Setiap tanggal 27 Juni, dunia merayakan Hari UMKM Internasional (International MSME Day). Tahun 2026, PBB mengangkat tema “Empowering MSMEs through Innovation and Sustainable Industrial Development”. Tema ini bukan sekadar slogan, melainkan sebuah seruan untuk membangun ekonomi yang lebih kondusif dan berpihak pada masyarakat ekonomi kreatif di tengah tantangan industri pabrikasi global.
Bagi Griyacerutu, peringatan ini memiliki makna yang sangat mendalam. Sebagai bagian dari ekosistem UMKM di Indonesia, kami merefleksikan peran kami tidak hanya sebagai agen pemasaran, tetapi sebagai penyambung napas bagi komunitas tembakau di Jember.
Komoditas Rakyat, Bukan Sekadar Barang Mewah
Sebagai putra daerah, kami menempatkan diri untuk mendukung komoditas unggulan Jember. Salah satu miskonsepsi terbesar yang kami sampaikan adalah anggapan bahwa cerutu merupakan barang mewah untuk kalangan tertentu.
Di Griyacerutu, kami percaya bahwa cerutu adalah produk budaya yang bisa dinikmati oleh berbagai kalangan. Namun, kami sadar bahwa edukasi mengenai tradisi menikmati cerutu yang tepat di Indonesia masih belum merata. Penetrasi pasar yang selama ini terbatas di kota-kota besar menjadi pekerjaan rumah besar bagi kami.
Menghadapi Tantangan di Era Digital
Kami mengakui bahwa perjalanan kami tidak mudah. Industri tembakau memiliki batasan regulasi pemasaran yang ketat. Saat ini, distribusi pemasaran kami pun masih sangat bergantung pada jalur daring (online) sebagai trafik utama.
Sesuai dengan tantangan yang dipetakan oleh PBB, UMKM sering kali beroperasi di lingkungan yang sulit dengan akses terbatas ke pendanaan dan infrastruktur. Ketergantungan pada model bisnis yang belum terdiversifikasi membuat kami rentan terhadap perubahan pasar. Namun, ini menjadi bagian kami untuk melakukan optimasi dan relefansi di era digital saat ini.
Harapan dan Inovasi: Menjawab Panggilan PBB
PBB menekankan bahwa kemajuan teknologi digital, kecerdasan buatan (artificial intelligence), dan inovasi hijau menawarkan peluang bagi UMKM untuk meningkatkan produktivitas dan akses pasar. Griyacerutu siap belajar dan mengupgrade diri.
Langkah strategis:
Melakukan Edukasi: kami akan berupaya mengedukasi pasar mengenai budaya cerutu yang memasyarakat.
Mendukung Keberlanjutan Industri: Kami percaya bahwa kemajuan Griyacerutu adalah kemajuan petani dan perajin tembakau Jember. Dengan mengutamakan kualitas lokal, kami berkontribusi pada ekonomi kreatif daerah yang berkelanjutan.
Membangun Resiliensi: Dengan mematuhi aturan yang ada dan terus memperluas jaringan, kami optimis produk lokal dapat menjadi kebanggaan nasional.
Bangga Produk Lokal, Sejahtera Masyarakat Tembakau
Di Hari UMKM Internasional ini, harapan kami sangat sederhana namun kuat: semoga cerutu Indonesia, khususnya dari Jember, dapat diterima sebagai bagian dari gaya hidup yang diapresiasi oleh masyarakat luas.
Kami bangga menjadi bagian dari mesin ekonomi Indonesia. Mari kita dukung produk lokal, tidak hanya sebagai bentuk apresiasi terhadap karya anak bangsa, tetapi sebagai langkah nyata untuk menyejahterakan masyarakat tembakau Indonesia.
Selamat Hari UMKM Internasional.
Referensi adaptasi tema: UN Observance of Micro-, Small and Medium-sized Enterprises Day.
Di tengah rutinitas harian, pekerjaan, dan sesekali rasa bosan yang datang tanpa undangan, aku menemukan cara sederhana untuk mengisi waktu luang: menanam benih Palm Putri.
Aku tinggal di Perumahan Griya Mangli. Seperti kebanyakan rumah di perumahan, lahan tanah yang tersisa tidaklah lebar. Namun rumah kami berada di posisi tikungan, sehingga ada sedikit ruang tanah di pinggir rumah yang masih bisa dimanfaatkan. Dari ruang kecil itulah tumbuh cerita yang tidak kecil.
