BIN Cigar X Java Jive: Stay Gold Trompeta – Kolaborasi Cerutu dan Musik

Jember, 12 Juli 2025

Dalam sebuah langkah kolaboratif berkelas yang bertepatan dengan event tahunan Jember Kota Cerutu Indonesia (JKCI) 2025, produsen cerutu premium BIN Cigar secara resmi meluncurkan Stay Gold Trompeta, sebuah lini cerutu eksklusif yang dirilis sesuai dengan judul album dari band legendaris Indonesia, Java Jive— juga bertajuk “Stay Gold” (2008).

Mengusung tema Simfoni Kemewahan, Stay Gold Trompeta merupakan cerutu berbentuk piramida dengan profil rasa klasik, mewah, dan lembut. Cerutu ini diciptakan bagi mereka yang memahami seni menikmati hidup dengan perlahan dan penuh makna.

“Cerutu bukan sekadar produk, tapi pengalaman,” ujar Bapak Imam Wahyudi Direktur Utama BIN Cigar dalam peluncuran resmi. “Kolaborasi dengan Java Jive adalah cara kami menyatukan dua elemen keindahan: rasa dan nada.”. “Kami beberapa tahun sebelumnya telah mengundang Java Jive dalam event penting BIN Cigar, saat ini adalah moment mempererat jalinan persahabatan dengan cerutu dan musik”

Java Jive sendiri telah merilis album berjudul “Stay Gold”, dengan lagu di album itu membawa semangat keabadian dalam nilai, emosi, dan gaya hidup otentik. Judul dan makna dari lagu ini menjadi inspirasi utama dalam melabeli cerutu ini.

“Bagi kami, Stay Gold adalah pesan untuk tetap bersinar dengan cara kita sendiri. Kolaborasi ini menjadi bentuk perayaan akan hal itu,” ujar Capung, gitaris Java Jive.


Tentang BIN Cigar

bin cigar x java jive: stay gold trompeta – kolaborasi cerutu dan musik

BIN Cigar adalah produsen cerutu premium asal Indonesia yang dikenal dengan pendekatan artistik dalam setiap rilis produknya. Setiap lini cerutu BIN Cigar merupakan eksplorasi rasa dan kualitas, ditujukan untuk para penikmat sejati.

Tentang Java Jive

bin cigar x java jive: stay gold trompeta – kolaborasi cerutu dan musik

Java Jive adalah band pop legendaris Indonesia yang dikenal dengan warna musik manis, jazzy, dan bernuansa nostalgia. Hits seperti “Gerangan Cinta”, “Kau Yang Terindah”, dan “Permataku” telah menjadi anthem lintas generasi.

Stay Gold


Stay Live, Stay Gold

JKCI 2025: Malam Puncak, Stay Gold dan Panggung Slow Smoke

Puncak penutupan Festival Jember Kota Cerutu Indonesia (JKCI) 2025 bertransformasi menjadi sebuah simfoni yang anggun, hangat, dan penuh kemewahan. Ruang utama tempat gala dinner dipadati oleh para tokoh penting, diplomat, pelaku industri, hingga pencinta cerutu dunia yang bersiap menyaksikan klimaks dari perayaan tembakau terbesar di Indonesia ini.

Tiga Perspektif, Satu Visi: Sambutan para Tokoh

Malam puncak dibuka oleh rentetan sambutan hangat yang memberikan pandangan mendalam mengenai masa depan cerutu Indonesia di panggung global.

