Sabtu Pagi, Kopi Robusta, dan Percakapan Tentang Keberlanjutan

Pagi tadi Mas Gede menghubungiku lewat WhatsApp.

“Salam, Mas ada di rumah?”

Aku jawab singkat, “Ya di rumah.”

Tak lama kemudian, motor Mas Gede sudah terdengar masuk pagar depan. Sepertinya ia sedang agak terburu-buru karena masih harus mengantar paket ke JNT. Obrolan sederhana singkat itu, bakal berlanjut sepulang dari antar paket, ujarnya sambil berbegas start motornya.

Di saat yang hampir bersamaan, istriku baru pulang dari jalan pagi sambil membawa sayur dan beberapa jajanan. Aku memilih nasi jagung dan kami sempat berbagi beberapa sendok bersama. Setelah makan pelan-pelan, kebiasaan berikutnya tentu saja membuat kopi. Air panas sebenarnya sudah siap, tinggal dipanaskan kembali. Aku menyeduh beberapa gram bubuk robusta, tidak terlalu pekat, sesuai seleraku.

Tak sempat menungggu, rupanya Mas Gede sudah datang, bagiku tak begitu lama meski dia bilang ada tiga tempat yang di kunjungi. Aku langsung berkata, “Wah, kebetulan baru bikin kopi. Ini masih panas.”

Ia tertawa kecil sambil menjawab bahwa dirinya juga membawa kopi sendiri.

“Ayo kita seduh bareng.”

Dari situlah percakapan dimulai.

Kami berbincang tentang dunia kopi hari ini, terutama bagaimana industri kopi semakin kompetitif. Salah satu yang kami bahas adalah fenomena masyarakat desa yang justru lebih memilih kopi industri seperti Kapal Api dibanding kopi sangrai lokal, meskipun kopi lokal mudah ditemukan dan dekat dengan mereka.

Di situ kami sadar bahwa harga adalah hal yang sangat sensitif. Banyak orang akhirnya memilih kopi yang lebih murah, kopi sachetan – terlepas dari bagaimana kualitas atau kemurnian bahan di dalamnya.

Mas Gede kemudian bercerita tentang pengalamannya di Desa Badean. Suatu waktu ia diundang oleh kepala desa dan melihat langsung proses panen hingga pengolahan kopi di sana. Desa itu sebenarnya sudah memiliki bantuan alat pengolahan seperti huller, mesin roasting, dan perlengkapan lain. Namun menurutnya, masyarakat masih belum benar-benar memahami pentingnya proses dan ketelatenan dalam pengolahan kopi.

Karena penasaran, Mas Gede membawa sampel biji kopi dari desa tersebut untuk diproses sendiri di rumahnya. Biji itu ia sortir, ia roasting dengan lebih serius, lalu hasilnya dibawa kembali ke kepala desa.

Respons kepala desa cukup mengejutkan.

“Wah, kok enak sekali?”

Padahal kopi itu berasal dari desa mereka sendiri.

Ketika Mas Gede mencantumkan harga jualnya sekitar dua puluh ribu rupiah per seratus gram untuk robusta hasil proses tersebut, muncul keraguan dari pihak desa. Alasannya sederhana: masyarakat dianggap belum mampu menjangkau harga seperti itu.

Di situlah terlihat adanya jarak antara potensi kualitas dan realitas pasar.

Mas Gede juga bercerita bahwa beberapa pelanggan lamanya mulai beralih ke pemasok lain yang lebih murah. Banyak kedai kopi sekarang sangat sensitif terhadap kenaikan harga sekecil apa pun. Bahkan ada roastery dari Surabaya yang bisa masuk ke salah satu kafe di Jember karena menawarkan harga yang lebih rendah dibanding roastery lokal.

Tentu ada kompromi kualitas di sana.

Namun di sisi lain, kami juga memahami posisi para pemilik kafe. Mereka harus menghitung biaya operasional, menjaga margin, dan tetap bertahan di tengah persaingan yang ketat.

Perbincangan kemudian bergerak pada harapan-harapan kecil yang terasa hangat. Mas Gede ingin suatu hari membuka semacam coffee corner sederhana di rumahnya. Tempat kecil yang teduh, tempat orang-orang sekitar, tetangga, dan lingkaran pertemanan bisa menikmati kopi segar berkualitas sambil ditemani bakery rumahan.

Selama percakapan itu, tentu saja kami juga menikmati sebatang cerutu.