Beberapa tahun lalu, istriku menanam satu pohon palm putri. Kini pohon itu sudah menjulang melebihi atap rumah. Kehadirannya bukan hanya mempercantik halaman, tetapi juga membawa kehidupan lain. Burung-burung sering menjadikannya tempat bersarang, bertelur, dan membesarkan anak-anaknya. Serangga datang, dedaunan bergoyang, dan suasana rumah terasa lebih hidup, membentuk ekosistem kecil yang unik. Tanah sekitar serasa teduh dan tentu saja pohon ini gak bakal merepotkan, sebab palm daunnya lebar dan hampir tidak mudah lepas.
Pohon palm pertama itu kini berusia lebih dari sepuluh tahun. Dari satu pohon, banyak biji jatuh ke tanah. Sebagian aku semai, dan hasilnya sekarang sudah tumbuh lima pohon palm besar lainnya di sudut dan bangunan samping rumah. Rasanya menyenangkan melihat bagaimana satu pohon bisa melahirkan banyak kehidupan baru.
Beberapa bibit yang sudah cukup besar juga pernah diambil tetangga untuk ditanam kembali di teras rumah mereka. Ada pula yang dibawa ke sekolah untuk kegiatan menanam bunga dan pohon bersama. Dari halaman kecil kami, bibit-bibit itu menyebar ke tempat lain.
Hari ini aku mengulangi kebiasaan yang sama. Saat ada waktu senggang, aku memungut biji-biji yang jatuh dan mulai tumbuh, lalu menyesuaikan ke dalam polybag dengan kompos sebagai media tanam sementara. Aktivitas sederhana ini memberiku ketenangan. Ada rasa puas saat melihat sesuatu tumbuh perlahan, tanpa tergesa-gesa. Tentu saja sebagai reward kecil selepas menanam benih dan merapikan deretan polybag, aku hisap sebatang robusto dan menikmati secangkir robusta Argopuro.
Aku sampaikan saja di sini, memang aktifitas kecil ini terbuka bagi siapa saja yang ingin mengambil bibit-bibit itu dan menanamnya di tempat baru. Harapanku sederhana: semoga pohon-pohon kecil ini kelak bisa tumbuh besar, memberi teduh, memperindah ruang sekitar, dan menghadirkan kehidupan sebagaimana pohon pertama di rumah kami.
Kadang kita tidak perlu lahan luas untuk berbuat baik pada lingkungan. Cukup sedikit ruang, sedikit waktu luang, dan kemauan untuk menanam sesuatu yang baik.
Di dunia yang terus menuntut kecepatan, produktivitas, dan perhatian tanpa henti, banyak orang mencari cara untuk melambat tanpa kehilangan makna dalam hidupnya. Salah satu ritual sederhana namun kuat adalah menggabungkan journaling, secangkir kopi, dan menikmati cerutu dengan tenang. Ketiganya dapat menciptakan momen yang tidak hanya produktif, tetapi juga bersifat terapeutik.
Sering kali ritual seperti ini diasosiasikan dengan laki-laki. Gambaran seseorang yang duduk santai dengan buku catatan, kopi, dan cerutu memang kerap muncul dalam budaya populer. Namun sebenarnya, praktik refleksi melalui journaling bukanlah milik satu gender saja. Baik pria maupun wanita dapat menikmati manfaatnya sebagai cara untuk menemukan ketenangan dan kejernihan pikiran.
Menulis sebagai Terapi
Banyak penelitian ilmiah menunjukkan bahwa menulis dapat membantu seseorang memproses pikiran dan emosinya. Journaling bukan sekadar mencatat kejadian sehari-hari, tetapi juga menjadi percakapan jujur dengan diri sendiri.
Ketika menulis secara rutin, kita mulai mengurai pikiran yang sebelumnya terasa berantakan. Stres, kekhawatiran, ide, dan harapan perlahan menemukan bentuknya di atas kertas. Proses ini dapat mengurangi tekanan mental dan membantu kita memahami diri sendiri dengan lebih baik.
Jika olahraga adalah latihan bagi tubuh, maka menulis adalah latihan bagi pikiran.