  • Bapak Ir. Imam Wahyudi (Direktur Utama BIN Cigar): Dalam sambutannya, beliau menyampaikan rasa terima kasih mendalam atas sinergi luar biasa yang tercipta selama JKCI 2025. Beliau menegaskan bahwa BIN Cigar berkomitmen untuk terus menjadi lokomotif inovasi yang tidak hanya memproduksi cerutu premium, tetapi juga menjaga marwah Jember sebagai ibu kota cerutu yang disegani secara internasional.
  • Bapak Muhammad Fawait, S.E., M.Sc. (Bupati Jember): Kembali menegaskan dukungan penuh pemerintah daerah. Beliau menyampaikan rasa bangganya melihat bagaimana industri cerutu mampu menyatukan berbagai elemen masyarakat dan menjadi pilar ekonomi serta pariwisata yang kokoh bagi Kabupaten Jember.
  • Bapak Dr. Bebeb A.K. Nugraha Djunjunan (Duta Besar RI untuk Yunani): Memberikan perspektif diplomasi yang kuat. Beliau menekankan bahwa cerutu Jember bukan lagi sekadar komoditas pertanian, melainkan instrumen diplomasi budaya yang luar biasa. Kualitas cerutu Indonesia kini telah memiliki paspor yang sah untuk merebut hati para penikmat cerutu premium di pasar Eropa dan dunia.

Soft Launching “Stay Gold”: Saat Cerutu Bertemu Alunan Musik Java Jive

Kejutan yang paling dinanti-nanti akhirnya tiba. Setelah memperkenalkan Don Juan di malam pertama, BIN Cigar melakukan gebrakan besar di malam penutupan dengan meluncurkan produk kolaborasi mahakarya terbaru mereka: “Stay Gold”.

Produk ini merupakan buah kolaborasi eksklusif antara BIN Cigar dengan band pop-legend tanah air, Java Jive. Nama Stay Gold sendiri diambil sebagai simbol keemasan—sebuah doa dan perwujudan agar kualitas tembakau Indonesia tetap berkilau dan abadi layaknya karya musik Java Jive yang tak lekang oleh waktu. Dengan karakter blend yang dikurasi secara presisi, cerutu ini menjanjikan pengalaman mengisap yang harmonis, elegan, dan penuh cita rasa, sangat cocok dinikmati sembari mendengarkan alunan musik pop dan berkelas.

Slow Smoke Championship: Dominasi dan Ketenangan 

Keseruan malam itu mencapai titik ketegangan tertinggi saat kompetisi paling bergengsi dalam dunia cerutu dimulai: Slow Smoke Championship (Lomba Mengisap Cerutu Terlama). Berbeda dengan lomba abu terpanjang, kompetisi ini menuntut ketenangan, teknik menjaga bara api sekecil mungkin tanpa membiarkannya mati, dan kontrol napas yang luar biasa konstan.

Panggung kompetisi kali ini mencetak sejarah baru yang sangat membanggakan. Gelar juara utama berhasil direbut oleh seorang perempuan, Mbak Elok. Di tengah kepulan asap dan persaingan ketat dari para penyigar senior domestik maupun internasional, ketenangan mental Mbak Elok terbukti tak tergoyahkan. Keberhasilannya menjadi pemenang membuktikan sekali lagi bahwa seni menikmati cerutu kini telah meleburkan batas gender dan melahirkan mentor-mentor baru yang penuh talenta.

Tirai Ditutup: Sampai Jumpa di JKCI 2026!

Malam berganti larut, ditutup dengan kegembirtaan, foto bersama, dan komitmen kolaborasi yang semakin solid di antara para peserta lintas negara. Tirai JKCI 2025 resmi diturunkan dengan sejuta cerita manis, pengetahuan berharga dari hulu ke hilir, dan rasa respek yang semakin mendalam terhadap sebatang cerutu.

Bagi kita semua di GriyaCerutu, festival tahun ini telah menaikkan standar industri cerutu Indonesia ke level yang lebih tinggi. Membawa kebanggaan daun emas dari bumi Jember akan terus bersinar di peta dunia.

Terima kasih Jember, terima kasih BIN Cigar, dan terima kasih para petani tembakau Indonesia. Sampai jumpa di kemegahan Festival Jember Kota Cerutu Indonesia (JKCI) 2026!

Salam Cigar, Salam Sehat, Salam Bahagia! Stay Gold!


Sumber tulisan: kunjungan kami saat acara berlangsung dan youtube O’Sersan Channel

JKCI 2025: Kolaborasi, Tradisi, dan Komitmen Nyata

Agenda di lokasi utama lahan perkebunan ini adalah perayaan atas hasil bumi Jember yang sesungguhnya. Festival Jember Kota Cerutu Indonesia (JKCI) 2025 mencapai titik gempita yang luar biasa.

