Romanian Travelers to the Cigar Factory

This morning, We welcomed a group of travelers from Romania to the cigar factory. They arrived around 9:30 in the morning as part of a long overland journey across Indonesia. Their route had already taken them through Jakarta, Yogyakarta, Surabaya, and Bromo. After visiting Jember and Kalibaru, they would continue to Banyuwangi before finally ending their trip in Bali.

There were 17 people in the group, accompanied by a tour leader who translated my English explanations into Romanian for the participants.

As they gathered in front of the factory, I began with my usual introduction.

“Hello ladies and gentlemen, welcome to the cigar factory. Now I’m going to tell a story about the process of making cigars.”


Introducing the Three Types of Tobacco Leaves

Before entering the production area, I invited them to stand in front of several tobacco leaves that had been prepared for the description. I always like to begin the tour from the tobacco because each part of the leave has soul of every cigar.

“In front of us,” I said, “there are three different types of tobacco leaf.”

I picked up the first leaf carefully.

“This one is called filler. The filler is responsible for aroma, strength and taste.”

Then I showed them the second leaf.

“This is binder. Its purpose is to hold the filler together.”

Finally, I lifted the smoothest and most beautiful leaf.

“And this one is wrapper. The wrapper becomes the outer layer of the cigar. It influences appearance, texture, and even part of the flavor experience.”

while I describe each of the leaves, which part from the plantation taken, the participants observed the leaves closely. Some touched the texture of the wrapper leaf with curiosity, while others took photos during the explanation.


rak sekat dnt

When Nobody Had Smoked a Cigar Before

Before continuing, I asked them a simple question.

“Does anyone here smoke cigars before?”

Nobody raised a hand. Apparently, none of them had ever smoked a cigar in their lives.

That answer actually made the tour more interesting for us because I realized I was introducing something completely new to them.

I told them not to worry because the explanation would be lively and easy to follow. The atmosphere immediately became more relaxed.

I continued by showing them the anatomy of a cigar and the handmade production process step by step.


Explaining the Handmade Cigar Process

After the introduction, we entered the factory area where I showed them how tobacco leaves are sorted according to quality and texture before being prepared for rolling. I explained how the filler leaves are treated and blended carefully to create balance in aroma and character; body and strength.

Then I demonstrated the rolling process.

The participants watched attentively as I explained how the filler is placed before being rolled by binder and shaped by hand. Some of them seemed surprised to discover that there is no machinery in the process of making cigars but those require skilled hands, precision and persistance.

I continued the explanation by introducing the molding process. I showed them the wooden molds used to maintain the cigar’s shape and density.

After that, I pointed to the refrigerator which function to maintain the excess cigars humidity and keep them for few days before go to the aging room, where cigars are stored for months so the flavors can mature naturally and blended as intended.


Romanian and Tobacco Stories

At every stage, the tour leader translated my explanation into Romanian. The interaction between English and Romanian created an interesting rhythm during the tour.

While waiting for the translation, I could observe the participants’ reactions more carefully. Some nodded with curiosity, while others quietly recorded videos of the process.

What I enjoyed most was seeing how genuinely interested they became, even though they were not cigar smokers. They asked questions about tobacco leaves, where the tobacco came from, and how to store cigars properly.

Surprisingly, several participants bought cigars as souvenirs along our quick tour. Some said they wanted to bring them home as gifts, while others simply wanted to remember the experience of visiting a traditional cigar factory in Indonesia.


Demonstrating How to Enjoy a Cigar

At the end of the tour, I demonstrated how to properly hold, light, and smoke a cigar.

I explained that cigars are not inhaled like cigarettes but enjoyed slowly to appreciate the flavor and aroma.

None of them decided to smoke, but they listened carefully and laughed during this session.


A Cultural Connection Through Cigars

Before the group departed, I thanked the tour leader for helping bridge the language difference throughout the tour.