Tekanan dalam Kehidupan Modern
Kehidupan modern sering kali menuntut kita untuk selalu sibuk. Tanggung jawab pekerjaan, tekanan finansial, dan ekspektasi sosial membuat banyak orang hidup dalam ritme yang cepat dan penuh tekanan. Tidak sedikit orang yang akhirnya mengabaikan kesehatan mental mereka. Jam kerja yang panjang dan sedikit waktu untuk refleksi membuat stres menumpuk tanpa disadari.
Di sinilah journaling dapat menjadi penyeimbang yang sederhana namun efektif.
Dengan meluangkan waktu bahkan hanya 10 menit sehari untuk menulis, kita memberi ruang bagi pikiran untuk melepaskan beban yang selama ini dipendam. Menulis membantu memperlambat arus pikiran dan melihat berbagai situasi dengan perspektif yang lebih tenang.
Ritual: Kopi, Cerutu, dan Refleksi
Menggabungkan journaling dengan sebuah ritual kecil membuat pengalaman ini terasa lebih bermakna.
Aroma kopi yang hangat dapat membangkitkan indera dan menghadirkan suasana tenang. Sementara itu, menikmati cerutu secara perlahan mendorong kita untuk tidak terburu-buru. Cerutu memiliki ritme yang lambat—setiap hisapan mengajak kita untuk berhenti sejenak dan merenung.
Ketika dipadukan dengan journaling, terciptalah ruang refleksi yang sangat personal.
Bayangkan duduk di teras pada pagi hari atau di penghujung sore. Secangkir kopi di samping Anda, buku catatan terbuka, dan pikiran mengalir melalui tulisan. Cerutu dalam konteks ini bukan sekadar simbol gaya hidup, tetapi pengingat untuk menikmati momen secara perlahan.
Membuka Kreativitas
Journaling juga dapat menjadi sumber kreativitas yang luar biasa.
Banyak pengusaha, penulis, dan pemikir menggunakan jurnal sebagai tempat mencatat ide. Ketika kita menulis tanpa tekanan, pikiran menjadi lebih bebas untuk mengeksplorasi berbagai kemungkinan.
Sering kali, solusi terhadap masalah pekerjaan, ide bisnis baru, atau konsep kreatif muncul dari catatan sederhana yang ditulis saat merenung.
Tulisan membantu mengubah pikiran yang samar menjadi gagasan yang lebih jelas.
Praktik untuk Siapa Saja
Walaupun budaya cerutu sering dikaitkan dengan ruang maskulin, refleksi melalui journaling bersifat universal. Semakin banyak wanita juga menikmati ritual tenang yang memberi ruang untuk berpikir, berkreativitas, dan merawat kesehatan mental.
Intinya bukan pada stereotipnya, tetapi pada ruang yang tercipta.
Sebuah momen hening. Minuman hangat. Buku catatan. Dan waktu untuk berpikir.
Membentuk Kebiasaan
Jika ingin memulai, Anda tidak perlu membuatnya rumit: • Sisihkan 10–15 menit setiap hari • Tulis apa saja yang muncul di pikiran tanpa khawatir soal struktur atau tata bahasa • Gunakan topik seperti rasa syukur, ide, refleksi, atau rencana • Temani dengan ritual kecil yang menenangkan—kopi, teh, atau suasana yang tenang
Seiring waktu, journaling akan berubah dari sekadar kebiasaan menjadi ruang pribadi untuk menemukan kejernihan pikiran.
Nilai Sebenarnya
Manfaat terbesar dari journaling bukanlah jumlah halaman yang Anda tulis, melainkan kejernihan yang Anda dapatkan.
Pikiran menjadi lebih teratur. Stres lebih mudah dikelola. Ide mulai bermunculan.
Baik Anda seorang profesional yang menghadapi tekanan pekerjaan, seorang pengusaha yang mencari inspirasi, atau siapa pun yang ingin menemukan momen bermakna dalam keseharian—journaling dapat menjadi terapi yang sederhana namun mendalam. Sering kali, wawasan terbaik justru muncul dalam momen paling sederhana: sebuah buku catatan, secangkir kopi, dan waktu untuk berhenti sejenak.
Tahun ini tepat 10 tahun kala erupsi Gunung Raung 2015 dikenang sebagai realita bencana alam yang pemberitaannya tak terbatas pada penerbangan yang dibatalkan, abu vulkanik yang sampai ke Bali, dan masyarakat terdampak yang setiap hari harus mengenakan masker dan sebagian masyarakat sekitar memperbaiki atap rumahnya.