Di balik kemegahan yang tersaji, panitia membagikan cerita tentang effort masif tim di balik layar. Area panggung dan lanskap lapangan di tengah kebun ini rupanya telah dipersiapkan sejak 3 bulan sebelum acara dimulai—meliputi persiapan lahan selama 2 bulan dan penataan tanaman tembakau dekoratif selama 40 hari. Sebuah dedikasi luar biasa agar para peserta bisa meresapi keindahan budaya tembakau secara utuh.

Panggung Kolaborasi Lintas Negara dan Lintas Industri

Sesuai dengan semangat “Savoring Tradition, Embracing the Future,” festival hari itu mempertemukan keberagaman dari berbagai belahan dunia dan elemen industri. Tidak tanggung-tanggung, perwakilan dari empat negara sahabat—yaitu Malaysia, Australia, Hong Kong, dan Cina—turut hadir memadati barisan kursi undangan.

Namun, yang membuat JKCI 2025 terasa sangat istimewa adalah kentalnya atmosfer persatuan. Di tempat ini, egosektoral dileburkan. Berbagai pabrikan besar cerutu dan produsen tembakau nasional duduk berdampingan, mulai dari kelompok tani lokal, PTPN, Tembakau Medan, Tarumartani, hingga Wismilak.

“Tahun ini adalah tahun kolaborasi demi Merah Putih. Tidak ada kompetisi di antara kita. Kita semua berkumpul di sini sebagai sesama penyigar dan pemerhati cerutu untuk bersama-sama memajukan tembakau Indonesia,” ujar panitia dengan penuh semangat.

Sentuhan Tradisi Jember yang Memukau

Puncak festival disemarakkan oleh perpaduan seni tradisional dan modern yang memukau mata para tamu internasional. Sesuai temanya, tradisi Jember disajikan secara megah melalui penampilan Jember Fashion Carnaval (JFC) yang ikonik, tarian tradisional Cemara Biru, hingga dentuman musik perkusi khas Jember, MusikPatrol – Beko’Kereng. Kehadiran seni budaya ini seolah mempertegas bahwa tembakau dan kebudayaan lokal di Jember adalah dua hal yang tumbuh beriringan dan tidak bisa dipisahkan.

Komitmen dan Speech Bupati Jember: Tembakau adalah Jiwa Pedesaan

Kemeriahan acara semakin lengkap dengan hadirnya Bupati Jember yang memberikan pidato (speech) penting di atas panggung utama. Beliau menyampaikan apresiasi mendalam atas konsistensi penyelenggaraan JKCI yang membawa dampak nyata bagi daerah.

“Event JKCI ini sangat berarti buat Kabupaten Jember, karena sebuah daerah yang maju biasanya ditandai dengan wisatanya yang juga maju. Selain itu, JKCI adalah event yang berhasil mengorbitkan sektor pertembakauan kita. Tembakau ini adalah industri yang menyerap banyak sekali tenaga kerja, khususnya masyarakat pedesaan, yaitu para petani kita,” ungkap Gus Fawait.

Lebih dari sekadar apresiasi, Pemerintah Kabupaten Jember menegaskan komitmennya untuk terus bersinergi dengan panitia JKCI guna memberikan perlindungan terbaik bagi garda terdepan industri ini. Komitmen nyata tersebut dibuktikan secara simbolis di atas panggung melalui penyerahan kartu asuransi ketenagakerjaan kepada 40.000 petani tembakau di Kabupaten Jember. Sebuah langkah visioner untuk memastikan masa depan para petani lebih terjamin.

Tak Terhentikan oleh Hujan

Meskipun di tengah-tengah acara langit Jember gemerintik – gempita dan antusiasme di outdoor stage sama sekali tidak surut. Di bawah rintik hujan, rangkaian parade budaya tetap berjalan anggun, dan para tamu dari berbagai negara tetap bertahan di tempat duduk mereka dengan senyuman lebar, menikmati setiap momen magis yang tersaji.