The participants waved goodbye warmly before boarding their bus and continuing their journey toward Banyuwangi and Bali.

After they left, I stood quietly for a moment and reflected on the experience. What stayed in my mind was not only the factory explanation itself, but the feeling that cigars had become a cultural bridge between people from very different backgrounds.

Even for visitors who had never smoked before, the story behind tobacco, craftsmanship, and tradition was enough to create curiosity and connection. For me, that is always the most meaningful part of guiding visitors through the cigar factory.

Location: Dwipa Nusantara Tobacco

JKCI 2025: Kolaborasi, Tradisi, dan Komitmen Nyata

Agenda di lokasi utama lahan perkebunan ini adalah perayaan atas hasil bumi Jember yang sesungguhnya. Festival Jember Kota Cerutu Indonesia (JKCI) 2025 mencapai titik gempita yang luar biasa.

Di balik kemegahan yang tersaji, panitia membagikan cerita tentang effort masif tim di balik layar. Area panggung dan lanskap lapangan di tengah kebun ini rupanya telah dipersiapkan sejak 3 bulan sebelum acara dimulai—meliputi persiapan lahan selama 2 bulan dan penataan tanaman tembakau dekoratif selama 40 hari. Sebuah dedikasi luar biasa agar para peserta bisa meresapi keindahan budaya tembakau secara utuh.

Panggung Kolaborasi Lintas Negara dan Lintas Industri

Sesuai dengan semangat “Savoring Tradition, Embracing the Future,” festival hari itu mempertemukan keberagaman dari berbagai belahan dunia dan elemen industri. Tidak tanggung-tanggung, perwakilan dari empat negara sahabat—yaitu Malaysia, Australia, Hong Kong, dan Cina—turut hadir memadati barisan kursi undangan.

Namun, yang membuat JKCI 2025 terasa sangat istimewa adalah kentalnya atmosfer persatuan. Di tempat ini, egosektoral dileburkan. Berbagai pabrikan besar cerutu dan produsen tembakau nasional duduk berdampingan, mulai dari kelompok tani lokal, PTPN, Tembakau Medan, Tarumartani, hingga Wismilak.

“Tahun ini adalah tahun kolaborasi demi Merah Putih. Tidak ada kompetisi di antara kita. Kita semua berkumpul di sini sebagai sesama penyigar dan pemerhati cerutu untuk bersama-sama memajukan tembakau Indonesia,” ujar panitia dengan penuh semangat.

Sentuhan Tradisi Jember yang Memukau

Puncak festival disemarakkan oleh perpaduan seni tradisional dan modern yang memukau mata para tamu internasional. Sesuai temanya, tradisi Jember disajikan secara megah melalui penampilan Jember Fashion Carnaval (JFC) yang ikonik, tarian tradisional Cemara Biru, hingga dentuman musik perkusi khas Jember, MusikPatrol – Beko’Kereng. Kehadiran seni budaya ini seolah mempertegas bahwa tembakau dan kebudayaan lokal di Jember adalah dua hal yang tumbuh beriringan dan tidak bisa dipisahkan.

Komitmen dan Speech Bupati Jember: Tembakau adalah Jiwa Pedesaan

Kemeriahan acara semakin lengkap dengan hadirnya Bupati Jember yang memberikan pidato (speech) penting di atas panggung utama. Beliau menyampaikan apresiasi mendalam atas konsistensi penyelenggaraan JKCI yang membawa dampak nyata bagi daerah.

“Event JKCI ini sangat berarti buat Kabupaten Jember, karena sebuah daerah yang maju biasanya ditandai dengan wisatanya yang juga maju. Selain itu, JKCI adalah event yang berhasil mengorbitkan sektor pertembakauan kita. Tembakau ini adalah industri yang menyerap banyak sekali tenaga kerja, khususnya masyarakat pedesaan, yaitu para petani kita,” ungkap Gus Fawait.

