkan, abu vulkanik yang sampai ke Bali, dan masyarakat terdampak yang setiap hari harus mengenakan masker dan sebagian masyarakat sekitar memperbaiki atap rumahnya.

Tetapi bagi petani tembakau di wilayah terutama Jember, Bondowoso, dan sekitarnya, erupsi Raung 2015 dikenang dengan istilah lain: mereka menyebutnya Musim Abu.

Turun perlahan dan bergerak menyebar disapu angin bukan datang sebagai bencana yang meledak, gerakan yang senyap perlahan, menempel di atap rumah, menutupi halaman dan yang paling menyakitkan: melekat di daun tembakau yang sedang dibesarkan dengan harapan.

Raung meletus berbulan-bulan. Aktivitasnya memuncak sekitar Juni–Juli 2015 dan terus berlangsung hingga sekitar enam bulan lebih dalam status waspada. Setiap pagi petani bangun bukan untuk merawat tanaman, tetapi menebak arah angin. Sebab arah angin menentukan: hari itu kebun membaik, atau kembali kelabu.

Di beberapa desa, orang-orang mulai hidup berdampingan dengan abu. Menyapu halaman, lantai teras; menjadi rutinitas. Sebagian mereka menutupi properti mereka dengan terpal.

Tetapi tembakau harus dibiarkan terbuka dan tak mungkin di bersihkan tiap hari


Seperti tahun tahun sebelumnya, petani dengan optimis menanam tembakau sampai musim panen tiba. Benih ditebar, lahan dirawat, pupuk dibeli, tenaga kerja dibayar. Semua dilakukan dengan keyakinan bahwa saat panen datang, hasilnya bisa mengembalikan biaya satu musim.

Namun musim 2015 arahnya beda.

Abu vulkanik menempel pada daun. Sebagian daun mengalami perubahan kualitas. Penampilan fisik yang biasanya menjadi penentu mutu mulai terganggu.

Ketika panen tiba, hasil yang mereka bawa tidak lagi bernilai seperti yang dibayangkan. Harga turun.


Kerugian sektor tembakau saat itu diperkirakan mencapai ratusan miliar rupiah. Angka yang sering disebut mencapai sekitar Rp340 miliar. Tetapi angka sebesar itu tidak pernah benar-benar menjelaskan isi dapur petani. Yang mereka tahu hanya satu: musim tak berpihak mereka yang ada adalah tagihan.

Saat itu bertepatan musim kampanye: biasalah janji-janji bantuan, perhatian, dan pembicaraan tentang kompensasi untuk petani terdampak. Tetapi seperti kampanye sebelumnya, menguap di kursi dewan.


Gudang dan pabrikan juga menghadapi persoalan baru. Debu vulkanik yang melekat pada daun memaksa penanganan tambahan.

Abu halus menempel pada permukaan daun dan memerlukan penanganan tambahan agar tidak mengganggu proses berikutnya.

Sortasi diperketat. Pembersihan bertambah. Tenaga kerja meningkat. Biaya produksi naik.

Musim itu menghadirkan situasi yang jarang terjadi: Industri mengeluarkan ongkos lebih besar. Petani menerima harga lebih rendah.


Erupsi Raung 2015 bukan sekadar catatan geologi bagi kawasan tembakau. Ia adalah bagian dari ingatan kolektif petani, tentang musim tembakau dan abu vulkanik.

Industri Cerutu Indonesia: Potensi Besar di Tengah Tantangan Global

Industri cerutu di Indonesia memiliki sejarah panjang yang berakar dari kejayaan komoditas tembakau Nusantara. Sejak awal abad ke-20, tembakau Indonesia telah dikenal luas di pasar internasional karena kualitasnya yang khas. Namun hingga hari ini, perkembangan industri cerutu nasional masih menghadapi berbagai tantangan, mulai dari regulasi hingga persaingan global.