Hari kedua JKCI 2025 di lahan Ambulu ini sukses membekaskan kesan mendalam tentang arti sebuah harmoni. Industri cerutu bukan lagi sekadar komoditas asap premium di ruang tertutup, melainkan sebuah jembatan yang menyatukan diplomasi internasional, pelestarian budaya lokal, kolaborasi lintas pabrikan, hingga perlindungan nyata bagi puluhan ribu petani pedesaan.

Bagi kita di GriyaCerutu, puncak acara JKCI 2025 ini memberikan kita alasan untuk bangga pada cerutu nusantara. Di dalam setiap batang yang kita nikmati, ada komitmen sebuah bangsa, keindahan seni budaya, dan jaminan kesejahteraan bagi mereka yang menanamnya.

Maju terus tembakau Indonesia, sejahteralah para petani kita. Salam Cigar, Salam Sehat, Salam Bahagia!


Sumber tulisan: kunjungan kami saat acara berlangsung dan youtube O’Sersan Channel

JKCI 2025: Perhelatan Tahunan Malam Pertama

Jember kembali membuktikan dirinya sebagai sentra bagi masyarakat tembakau. Tanggal 11 Juli yang lalu menjadi penanda dimulainya sebuah perhelatan yang dinanti, sebagai ruang kumpul tahunan: Festival Jember Kota Cerutu Indonesia (JKCI) 2025

Atmosfer hari pertama ini terasa begitu magis. Sejak sore, gerbang festival sudah diramaikan oleh langkah kaki para tamu yang datang dari berbagai penjuru, siap untuk merayakan sebuah tradisi yang terjaga.

Malam itu bukan sekadar acara seremonial, melainkan sebuah ruang silaturahmi yang hidup. Di bawah langit Jember, para supplier, distributor, hingga komunitas penyigar berkumpul melingkari meja, ditemani aroma sedap asap tipis dan hidangan makan malam spesial yang diracik langsung oleh tangan berbakat alumni MasterChef Indonesia

Merawat Sejarah, Memeluk Masa Depan

Ada rasa bangga yang kental saat menatap tema yang diusung tahun ini: Savoring Tradition, Embracing the Future.

Lewat dialog-dialog hangat di sudut acara, tersurat sebuah pesan mendalam. JKCI 2025 bukan hanya tentang menikmati cerutu, melainkan sebuah komitmen untuk menjaga sejarah panjang tembakau Jember sembari melangkah mantap menuju masa depan.

Menariknya, festival kali ini memperluas ruang komunalnya. Jember tidak lagi hanya ingin dikenal lewat cerutunya saja, tetapi juga ingin memamerkan pesona pariwisata, geliat UMKM, dan potensi daerah lainnya. Sebuah ekosistem yang dibangun bersama-sama demi satu tujuan mulia: membawa kesejahteraan langsung untuk petani tembakau lokal.

Malam itu, ruang acara dipenuhi oleh keberagaman yang luar biasa. Mulai dari kehadiran Bapak Dr. Bebeb A.K. Nugraha Djunjunan (Duta Besar RI untuk Yunani), jajaran anggota DPR, hingga sahabat-sahabat komunitas cerutu internasional yang terbang jauh-jauh dari Malaysia, Hong Kong, Afrika Selatan, hingga Australia.

Wajah Baru di Balik Asap Cerutu

Bergeser ke area pameran, mata kami tertuju oleh deretan koleksi terbaik dari Boss Image Nusantara (BIN) Cigar bersama rekanan produksinya. Produk-produk maklon yang dipajang menjadi prestasi kualitas cerutu buatan Indonesia – kini sudah sejajar di panggung dunia.

Di sela-sela semerbak asap, kami sempat berbincang dengan Rian dari CerutuJakarta. Ada sebuah kabar baik yang ia bagikan mengenai tren saat ini. Industri cerutu tanah air kini sedang mengalami peremajaan. “Makin banyak pemula dan anak-anak muda yang mulai belajar nyigar,” ujarnya sembari tersenyum.

Cerutu kini bukan lagi konsumsi eksklusif generasi tua, melainkan gaya hidup baru yang dinamis bagi anak muda kota besar.