Aku memilih Johnny Half Corona, sementara Mas Gede tetap setia dengan Djanger Half Corona favoritnya. Rupanya perpaduan kopi robusta dan cerutu memang memiliki ritme yang cocok untuk percakapan panjang seperti ini.

Kurang lebih satu jam kami berbincang.

Di tengah obrolan itu, aku sempat mengatakan bahwa untuk usaha kecil seperti kami, yang paling penting sebenarnya bukan menjadi besar secepat mungkin, melainkan keberlanjutan. Semisal memiliki sepuluh pelanggan tetap yang terus kembali setiap bulan, terkadang sudah cukup untuk menjaga usaha kecil kami tetap hidup.

Mas Gede mengangguk.

Ia juga bercerita tentang pelanggan-pelanggannya yang tersebar di Jawa, Jakarta, Makassar, hingga beberapa pulau lain, itu sudah menjelaskan bagusnya sebaran customer. Namun di sisi lain, hubungan dengan petani juga terus berubah. Petani tidak selalu bisa memenuhi kebutuhan prosesor, sementara prosesor pada akhirnya tetap membeli hasil panen mereka dengan pembagian kualitas premium dan standar biasa.

Dan sering kali, kesepakatan sederhana seperti itu pun masih sulit dipenuhi. Petani kurang sependapata dengan cara itu.

Pagi ini menjadi pembuka yang hangat: robusta Jember, sebatang cerutu produksi Jember, dan percakapan panjang tentang kenyataan di balik secangkir kopi.

Semoga obrolan seperti ini terus berlanjut, bersama Mas Gede dan para prosesor kopi lainnya.

Kopi, Tembakau, dan Cerutu dari Jember

Pada kesempatan kali ini, Griyacerutu berbincang dengan Izul, seorang pecinta kopi dan tembakau yang tinggal di Jember.

Awal Ketertarikan pada Kopi dan Cerutu

Mulai kapan seorang Izul berminat di dunia cerutu dan kopi?

Untuk kopi, sebenarnya saya sudah berminat sejak lama, cuma dulu belum menemukan kopi yang benar-benar pas. Karena yang umum ditemui kan kopi sachet, jadi kecenderungannya ke kopi sachet. Setelah ketemu dengan Griyacerutu.com, literasi kopi meningkat lagi.

Kalau cerutu, awalnya jelas karena kecintaan saya pada tembakau. Saya memang perokok tembakau linting—pecinta tembakau. Tembakau dari Jember atau luar Jember, sedikit banyak sudah pernah saya coba. Lalu setelah ketemu Griyacerutu.com, saya pikir ada relasi kuat antara tembakau, rokok, dan cerutu. Tinggal memperdalam ke cerutunya saja.

Pandangan Tentang Jember sebagai Kota Cerutu Indonesia

Bagaimana pendapat atau sikap Izul tentang Jember sebagai kota cerutu Indonesia?

Saya sangat setuju dengan Jember dinobatkan sebagai kota cerutu Indonesia. Keberagaman tembakau di wilayah Jember itu banyak macamnya. Bahan baku cerutu bisa diambil dari petani lokal Jember, sehingga menghasilkan cita rasa cerutu yang variatif.

Dengan adanya cerutu, komoditas tembakau bisa naik level. Dulu Jember dikenal sebagai kota tembakau saja. Tapi dengan adanya produk cerutu yang bervariatif, harapannya bisa menembus pasar internasional.

Sumber Pengetahuan tentang Cerutu

Selama ini pengetahuan tentang cerutu didapat dari mana saja? Selain dari Griyacerutu.com, apakah ada kunjungan ke pabrik-pabrik cerutu?

Kalau kunjungan ke pabrik cerutu, masih menunggu ajakan dari Griyacerutu.com dong. Hehe.

Kesan Mengikuti Acara Cigarnight

Sebelumnya sempat ikut acara Cigarnight. Bagaimana kesan terhadap nuansa acara dan peserta yang sebagian besar generasi muda?

Kesan saya, suasananya seperti kembali ke rumah. Seperti suasana dapur zaman dulu di pedesaan—ngebul, penuh aroma tembakau murni. Dulu, saat harga rokok pabrikan masih mahal, banyak orang meracik tembakau sendiri, aromanya khas sekali.