Awal Mula Industri Cerutu di Indonesia

Perkembangan industri cerutu di Indonesia dapat ditelusuri sejak sekitar tahun 1918, ketika komoditas tembakau dari Nusantara mulai mendapatkan pengakuan di pasar internasional. Pada masa itu, berbagai fasilitas pengolahan tembakau mulai dibangun, terutama di wilayah Jawa Tengah dan Jawa Timur, yang dikenal sebagai pusat perkebunan tembakau berkualitas tinggi.

Pabrik-pabrik tersebut tidak hanya memproduksi cerutu, tetapi juga melakukan proses sortasi dan pengolahan daun tembakau untuk kemudian diekspor ke berbagai negara. Daun tembakau Indonesia—seperti dari daerah Jember, Besuki, dan Deli—memiliki karakter unik yang membuatnya banyak digunakan sebagai bahan pembungkus (wrapper) maupun filler dalam industri cerutu dunia.

Pada masa itu, perdagangan tembakau menjadi salah satu sektor yang sangat menguntungkan dan berkontribusi besar terhadap ekspor Indonesia.

Produksi Tembakau Indonesia di Panggung Dunia

Indonesia saat ini termasuk salah satu produsen tembakau terbesar di dunia. Dalam beberapa laporan industri, Indonesia sering disebut sebagai salah satu dari lima produsen tembakau terbesar secara global, bahkan produksi nasionalnya melampaui beberapa negara yang terkenal di dunia cerutu seperti Kuba dalam hal volume tembakau mentah.

Pada tahun 2019, produksi tembakau Indonesia mencapai sekitar 269.803 ton, meningkat dibandingkan beberapa tahun sebelumnya. Namun, seperti banyak sektor lainnya, industri ini sempat mengalami penurunan produksi pada 2020 dan 2021 akibat dampak pandemi COVID-19 yang memengaruhi distribusi, ekspor, dan aktivitas ekonomi secara umum.

Meskipun demikian, kualitas tembakau Indonesia tetap diakui secara global, terutama untuk jenis tembakau cerutu yang digunakan oleh banyak produsen internasional.

Pasar Cerutu Domestik yang Masih Kecil

Menariknya, meskipun Indonesia memiliki jumlah perokok yang sangat besar, pasar cerutu domestik masih relatif kecil dibandingkan dengan pasar rokok. Hal ini membuat pertumbuhan industri cerutu dalam negeri berjalan lebih lambat dibandingkan negara-negara produsen cerutu lainnya.

Namun dalam beberapa tahun terakhir, mulai terlihat tren pertumbuhan minat terhadap cerutu, terutama sejak sekitar 2017. Beberapa produsen lokal mulai mencoba strategi baru dengan menargetkan konsumen muda dan pemula, memperkenalkan cerutu dengan ukuran lebih kecil, rasa yang lebih ringan, serta harga yang lebih terjangkau.

Pendekatan ini perlahan membantu memperluas basis konsumen cerutu di Indonesia.

Persaingan dengan Industri Cerutu Global

Dalam skala global, industri cerutu Indonesia masih menghadapi persaingan kuat dari perusahaan-perusahaan besar yang telah lama mendominasi pasar dunia. Beberapa perusahaan multinasional bahkan memiliki pendapatan yang jauh lebih besar dibandingkan nilai ekspor tembakau Indonesia.

Salah satu contohnya adalah Scandinavian Tobacco Group, perusahaan asal Denmark yang merupakan salah satu produsen tembakau olahan terbesar di dunia. Pada tahun 2020, perusahaan ini mencatat pendapatan sekitar USD 963 juta.

Selain itu, pasar cerutu premium global juga didominasi oleh perusahaan-perusahaan besar seperti:

  • Habanos S.A. (Kuba)
  • General Cigar Company (Amerika Serikat)
  • Imperial Brands (Inggris)
  • Swedish Match (Swedia)

Kondisi ini menimbulkan pertanyaan penting bagi masa depan industri cerutu Indonesia: apakah Indonesia akan terus menjadi pemasok bahan baku tembakau, atau mulai membangun merek cerutu nasional yang mampu bersaing di pasar global.