Lebih dari sekadar apresiasi, Pemerintah Kabupaten Jember menegaskan komitmennya untuk terus bersinergi dengan panitia JKCI guna memberikan perlindungan terbaik bagi garda terdepan industri ini. Komitmen nyata tersebut dibuktikan secara simbolis di atas panggung melalui penyerahan kartu asuransi ketenagakerjaan kepada 40.000 petani tembakau di Kabupaten Jember. Sebuah langkah visioner untuk memastikan masa depan para petani lebih terjamin.

Tak Terhentikan oleh Hujan

Meskipun di tengah-tengah acara langit Jember gemerintik – gempita dan antusiasme di outdoor stage sama sekali tidak surut. Di bawah rintik hujan, rangkaian parade budaya tetap berjalan anggun, dan para tamu dari berbagai negara tetap bertahan di tempat duduk mereka dengan senyuman lebar, menikmati setiap momen magis yang tersaji.

Hari kedua JKCI 2025 di lahan Ambulu ini sukses membekaskan kesan mendalam tentang arti sebuah harmoni. Industri cerutu bukan lagi sekadar komoditas asap premium di ruang tertutup, melainkan sebuah jembatan yang menyatukan diplomasi internasional, pelestarian budaya lokal, kolaborasi lintas pabrikan, hingga perlindungan nyata bagi puluhan ribu petani pedesaan.

Bagi kita di GriyaCerutu, puncak acara JKCI 2025 ini memberikan kita alasan untuk bangga pada cerutu nusantara. Di dalam setiap batang yang kita nikmati, ada komitmen sebuah bangsa, keindahan seni budaya, dan jaminan kesejahteraan bagi mereka yang menanamnya.

Maju terus tembakau Indonesia, sejahteralah para petani kita. Salam Cigar, Salam Sehat, Salam Bahagia!


Sumber tulisan: kunjungan kami saat acara berlangsung dan youtube O’Sersan Channel

JKCI 2025: Perhelatan Tahunan Malam Pertama

Jember kembali membuktikan dirinya sebagai sentra bagi masyarakat tembakau. Tanggal 11 Juli yang lalu menjadi penanda dimulainya sebuah perhelatan yang dinanti, sebagai ruang kumpul tahunan: Festival Jember Kota Cerutu Indonesia (JKCI) 2025

Atmosfer hari pertama ini terasa begitu magis. Sejak sore, gerbang festival sudah diramaikan oleh langkah kaki para tamu yang datang dari berbagai penjuru, siap untuk merayakan sebuah tradisi yang terjaga.

Malam itu bukan sekadar acara seremonial, melainkan sebuah ruang silaturahmi yang hidup. Di bawah langit Jember, para supplier, distributor, hingga komunitas penyigar berkumpul melingkari meja, ditemani aroma sedap asap tipis dan hidangan makan malam spesial yang diracik langsung oleh tangan berbakat alumni MasterChef Indonesia

Merawat Sejarah, Memeluk Masa Depan

Ada rasa bangga yang kental saat menatap tema yang diusung tahun ini: Savoring Tradition, Embracing the Future.

Lewat dialog-dialog hangat di sudut acara, tersurat sebuah pesan mendalam. JKCI 2025 bukan hanya tentang menikmati cerutu, melainkan sebuah komitmen untuk menjaga sejarah panjang tembakau Jember sembari melangkah mantap menuju masa depan.

Menariknya, festival kali ini memperluas ruang komunalnya. Jember tidak lagi hanya ingin dikenal lewat cerutunya saja, tetapi juga ingin memamerkan pesona pariwisata, geliat UMKM, dan potensi daerah lainnya. Sebuah ekosistem yang dibangun bersama-sama demi satu tujuan mulia: membawa kesejahteraan langsung untuk petani tembakau lokal.

