Malam Puncak JKCI 2025: Stay Gold dan Sejarah Baru di Panggung Slow Smoke

Puncak penutupan Festival Jember Kota Cerutu Indonesia (JKCI) 2025 bertransformasi menjadi sebuah simfoni yang anggun, hangat, dan penuh kemewahan. Ruang utama tempat gala dinner dipadati oleh para tokoh penting, diplomat, pelaku industri, hingga pencinta cerutu dunia yang bersiap menyaksikan klimaks dari perayaan tembakau terbesar di Indonesia ini.

Tiga Perspektif, Satu Visi: Sambutan para Tokoh

Malam puncak dibuka oleh rentetan sambutan hangat yang memberikan pandangan mendalam mengenai masa depan cerutu Indonesia di panggung global.

  • Bapak Ir. Imam Wahyudi (Direktur Utama BIN Cigar): Dalam sambutannya, beliau menyampaikan rasa terima kasih mendalam atas sinergi luar biasa yang tercipta selama JKCI 2025. Beliau menegaskan bahwa BIN Cigar berkomitmen untuk terus menjadi lokomotif inovasi yang tidak hanya memproduksi cerutu premium, tetapi juga menjaga marwah Jember sebagai ibu kota cerutu yang disegani secara internasional.
  • Bapak Muhammad Fawait, S.E., M.Sc. (Bupati Jember): Kembali menegaskan dukungan penuh pemerintah daerah. Beliau menyampaikan rasa bangganya melihat bagaimana industri cerutu mampu menyatukan berbagai elemen masyarakat dan menjadi pilar ekonomi serta pariwisata yang kokoh bagi Kabupaten Jember.
  • Bapak Dr. Bebeb A.K. Nugraha Djunjunan (Duta Besar RI untuk Yunani): Memberikan perspektif diplomasi yang kuat. Beliau menekankan bahwa cerutu Jember bukan lagi sekadar komoditas pertanian, melainkan instrumen diplomasi budaya yang luar biasa. Kualitas cerutu Indonesia kini telah memiliki paspor yang sah untuk merebut hati para penikmat cerutu premium di pasar Eropa dan dunia.

Soft Launching “Stay Gold”: Saat Cerutu Bertemu Alunan Musik Java Jive

Kejutan yang paling dinanti-nanti akhirnya tiba. Setelah memperkenalkan Don Juan di malam pertama, BIN Cigar melakukan gebrakan besar di malam penutupan dengan meluncurkan produk kolaborasi mahakarya terbaru mereka: “Stay Gold”.

Produk ini merupakan buah kolaborasi eksklusif antara BIN Cigar dengan band pop-legend tanah air, Java Jive. Nama Stay Gold sendiri diambil sebagai simbol keemasan—sebuah doa dan perwujudan agar kualitas tembakau Indonesia tetap berkilau dan abadi layaknya karya musik Java Jive yang tak lekang oleh waktu. Dengan karakter blend yang dikurasi secara presisi, cerutu ini menjanjikan pengalaman mengisap yang harmonis, elegan, dan penuh cita rasa, sangat cocok dinikmati sembari mendengarkan alunan musik pop dan berkelas.

Slow Smoke Championship: Dominasi dan Ketenangan 

Keseruan malam itu mencapai titik ketegangan tertinggi saat kompetisi paling bergengsi dalam dunia cerutu dimulai: Slow Smoke Championship (Lomba Mengisap Cerutu Terlama). Berbeda dengan lomba abu terpanjang, kompetisi ini menuntut ketenangan, teknik menjaga bara api sekecil mungkin tanpa membiarkannya mati, dan kontrol napas yang luar biasa konstan.

Panggung kompetisi kali ini mencetak sejarah baru yang sangat membanggakan. Gelar juara utama berhasil direbut oleh seorang perempuan, Mbak Elok. Di tengah kepulan asap dan persaingan ketat dari para penyigar senior domestik maupun internasional, ketenangan mental Mbak Elok terbukti tak tergoyahkan. Keberhasilannya menjadi pemenang membuktikan sekali lagi bahwa seni menikmati cerutu kini telah meleburkan batas gender dan melahirkan mentor-mentor baru yang penuh talenta.

Tirai Ditutup: Sampai Jumpa di JKCI 2026!