Tetapi bagi petani tembakau di wilayah terutama Jember, Bondowoso, dan sekitarnya, erupsi Raung 2015 dikenang dengan istilah lain: mereka menyebutnya Musim Abu.
Turun perlahan dan bergerak menyebar disapu angin bukan datang sebagai bencana yang meledak, gerakan yang senyap perlahan, menempel di atap rumah, menutupi halaman dan yang paling menyakitkan: melekat di daun tembakau yang sedang dibesarkan dengan harapan.
Raung meletus berbulan-bulan. Aktivitasnya memuncak sekitar Juni–Juli 2015 dan terus berlangsung hingga sekitar enam bulan lebih dalam status waspada. Setiap pagi petani bangun bukan untuk merawat tanaman, tetapi menebak arah angin. Sebab arah angin menentukan: hari itu kebun membaik, atau kembali kelabu.
Di beberapa desa, orang-orang mulai hidup berdampingan dengan abu. Menyapu halaman, lantai teras; menjadi rutinitas. Sebagian mereka menutupi properti mereka dengan terpal.
Tetapi tembakau harus dibiarkan terbuka dan tak mungkin di bersihkan tiap hari
Seperti tahun tahun sebelumnya, petani dengan optimis menanam tembakau sampai musim panen tiba. Benih ditebar, lahan dirawat, pupuk dibeli, tenaga kerja dibayar. Semua dilakukan dengan keyakinan bahwa saat panen datang, hasilnya bisa mengembalikan biaya satu musim.
Namun musim 2015 arahnya beda.
Abu vulkanik menempel pada daun. Sebagian daun mengalami perubahan kualitas. Penampilan fisik yang biasanya menjadi penentu mutu mulai terganggu.
Ketika panen tiba, hasil yang mereka bawa tidak lagi bernilai seperti yang dibayangkan. Harga turun.
Kerugian sektor tembakau saat itu diperkirakan mencapai ratusan miliar rupiah. Angka yang sering disebut mencapai sekitar Rp340 miliar. Tetapi angka sebesar itu tidak pernah benar-benar menjelaskan isi dapur petani. Yang mereka tahu hanya satu: musim tak berpihak mereka yang ada adalah tagihan.
Saat itu bertepatan musim kampanye: biasalah janji-janji bantuan, perhatian, dan pembicaraan tentang kompensasi untuk petani terdampak. Tetapi seperti kampanye sebelumnya, menguap di kursi dewan.
Gudang dan pabrikan juga menghadapi persoalan baru. Debu vulkanik yang melekat pada daun memaksa penanganan tambahan.
Abu halus menempel pada permukaan daun dan memerlukan penanganan tambahan agar tidak mengganggu proses berikutnya.
Sortasi diperketat. Pembersihan bertambah. Tenaga kerja meningkat. Biaya produksi naik.
Musim itu menghadirkan situasi yang jarang terjadi: Industri mengeluarkan ongkos lebih besar. Petani menerima harga lebih rendah.
Erupsi Raung 2015 bukan sekadar catatan geologi bagi kawasan tembakau. Ia adalah bagian dari ingatan kolektif petani, tentang musim tembakau dan abu vulkanik.
Industri cerutu di Indonesia memiliki sejarah panjang yang berakar dari kejayaan komoditas tembakau Nusantara. Sejak awal abad ke-20, tembakau Indonesia telah dikenal luas di pasar internasional karena kualitasnya yang khas. Namun hingga hari ini, perkembangan industri cerutu nasional masih menghadapi berbagai tantangan, mulai dari regulasi hingga persaingan global.
Awal Mula Industri Cerutu di Indonesia
Perkembangan industri cerutu di Indonesia dapat ditelusuri sejak sekitar tahun 1918, ketika komoditas tembakau dari Nusantara mulai mendapatkan pengakuan di pasar internasional. Pada masa itu, berbagai fasilitas pengolahan tembakau mulai dibangun, terutama di wilayah Jawa Tengah dan Jawa Timur, yang dikenal sebagai pusat perkebunan tembakau berkualitas tinggi.
Pabrik-pabrik tersebut tidak hanya memproduksi cerutu, tetapi juga melakukan proses sortasi dan pengolahan daun tembakau untuk kemudian diekspor ke berbagai negara. Daun tembakau Indonesia—seperti dari daerah Jember, Besuki, dan Deli—memiliki karakter unik yang membuatnya banyak digunakan sebagai bahan pembungkus (wrapper) maupun filler dalam industri cerutu dunia.