Waktu di Cigarnight, perasaan itu muncul lagi. Apalagi acaranya banyak dihadiri anak-anak muda usia 20–30-an, bahkan ada yang masih mahasiswa. Ada live music dari Pak Imam juga. Menurut saya, luar biasa sekali untuk mengenalkan tembakau dan cerutu kepada generasi muda. Ini menegaskan bahwa Jember memang kota cerutu.

Cerutu itu milik kita, warga Jember. Kitalah yang harus memajukan komoditas tembakau di sini, bukan hanya jadi tempat singgah para miliarder untuk mencari untung.

Aroma Cerutu dan Kenangan

Saya sering menggambarkan bahwa aroma tembakau cerutu Jember bisa menghadirkan kembali kenangan atau suasana tertentu. Apakah Izul juga merasakan hal serupa?

Setuju. Aroma itu bisa menjadi pengingat. Bisa muncul kenangan-kenangan manis: waktu itu bersama siapa, di mana, dan suasana apa. Waktu itu tidak akan terulang, tapi aromanya bisa memanggil kembali memori itu.

Tadi sempat menyinggung tentang suasana “zero mind”. Maksudnya bagaimana?

Iya, “zero mind” itu maksudnya suasana ketika kita menikmati cigar dan kopi, apalagi dengan background lagu-lagu tertentu… wah itu luar biasa. Keren banget. Atmosfernya dapat sekali.

Wah ini mengingatkanku pada Inner Child pada seseorang meski telah dewasa, menurutmu gimana

Iya. Menurut saya, manusia itu sampai tua tetap membawa sifat “child”—anak kecilnya. Mainannya saja yang berubah. Nah, Inner child of mind itu berlaku untuk semua usia. Itu sifat psikologis manusia yang memang tidak hilang.

Kalau dikaitkan dengan industri cerutu dan kopi, ini sangat nyambung. Orang tetap butuh permainan, butuh “game”, hanya saja disesuaikan dengan usia dan status sosialnya. Kalau waktu kecil mainannya mobil-mobilan, setelah dewasa punya pendapatan, punya status sosial, bentuk “mainannya” berubah. Dan cerutu itu bisa menjadi salah satu bentuk permainan orang dewasa.

Itu juga berkaitan dengan hierarki kebutuhan Maslow. Ketika kebutuhan dasar sudah terpenuhi, orang mencari kesenangan yang lebih tinggi, termasuk pengalaman, lifestyle, dan kenikmatan seperti cerutu dan kopi.

Komunitas dan Rutinitas

Selain acara offline, apakah ada rencana membentuk komunitas rutin?

Ada. Komunitas cerutu yang ngumpul sebulan sekali itu sangat mungkin. Ide itu sudah masuk, dan menurut saya realistis. Bahkan minimal bisa dibuat dalam bentuk podcast audio.

Podcast dalam bentuk rekaman?

Iya. Tidak perlu setting berlebihan. Ada narasumber, ada moderator, lalu direkam apa adanya. Ambience suaranya itu yang bikin live. Supaya pendengarnya bisa merasakan suasananya.


Oke, nice untuk sesi kali ini. Terima kasih banyak, Izul.

Siap. Terima kasih kembali.

Nikmati Cerutu & Kopi dalam Perjalanan Wisata Budaya

Sebagai agen cerutu terbesar di Jawa Timur, Griyacerutu terus berinovasi untuk menghadirkan pengalaman terbaik bagi para penikmat cerutu. Pada bulan Oktober ini, Griyacerutu resmi memperluas jangkauan pemasarannya melalui kerja sama strategis dengan Sam Java Tour, agen perjalanan wisata yang berfokus pada wisatawan mancanegara.

Kolaborasi ini menghadirkan layanan wisata unik bagi para traveller yang ingin menikmati cerutu dan kopi lokal di tengah program tur mereka. Para wisatawan diajak untuk berbincang santai mengenai budaya tembakau, cerutu, dan kopi langsung di kawasan Jember dan sekitarnya — wilayah yang dikenal sebagai salah satu sentra tembakau terbaik di Indonesia.

Selain menikmati keindahan alam dan destinasi wisata ikonik Jawa Timur, peserta tur juga akan mendapatkan kesempatan eksklusif untuk:

  • Mencicipi kopi khas lokal dari perkebunan sekitar.
  • Menikmati cerutu premium koleksi Griyacerutu.com
  • Mengenal lebih dekat sejarah dan budaya tembakau di Jember.
  • Berinteraksi langsung dengan komunitas lokal dan pelaku industri tembakau.

