BIN Cigar Menyebarkan Semangat Positif melalui cerutu dan komunitas

BIN (Boss Image Nusantara) Cigar menjalani lima tahun terakhir dengan aktivitas yang sangat dinamis. Bahkan sebagai penyelenggara utama pada event tahunan JKCI (Jember Kota Cerutu Indonesia). Perusahaan yang berdiri pada tahun 2012 ini tetap aktif menghadirkan berbagai seri cerutu premium terbaik, yang berasal dari perkebunan tembakau mereka sendiri di Jember, Jawa Timur.

Imam Wahid Wahyudi, sosok pemimpin yang ramah, menyambut kami dengan senyum hangat khasnya.
“Saya sangat antusias, terima kasih,” ujarnya membuka percakapan. “Selama kita happy, kesibukan kerja akan mengikuti saja.”

Saat berbicara mengenai perkembangan perusahaan, Imam menjelaskan dengan optimis. Menurutnya, cerutu lokal menunjukkan tren yang semakin positif dari tahun ke tahun, terutama dari sisi permintaan pasar. Pencapaian BIN Cigar juga meningkat cukup pesat, terutama setelah peluncuran Boslucks Repackaged Edition beberapa waktu lalu.

Ia menambahkan bahwa media sosial berperan besar dalam memperkenalkan cerutu BIN kepada masyarakat yang lebih luas. Melalui platform digital, berbagai informasi mengenai cerutu dapat disampaikan dengan lebih mudah sehingga semakin banyak orang mengenal produk cerutu Indonesia, khususnya para pecinta cerutu di dalam negeri.

Meski demikian, Imam mengakui bahwa kapasitas produksi BIN Cigar masih terbatas dibandingkan produsen besar lainnya. Namun dari sisi kualitas, ia yakin produknya mampu bersaing. Menurutnya, yang dibutuhkan saat ini adalah kerja sama serta dukungan dari berbagai pihak agar cerutu Indonesia dapat menembus pasar internasional dan semakin dikenal di dunia.

Dari sisi bisnis, perkembangan BIN Cigar juga cukup signifikan. Perusahaan ini telah berhasil mencatatkan omzet lebih dari Rp1 miliar sejak tahun 2016, dan terus menunjukkan pertumbuhan dari tahun ke tahun.

Tren menikmati cerutu atau yang sering disebut “nyigar” di kalangan pecinta cerutu lokal masih sering dianggap sebagai gaya hidup kelas atas. Namun Imam tidak sepakat dengan anggapan tersebut.

“Pendapat itu sebenarnya tidak sepenuhnya benar. Cerutu memiliki banyak variasi bentuk, rasa, dan harga, sehingga dapat dinikmati oleh berbagai kalangan,” jelasnya.

Bagi pemula, ia menyarankan untuk mencoba cerutu yang lebih ringan atau bercita rasa lembut terlebih dahulu sebelum beralih ke cerutu dengan rasa yang lebih kuat. Seiring dengan perkembangan ekonomi dan meningkatnya daya beli masyarakat, Imam percaya cerutu akan menjadi salah satu pilihan untuk dinikmati sebagai bagian dari gaya hidup.

Untuk menikmati cerutu dengan lebih maksimal, biasanya orang memadukannya dengan minuman tertentu. Namun Imam memiliki selera yang berbeda.

“Sebagian orang mungkin memilih minuman beralkohol, tapi saya pribadi lebih menikmati cerutu ditemani secangkir kopi,” tutupnya.

Jember: Kota Cerutu Menyambut Dunia

FESTIVAL JEMBER KOTA CERUTU INDONESIA (JKCI) 2021
JEMBER, EAST JAVA – 26-28 NOVEMBER 2021

Pada akhir November 2021, udara Jember terasa sedikit berbeda. Aroma cerutu semerbak dengan semangat para pecinta cerutu, pengusaha, dan tamu dari berbagai negara. Selama tiga hari, dari 26 hingga 28 November, kota di ujung timur Jawa Timur ini menjadi tuan rumah Jember Cigar City of Indonesia Festival (JKCI) yang ketiga—sebuah perayaan yang bukan sekadar festival, tetapi juga cerita tentang identitas dan masa depan Jember.

Kota yang Tumbuh Bersama Tembakau

Bagi masyarakat Jember, tembakau bukan hanya komoditas. Ia adalah bagian dari sejarah panjang yang membentuk budaya lokal. Sejak masa kolonial, daerah ini sudah dikenal sebagai penghasil tembakau berkualitas yang diekspor ke berbagai penjuru dunia.

