Hamparan Emas Hijau: Sejarah Berharga Megahnya Kebun Tembakau Besuki Na-Oogst Jember

Hari kedua Festival Jember Kota Cerutu Indonesia (JKCI) 2025 membawa kami langsung ke sumber dari segalanya: tanah tempat bertumbuhnya tradisi itu.

Destinasi pertama para peserta pagi itu menuju wilayah legendaris, tepatnya di Kecamatan Ambulu. Sejauh mata memandang, hamparan hijau daun-daun tembakau lebar berdiri kokoh, menyelimuti area perkebunan seluas hampir 3.000 hektar.

Mengenal Besuki Na-Oogst: Sang Wrapper Dunia

Berjalan di antara barisan tanaman, kami mendapatkan wawasan baru yang begitu berharga mengenai tembakau lokal kebanggaan Jember: Besuki Na-Oogst (Bes-NO).

Bagi kalangan awam, tembakau mungkin terlihat sama, tetapi tanah Jember memiliki pembagian karakter yang spesifik. Bes-NO yang ditanam lebih awal ini dirawat dengan perlakuan khusus karena peruntukannya yang krusial, yaitu sebagai wrapper (daun pembungkus luar) cerutu. Kehalusan tekstur dan elastisitas daun di area Ambulu ini menjadikannya salasatu bahan wrapper terbaik di dunia. Berbeda dengan tembakau yang ditanam di area Jember bagian utara pada bulan Juli ke atas, yang biasanya diproyeksikan untuk mengisi bagian binder (pengikat) hingga filler (isi) cerutu – karena memiliki karakter rasa yang lebih kuat.

Romantisme Sejarah “Daun Emas” yang Mendunia

Di tengah kebun, kami beruntung bisa berbincang dengan salah satu pakar yang memahami betul industri ini, Dr. Iryono. Beliau membagikan kisah romantis tentang bagaimana Jember bisa bertransformasi menjadi Kota Cerutu seperti sekarang.

Sejarah mencatat, perjalanan ini dimulai jauh pada tahun 1859 ketika beberapa pengusaha asal Belanda melihat potensi luar biasa dari tanah Jember. Lebih dari 160 tahun yang lalu, sistem pertanian modern (Good Agricultural Practices) mulai diperkenalkan di sini. Jember—yang dalam arti bahasa lokalnya sebenarnya merujuk pada daerah basah atau rawa-rawa—ternyata memiliki kantong-kantong lahan kering yang luar biasa ramah bagi tanaman tembakau.

“Dulu, para pengusaha Belanda meraup keuntungan yang sangat masif dari perkebunan di Jember ini. Saking bernilainya, tembakau Besuki Na-Oogst sampai dijuluki sebagai ‘Daun Emas’ atau ‘Emas Hijau’ yang tumbuh di persawahan,” kisah Dr. Iryono dengan binar bangga.

Bahkan dalam catatan sejarah keemasannya, luas lahan tembakau di Jember pernah menyentuh angka fantastis, yakni 36.000 hektar—hampir setengah dari total kapasitas wilayah Jember saat itu. Catatan ini mengukuhkan Jember di posisi elite sebagai salah satu dari tiga kota cerutu utama di Indonesia, bersanding dengan Deli (Sumatera Utara) dan Klaten (Jawa Tengah).

Decak Kagum dan Sentuhan Kemanusiaan di Tiap Helai

Matahari makin beranjak naik ketika rombongan peserta—termasuk Bupati Jember—tiba di lokasi utama perkebunan. Alunan musik hiburan tradisional dan sajian kuliner lokal segera menyambut kehadiran mereka, mencairkan suasana hangat di tengah ladang.

Bagi banyak peserta, terutama mereka yang baru pertama kali menginjakkan kaki di perkebunan tembakau Jember, momen ini menghadirkan experience yang membuat mereka terpukau. “Gila, seru banget! Gua sampai kaget, ternyata pohon tembakau itu tinggi-tinggi banget dan ukuran daunnya luar biasa gede,” ujar salah satu peserta sembari sibuk mengabadikan momen untuk diunggah di Instagram.

Di sela-sela aktivitas menjelajah kebun, panitia JKCI 2025 bersama Bapak Dr. Bebeb A.K. Nugraha Djunjunan meluangkan waktu untuk melakukan aksi sosial dan berbagi bersama para petani lokal.

“Ini adalah bagian dari tanggung jawab kita yang memahami industri ini untuk merawat budaya lokal sekaligus memperhatikan petani lokal. Kalau petaninya sehat dan sejahtera, maka seluruh ekosistem industri cerutu ini pasti akan berjalan dengan sangat baik,” ungkap Bapak Bebeb dengan bijak.

Petualangan Berikutnya

Setelah puas mengeksplorasi hamparan kebun, menikmati makan siang, dan bercengkerama langsung dengan sejarah hidup sang daun emas, rombongan bersiap untuk bergerak ke lokasi kedua yang hanya berjarak beberapa menit dari Ambulu. Petualangan hari kedua ini masih menyimpan banyak cerita tersembunyi yang siap digali.

Melihat langsung bagaimana selembar daun dirawat dari tanah Jember hingga menjadi cerutu premium di jemari kita menimbulkan rasa hormat yang mendalam terhadap setiap isapan yang kita nikmati.

Sampai jumpa di catatan perjalanan JKCI berikutnya: Salam Cigar, Salam Sehat, Salam Bahagia!

Sumber tulisan: kunjungan kami saat acara berlangsung dan youtube O’Sersan

0 / 5. 0