Galeri Pengalaman

  • Wisatawan menikmati suasana perkebunan tembakau, proses penggulungan cerutu di pabrik dan mencoba cita rasa cerutu saat tur berlangsung.

Rasakan Pengalaman Otentik Cerutu & Kopi Jawa Timur

Jadikan perjalanan Anda lebih dari sekadar wisata — alami budaya tembakau dan kopi secara langsung bersama Griyacerutu dan Sam Java Tour. Pesan Tur Sekarang

Ritual Tenang: Journaling, Kopi, dan Cerutu

Di dunia yang terus menuntut kecepatan, produktivitas, dan perhatian tanpa henti, banyak orang mencari cara untuk melambat tanpa kehilangan makna dalam hidupnya. Salah satu ritual sederhana namun kuat adalah menggabungkan journaling, secangkir kopi, dan menikmati cerutu dengan tenang. Ketiganya dapat menciptakan momen yang tidak hanya produktif, tetapi juga bersifat terapeutik.

Sering kali ritual seperti ini diasosiasikan dengan laki-laki. Gambaran seseorang yang duduk santai dengan buku catatan, kopi, dan cerutu memang kerap muncul dalam budaya populer. Namun sebenarnya, praktik refleksi melalui journaling bukanlah milik satu gender saja. Baik pria maupun wanita dapat menikmati manfaatnya sebagai cara untuk menemukan ketenangan dan kejernihan pikiran.

Menulis sebagai Terapi

Banyak penelitian ilmiah menunjukkan bahwa menulis dapat membantu seseorang memproses pikiran dan emosinya. Journaling bukan sekadar mencatat kejadian sehari-hari, tetapi juga menjadi percakapan jujur dengan diri sendiri.

Ketika menulis secara rutin, kita mulai mengurai pikiran yang sebelumnya terasa berantakan. Stres, kekhawatiran, ide, dan harapan perlahan menemukan bentuknya di atas kertas. Proses ini dapat mengurangi tekanan mental dan membantu kita memahami diri sendiri dengan lebih baik.

Jika olahraga adalah latihan bagi tubuh, maka menulis adalah latihan bagi pikiran.

Tekanan dalam Kehidupan Modern

Kehidupan modern sering kali menuntut kita untuk selalu sibuk. Tanggung jawab pekerjaan, tekanan finansial, dan ekspektasi sosial membuat banyak orang hidup dalam ritme yang cepat dan penuh tekanan. Tidak sedikit orang yang akhirnya mengabaikan kesehatan mental mereka. Jam kerja yang panjang dan sedikit waktu untuk refleksi membuat stres menumpuk tanpa disadari.

Di sinilah journaling dapat menjadi penyeimbang yang sederhana namun efektif.

Dengan meluangkan waktu bahkan hanya 10 menit sehari untuk menulis, kita memberi ruang bagi pikiran untuk melepaskan beban yang selama ini dipendam. Menulis membantu memperlambat arus pikiran dan melihat berbagai situasi dengan perspektif yang lebih tenang.

Ritual: Kopi, Cerutu, dan Refleksi

Menggabungkan journaling dengan sebuah ritual kecil membuat pengalaman ini terasa lebih bermakna.

Aroma kopi yang hangat dapat membangkitkan indera dan menghadirkan suasana tenang. Sementara itu, menikmati cerutu secara perlahan mendorong kita untuk tidak terburu-buru. Cerutu memiliki ritme yang lambat—setiap hisapan mengajak kita untuk berhenti sejenak dan merenung.

Ketika dipadukan dengan journaling, terciptalah ruang refleksi yang sangat personal.

Bayangkan duduk di teras pada pagi hari atau di penghujung sore. Secangkir kopi di samping Anda, buku catatan terbuka, dan pikiran mengalir melalui tulisan. Cerutu dalam konteks ini bukan sekadar simbol gaya hidup, tetapi pengingat untuk menikmati momen secara perlahan.

Membuka Kreativitas

Journaling juga dapat menjadi sumber kreativitas yang luar biasa.

Banyak pengusaha, penulis, dan pemikir menggunakan jurnal sebagai tempat mencatat ide. Ketika kita menulis tanpa tekanan, pikiran menjadi lebih bebas untuk mengeksplorasi berbagai kemungkinan.