Tantangan Regulasi dan Kampanye Anti-Rokok

Industri tembakau global mulai menghadapi tekanan besar sejak 1990, ketika berbagai organisasi kesehatan internasional termasuk WHO mulai mengkampanyekan gerakan anti-merokok karena dampaknya terhadap kesehatan.

Di Indonesia sendiri, industri tembakau juga menghadapi berbagai kebijakan pemerintah seperti:

  • kenaikan cukai rokok hampir setiap tahun,
  • pembatasan iklan produk tembakau,
  • serta kampanye kesehatan publik terkait bahaya merokok.

Menurut Abdul Kahar Muzakir, seorang ahli tembakau cerutu sekaligus pendiri BIN Cigar, kondisi tersebut membuat perkembangan industri cerutu non-rokok di Indonesia menjadi tidak mudah.

Usulan Pembentukan Dewan Tembakau Nasional

Dalam tulisannya yang berjudul “Challenges and Opportunities for Cigar Tobacco Agribusiness”, Herry Budiarto mengemukakan gagasan penting mengenai masa depan industri tembakau Indonesia.

Ia menyarankan pembentukan Dewan Tembakau Nasional yang berfungsi sebagai lembaga independen untuk:

  • melakukan penelitian dan pengembangan industri tembakau
  • mengoordinasikan para pemangku kepentingan
  • membantu merumuskan kebijakan industri yang lebih terarah
  • mendukung kesejahteraan petani tembakau

Dengan adanya lembaga semacam ini, diharapkan industri tembakau—termasuk cerutu—dapat berkembang lebih terstruktur dan berkelanjutan.

Dampak Pandemi dan Perubahan Konsumsi

Pandemi COVID-19 juga memberikan dampak yang berbeda pada berbagai produk tembakau. Penjualan rokok mengalami penurunan volume pada tahun 2020, sementara tembakau iris (fine cut tobacco) justru mengalami peningkatan permintaan. Produk ini memiliki basis konsumen yang besar, terutama di daerah pedesaan, di mana tembakau sering disajikan bersama kertas rokok dalam berbagai acara sosial dan pertemuan keluarga.

Menariknya, permintaan terhadap cerutu tetap relatif stabil, bahkan menunjukkan pertumbuhan kecil selama periode pandemi. Meskipun jumlah konsumennya jauh lebih sedikit dibandingkan rokok, para penikmat cerutu cenderung merupakan konsumen loyal yang tetap membeli produk tersebut meskipun kondisi ekonomi sedang sulit.

Masa Depan Cerutu Indonesia

Melihat potensi tembakau berkualitas yang dimiliki Indonesia, industri cerutu nasional sebenarnya memiliki peluang besar untuk berkembang lebih jauh. Dengan dukungan kebijakan yang tepat, investasi yang lebih besar, serta pengembangan merek lokal yang kuat, bukan tidak mungkin cerutu Indonesia dapat memperoleh posisi yang lebih penting di pasar global.

Jika langkah-langkah tersebut dapat diwujudkan, produsen cerutu lokal memiliki peluang untuk tumbuh dan bersaing dengan perusahaan-perusahaan besar dunia, sekaligus mengangkat kembali kejayaan tembakau Nusantara di industri cerutu internasional.

Tobacco Journey: JKCI Festival 2024

Festival Jember Kota Cerutu Indonesia (JKCI) ke-5 dengan tema “Tobacco Journey” berlangsung pada 26-27 Juli 2024 di Jember. Acara ini menyoroti kekayaan budaya tembakau Jember melalui berbagai kegiatan menarik.

tobacco journey: jkci festival 2024

Rangkaian Acara:

  • Sunset Smoking di Taman Botani Sukorambi: Menikmati cerutu sambil menyaksikan matahari terbenam di lokasi yang indah. (Hari 1)
  • Cigar Night Party: Pesta malam dengan tema cerutu yang meriah menampilkan launching Boslucks Escuro 44 Maduro (Hari 1)
  • Kunjungan ke Kebun Tembakau: Peserta diajak tur ke perkebunan tembakau untuk memahami proses budidaya dan varietas yang ditanam termasuk daun yang dipakai pada cerutu Escuro 44 (Hari 2)
  • Gala Dinner: Makan malam mewah dengan hiburan dari Jember Fashion Carnival dan pertunjukan DJ. (Hari 2)
tobacco journey: jkci festival 2024

Pada malam penutupan dimeriakan dengan lomba long ash cigar game – siapa yang bertahan paling lama dengan abu paling panjang dan lurus. Pemenang diraih oleh Bella sebagai juara pertama, Ibnu dari Polres Jember sebagai juara kedua, dan Muklis sebagai juara ketiga.