Keberagaman ini makin nyata saat kami menuju area kompetisi. Di sana, menikmati cerutu telah melebur batasan gender. Sista-sista penikmat cerutu—salasatunya Bu Nana dari Wismilak Cigar—tampak duduk santai berdampingan dengan para penyigar senior lainnya, menikmati setiap hisapan dengan penuh keanggunan.

Ketegangan di Long Ash Contest

Malam mencapai puncak keseruannya saat Long Ash Contest (Lomba Abu Terpanjang) dimulai. Aturan mainnya sederhana namun butuh ketenangan tingkat tinggi: dalam waktu 25 menit, peserta harus mempertahankan abu cerutu mereka agar tetap panjang, lurus, dan tidak patah saat miring.

Tantangan kali ini terbilang berat karena panitia memilih The Ambassador, sebuah cerutu dengan ukuran yang cukup panjang. Diperlukan presisi, kontrol napas, dan ketenangan terukur untuk menjaganya tetap utuh.

Dunia cerutu selalu ada kejutan. Di tengah ketegangan para afficionado yang sudah ikut festival ini berkali-kali, gelar juara justru jatuh ke tangan seorang pemula yang baru pertama kali mencicipi panggung kompetisi. Saat ditanya apa rahasianya, ia hanya tertawa renyah, “Nggak pakai latihan khusus, modal nekat aja!”. Sebuah pembuktian bahwa adakalanya keberuntungan dan ketenangan alami mengalahkan kebiasaan.

Kejutan di Penghujung Malam: Don Juan untuk Sang Pemula

Sebelum gelaran hari pertama usai, BIN Cigar memberikan sebuah kejutan manis yang memicu penasaran. Soft launching untuk lini produk terbaru mereka: Don Juan.

Mempunyai karakter yang bersahabat, Don Juan hadir sebagai jawaban untuk para penikmat pemula (entry-level) atau mereka yang mencari morning cigar—cerutu ringan untuk menemani secangkir kopi di pagi hari, atau dinikmati di sela-sela jadwal sibuk yang singkat. Kehadirannya seolah menegaskan komitmen industri untuk merangkul pasar kawula muda.

Hari pertama JKCI 2025 berakhir dengan tawa yang renyah dan jabat tangan yang hangat. Ini barulah awal dari sebuah perayaan besar. Masih ada agenda esok yang menjanjikan kisah perkebunan si daun emas.

GriyaCerutu selalu mendukung industri lokal, cerutu tanah air, dan kesejahteraan petani tembakau Indonesia.

Salam Cigar, Salam Sehat, Salam Bahagia!


Sumber tulisan: kunjungan kami saat acara berlangsung dan youtube O’Sersan

BIN Cigar Menyebarkan Semangat Positif melalui cerutu dan komunitas

BIN (Boss Image Nusantara) Cigar menjalani lima tahun terakhir dengan aktivitas yang sangat dinamis. Bahkan sebagai penyelenggara utama pada event tahunan JKCI (Jember Kota Cerutu Indonesia). Perusahaan yang berdiri pada tahun 2012 ini tetap aktif menghadirkan berbagai seri cerutu premium terbaik, yang berasal dari perkebunan tembakau mereka sendiri di Jember, Jawa Timur.

bin cigar menyebarkan semangat positif melalui cerutu dan komunitas

Imam Wahid Wahyudi, sosok pemimpin yang ramah, menyambut kami dengan senyum hangat khasnya.
“Saya sangat antusias, terima kasih,” ujarnya membuka percakapan. “Selama kita happy, kesibukan kerja akan mengikuti saja.”

Saat berbicara mengenai perkembangan perusahaan, Imam menjelaskan dengan optimis. Menurutnya, cerutu lokal menunjukkan tren yang semakin positif dari tahun ke tahun, terutama dari sisi permintaan pasar. Pencapaian BIN Cigar juga meningkat cukup pesat, terutama setelah peluncuran Boslucks Repackaged Edition beberapa waktu lalu.

boslucks 10 half corona

Ia menambahkan bahwa media sosial berperan besar dalam memperkenalkan cerutu BIN kepada masyarakat yang lebih luas. Melalui platform digital, berbagai informasi mengenai cerutu dapat disampaikan dengan lebih mudah sehingga semakin banyak orang mengenal produk cerutu Indonesia, khususnya para pecinta cerutu di dalam negeri.

