NEWS

Ritual Minggu: Kopi, Cerutu, dan Menyusun Pikiran


Hari yang Lambat

Hari Minggu pagi ini aku sempat terbangun sebentar. Seperti kebanyakan orang, refleks pertama adalah membuka ponsel dan melihat sekilas apa yang terjadi di dunia. Tapi rasanya masih terlalu nyaman untuk benar-benar bangun. Aku pun kembali menarik selimut dan melanjutkan tidur, membiarkan mimpi yang setengah jalan itu berlalu begitu saja. Kadang mimpi yang tidak selesai justru terasa lucu—nanggung tapi tetap menyenangkan.

Sekitar pukul sebelas aku benar-benar bangun. Cuaca di luar mendung, udara terasa lebih dingin dari biasanya. Saat duduk bersila di lantai keramik kamar, dinginnya langsung terasa di kaki. Mungkin ini efek dari semalam tidur cukup larut setelah menyelesaikan satu artikel cigar review.

Aku belum langsung bergegas ke kamar mandi. Meski sebenarnya sudah cukup kebelet pipis, aku sempat menancapkan charger ke iPhone dan receiver bluetooth agar terisi sebagian baterainya. Setelah itu barulah mandi. Air yang menyentuh tubuh membuat badan kembali segar.

Hari Minggu ini tidak ada agenda mendesak. Orderan craft sudah selesai dikemas, nanti malam tinggal kuantar ke agen ekspedisi. Jadi pagi ini benar-benar terasa lapang.


Kopi, Cerutu, dan Ritme yang Pelan

Aku duduk di kursi kayu dan membuka sebatang cerutu half corona. Namun baru sadar kalau aku belum sarapan. Kue semalam yang masih tersisa di piring segera aku kunyah sambil menyalakan kompor untuk memanaskan air. Dalam hitungan menit air mendidih, lalu kutuangkan ke dripper V60 dengan ukuran mug.

Metode ini memang favoritku. Ritmenya pelan—air menetes sedikit demi sedikit melewati bubuk kopi. Kita dipaksa menunggu. Tapi justru di situ kenikmatannya. Ketika tetesan terakhir turun, suhu kopi biasanya sudah pas: tidak terlalu panas, dan aromanya langsung terasa.

Koreknya pun kunyalakan. Ujung cerutu half corona itu perlahan memerah sempurna. Punggungku kusandarkan pada kursi kayu menghadap keluar rumah.

Rasanya ada satu elemen lagi yang belum lengkap: musik.

Ritual ini selalu terasa lebih pas dengan iringan lagu dari Michael Franks atau Sade. Musik yang lembut, santai, dan tidak terburu-buru—seperti suasana Minggu pagi itu sendiri.

Aku mencabut charger ponsel. Baterainya sudah menunjukkan angka di atas 80 persen. Cukup untuk memutar podcast atau musik dari YouTube sepanjang hari dalam mode layar mati.

Dari headphone bluetooth, alunan lagu demi lagu terdengar jernih dan stereo. Tidak berisik bagi sekitar. Hanya ada aku, kopi, cerutu, dan musik.


Menyusun Pikiran di Hari Minggu

Waktu berjalan tanpa terasa. Satu jam berlalu begitu saja.

Di sela-sela itu, aku sesekali melihat layar ponsel. Dunia ternyata tetap bergerak cepat. Berita internasional menampilkan ketegangan baru konflik perang Rusia – Ukraina: serangan ke berbagai kota besar di Ukraina di barengi dengan Krisis Energi: Konflik memicu lonjakan harga minyak mentah dunia US$113,50 per barel.

Saat membaca berita itu, aku sempat terdiam. Betapa kontrasnya suasana yang sedang aku rasakan dengan realitas di tempat lain.

Di sinilah momen menyusun pikiran itu terjadi.

Ritual sederhana seperti kopi dan cerutu ternyata memberi ruang untuk menata kembali isi kepala. Dalam kesibukan sehari-hari, pikiran sering penuh dengan hal kecil: pekerjaan, pesan masuk, rencana yang belum selesai. Tapi ketika duduk diam, menghirup aroma kopi dan kepulan cerutu, semuanya perlahan melambat.

Aku mulai memikirkan apa saja yang ingin kulakukan minggu ini. Artikel apa yang ingin kutulis. Ide apa yang bisa dikembangkan. Bahkan hal kecil seperti bagaimana mengatur ritme kerja agar tetap sederhana tapi produktif.