Malam berganti larut, ditutup dengan kegembirtaan, foto bersama, dan komitmen kolaborasi yang semakin solid di antara para peserta lintas negara. Tirai JKCI 2025 resmi diturunkan dengan sejuta cerita manis, pengetahuan berharga dari hulu ke hilir, dan rasa respek yang semakin mendalam terhadap sebatang cerutu.

Bagi kita semua di GriyaCerutu, festival tahun ini telah menaikkan standar industri cerutu Indonesia ke level yang lebih tinggi. Membawa kebanggaan daun emas dari bumi Jember akan terus bersinar di peta dunia.

Terima kasih Jember, terima kasih BIN Cigar, dan terima kasih para petani tembakau Indonesia. Sampai jumpa di kemegahan Festival Jember Kota Cerutu Indonesia (JKCI) 2026!

Salam Cigar, Salam Sehat, Salam Bahagia! Stay Gold!


Sumber tulisan: kunjungan kami saat acara berlangsung dan youtube O’Sersan Channel

Gempita Kolaborasi: Hujan, Tradisi, dan Komitmen Nyata di Puncak JKCI 2025

Agenda di lokasi utama lahan perkebunan ini adalah perayaan atas hasil bumi Jember yang sesungguhnya. Festival Jember Kota Cerutu Indonesia (JKCI) 2025 mencapai titik gempita yang luar biasa.

Di balik kemegahan yang tersaji, panitia membagikan cerita tentang effort masif tim di balik layar. Area panggung dan lanskap lapangan di tengah kebun ini rupanya telah dipersiapkan sejak 3 bulan sebelum acara dimulai—meliputi persiapan lahan selama 2 bulan dan penataan tanaman tembakau dekoratif selama 40 hari. Sebuah dedikasi luar biasa agar para peserta bisa meresapi keindahan budaya tembakau secara utuh.

Panggung Kolaborasi Lintas Negara dan Lintas Industri

Sesuai dengan semangat “Savoring Tradition, Embracing the Future,” festival hari itu mempertemukan keberagaman dari berbagai belahan dunia dan elemen industri. Tidak tanggung-tanggung, perwakilan dari empat negara sahabat—yaitu Malaysia, Australia, Hong Kong, dan Cina—turut hadir memadati barisan kursi undangan.

Namun, yang membuat JKCI 2025 terasa sangat istimewa adalah kentalnya atmosfer persatuan. Di tempat ini, egosektoral dileburkan. Berbagai pabrikan besar cerutu dan produsen tembakau nasional duduk berdampingan, mulai dari kelompok tani lokal, PTPN, Tembakau Medan, Tarumartani, hingga Wismilak.

“Tahun ini adalah tahun kolaborasi demi Merah Putih. Tidak ada kompetisi di antara kita. Kita semua berkumpul di sini sebagai sesama penyigar dan pemerhati cerutu untuk bersama-sama memajukan tembakau Indonesia,” ujar panitia dengan penuh semangat.

Sentuhan Tradisi Jember yang Memukau

Puncak festival disemarakkan oleh perpaduan seni tradisional dan modern yang memukau mata para tamu internasional. Sesuai temanya, tradisi Jember disajikan secara megah melalui penampilan Jember Fashion Carnaval (JFC) yang ikonik, tarian tradisional Cemara Biru, hingga dentuman musik perkusi khas Jember, MusikPatrol – Beko’Kereng. Kehadiran seni budaya ini seolah mempertegas bahwa tembakau dan kebudayaan lokal di Jember adalah dua hal yang tumbuh beriringan dan tidak bisa dipisahkan.

Komitmen dan Speech Bupati Jember: Tembakau adalah Jiwa Pedesaan

Kemeriahan acara semakin lengkap dengan hadirnya Bupati Jember yang memberikan pidato (speech) penting di atas panggung utama. Beliau menyampaikan apresiasi mendalam atas konsistensi penyelenggaraan JKCI yang membawa dampak nyata bagi daerah.

“Event JKCI ini sangat berarti buat Kabupaten Jember, karena sebuah daerah yang maju biasanya ditandai dengan wisatanya yang juga maju. Selain itu, JKCI adalah event yang berhasil mengorbitkan sektor pertembakauan kita. Tembakau ini adalah industri yang menyerap banyak sekali tenaga kerja, khususnya masyarakat pedesaan, yaitu para petani kita,” ungkap Gus Fawait.