Meski demikian, Imam mengakui bahwa kapasitas produksi BIN Cigar masih terbatas dibandingkan produsen besar lainnya. Namun dari sisi kualitas, ia yakin produknya mampu bersaing. Menurutnya, yang dibutuhkan saat ini adalah kerja sama serta dukungan dari berbagai pihak agar cerutu Indonesia dapat menembus pasar internasional dan semakin dikenal di dunia.

Dari sisi bisnis, perkembangan BIN Cigar juga cukup signifikan. Perusahaan ini telah berhasil mencatatkan omzet lebih dari Rp1 miliar sejak tahun 2016, dan terus menunjukkan pertumbuhan dari tahun ke tahun.

Tren menikmati cerutu atau yang sering disebut “nyigar” di kalangan pecinta cerutu lokal masih sering dianggap sebagai gaya hidup kelas atas. Namun Imam tidak sepakat dengan anggapan tersebut.

“Pendapat itu sebenarnya tidak sepenuhnya benar. Cerutu memiliki banyak variasi bentuk, rasa, dan harga, sehingga dapat dinikmati oleh berbagai kalangan,” jelasnya.

Bagi pemula, ia menyarankan untuk mencoba cerutu yang lebih ringan atau bercita rasa lembut terlebih dahulu sebelum beralih ke cerutu dengan rasa yang lebih kuat. Seiring dengan perkembangan ekonomi dan meningkatnya daya beli masyarakat, Imam percaya cerutu akan menjadi salah satu pilihan untuk dinikmati sebagai bagian dari gaya hidup.

Untuk menikmati cerutu dengan lebih maksimal, biasanya orang memadukannya dengan minuman tertentu. Namun Imam memiliki selera yang berbeda.

“Sebagian orang mungkin memilih minuman beralkohol, tapi saya pribadi lebih menikmati cerutu ditemani secangkir kopi,” tutupnya.

Tobacco Journey: JKCI Festival 2024

Festival Jember Kota Cerutu Indonesia (JKCI) ke-5 dengan tema “Tobacco Journey” berlangsung pada 26-27 Juli 2024 di Jember. Acara ini menyoroti kekayaan budaya tembakau Jember melalui berbagai kegiatan menarik.

tobacco journey: jkci festival 2024

Rangkaian Acara:

  • Sunset Smoking di Taman Botani Sukorambi: Menikmati cerutu sambil menyaksikan matahari terbenam di lokasi yang indah. (Hari 1)
  • Cigar Night Party: Pesta malam dengan tema cerutu yang meriah menampilkan launching Boslucks Escuro 44 Maduro (Hari 1)
  • Kunjungan ke Kebun Tembakau: Peserta diajak tur ke perkebunan tembakau untuk memahami proses budidaya dan varietas yang ditanam termasuk daun yang dipakai pada cerutu Escuro 44 (Hari 2)
  • Gala Dinner: Makan malam mewah dengan hiburan dari Jember Fashion Carnival dan pertunjukan DJ. (Hari 2)
tobacco journey: jkci festival 2024

Pada malam penutupan dimeriakan dengan lomba long ash cigar game – siapa yang bertahan paling lama dengan abu paling panjang dan lurus. Pemenang diraih oleh Bella sebagai juara pertama, Ibnu dari Polres Jember sebagai juara kedua, dan Muklis sebagai juara ketiga.

Kepala Dinas Pariwisata Jember, Bambang Rudi, memuji konsep acara yang komprehensif, memberikan pemahaman mendalam tentang industri tembakau Jember dari hulu ke hilir.

Untuk informasi lebih lanjut, kunjungi situs resmi JKCI Festival di jkcifestival.com atau akun instagram.com/jkcifestival.