Kepala Dinas Pariwisata Jember, Bambang Rudi, memuji konsep acara yang komprehensif, memberikan pemahaman mendalam tentang industri tembakau Jember dari hulu ke hilir.

Untuk informasi lebih lanjut, kunjungi situs resmi JKCI Festival di jkcifestival.com atau akun instagram.com/jkcifestival.

Mengenal Asal-usul Cerutu dan Wilayah Tembakau Terbaik di Dunia

Panduan untuk Penikmat Cerutu Pemula

Cerutu bukan sekadar tembakau yang digulung dan dihisap. Di balik setiap batang cerutu terdapat sejarah panjang, tradisi, serta karakter rasa yang terbentuk dari tanah tempat tembakau itu tumbuh. Bagi para penikmat cerutu, memahami asal-usul dan wilayah produksi tembakau adalah langkah awal untuk lebih menghargai setiap hisapan.

Awal Mula Cerutu

Jejak cerutu dapat ditelusuri hingga peradaban kuno suku Maya di Amerika Tengah. Mereka dikenal sebagai masyarakat pertama yang menggulung daun tembakau dan menghisapnya. Kata cigar sendiri dipercaya berasal dari kata “sikar”, istilah dalam bahasa Maya yang berarti menghisap daun tembakau yang digulung.

Ketika bangsa Eropa mulai menjelajahi dunia baru, tembakau pun ikut ditemukan. Pada tahun 1492, penjelajah Spanyol Christopher Columbus tiba di Kepulauan Bahama dan menerima hadiah dari penduduk lokal berupa daun kering beraroma khas. Awalnya daun tersebut dianggap tidak berguna, bahkan sempat dibuang ke laut.

Namun ketika rombongan Columbus melanjutkan perjalanan ke Cuba, mereka melihat masyarakat setempat menggunakan daun tembakau tersebut dengan cara dihisap. Kebiasaan ini kemudian dibawa kembali ke Eropa dan perlahan menjadi populer di seluruh benua. Dalam beberapa dekade, cerutu telah menyebar luas dan menjadi bagian dari budaya sosial masyarakat Eropa.

Kuba: Tanah Legendaris Cerutu

Jika ada satu negara yang identik dengan cerutu, jawabannya hampir pasti Cuba. Negara ini dikenal sebagai tanah kelahiran cerutu premium dengan reputasi yang telah terbangun selama berabad-abad.

Iklim tropis yang hangat, suhu rata-rata sekitar 23°C, serta tanah yang kaya mineral menjadikan Kuba tempat ideal untuk menanam tembakau berkualitas tinggi. Teknik budidaya dan produksi cerutu di negara ini bahkan telah diwariskan dari generasi ke generasi sejak masa pemerintahan Philip II of Spain.

Tembakau Kuba terkenal memiliki karakter rasa yang kuat, kompleks, dan penuh rempah, sering kali disertai nuansa floral yang khas.

Republik Dominika: Pusat Cerutu Modern

Selain Kuba, Dominican Republic kini menjadi salah satu produsen cerutu terbesar di dunia. Perkembangan industri cerutu di negara ini semakin pesat ketika banyak ahli tembakau Kuba pindah ke sana setelah embargo perdagangan Amerika Serikat terhadap Kuba.

Perpaduan pengalaman para torcedor Kuba dan kondisi tanah yang subur membuat Republik Dominika berkembang menjadi pusat produksi cerutu premium dengan karakter rasa yang lebih halus dan seimbang.