Pada masa itu, perdagangan tembakau menjadi salah satu sektor yang sangat menguntungkan dan berkontribusi besar terhadap ekspor Indonesia.
Produksi Tembakau Indonesia di Panggung Dunia
Indonesia saat ini termasuk salah satu produsen tembakau terbesar di dunia. Dalam beberapa laporan industri, Indonesia sering disebut sebagai salah satu dari lima produsen tembakau terbesar secara global, bahkan produksi nasionalnya melampaui beberapa negara yang terkenal di dunia cerutu seperti Kuba dalam hal volume tembakau mentah.
Pada tahun 2019, produksi tembakau Indonesia mencapai sekitar 269.803 ton, meningkat dibandingkan beberapa tahun sebelumnya. Namun, seperti banyak sektor lainnya, industri ini sempat mengalami penurunan produksi pada 2020 dan 2021 akibat dampak pandemi COVID-19 yang memengaruhi distribusi, ekspor, dan aktivitas ekonomi secara umum.
Meskipun demikian, kualitas tembakau Indonesia tetap diakui secara global, terutama untuk jenis tembakau cerutu yang digunakan oleh banyak produsen internasional.
Pasar Cerutu Domestik yang Masih Kecil
Menariknya, meskipun Indonesia memiliki jumlah perokok yang sangat besar, pasar cerutu domestik masih relatif kecil dibandingkan dengan pasar rokok. Hal ini membuat pertumbuhan industri cerutu dalam negeri berjalan lebih lambat dibandingkan negara-negara produsen cerutu lainnya.
Namun dalam beberapa tahun terakhir, mulai terlihat tren pertumbuhan minat terhadap cerutu, terutama sejak sekitar 2017. Beberapa produsen lokal mulai mencoba strategi baru dengan menargetkan konsumen muda dan pemula, memperkenalkan cerutu dengan ukuran lebih kecil, rasa yang lebih ringan, serta harga yang lebih terjangkau.
Pendekatan ini perlahan membantu memperluas basis konsumen cerutu di Indonesia.
Persaingan dengan Industri Cerutu Global
Dalam skala global, industri cerutu Indonesia masih menghadapi persaingan kuat dari perusahaan-perusahaan besar yang telah lama mendominasi pasar dunia. Beberapa perusahaan multinasional bahkan memiliki pendapatan yang jauh lebih besar dibandingkan nilai ekspor tembakau Indonesia.
Salah satu contohnya adalah Scandinavian Tobacco Group, perusahaan asal Denmark yang merupakan salah satu produsen tembakau olahan terbesar di dunia. Pada tahun 2020, perusahaan ini mencatat pendapatan sekitar USD 963 juta.
Selain itu, pasar cerutu premium global juga didominasi oleh perusahaan-perusahaan besar seperti:
Habanos S.A. (Kuba)
General Cigar Company (Amerika Serikat)
Imperial Brands (Inggris)
Swedish Match (Swedia)
Kondisi ini menimbulkan pertanyaan penting bagi masa depan industri cerutu Indonesia: apakah Indonesia akan terus menjadi pemasok bahan baku tembakau, atau mulai membangun merek cerutu nasional yang mampu bersaing di pasar global.
Tantangan Regulasi dan Kampanye Anti-Rokok
Industri tembakau global mulai menghadapi tekanan besar sejak 1990, ketika berbagai organisasi kesehatan internasional termasuk WHO mulai mengkampanyekan gerakan anti-merokok karena dampaknya terhadap kesehatan.
Di Indonesia sendiri, industri tembakau juga menghadapi berbagai kebijakan pemerintah seperti:
kenaikan cukai rokok hampir setiap tahun,
pembatasan iklan produk tembakau,
serta kampanye kesehatan publik terkait bahaya merokok.
Menurut Abdul Kahar Muzakir, seorang ahli tembakau cerutu sekaligus pendiri BIN Cigar, kondisi tersebut membuat perkembangan industri cerutu non-rokok di Indonesia menjadi tidak mudah.
Usulan Pembentukan Dewan Tembakau Nasional
Dalam tulisannya yang berjudul “Challenges and Opportunities for Cigar Tobacco Agribusiness”, Herry Budiarto mengemukakan gagasan penting mengenai masa depan industri tembakau Indonesia.