Malam itu, ruang acara dipenuhi oleh keberagaman yang luar biasa. Mulai dari kehadiran Bapak Dr. Bebeb A.K. Nugraha Djunjunan (Duta Besar RI untuk Yunani), jajaran anggota DPR, hingga sahabat-sahabat komunitas cerutu internasional yang terbang jauh-jauh dari Malaysia, Hong Kong, Afrika Selatan, hingga Australia.

Wajah Baru di Balik Asap Cerutu

Bergeser ke area pameran, mata kami tertuju oleh deretan koleksi terbaik dari Boss Image Nusantara (BIN) Cigar bersama rekanan produksinya. Produk-produk maklon yang dipajang menjadi prestasi kualitas cerutu buatan Indonesia – kini sudah sejajar di panggung dunia.

Di sela-sela semerbak asap, kami sempat berbincang dengan Rian dari CerutuJakarta. Ada sebuah kabar baik yang ia bagikan mengenai tren saat ini. Industri cerutu tanah air kini sedang mengalami peremajaan. “Makin banyak pemula dan anak-anak muda yang mulai belajar nyigar,” ujarnya sembari tersenyum.

Cerutu kini bukan lagi konsumsi eksklusif generasi tua, melainkan gaya hidup baru yang dinamis bagi anak muda kota besar.

Keberagaman ini makin nyata saat kami menuju area kompetisi. Di sana, menikmati cerutu telah melebur batasan gender. Sista-sista penikmat cerutu—salasatunya Bu Nana dari Wismilak Cigar—tampak duduk santai berdampingan dengan para penyigar senior lainnya, menikmati setiap hisapan dengan penuh keanggunan.

Ketegangan di Long Ash Contest

Malam mencapai puncak keseruannya saat Long Ash Contest (Lomba Abu Terpanjang) dimulai. Aturan mainnya sederhana namun butuh ketenangan tingkat tinggi: dalam waktu 25 menit, peserta harus mempertahankan abu cerutu mereka agar tetap panjang, lurus, dan tidak patah saat miring.

Tantangan kali ini terbilang berat karena panitia memilih The Ambassador, sebuah cerutu dengan ukuran yang cukup panjang. Diperlukan presisi, kontrol napas, dan ketenangan terukur untuk menjaganya tetap utuh.

Dunia cerutu selalu ada kejutan. Di tengah ketegangan para afficionado yang sudah ikut festival ini berkali-kali, gelar juara justru jatuh ke tangan seorang pemula yang baru pertama kali mencicipi panggung kompetisi. Saat ditanya apa rahasianya, ia hanya tertawa renyah, “Nggak pakai latihan khusus, modal nekat aja!”. Sebuah pembuktian bahwa adakalanya keberuntungan dan ketenangan alami mengalahkan kebiasaan.

Kejutan di Penghujung Malam: Don Juan untuk Sang Pemula

Sebelum gelaran hari pertama usai, BIN Cigar memberikan sebuah kejutan manis yang memicu penasaran. Soft launching untuk lini produk terbaru mereka: Don Juan.

Mempunyai karakter yang bersahabat, Don Juan hadir sebagai jawaban untuk para penikmat pemula (entry-level) atau mereka yang mencari morning cigar—cerutu ringan untuk menemani secangkir kopi di pagi hari, atau dinikmati di sela-sela jadwal sibuk yang singkat. Kehadirannya seolah menegaskan komitmen industri untuk merangkul pasar kawula muda.

Hari pertama JKCI 2025 berakhir dengan tawa yang renyah dan jabat tangan yang hangat. Ini barulah awal dari sebuah perayaan besar. Masih ada agenda esok yang menjanjikan kisah perkebunan si daun emas.

GriyaCerutu selalu mendukung industri lokal, cerutu tanah air, dan kesejahteraan petani tembakau Indonesia.

Salam Cigar, Salam Sehat, Salam Bahagia!


Sumber tulisan: kunjungan kami saat acara berlangsung dan youtube O’Sersan