Nikaragua dan Honduras: Karakter Tembakau yang Kuat

Dua negara di Amerika Tengah, Nicaragua dan Honduras, juga dikenal sebagai produsen cerutu dengan karakter yang khas.

Di Nikaragua, kota Estelí sering dijuluki sebagai ibu kota cerutu. Tanah vulkanik di wilayah ini kaya akan nutrisi, menghasilkan tembakau dengan karakter manis, earthy, dan kompleks.

Sementara itu di Honduras, wilayah Jamastran Valley menjadi pusat budidaya tembakau. Banyak cerutu premium dari negara ini menggunakan benih tembakau asal Kuba yang menghasilkan profil rasa kuat dengan sentuhan pedas.

Amerika Serikat dan Warisan Tembakau Connecticut

Meski sering dianggap hanya sebagai pasar cerutu, United States juga memiliki sejarah panjang dalam budidaya tembakau cerutu.

Wilayah Connecticut River Valley terkenal dengan tembakau shade-grown wrapper yang menghasilkan pembungkus cerutu berwarna terang dan halus. Selain itu, varietas Connecticut Broadleaf yang ditanam di bawah sinar matahari sering digunakan sebagai wrapper untuk cerutu maduro yang lebih gelap dan kaya rasa.

Indonesia: Surga Tembakau di Tanah Vulkanik

kebun tembakau featured

Bagi pecinta cerutu, Indonesia memiliki tempat istimewa dalam peta tembakau dunia. Tanah vulkanik yang subur serta iklim tropis menjadikan negeri kepulauan ini sangat cocok untuk budidaya tembakau berkualitas tinggi.

Sejarah tembakau di Indonesia berawal sejak masa penjelajahan Ferdinand Magellan pada abad ke-16, namun produksi besar-besaran baru berkembang pada masa kolonial Belanda pada abad ke-19.

Pulau Sumatra terkenal dengan tembakau wrapper berkualitas tinggi yang banyak digunakan dalam cerutu premium dunia. Sementara itu di Jawa Timur, khususnya wilayah Jember, tembakau Besuki menjadi salah satu varietas yang sangat dihargai oleh industri cerutu.

Tembakau Besuki bahkan dibedakan menjadi dua jenis panen:
• Vroege Oogst (VO) – panen awal
• Na Oogst (NO) – panen akhir dengan karakter aroma manis dan lebih aromatik

Menikmati Cerutu dengan Perspektif Baru

Setiap cerutu memiliki cerita yang berbeda. Tanah tempat tembakau tumbuh, iklim yang mempengaruhi tanaman, hingga teknik pengolahan yang diwariskan turun-temurun semuanya berkontribusi pada karakter rasa yang kita nikmati.

Bagi para penikmat cerutu, memahami asal-usul tembakau bukan hanya menambah pengetahuan, tetapi juga memperkaya pengalaman saat menikmati setiap batang cerutu.

Karena pada akhirnya, cerutu bukan sekadar asap yang perlahan menghilang di udara—melainkan perjalanan rasa yang berasal dari berbagai penjuru dunia.

Jember Kota Cerutu Indonesia: Menggali Tradisi dan Pesona Festival JKCI 2023

Dokumenter Jember Kota Cerutu Indonesia (JKCI 2023) ke 4 membuka layar bagi kita untuk menyelami salah satu identitas budaya dan ekonomi yang kini melekat kuat di Kabupaten Jember — cerutu. Sebagai komoditas unggulan, cerutu bukan sekadar produk tembakau, tetapi cerminan kerja keras, ketelatenan, dan kreativitas masyarakat lokal.

Festival JKCI (Jember Kota Cerutu Indonesia) menjadi puncak perayaan atas warisan besar ini. Diselenggarakan sepanjang bulan Juli di tahun 2023, acara ini menampilkan beragam kegiatan menarik: dari parade budaya, pameran produk cerutu lokal, hingga kunjungan para pengrajin dan eksportir cigar dari berbagai daerah.