Lebih dari sekadar apresiasi, Pemerintah Kabupaten Jember menegaskan komitmennya untuk terus bersinergi dengan panitia JKCI guna memberikan perlindungan terbaik bagi garda terdepan industri ini. Komitmen nyata tersebut dibuktikan secara simbolis di atas panggung melalui penyerahan kartu asuransi ketenagakerjaan kepada 40.000 petani tembakau di Kabupaten Jember. Sebuah langkah visioner untuk memastikan masa depan para petani lebih terjamin.

Tak Terhentikan oleh Hujan

Meskipun di tengah-tengah acara langit Jember gemerintik – gempita dan antusiasme di outdoor stage sama sekali tidak surut. Di bawah rintik hujan, rangkaian parade budaya tetap berjalan anggun, dan para tamu dari berbagai negara tetap bertahan di tempat duduk mereka dengan senyuman lebar, menikmati setiap momen magis yang tersaji.

Hari kedua JKCI 2025 di lahan Ambulu ini sukses membekaskan kesan mendalam tentang arti sebuah harmoni. Industri cerutu bukan lagi sekadar komoditas asap premium di ruang tertutup, melainkan sebuah jembatan yang menyatukan diplomasi internasional, pelestarian budaya lokal, kolaborasi lintas pabrikan, hingga perlindungan nyata bagi puluhan ribu petani pedesaan.

Bagi kita di GriyaCerutu, puncak acara JKCI 2025 ini memberikan kita alasan untuk bangga pada cerutu nusantara. Di dalam setiap batang yang kita nikmati, ada komitmen sebuah bangsa, keindahan seni budaya, dan jaminan kesejahteraan bagi mereka yang menanamnya.

Maju terus tembakau Indonesia, sejahteralah para petani kita. Salam Cigar, Salam Sehat, Salam Bahagia!


Sumber tulisan: kunjungan kami saat acara berlangsung dan youtube O’Sersan Channel

Hamparan Emas Hijau: Sejarah Berharga Megahnya Kebun Tembakau Besuki Na-Oogst Jember

Hari kedua Festival Jember Kota Cerutu Indonesia (JKCI) 2025 membawa kami langsung ke sumber dari segalanya: tanah tempat bertumbuhnya tradisi itu.

Destinasi pertama para peserta pagi itu menuju wilayah legendaris, tepatnya di Kecamatan Ambulu. Sejauh mata memandang, hamparan hijau daun-daun tembakau lebar berdiri kokoh, menyelimuti area perkebunan seluas hampir 3.000 hektar.

Mengenal Besuki Na-Oogst: Sang Wrapper Dunia

Berjalan di antara barisan tanaman, kami mendapatkan wawasan baru yang begitu berharga mengenai tembakau lokal kebanggaan Jember: Besuki Na-Oogst (Bes-NO).

Bagi kalangan awam, tembakau mungkin terlihat sama, tetapi tanah Jember memiliki pembagian karakter yang spesifik. Bes-NO yang ditanam lebih awal ini dirawat dengan perlakuan khusus karena peruntukannya yang krusial, yaitu sebagai wrapper (daun pembungkus luar) cerutu. Kehalusan tekstur dan elastisitas daun di area Ambulu ini menjadikannya salasatu bahan wrapper terbaik di dunia. Berbeda dengan tembakau yang ditanam di area Jember bagian utara pada bulan Juli ke atas, yang biasanya diproyeksikan untuk mengisi bagian binder (pengikat) hingga filler (isi) cerutu – karena memiliki karakter rasa yang lebih kuat.

Romantisme Sejarah “Daun Emas” yang Mendunia

Di tengah kebun, kami beruntung bisa berbincang dengan salah satu pakar yang memahami betul industri ini, Dr. Iryono. Beliau membagikan kisah romantis tentang bagaimana Jember bisa bertransformasi menjadi Kota Cerutu seperti sekarang.

Sejarah mencatat, perjalanan ini dimulai jauh pada tahun 1859 ketika beberapa pengusaha asal Belanda melihat potensi luar biasa dari tanah Jember. Lebih dari 160 tahun yang lalu, sistem pertanian modern (Good Agricultural Practices) mulai diperkenalkan di sini. Jember—yang dalam arti bahasa lokalnya sebenarnya merujuk pada daerah basah atau rawa-rawa—ternyata memiliki kantong-kantong lahan kering yang luar biasa ramah bagi tanaman tembakau.