Sering kali, solusi terhadap masalah pekerjaan, ide bisnis baru, atau konsep kreatif muncul dari catatan sederhana yang ditulis saat merenung.

Tulisan membantu mengubah pikiran yang samar menjadi gagasan yang lebih jelas.

Praktik untuk Siapa Saja

Walaupun budaya cerutu sering dikaitkan dengan ruang maskulin, refleksi melalui journaling bersifat universal. Semakin banyak wanita juga menikmati ritual tenang yang memberi ruang untuk berpikir, berkreativitas, dan merawat kesehatan mental.

Intinya bukan pada stereotipnya, tetapi pada ruang yang tercipta.

Sebuah momen hening.
Minuman hangat.
Buku catatan.
Dan waktu untuk berpikir.

Membentuk Kebiasaan

Jika ingin memulai, Anda tidak perlu membuatnya rumit:
• Sisihkan 10–15 menit setiap hari
• Tulis apa saja yang muncul di pikiran tanpa khawatir soal struktur atau tata bahasa
• Gunakan topik seperti rasa syukur, ide, refleksi, atau rencana
• Temani dengan ritual kecil yang menenangkan—kopi, teh, atau suasana yang tenang

Seiring waktu, journaling akan berubah dari sekadar kebiasaan menjadi ruang pribadi untuk menemukan kejernihan pikiran.

Nilai Sebenarnya

Manfaat terbesar dari journaling bukanlah jumlah halaman yang Anda tulis, melainkan kejernihan yang Anda dapatkan.

Pikiran menjadi lebih teratur.
Stres lebih mudah dikelola.
Ide mulai bermunculan.

Baik Anda seorang profesional yang menghadapi tekanan pekerjaan, seorang pengusaha yang mencari inspirasi, atau siapa pun yang ingin menemukan momen bermakna dalam keseharian—journaling dapat menjadi terapi yang sederhana namun mendalam. Sering kali, wawasan terbaik justru muncul dalam momen paling sederhana: sebuah buku catatan, secangkir kopi, dan waktu untuk berhenti sejenak.

Dari Marketplace ke Website Sendiri: Cerita Bertahan di Dunia Cerutu Saat dan Setelah COVID-19

Awal Pandemi dan Order Meningkat

Tahun 2020 sampai 2022 adalah masa yang sulit bagi banyak orang. Tapi di tengah situasi pandemi COVID-19, ada momen yang justru membuat penjualan cerutu kami meningkat cukup drastis. Saat itu order datang hampir setiap hari dan notifikasi berbunyi dari dua platform besar: Tokopedia dan Shopee.

Waktu itu aturan untuk produk tembakau dan cerutu di marketplace belum seketat sekarang. Tetapi menurutku bukan hanya itu faktor utamanya. Ada momentum yang ikut mendorong semuanya berjalan begitu cepat.

Saat lockdown diberlakukan, orang-orang dibatasi untuk keluar rumah. Banyak yang tidak bisa nongkrong di coffee shop, pergi ke bar, atau sekadar menikmati malam di luar rumah. Aktivitas hiburan berubah total, mereka dipaksa untuk berdiam diri di rumah tak tahu sampai kapan, bosan. Mereka mencoba alternatif untuk membuat rileks, kemudian cerutu menjadi salah satu alternatif kecil untuk menikmati waktu di rumah.

Pada rentang masa covid dan di berlakukan lockdown itulah BRC membawa momentum meluncurkan cerutu robusto seri Mylockdown, launching cerutu ini sebagai pembakar semangat buat para penggiat cerutu dan industri tembakau.

My Lockdown, terinspirasi ditengah pembatasan karena pandemi

Aku melihat banyak orang yang sebelumnya bukan penikmat cerutu mulai mencoba membeli secara online. Mereka punya waktu lebih banyak di rumah, punya sedikit ruang untuk menikmati sesuatu dengan lebih pelan. Sebagian membeli hanya karena penasaran, sebagian lagi benar-benar menikmati pengalaman baru itu.

Pada masa itu, omset kami benar-benar naik dibanding tahun-tahun sebelumnya.


Setelah Pandemi: Mengalami Penurunan

Tetapi seperti halnya banyak momentum bisnis, tidak semuanya bertahan selamanya.