Menjadi Rumah untuk Cerutu Berkualitas Dunia

Jember dikenal luas karena tembakau berkualitas tinggi yang digunakan sebagai bahan utama cerutu premium. Daun tembakau dari Jember memiliki karakter yang lembut dan elastis, membuatnya sangat cocok sebagai wrapper dan binder bagi perusahaan cerutu global. Eksport dari Jember telah mencapai banyak negara, termasuk Belanda, Amerika Serikat, dan negara-negara Asia lainnya.

Pada festival JKCI, kita melihat bagaimana cerutu tidak hanya menjadi komoditas ekonomi, tetapi juga simbol kebanggaan lokal. Video ini merekam kegiatan craftsmanship para pengrajin yang memproses tembakau dari ladang hingga menjadi produk cerutu siap jual — memperlihatkan detail proses yang melibatkan ketelitian tinggi serta pengalaman turun-temurun.

Festival Sebagai Pemersatu Budaya dan Pariwisata

Selain pameran dan demo produksi cerutu, festival JKCI menjadi ajang pertemuan antar pengusaha, pecinta cerutu, hingga wisatawan domestik dan mancanegara. Pada puncaknya, festival ini memperkuat citra Jember sebagai pusat cerutu Indonesia — sekaligus menarik perhatian pada potensi pariwisata budaya berbasis industri lokal.

Dengan latar musik, tarian, dan parade budaya, JKCI menampilkan sisi lain Jember yang kaya akan sejarah dan tradisi. Tak hanya sekadar dokumentasi visual, event ini juga menjadi undangan untuk menyelami lebih jauh cerita di balik setiap batang cerutu yang lahir dari tanah Jember.

12 Tahap Sortasi Daun Tembakau: Seni Menentukan Kualitas Cerutu Sejak dari Lembarannya

Di balik sebatang cerutu dengan taste sempurna, ada proses panjang yang jarang terlihat. Bukan hanya soal menanam dan memanen, justru tentang bagaimana setiap lembar daun tembakau diperlakukan dengan prosedur bertahap.

Di dunia cerutu premium, kualitas tidak ditentukan secara instan. Ia lahir dari proses seleksi berlapis—bahkan sejak daun masih lembaran basah. Salah satu tahap paling krusial adalah sortasi, di mana setiap daun dinilai, dipilah, dan ditempatkan sesuai peruntukkannya.

Menariknya, dalam praktik di pabrik pengolahan—termasuk sentra tembakau di Jember—terdapat hingga 12 tahap sortasi yang dilakukan secara bertahap dan penuh ketelitian.


kebun tembakau featured

1. Sortasi Ukuran

Langkah awal adalah memisahkan daun berdasarkan ukuran.
Daun yang lebih lebar dan utuh biasanya memiliki potensi sebagai wrapper (kulit luar cerutu), sementara yang lebih kecil digunakan sebagai filler.


2. Warna Dasar

Warna awal daun menjadi indikator pertama kualitas curing.
Daun dengan warna cokelat merata menandakan proses pengeringan yang baik, namum perlu ada sortasi lanjutan. Sementara warna yang tidak merata – hijau kekuningan berarti belum matang, perlu perhatian lebih lanjut.


3. Sortasi Letak Daun

Setiap daun memiliki karakter berbeda tergantung posisinya di batang:

  • Kaki (bawah)Volado: ringan, mudah terbakar
  • TengahSeco: seimbang, kaya aroma
  • Pucuk (atas)Ligero: kuat, tinggi nikotin

Tahap ini menentukan peran daun dalam komposisi cerutu.


4. Kesap – Klimis

Istilah lokal ini menggambarkan kondisi permukaan, elastisitas, dan minyak alami daun:

  • Klimis: berminyak, lentur, berkualitas tinggi – banyak digunakan sebagai wrapper
  • Kesap: kering, cenderung kaku – banyak digunakan sebagai filler

5. Ketebalan (Tipis – Sedang – Tebal)

Ketebalan daun mempengaruhi fleksibilitas dan fungsi:

  • Tipis → wrapper
  • Sedang → binder
  • Tebal → filler

6. Tekstur Daun

Daun dengan permukaan rata dan serat halus lebih ideal, terutama untuk estetika cerutu premium.