Jember Kota Cerutu Indonesia: Menggali Tradisi dan Pesona Festival JKCI 2023

Dokumenter Jember Kota Cerutu Indonesia (JKCI 2023) ke 4 membuka layar bagi kita untuk menyelami salah satu identitas budaya dan ekonomi yang kini melekat kuat di Kabupaten Jember — cerutu. Sebagai komoditas unggulan, cerutu bukan sekadar produk tembakau, tetapi cerminan kerja keras, ketelatenan, dan kreativitas masyarakat lokal.

Festival JKCI (Jember Kota Cerutu Indonesia) menjadi puncak perayaan atas warisan besar ini. Diselenggarakan sepanjang bulan Juli di tahun 2023, acara ini menampilkan beragam kegiatan menarik: dari parade budaya, pameran produk cerutu lokal, hingga kunjungan para pengrajin dan eksportir cigar dari berbagai daerah.

Menjadi Rumah untuk Cerutu Berkualitas Dunia

Jember dikenal luas karena tembakau berkualitas tinggi yang digunakan sebagai bahan utama cerutu premium. Daun tembakau dari Jember memiliki karakter yang lembut dan elastis, membuatnya sangat cocok sebagai wrapper dan binder bagi perusahaan cerutu global. Eksport dari Jember telah mencapai banyak negara, termasuk Belanda, Amerika Serikat, dan negara-negara Asia lainnya.

Pada festival JKCI, kita melihat bagaimana cerutu tidak hanya menjadi komoditas ekonomi, tetapi juga simbol kebanggaan lokal. Video ini merekam kegiatan craftsmanship para pengrajin yang memproses tembakau dari ladang hingga menjadi produk cerutu siap jual — memperlihatkan detail proses yang melibatkan ketelitian tinggi serta pengalaman turun-temurun.

Festival Sebagai Pemersatu Budaya dan Pariwisata

Selain pameran dan demo produksi cerutu, festival JKCI menjadi ajang pertemuan antar pengusaha, pecinta cerutu, hingga wisatawan domestik dan mancanegara. Pada puncaknya, festival ini memperkuat citra Jember sebagai pusat cerutu Indonesia — sekaligus menarik perhatian pada potensi pariwisata budaya berbasis industri lokal.

Dengan latar musik, tarian, dan parade budaya, JKCI menampilkan sisi lain Jember yang kaya akan sejarah dan tradisi. Tak hanya sekadar dokumentasi visual, event ini juga menjadi undangan untuk menyelami lebih jauh cerita di balik setiap batang cerutu yang lahir dari tanah Jember.

Kota Cerutu Menyambut Dunia

JEMBER, EAST JAVA – 26-28 NOVEMBER 2021

Pada akhir November 2021, udara Jember terasa sedikit berbeda. Aroma cerutu semerbak dengan semangat para pecinta cerutu, pengusaha, dan tamu dari berbagai negara. Selama tiga hari, dari 26 hingga 28 November, kota di ujung timur Jawa Timur ini menjadi tuan rumah Jember Cigar City of Indonesia Festival (JKCI) yang ketiga—sebuah perayaan yang bukan sekadar festival, tetapi juga cerita tentang identitas dan masa depan Jember.

Kota yang Tumbuh Bersama Tembakau

Bagi masyarakat Jember, tembakau bukan hanya komoditas. Ia adalah bagian dari sejarah panjang yang membentuk budaya lokal. Sejak masa kolonial, daerah ini sudah dikenal sebagai penghasil tembakau berkualitas yang diekspor ke berbagai penjuru dunia.

Bupati Jember, Hendy Siswanto, dalam sambutannya pada pembukaan festival, menegaskan bahwa Jember memiliki dua wajah yang saling melengkapi. Di satu sisi, kota ini dikenal luas sebagai kota karnaval berkat Jember Fashion Carnaval. Namun di sisi lain, Jember juga memiliki identitas kuat sebagai kota tembakau dan cerutu.

Di kota ini berdiri sejumlah produsen cerutu nasional yang telah berkontribusi pada industri tembakau Indonesia. Di antaranya adalah Mangli Djaya Raya yang berdiri sejak 1960, Koperasi Kartanegara yang lahir pada 1989, Boss Image Nusantara sejak 2013, serta Dwipa Nusantara Tobacco yang berdiri pada 2019.