Ia menyarankan pembentukan Dewan Tembakau Nasional yang berfungsi sebagai lembaga independen untuk:
melakukan penelitian dan pengembangan industri tembakau
mengoordinasikan para pemangku kepentingan
membantu merumuskan kebijakan industri yang lebih terarah
mendukung kesejahteraan petani tembakau
Dengan adanya lembaga semacam ini, diharapkan industri tembakau—termasuk cerutu—dapat berkembang lebih terstruktur dan berkelanjutan.
Dampak Pandemi dan Perubahan Konsumsi
Pandemi COVID-19 juga memberikan dampak yang berbeda pada berbagai produk tembakau. Penjualan rokok mengalami penurunan volume pada tahun 2020, sementara tembakau iris (fine cut tobacco) justru mengalami peningkatan permintaan. Produk ini memiliki basis konsumen yang besar, terutama di daerah pedesaan, di mana tembakau sering disajikan bersama kertas rokok dalam berbagai acara sosial dan pertemuan keluarga.
Menariknya, permintaan terhadap cerutu tetap relatif stabil, bahkan menunjukkan pertumbuhan kecil selama periode pandemi. Meskipun jumlah konsumennya jauh lebih sedikit dibandingkan rokok, para penikmat cerutu cenderung merupakan konsumen loyal yang tetap membeli produk tersebut meskipun kondisi ekonomi sedang sulit.
Masa Depan Cerutu Indonesia
Melihat potensi tembakau berkualitas yang dimiliki Indonesia, industri cerutu nasional sebenarnya memiliki peluang besar untuk berkembang lebih jauh. Dengan dukungan kebijakan yang tepat, investasi yang lebih besar, serta pengembangan merek lokal yang kuat, bukan tidak mungkin cerutu Indonesia dapat memperoleh posisi yang lebih penting di pasar global.
Jika langkah-langkah tersebut dapat diwujudkan, produsen cerutu lokal memiliki peluang untuk tumbuh dan bersaing dengan perusahaan-perusahaan besar dunia, sekaligus mengangkat kembali kejayaan tembakau Nusantara di industri cerutu internasional.
Tahun 2020 sampai 2022 adalah masa yang sulit bagi banyak orang. Tapi di tengah situasi pandemi COVID-19, ada momen yang justru membuat penjualan cerutu kami meningkat cukup drastis. Saat itu order datang hampir setiap hari dan notifikasi berbunyi dari dua platform besar: Tokopedia dan Shopee.
Waktu itu aturan untuk produk tembakau dan cerutu di marketplace belum seketat sekarang. Tetapi menurutku bukan hanya itu faktor utamanya. Ada momentum yang ikut mendorong semuanya berjalan begitu cepat.
Saat lockdown diberlakukan, orang-orang dibatasi untuk keluar rumah. Banyak yang tidak bisa nongkrong di coffee shop, pergi ke bar, atau sekadar menikmati malam di luar rumah. Aktivitas hiburan berubah total, mereka dipaksa untuk berdiam diri di rumah tak tahu sampai kapan, bosan. Mereka mencoba alternatif untuk membuat rileks, kemudian cerutu menjadi salah satu alternatif kecil untuk menikmati waktu di rumah.
Pada rentang masa covid dan di berlakukan lockdown itulah BRC membawa momentum meluncurkan cerutu robusto seri Mylockdown, launching cerutu ini sebagai pembakar semangat buat para penggiat cerutu dan industri tembakau.
My Lockdown, terinspirasi ditengah pembatasan karena pandemi
Aku melihat banyak orang yang sebelumnya bukan penikmat cerutu mulai mencoba membeli secara online. Mereka punya waktu lebih banyak di rumah, punya sedikit ruang untuk menikmati sesuatu dengan lebih pelan. Sebagian membeli hanya karena penasaran, sebagian lagi benar-benar menikmati pengalaman baru itu.
Pada masa itu, omset kami benar-benar naik dibanding tahun-tahun sebelumnya.
Setelah Pandemi: Mengalami Penurunan
Tetapi seperti halnya banyak momentum bisnis, tidak semuanya bertahan selamanya.
Setelah pandemi mulai mereda, penjualan tentu mengalami penurunan. Pembeli yang sebenarnya bukan pencerutu perlahan hilang. Mereka kembali ke rutinitas normal. Namun ada juga kabar baiknya. Sebagian pembeli ternyata mulai serius menikmati cerutu dan beralih dari rokok ke cerutu; terasa beda dan mereka bisa membuat jeda, kapan saat yang tepat menikmatinya. Mereka inilah yang kemudian menjadi repeat order.
