Industri cerutu di Indonesia bukanlah cerita baru. Sejak tahun 1918, ketika komoditas tembakau Nusantara mulai dikenal dunia, fondasi industri ini sudah dibangun dengan serius. Pabrik pengolahan tembakau didirikan di Jawa Tengah, menjadi pusat produksi cerutu sekaligus penyortiran daun tembakau untuk ekspor ke berbagai negara.
Saat itu, tembakau adalah komoditas yang sangat menjanjikan. Namun perjalanan panjang industri ini tidak selalu mulus.
Antara Potensi Besar dan Realita Pasar Kecil
Indonesia hari ini termasuk salah satu produsen tembakau terbesar di dunia—bahkan berada di posisi lima besar global, melampaui negara-negara ikonik seperti Kuba dalam hal volume produksi. Pada tahun 2019, produksi tembakau Indonesia mencapai hampir 270 ribu ton.
Ironisnya, besarnya produksi ini tidak berbanding lurus dengan perkembangan industri cerutu di dalam negeri.
Mengapa?
Karena pasar cerutu di Indonesia masih sangat kecil.
Di negara dengan jumlah perokok yang besar, mayoritas konsumsi tetap didominasi oleh rokok. Cerutu masih dianggap sebagai produk niche—dinikmati oleh segmen tertentu yang lebih kecil, lebih selektif, dan seringkali lebih loyal.
Ini sekaligus menjadi tantangan dan peluang.
Cerutu: Bukan Sekadar Produk, Tapi Pengalaman
Berbeda dengan rokok, cerutu tidak dikonsumsi secara impulsif. Ia hadir sebagai pengalaman. Ada proses, ada waktu, ada kesadaran menikmatinya.
Mungkin inilah alasan mengapa, meskipun pandemi COVID-19 mengguncang banyak sektor, permintaan cerutu justru menunjukkan ketahanan.
Saat penjualan rokok mengalami penurunan pada 2020, cerutu tetap tumbuh—meskipun dengan laju yang lebih lambat dibanding tahun-tahun sebelumnya.
Ini menarik.
Di tengah tekanan dan pembatasan, konsumen cerutu tetap bertahan. Mereka bukan sekadar pembeli, tetapi penikmat sebagai alternatif bentuk rekreasional ketika masa lockdown.
Sebuah refleksi bahwa cerutu bukan hanya soal konsumsi, tetapi soal gaya hidup.
Dampak Pandemi dan Pergeseran Konsumsi
Pandemi COVID-19 memberikan dampak yang berbeda pada setiap segmen industri tembakau.
- Rokok mengalami penurunan volume penjualan
- Cerutu tetap tumbuh secara moderat
- Cigarillos justru mengalami sedikit penurunan
- Tembakau iris (fine cut) mengalami lonjakan permintaan
Kenaikan tembakau iris ini tidak lepas dari faktor ekonomi. Harga yang lebih terjangkau, serta kebiasaan sosial di pedesaan, membuat produk ini tetap relevan bahkan meningkat selama masa sulit.
Sementara itu, cerutu tetap berada di jalurnya sendiri—tidak massal, tapi stabil.
Tekanan Regulasi dan Masa Depan Industri
Sejak tahun 1990, ketika World Health Organization mulai mengkampanyekan gerakan anti-merokok, industri tembakau global menghadapi tekanan yang semakin besar.
Di Indonesia, kebijakan seperti:
- kenaikan cukai rokok hampir setiap tahun
- kampanye anti-rokok
- regulasi industri yang semakin ketat
ikut mempengaruhi arah perkembangan industri, termasuk cerutu.
Menurut praktisi industri seperti Abdul Kahar Muzakir, mendorong pertumbuhan cerutu non-rokok di Indonesia bukan hal yang mudah dalam kondisi seperti ini. Namun bukan berarti tidak mungkin.
Belajar dari Pemain Global
Saat ini, industri cerutu dunia masih didominasi oleh perusahaan besar seperti:
- Habanos S.A.
- General Cigar Company
- Imperial Brands
- Swedish Match
Sebagai gambaran, Scandinavian Tobacco Group mencatat pendapatan hingga USD 963 juta pada tahun 2020. Angka yang jauh di atas nilai ekspor tembakau Indonesia.
Pertanyaannya bukan lagi soal mampu atau tidak.
Tetapi: Apakah Indonesia ingin naik kelas, atau tetap menjadi pemasok?
Cerutu Indonesia: Slow Growth, Strong Identity
Mungkin justru di sinilah kekuatan cerutu Indonesia.
Ia tidak tumbuh cepat.
Tidak masif.
Tidak terburu-buru.
Tetapi punya karakter.
Seperti menikmati kopi dan cerutu di pagi hari—perlahan, sadar, dan penuh rasa.
Industri ini mungkin tidak akan menjadi yang terbesar dalam waktu dekat.
Namun dengan arah yang tepat, ia bisa menjadi salah satu yang paling berkarakter di dunia.