Selain itu, dua perusahaan cerutu internasional juga memilih Jember sebagai basis produksinya: Burger Söhne AG dan Villiger Söhne AG. Kehadiran mereka semakin menegaskan posisi Jember sebagai salah satu pusat cerutu di Indonesia.

Festival yang Membuka Pintu Dunia

Festival JKCI bukan sekadar pertemuan pecinta cerutu. Acara ini dirancang sebagai jembatan antara industri tembakau, pariwisata, dan ekonomi kreatif. Melalui festival ini, Jember ingin memperkenalkan potensi daerahnya kepada dunia.

Para tamu datang dari berbagai negara—mulai dari Laos, Nigeria, Peru, Ukraina, hingga Jerman dan Australia. Kehadiran mereka menjadi bukti bahwa cerutu dari Jember mulai mendapat perhatian global.

Menurut Febrian Kahar, Presiden Komisaris PT Boss Image Nusantara sekaligus ketua panitia festival, tema tahun ini adalah “Welcome to Jember”. Tema ini menjadi simbol kebangkitan Jember sebagai kota yang kreatif, produktif, dan terbuka bagi dunia.

Sejak 2019, pemerintah melalui Dewan Perwakilan Daerah Republik Indonesia juga telah menetapkan Jember sebagai Kota Cerutu Indonesia. Predikat ini semakin memperkuat identitas kota yang sebelumnya dikenal sebagai World Carnival City sekaligus pusat kopi robusta di Indonesia.

Pertemuan Ide, Bisnis, dan Budaya

Festival tahun ini dihadiri oleh sekitar 218 peserta. Sebagian besar berasal dari kalangan swasta, pengusaha, serta komunitas pecinta cerutu. Sekitar 12 persen peserta datang dari luar negeri, menjadikan festival ini sebagai ruang pertemuan lintas budaya dan peluang bisnis.

Tak hanya industri cerutu yang ditampilkan. Sekitar 20 pelaku UMKM lokal juga turut diperkenalkan kepada perwakilan beberapa kedutaan yang hadir. Ini menjadi langkah penting untuk memperluas pasar produk unggulan Jember ke luar negeri, dengan Malaysia sebagai salah satu target awal.

Bagi Jember, cerutu bukan hanya produk ekspor. Ia juga menjadi alat diplomasi ekonomi yang membuka peluang baru bagi masyarakat.

Tiga Hari yang Berkesan

Selama tiga hari, festival ini dipenuhi berbagai agenda yang dirancang untuk memberikan pengalaman khas Jember.

Hari pertama dimulai dengan Opening Ceremony dan Welcome Dinner, sebuah momen hangat untuk mempertemukan para tamu dari berbagai negara.

Hari kedua menghadirkan pengalaman unik melalui Cigar Trip—mengajak peserta melihat langsung perjalanan cerutu dari kebun hingga menjadi produk siap nikmati. Hari itu ditutup dengan Sunset Smoking, ketika para tamu menikmati cerutu sambil menyaksikan matahari terbenam di lanskap Jember yang tenang.

Pada hari terakhir, peserta diajak menjelajahi kota melalui Jember Trip, mengenal lebih dekat budaya, kuliner, dan kehidupan masyarakat setempat.

Masa Depan Kota Cerutu

Festival ini sekali lagi membuktikan bahwa Jember bukan sekadar kota kecil di Jawa Timur. Ia adalah tempat di mana tradisi tembakau, kreativitas masyarakat, dan peluang ekonomi bertemu.

Dengan semakin kuatnya branding sebagai kota cerutu, Jember berharap dapat terus menarik wisatawan, investor, dan pecinta cerutu dari berbagai penjuru dunia.

Dan bagi mereka yang pernah datang ke festival ini, satu hal yang pasti: Jember bukan hanya tempat untuk menikmati cerutu—tetapi juga tempat untuk merasakan cerita di baliknya.

industri cerutu indonesia: potensi besar di tengah tantangan global