Di sisi lain, tantangan baru mulai muncul.
Sekitar tahun 2023 sampai 2024, marketplace mulai menaikkan komisi penjualan. Tidak hanya itu, beberapa toko yang menjual produk tembakau, rokok, dan cerutu mulai terkena banned atau pembatasan permanen. Ruang gerak kami sebagai agen cerutu resmi menjadi semakin sempit.
Ketika Marketplace Tidak Lagi Sehat
Lalu masuk ke tahun 2024 hingga 2025, fee komisi dari marketplace semakin tinggi. Angkanya cukup besar, bahkan bisa mencapai 10 sampai 15 persen. Bagi bisnis niche seperti cerutu, margin keuntungan menjadi sangat tipis.
Di titik itu aku mulai berpikir bahwa kami tidak bisa terus bergantung pada marketplace.
Akhirnya kami memutuskan membangun website sendiri: Griyacerutu.com
Tentu saja membangun website bukan berarti traffic langsung datang begitu saja. Aku harus mulai belajar banyak hal yang sebelumnya tidak pernah benar-benar kupelajari secara serius. Mulai dari desain website, tampilan halaman produk, pengalaman pengguna, hingga bagaimana menyajikan tulisan yang membuat pengunjung betah membaca cerita di dalamnya.
Sedikit demi sedikit aku belajar memahami bahwa website berbeda dengan toko online. Website adalah rumah digital yang terus di rawat.
Belajar Membangun Rumah Digital
Kami mulai memperkenalkan website melalui Instagram. Lewat story, caption, dan link yang kami bagikan perlahan. Follower mulai mengunjungi website. Sebagian datang untuk memastikan, sebagian lain langsung melakukan order cerutu.
Pelan, tetapi terasa lebih sehat.
Sekarang, di tahun 2025–2026, menurutku ruang menjual cerutu lewat marketplace hampir mustahil. Regulasi semakin ketat dan pembatasan semakin jelas. Karena itu satu-satunya cara yang paling masuk akal adalah membangun platform sendiri melalui website.
Karena itulah aku mulai rutin membuat konten tulisan dan cerita.
Bukan hanya tentang cerutu, tetapi juga tentang kopi, perjalanan, suasana desa, slow living, dan pengalaman menikmati waktu dengan lebih tenang.
Aku menyebutnya:
“Discover Stories of Cigar, Coffee, and Slow Journeys with Us.”
Angin Segar untuk Dunia Cerutu Indonesia
Di tengah semua tantangan itu, ada kabar baik tentunya yang membuatku optimis.
Beberapa produsen cerutu di Jember mulai mengeluarkan varian baru dengan kualitas yang jauh lebih baik dibanding sebelumnya. Menurutku ini menjadi angin segar bagi dunia cerutu Indonesia. Perlahan kualitas meningkat, pilihan semakin menarik, dan penikmat cerutu di Indonesia juga mulai tumbuh dengan selera yang lebih matang.
Perjalanan ini masih panjang.
Tetapi sekarang aku mulai memahami bahwa membangun sesuatu yang bertahan lama memang membutuhkan proses yang pelan, konsisten, dan penuh cerita.
Pada akhir November 2021, udara Jember terasa sedikit berbeda. Aroma cerutu semerbak dengan semangat para pecinta cerutu, pengusaha, dan tamu dari berbagai negara. Selama tiga hari, dari 26 hingga 28 November, kota di ujung timur Jawa Timur ini menjadi tuan rumah Jember Cigar City of Indonesia Festival (JKCI) yang ketiga—sebuah perayaan yang bukan sekadar festival, tetapi juga cerita tentang identitas dan masa depan Jember.
Kota yang Tumbuh Bersama Tembakau
Bagi masyarakat Jember, tembakau bukan hanya komoditas. Ia adalah bagian dari sejarah panjang yang membentuk budaya lokal. Sejak masa kolonial, daerah ini sudah dikenal sebagai penghasil tembakau berkualitas yang diekspor ke berbagai penjuru dunia.
Bupati Jember, Hendy Siswanto, dalam sambutannya pada pembukaan festival, menegaskan bahwa Jember memiliki dua wajah yang saling melengkapi. Di satu sisi, kota ini dikenal luas sebagai kota karnaval berkat Jember Fashion Carnaval. Namun di sisi lain, Jember juga memiliki identitas kuat sebagai kota tembakau dan cerutu.