Setelah pandemi mulai mereda, penjualan tentu mengalami penurunan. Pembeli yang sebenarnya bukan pencerutu perlahan hilang. Mereka kembali ke rutinitas normal. Namun ada juga kabar baiknya. Sebagian pembeli ternyata mulai serius menikmati cerutu dan beralih dari rokok ke cerutu; terasa beda dan mereka bisa membuat jeda, kapan saat yang tepat menikmatinya. Mereka inilah yang kemudian menjadi repeat order.

Di sisi lain, tantangan baru mulai muncul.

Sekitar tahun 2023 sampai 2024, marketplace mulai menaikkan komisi penjualan. Tidak hanya itu, beberapa toko yang menjual produk tembakau, rokok, dan cerutu mulai terkena banned atau pembatasan permanen. Ruang gerak kami sebagai agen cerutu resmi menjadi semakin sempit.


Ketika Marketplace Tidak Lagi Sehat

Lalu masuk ke tahun 2024 hingga 2025, fee komisi dari marketplace semakin tinggi. Angkanya cukup besar, bahkan bisa mencapai 10 sampai 15 persen. Bagi bisnis niche seperti cerutu, margin keuntungan menjadi sangat tipis.

Di titik itu aku mulai berpikir bahwa kami tidak bisa terus bergantung pada marketplace.

Akhirnya kami memutuskan membangun website sendiri: Griyacerutu.com

Tentu saja membangun website bukan berarti traffic langsung datang begitu saja. Aku harus mulai belajar banyak hal yang sebelumnya tidak pernah benar-benar kupelajari secara serius. Mulai dari desain website, tampilan halaman produk, pengalaman pengguna, hingga bagaimana menyajikan tulisan yang membuat pengunjung betah membaca cerita di dalamnya.

Sedikit demi sedikit aku belajar memahami bahwa website berbeda dengan toko online. Website adalah rumah digital yang terus di rawat.


Belajar Membangun Rumah Digital

Kami mulai memperkenalkan website melalui Instagram. Lewat story, caption, dan link yang kami bagikan perlahan. Follower mulai mengunjungi website. Sebagian datang untuk memastikan, sebagian lain langsung melakukan order cerutu.

Pelan, tetapi terasa lebih sehat.

Sekarang, di tahun 2025–2026, menurutku ruang menjual cerutu lewat marketplace hampir mustahil. Regulasi semakin ketat dan pembatasan semakin jelas. Karena itu satu-satunya cara yang paling masuk akal adalah membangun platform sendiri melalui website.

Karena itulah aku mulai rutin membuat konten tulisan dan cerita.

Bukan hanya tentang cerutu, tetapi juga tentang kopi, perjalanan, suasana desa, slow living, dan pengalaman menikmati waktu dengan lebih tenang.

Aku menyebutnya:

“Discover Stories of Cigar, Coffee, and Slow Journeys with Us.”


Angin Segar untuk Dunia Cerutu Indonesia

Di tengah semua tantangan itu, ada kabar baik tentunya yang membuatku optimis.

Beberapa produsen cerutu di Jember mulai mengeluarkan varian baru dengan kualitas yang jauh lebih baik dibanding sebelumnya. Menurutku ini menjadi angin segar bagi dunia cerutu Indonesia. Perlahan kualitas meningkat, pilihan semakin menarik, dan penikmat cerutu di Indonesia juga mulai tumbuh dengan selera yang lebih matang.

Perjalanan ini masih panjang.

Tetapi sekarang aku mulai memahami bahwa membangun sesuatu yang bertahan lama memang membutuhkan proses yang pelan, konsisten, dan penuh cerita.

The Best Seller Award 2023

Ritual Minggu: Kopi, Cerutu, dan Menyusun Pikiran

Hari Minggu pagi ini aku sempat terbangun sebentar. Seperti kebanyakan orang, refleks pertama adalah membuka ponsel dan melihat sekilas apa yang terjadi di dunia. Tapi rasanya masih terlalu nyaman untuk benar-benar bangun. Aku pun kembali menarik selimut dan melanjutkan tidur, membiarkan mimpi yang setengah jalan itu berlalu begitu saja. Kadang mimpi yang tidak selesai justru terasa lucu—nanggung tapi tetap menyenangkan.

Sekitar pukul sebelas aku benar-benar bangun. Cuaca di luar mendung, udara terasa lebih dingin dari biasanya. Saat duduk bersila di lantai keramik kamar, dinginnya langsung terasa di kaki. Mungkin ini efek dari semalam tidur cukup larut setelah menyelesaikan satu artikel cigar review.