Bupati Jember, Hendy Siswanto, dalam sambutannya pada pembukaan festival, menegaskan bahwa Jember memiliki dua wajah yang saling melengkapi. Di satu sisi, kota ini dikenal luas sebagai kota karnaval berkat Jember Fashion Carnaval. Namun di sisi lain, Jember juga memiliki identitas kuat sebagai kota tembakau dan cerutu.

Di kota ini berdiri sejumlah produsen cerutu nasional yang telah berkontribusi pada industri tembakau Indonesia. Di antaranya adalah Mangli Djaya Raya yang berdiri sejak 1960, Koperasi Kartanegara yang lahir pada 1989, Boss Image Nusantara sejak 2013, serta Dwipa Nusantara Tobacco yang berdiri pada 2019.

Selain itu, dua perusahaan cerutu internasional juga memilih Jember sebagai basis produksinya: Burger Söhne AG dan Villiger Söhne AG. Kehadiran mereka semakin menegaskan posisi Jember sebagai salah satu pusat cerutu di Indonesia.

Festival yang Membuka Pintu Dunia

Festival JKCI bukan sekadar pertemuan pecinta cerutu. Acara ini dirancang sebagai jembatan antara industri tembakau, pariwisata, dan ekonomi kreatif. Melalui festival ini, Jember ingin memperkenalkan potensi daerahnya kepada dunia.

Para tamu datang dari berbagai negara—mulai dari Laos, Nigeria, Peru, Ukraina, hingga Jerman dan Australia. Kehadiran mereka menjadi bukti bahwa cerutu dari Jember mulai mendapat perhatian global.

Menurut Febrian Kahar, Presiden Komisaris PT Boss Image Nusantara sekaligus ketua panitia festival, tema tahun ini adalah “Welcome to Jember”. Tema ini menjadi simbol kebangkitan Jember sebagai kota yang kreatif, produktif, dan terbuka bagi dunia.

Sejak 2019, pemerintah melalui Dewan Perwakilan Daerah Republik Indonesia juga telah menetapkan Jember sebagai Kota Cerutu Indonesia. Predikat ini semakin memperkuat identitas kota yang sebelumnya dikenal sebagai World Carnival City sekaligus pusat kopi robusta di Indonesia.

Pertemuan Ide, Bisnis, dan Budaya

Festival tahun ini dihadiri oleh sekitar 218 peserta. Sebagian besar berasal dari kalangan swasta, pengusaha, serta komunitas pecinta cerutu. Sekitar 12 persen peserta datang dari luar negeri, menjadikan festival ini sebagai ruang pertemuan lintas budaya dan peluang bisnis.

Tak hanya industri cerutu yang ditampilkan. Sekitar 20 pelaku UMKM lokal juga turut diperkenalkan kepada perwakilan beberapa kedutaan yang hadir. Ini menjadi langkah penting untuk memperluas pasar produk unggulan Jember ke luar negeri, dengan Malaysia sebagai salah satu target awal.

Bagi Jember, cerutu bukan hanya produk ekspor. Ia juga menjadi alat diplomasi ekonomi yang membuka peluang baru bagi masyarakat.

Tiga Hari yang Berkesan

Selama tiga hari, festival ini dipenuhi berbagai agenda yang dirancang untuk memberikan pengalaman khas Jember.

Hari pertama dimulai dengan Opening Ceremony dan Welcome Dinner, sebuah momen hangat untuk mempertemukan para tamu dari berbagai negara.

Hari kedua menghadirkan pengalaman unik melalui Cigar Trip—mengajak peserta melihat langsung perjalanan cerutu dari kebun hingga menjadi produk siap nikmati. Hari itu ditutup dengan Sunset Smoking, ketika para tamu menikmati cerutu sambil menyaksikan matahari terbenam di lanskap Jember yang tenang.

Pada hari terakhir, peserta diajak menjelajahi kota melalui Jember Trip, mengenal lebih dekat budaya, kuliner, dan kehidupan masyarakat setempat.

Masa Depan Kota Cerutu

Festival ini sekali lagi membuktikan bahwa Jember bukan sekadar kota kecil di Jawa Timur. Ia adalah tempat di mana tradisi tembakau, kreativitas masyarakat, dan peluang ekonomi bertemu.

Dengan semakin kuatnya branding sebagai kota cerutu, Jember berharap dapat terus menarik wisatawan, investor, dan pecinta cerutu dari berbagai penjuru dunia.

Dan bagi mereka yang pernah datang ke festival ini, satu hal yang pasti: Jember bukan hanya tempat untuk menikmati cerutu—tetapi juga tempat untuk merasakan cerita di baliknya.