“Dulu, para pengusaha Belanda meraup keuntungan yang sangat masif dari perkebunan di Jember ini. Saking bernilainya, tembakau Besuki Na-Oogst sampai dijuluki sebagai ‘Daun Emas’ atau ‘Emas Hijau’ yang tumbuh di persawahan,” kisah Dr. Iryono dengan binar bangga.

Bahkan dalam catatan sejarah keemasannya, luas lahan tembakau di Jember pernah menyentuh angka fantastis, yakni 36.000 hektar—hampir setengah dari total kapasitas wilayah Jember saat itu. Catatan ini mengukuhkan Jember di posisi elite sebagai salah satu dari tiga kota cerutu utama di Indonesia, bersanding dengan Deli (Sumatera Utara) dan Klaten (Jawa Tengah).

Decak Kagum dan Sentuhan Kemanusiaan di Tiap Helai

Matahari makin beranjak naik ketika rombongan peserta—termasuk Bupati Jember—tiba di lokasi utama perkebunan. Alunan musik hiburan tradisional dan sajian kuliner lokal segera menyambut kehadiran mereka, mencairkan suasana hangat di tengah ladang.

Bagi banyak peserta, terutama mereka yang baru pertama kali menginjakkan kaki di perkebunan tembakau Jember, momen ini menghadirkan experience yang membuat mereka terpukau. “Gila, seru banget! Gua sampai kaget, ternyata pohon tembakau itu tinggi-tinggi banget dan ukuran daunnya luar biasa gede,” ujar salah satu peserta sembari sibuk mengabadikan momen untuk diunggah di Instagram.

Di sela-sela aktivitas menjelajah kebun, panitia JKCI 2025 bersama Bapak Dr. Bebeb A.K. Nugraha Djunjunan meluangkan waktu untuk melakukan aksi sosial dan berbagi bersama para petani lokal.

“Ini adalah bagian dari tanggung jawab kita yang memahami industri ini untuk merawat budaya lokal sekaligus memperhatikan petani lokal. Kalau petaninya sehat dan sejahtera, maka seluruh ekosistem industri cerutu ini pasti akan berjalan dengan sangat baik,” ungkap Bapak Bebeb dengan bijak.

Petualangan Berikutnya

Setelah puas mengeksplorasi hamparan kebun, menikmati makan siang, dan bercengkerama langsung dengan sejarah hidup sang daun emas, rombongan bersiap untuk bergerak ke lokasi kedua yang hanya berjarak beberapa menit dari Ambulu. Petualangan hari kedua ini masih menyimpan banyak cerita tersembunyi yang siap digali.

Melihat langsung bagaimana selembar daun dirawat dari tanah Jember hingga menjadi cerutu premium di jemari kita menimbulkan rasa hormat yang mendalam terhadap setiap isapan yang kita nikmati.

Sampai jumpa di catatan perjalanan JKCI berikutnya: Salam Cigar, Salam Sehat, Salam Bahagia!

Sumber tulisan: kunjungan kami saat acara berlangsung dan youtube O’Sersan

Meniti Masa Depan Lewat Tradisi: Catatan Hangat Hari Pertama JKCI 2025

Jember kembali membuktikan dirinya sebagai sentra bagi masyarakat tembakau. Tanggal 11 Juli yang lalu menjadi penanda dimulainya sebuah perhelatan yang dinanti, sebagai ruang kumpul tahunan: Festival Jember Kota Cerutu Indonesia (JKCI) 2025

Atmosfer hari pertama ini terasa begitu magis. Sejak sore, gerbang festival sudah diramaikan oleh langkah kaki para tamu yang datang dari berbagai penjuru, siap untuk merayakan sebuah tradisi yang terjaga.

Malam itu bukan sekadar acara seremonial, melainkan sebuah ruang silaturahmi yang hidup. Di bawah langit Jember, para supplier, distributor, hingga komunitas penyigar berkumpul melingkari meja, ditemani aroma sedap asap tipis dan hidangan makan malam spesial yang diracik langsung oleh tangan berbakat alumni MasterChef Indonesia

Merawat Sejarah, Memeluk Masa Depan

Ada rasa bangga yang kental saat menatap tema yang diusung tahun ini: Savoring Tradition, Embracing the Future.

Lewat dialog-dialog hangat di sudut acara, tersurat sebuah pesan mendalam. JKCI 2025 bukan hanya tentang menikmati cerutu, melainkan sebuah komitmen untuk menjaga sejarah panjang tembakau Jember sembari melangkah mantap menuju masa depan.