  • Rata → ideal untuk wrapper
  • Tebal/urat kasar → filler

7. Tua – Muda

Tingkat kematangan saat panen sangat berpengaruh:

  • Daun matang → rasa lebih kompleks
  • Daun muda → lebih ringan, kurang berkarakter

8. Halus – Kasar

Permukaan daun kembali diperiksa:

  • Halus → nilai tinggi, premium
  • Kasar → biasanya diturunkan grade-nya

Sortasi ini spesifik untuk menentukan grade wrapper


9. Bersih – Kotor

Seleksi ini memastikan daun bebas dari:

  • Jamur
  • Noda
  • Kerusakan akibat kutu

Tahap eliominasi pada daun kualitas rendah


10. Warna Dasar Kedua

Setelah melalui proses lanjutan seperti fermentasi awal, warna daun diperiksa kembali. Perubahan warna bisa terjadi dan mempengaruhi kualitas akhir.


11. Warna Jadi

Ini adalah tahap penentuan warna final:

  • Terang hingga gelap
  • Menentukan karakter visual dan segmentasi cerutu

Warna akhir sering menjadi daya tarik pertama sebelum cerutu dinikmati.


12. Tambangan (Sortasi Akhir)

Tahap terakhir adalah penyempurnaan:

  • Pengelompokan akhir
  • Penentuan fungsi: wrapper, binder, atau filler
  • Penyesuaian kualitas sebelum masuk produksi

Di sinilah nilai ekonomi daun benar-benar ditentukan.


Lebih dari Sekadar Daun

Melihat 12 tahap ini, kita memahami bahwa cerutu bukan sekadar produk, melainkan hasil dari proses pengulangan, konsistensi, dan rasa.

Setiap lembar daun membawa kemungkinan—dan hanya melalui proses seleksi yang bertahap, ia bisa mencapai kualitas terbaiknya. Dalam dunia cerutu, kualitas bukan hasil kebetulan. Ia adalah akumulasi dari keputusan-keputusan kecil yang dilakukan dengan konsisten.


Bagi para penikmat cerutu, memahami proses ini memberi perspektif baru: bahwa setiap hisapan bukan hanya tentang rasa, tetapi juga tentang perjalanan panjang dari daun yang dipilih dengan cermat.

Di situlah letak kenikmatannya—pada detail yang tidak selalu terlihat namun terasa.

Kota Cerutu Menyambut Dunia

JEMBER, EAST JAVA – 26-28 NOVEMBER 2021

Pada akhir November 2021, udara Jember terasa sedikit berbeda. Aroma cerutu semerbak dengan semangat para pecinta cerutu, pengusaha, dan tamu dari berbagai negara. Selama tiga hari, dari 26 hingga 28 November, kota di ujung timur Jawa Timur ini menjadi tuan rumah Jember Cigar City of Indonesia Festival (JKCI) yang ketiga—sebuah perayaan yang bukan sekadar festival, tetapi juga cerita tentang identitas dan masa depan Jember.

Kota yang Tumbuh Bersama Tembakau

Bagi masyarakat Jember, tembakau bukan hanya komoditas. Ia adalah bagian dari sejarah panjang yang membentuk budaya lokal. Sejak masa kolonial, daerah ini sudah dikenal sebagai penghasil tembakau berkualitas yang diekspor ke berbagai penjuru dunia.

Bupati Jember, Hendy Siswanto, dalam sambutannya pada pembukaan festival, menegaskan bahwa Jember memiliki dua wajah yang saling melengkapi. Di satu sisi, kota ini dikenal luas sebagai kota karnaval berkat Jember Fashion Carnaval. Namun di sisi lain, Jember juga memiliki identitas kuat sebagai kota tembakau dan cerutu.

Di kota ini berdiri sejumlah produsen cerutu nasional yang telah berkontribusi pada industri tembakau Indonesia. Di antaranya adalah Mangli Djaya Raya yang berdiri sejak 1960, Koperasi Kartanegara yang lahir pada 1989, Boss Image Nusantara sejak 2013, serta Dwipa Nusantara Tobacco yang berdiri pada 2019.