Di kota ini berdiri sejumlah produsen cerutu nasional yang telah berkontribusi pada industri tembakau Indonesia. Di antaranya adalah Mangli Djaya Raya yang berdiri sejak 1960, Koperasi Kartanegara yang lahir pada 1989, Boss Image Nusantara sejak 2013, serta Dwipa Nusantara Tobacco yang berdiri pada 2019.
Selain itu, dua perusahaan cerutu internasional juga memilih Jember sebagai basis produksinya: Burger Söhne AG dan Villiger Söhne AG. Kehadiran mereka semakin menegaskan posisi Jember sebagai salah satu pusat cerutu di Indonesia.
Festival yang Membuka Pintu Dunia
Festival JKCI bukan sekadar pertemuan pecinta cerutu. Acara ini dirancang sebagai jembatan antara industri tembakau, pariwisata, dan ekonomi kreatif. Melalui festival ini, Jember ingin memperkenalkan potensi daerahnya kepada dunia.
Para tamu datang dari berbagai negara—mulai dari Laos, Nigeria, Peru, Ukraina, hingga Jerman dan Australia. Kehadiran mereka menjadi bukti bahwa cerutu dari Jember mulai mendapat perhatian global.
Menurut Febrian Kahar, Presiden Komisaris PT Boss Image Nusantara sekaligus ketua panitia festival, tema tahun ini adalah “Welcome to Jember”. Tema ini menjadi simbol kebangkitan Jember sebagai kota yang kreatif, produktif, dan terbuka bagi dunia.
Sejak 2019, pemerintah melalui Dewan Perwakilan Daerah Republik Indonesia juga telah menetapkan Jember sebagai Kota Cerutu Indonesia. Predikat ini semakin memperkuat identitas kota yang sebelumnya dikenal sebagai World Carnival City sekaligus pusat kopi robusta di Indonesia.
Pertemuan Ide, Bisnis, dan Budaya
Festival tahun ini dihadiri oleh sekitar 218 peserta. Sebagian besar berasal dari kalangan swasta, pengusaha, serta komunitas pecinta cerutu. Sekitar 12 persen peserta datang dari luar negeri, menjadikan festival ini sebagai ruang pertemuan lintas budaya dan peluang bisnis.
Tak hanya industri cerutu yang ditampilkan. Sekitar 20 pelaku UMKM lokal juga turut diperkenalkan kepada perwakilan beberapa kedutaan yang hadir. Ini menjadi langkah penting untuk memperluas pasar produk unggulan Jember ke luar negeri, dengan Malaysia sebagai salah satu target awal.
Bagi Jember, cerutu bukan hanya produk ekspor. Ia juga menjadi alat diplomasi ekonomi yang membuka peluang baru bagi masyarakat.
Tiga Hari yang Berkesan
Selama tiga hari, festival ini dipenuhi berbagai agenda yang dirancang untuk memberikan pengalaman khas Jember.
Hari pertama dimulai dengan Opening Ceremony dan Welcome Dinner, sebuah momen hangat untuk mempertemukan para tamu dari berbagai negara.
Hari kedua menghadirkan pengalaman unik melalui Cigar Trip—mengajak peserta melihat langsung perjalanan cerutu dari kebun hingga menjadi produk siap nikmati. Hari itu ditutup dengan Sunset Smoking, ketika para tamu menikmati cerutu sambil menyaksikan matahari terbenam di lanskap Jember yang tenang.
Pada hari terakhir, peserta diajak menjelajahi kota melalui Jember Trip, mengenal lebih dekat budaya, kuliner, dan kehidupan masyarakat setempat.
Masa Depan Kota Cerutu
Festival ini sekali lagi membuktikan bahwa Jember bukan sekadar kota kecil di Jawa Timur. Ia adalah tempat di mana tradisi tembakau, kreativitas masyarakat, dan peluang ekonomi bertemu.
Dengan semakin kuatnya branding sebagai kota cerutu, Jember berharap dapat terus menarik wisatawan, investor, dan pecinta cerutu dari berbagai penjuru dunia.
Dan bagi mereka yang pernah datang ke festival ini, satu hal yang pasti: Jember bukan hanya tempat untuk menikmati cerutu—tetapi juga tempat untuk merasakan cerita di baliknya.