Menariknya, festival kali ini memperluas ruang komunalnya. Jember tidak lagi hanya ingin dikenal lewat cerutunya saja, tetapi juga ingin memamerkan pesona pariwisata, geliat UMKM, dan potensi daerah lainnya. Sebuah ekosistem yang dibangun bersama-sama demi satu tujuan mulia: membawa kesejahteraan langsung untuk petani tembakau lokal.

Malam itu, ruang acara dipenuhi oleh keberagaman yang luar biasa. Mulai dari kehadiran Bapak Dr. Bebeb A.K. Nugraha Djunjunan (Duta Besar RI untuk Yunani), jajaran anggota DPR, hingga sahabat-sahabat komunitas cerutu internasional yang terbang jauh-jauh dari Malaysia, Hong Kong, Afrika Selatan, hingga Australia.

Wajah Baru di Balik Asap Cerutu

Bergeser ke area pameran, mata kami tertuju oleh deretan koleksi terbaik dari Boss Image Nusantara (BIN) Cigar bersama rekanan produksinya. Produk-produk maklon yang dipajang menjadi prestasi kualitas cerutu buatan Indonesia – kini sudah sejajar di panggung dunia.

Di sela-sela semerbak asap, kami sempat berbincang dengan Rian dari CerutuJakarta. Ada sebuah kabar baik yang ia bagikan mengenai tren saat ini. Industri cerutu tanah air kini sedang mengalami peremajaan. “Makin banyak pemula dan anak-anak muda yang mulai belajar nyigar,” ujarnya sembari tersenyum.

Cerutu kini bukan lagi konsumsi eksklusif generasi tua, melainkan gaya hidup baru yang dinamis bagi anak muda kota besar.

Keberagaman ini makin nyata saat kami menuju area kompetisi. Di sana, menikmati cerutu telah melebur batasan gender. Sista-sista penikmat cerutu—salasatunya Bu Nana dari Wismilak Cigar—tampak duduk santai berdampingan dengan para penyigar senior lainnya, menikmati setiap hisapan dengan penuh keanggunan.

Ketegangan di Long Ash Contest

Malam mencapai puncak keseruannya saat Long Ash Contest (Lomba Abu Terpanjang) dimulai. Aturan mainnya sederhana namun butuh ketenangan tingkat tinggi: dalam waktu 25 menit, peserta harus mempertahankan abu cerutu mereka agar tetap panjang, lurus, dan tidak patah saat miring.

Tantangan kali ini terbilang berat karena panitia memilih The Ambassador, sebuah cerutu dengan ukuran yang cukup panjang. Diperlukan presisi, kontrol napas, dan ketenangan terukur untuk menjaganya tetap utuh.

Dunia cerutu selalu ada kejutan. Di tengah ketegangan para afficionado yang sudah ikut festival ini berkali-kali, gelar juara justru jatuh ke tangan seorang pemula yang baru pertama kali mencicipi panggung kompetisi. Saat ditanya apa rahasianya, ia hanya tertawa renyah, “Nggak pakai latihan khusus, modal nekat aja!”. Sebuah pembuktian bahwa adakalanya keberuntungan dan ketenangan alami mengalahkan kebiasaan.

Kejutan di Penghujung Malam: Don Juan untuk Sang Pemula

Sebelum gelaran hari pertama usai, BIN Cigar memberikan sebuah kejutan manis yang memicu penasaran. Soft launching untuk lini produk terbaru mereka: Don Juan.

Mempunyai karakter yang bersahabat, Don Juan hadir sebagai jawaban untuk para penikmat pemula (entry-level) atau mereka yang mencari morning cigar—cerutu ringan untuk menemani secangkir kopi di pagi hari, atau dinikmati di sela-sela jadwal sibuk yang singkat. Kehadirannya seolah menegaskan komitmen industri untuk merangkul pasar kawula muda.

Hari pertama JKCI 2025 berakhir dengan tawa yang renyah dan jabat tangan yang hangat. Ini barulah awal dari sebuah perayaan besar. Masih ada agenda esok yang menjanjikan kisah perkebunan si daun emas.

GriyaCerutu selalu mendukung industri lokal, cerutu tanah air, dan kesejahteraan petani tembakau Indonesia.

Salam Cigar, Salam Sehat, Salam Bahagia!


Sumber tulisan: kunjungan kami saat acara berlangsung dan youtube O’Sersan