Selain itu, dua perusahaan cerutu internasional juga memilih Jember sebagai basis produksinya: Burger Söhne AG dan Villiger Söhne AG. Kehadiran mereka semakin menegaskan posisi Jember sebagai salah satu pusat cerutu di Indonesia.

Festival yang Membuka Pintu Dunia

Festival JKCI bukan sekadar pertemuan pecinta cerutu. Acara ini dirancang sebagai jembatan antara industri tembakau, pariwisata, dan ekonomi kreatif. Melalui festival ini, Jember ingin memperkenalkan potensi daerahnya kepada dunia.

Para tamu datang dari berbagai negara—mulai dari Laos, Nigeria, Peru, Ukraina, hingga Jerman dan Australia. Kehadiran mereka menjadi bukti bahwa cerutu dari Jember mulai mendapat perhatian global.

Menurut Febrian Kahar, Presiden Komisaris PT Boss Image Nusantara sekaligus ketua panitia festival, tema tahun ini adalah “Welcome to Jember”. Tema ini menjadi simbol kebangkitan Jember sebagai kota yang kreatif, produktif, dan terbuka bagi dunia.

Sejak 2019, pemerintah melalui Dewan Perwakilan Daerah Republik Indonesia juga telah menetapkan Jember sebagai Kota Cerutu Indonesia. Predikat ini semakin memperkuat identitas kota yang sebelumnya dikenal sebagai World Carnival City sekaligus pusat kopi robusta di Indonesia.

Pertemuan Ide, Bisnis, dan Budaya

Festival tahun ini dihadiri oleh sekitar 218 peserta. Sebagian besar berasal dari kalangan swasta, pengusaha, serta komunitas pecinta cerutu. Sekitar 12 persen peserta datang dari luar negeri, menjadikan festival ini sebagai ruang pertemuan lintas budaya dan peluang bisnis.

Tak hanya industri cerutu yang ditampilkan. Sekitar 20 pelaku UMKM lokal juga turut diperkenalkan kepada perwakilan beberapa kedutaan yang hadir. Ini menjadi langkah penting untuk memperluas pasar produk unggulan Jember ke luar negeri, dengan Malaysia sebagai salah satu target awal.

Bagi Jember, cerutu bukan hanya produk ekspor. Ia juga menjadi alat diplomasi ekonomi yang membuka peluang baru bagi masyarakat.

Tiga Hari yang Berkesan

Selama tiga hari, festival ini dipenuhi berbagai agenda yang dirancang untuk memberikan pengalaman khas Jember.

Hari pertama dimulai dengan Opening Ceremony dan Welcome Dinner, sebuah momen hangat untuk mempertemukan para tamu dari berbagai negara.

Hari kedua menghadirkan pengalaman unik melalui Cigar Trip—mengajak peserta melihat langsung perjalanan cerutu dari kebun hingga menjadi produk siap nikmati. Hari itu ditutup dengan Sunset Smoking, ketika para tamu menikmati cerutu sambil menyaksikan matahari terbenam di lanskap Jember yang tenang.

Pada hari terakhir, peserta diajak menjelajahi kota melalui Jember Trip, mengenal lebih dekat budaya, kuliner, dan kehidupan masyarakat setempat.

Masa Depan Kota Cerutu

Festival ini sekali lagi membuktikan bahwa Jember bukan sekadar kota kecil di Jawa Timur. Ia adalah tempat di mana tradisi tembakau, kreativitas masyarakat, dan peluang ekonomi bertemu.

Dengan semakin kuatnya branding sebagai kota cerutu, Jember berharap dapat terus menarik wisatawan, investor, dan pecinta cerutu dari berbagai penjuru dunia.

Dan bagi mereka yang pernah datang ke festival ini, satu hal yang pasti: Jember bukan hanya tempat untuk menikmati cerutu—tetapi juga tempat untuk merasakan cerita di baliknya.

industri cerutu indonesia: potensi besar di tengah tantangan global