Aku belum langsung bergegas ke kamar mandi. Meski sebenarnya sudah cukup kebelet pipis, aku sempat menancapkan charger ke iPhone dan receiver bluetooth agar terisi sebagian baterainya. Setelah itu barulah mandi. Air yang menyentuh tubuh membuat badan kembali segar.

Hari Minggu ini tidak ada agenda mendesak. Orderan craft sudah selesai dikemas, nanti malam tinggal kuantar ke agen ekspedisi. Jadi pagi ini benar-benar terasa lapang.


Kopi, Cerutu, dan Ritme yang Pelan

Aku duduk di kursi kayu dan membuka sebatang cerutu half corona. Namun baru sadar kalau aku belum sarapan. Kue semalam yang masih tersisa di piring segera aku kunyah sambil menyalakan kompor untuk memanaskan air. Dalam hitungan menit air mendidih, lalu kutuangkan ke dripper V60 dengan ukuran mug.

Metode ini memang favoritku. Ritmenya pelan—air menetes sedikit demi sedikit melewati bubuk kopi. Kita dipaksa menunggu. Tapi justru di situ kenikmatannya. Ketika tetesan terakhir turun, suhu kopi biasanya sudah pas: tidak terlalu panas, dan aromanya langsung terasa.

Koreknya pun kunyalakan. Ujung cerutu half corona itu perlahan memerah sempurna. Punggungku kusandarkan pada kursi kayu menghadap keluar rumah.

Rasanya ada satu elemen lagi yang belum lengkap: musik.

Ritual ini selalu terasa lebih pas dengan iringan lagu dari Michael Franks atau Sade. Musik yang lembut, santai, dan tidak terburu-buru—seperti suasana Minggu pagi itu sendiri.

Aku mencabut charger ponsel. Baterainya sudah menunjukkan angka di atas 80 persen. Cukup untuk memutar podcast atau musik dari YouTube sepanjang hari dalam mode layar mati.

Dari headphone bluetooth, alunan lagu demi lagu terdengar jernih dan stereo. Tidak berisik bagi sekitar. Hanya ada aku, kopi, cerutu, dan musik.


Menyusun Pikiran di Hari Minggu

Waktu berjalan tanpa terasa. Satu jam berlalu begitu saja.

Di sela-sela itu, aku sesekali melihat layar ponsel. Dunia ternyata tetap bergerak cepat. Berita internasional menampilkan ketegangan baru konflik perang Rusia – Ukraina: serangan ke berbagai kota besar di Ukraina di barengi dengan Krisis Energi: Konflik memicu lonjakan harga minyak mentah dunia US$113,50 per barel.

Saat membaca berita itu, aku sempat terdiam. Betapa kontrasnya suasana yang sedang aku rasakan dengan realitas di tempat lain.

Di sinilah momen menyusun pikiran itu terjadi.

Ritual sederhana seperti kopi dan cerutu ternyata memberi ruang untuk menata kembali isi kepala. Dalam kesibukan sehari-hari, pikiran sering penuh dengan hal kecil: pekerjaan, pesan masuk, rencana yang belum selesai. Tapi ketika duduk diam, menghirup aroma kopi dan kepulan cerutu, semuanya perlahan melambat.

Aku mulai memikirkan apa saja yang ingin kulakukan minggu ini. Artikel apa yang ingin kutulis. Ide apa yang bisa dikembangkan. Bahkan hal kecil seperti bagaimana mengatur ritme kerja agar tetap sederhana tapi produktif.

Kadang menyusun pikiran tidak membutuhkan tempat mewah. Cukup kursi kayu, secangkir kopi, dan sebatang cerutu.


Mensyukuri Hal-Hal Sederhana

Sementara di belahan dunia lain konflik masih terjadi, kita di Indonesia pada hari Minggu ini masih diberi kesempatan menikmati ketenangan.

Kesempatan untuk bersyukur atas hal-hal sederhana.

Kopi yang hangat.
Cerutu yang perlahan habis terbakar.
Dan waktu yang cukup untuk menata kembali arah langkah.

Mungkin inilah esensi kecil dari sebuah ritual Minggu: berhenti sejenak dari hiruk pikuk dunia, lalu kembali menemukan ritme hidup yang lebih tenang.

Semoga kita semua selalu diberi kesehatan dan semangat untuk menjalani hari-hari ke depan.

Salam dari Griyacerutu.