Kadang menyusun pikiran tidak membutuhkan tempat mewah. Cukup kursi kayu, secangkir kopi, dan sebatang cerutu.


Mensyukuri Hal-Hal Sederhana

Sementara di belahan dunia lain konflik masih terjadi, kita di Indonesia pada hari Minggu ini masih diberi kesempatan menikmati ketenangan.

Kesempatan untuk bersyukur atas hal-hal sederhana.

Kopi yang hangat.
Cerutu yang perlahan habis terbakar.
Dan waktu yang cukup untuk menata kembali arah langkah.

Mungkin inilah esensi kecil dari sebuah ritual Minggu: berhenti sejenak dari hiruk pikuk dunia, lalu kembali menemukan ritme hidup yang lebih tenang.

Semoga kita semua selalu diberi kesehatan dan semangat untuk menjalani hari-hari ke depan.

Salam dari Griyacerutu.

Malecon 20 Mini Cigarillos: Petualangan Singkat dalam Ukuran Mini

Terkadang kejutan terbaik datang dari ukuran kecil. Itulah kesan pertama ketika melihat Malecon 20 Mini Cigarillos, sebuah rilisan unik dari Besuki Raya Cigar yang kembali menghadirkan inovasi setelah sukses dengan seri El Gaucho Cigars.

Di tengah kesibukan mengembangkan kreasi baru bagi para aficionado setianya, perusahaan cerutu yang berbasis di Jember ini menghadirkan sesuatu yang berbeda—cerutu mini yang tidak hanya praktis, tetapi juga sarat cerita.

Nama Malecon sendiri bukan dipilih tanpa alasan. Ia terinspirasi dari Malecón, sebuah jalan esplanade panjang yang membentang di sepanjang pesisir kota tua Havana. Nama ini menjadi simbol hubungan diplomatik yang telah terjalin antara Indonesia dan Cuba sejak tahun 1960-an—sebuah koneksi sejarah yang kemudian diwujudkan dalam bentuk cerutu kecil penuh karakter.

Melalui Malecon, Besuki Raya Cigar seolah mengajak penikmatnya berimajinasi berjalan di sepanjang tembok laut Havana, menikmati angin laut tropis sambil menghisap cerutu dengan santai.

Begitu cerutu mini ini dinyalakan, pengalaman rasa langsung terasa menyenangkan. Pada awal hisapan, muncul karakter halus dan creamy, memberikan kesan ringan namun tetap kaya. Perlahan, rasa berkembang menuju profil yang lebih kompleks—perpaduan kayu manis dan karamel creamy ringan yang familiar.

Memasuki pertengahan hingga akhir, sensasi espresso mulai terasa lebih dominan, memberikan kedalaman rasa yang elegan. Teksturnya terasa leathery dan cukup tebal, sementara lada hitam menghadirkan sentuhan pedas sedikit yang berpadu dengan mouthfeel rempah yang kaya. Hasilnya adalah perjalanan rasa yang surprisingly kompleks untuk ukuran mini cigarillos.

Seolah membawa imajinasi berkeliling kota tua Havana, sensasi akhirnya terasa santai dan menenangkan—seperti duduk di kursi belakang Chevy Bel Air convertible, menyusuri jalan pesisir dengan mata terpejam menikmati angin laut Karibia.

Malecon mini cigarillos dibuat secara handmade menggunakan daun tembakau pilihan dari wilayah Vuelta Abajo di Pinar del Río—daerah yang dikenal sebagai salah satu penghasil tembakau terbaik di dunia.

Dengan harga sekitar IDR 80.000 per box, cerutu mini ini menawarkan pengalaman yang jauh melampaui ukurannya. Kecil, praktis, namun tetap menghadirkan kompleksitas rasa yang memuaskan.

Bagi para penikmat cerutu yang ingin sesuatu yang berbeda, Malecon 20 Mini Cigarillos adalah hadiah kecil yang layak dicoba. Jangan ragu untuk pesan di Griyacerutu—kotak kecil yang menghubungkan dengan petualangan Anda selanjutnya.

El Gaucho Cigars: Perjalanan Rasa dari Bentang Tropis Dunia

Ada cerutu yang sekadar dinikmati, dan ada cerutu yang membawa cerita. El Gaucho Cigars termasuk dalam kategori kedua—sebuah cerutu yang lahir dari perjalanan panjang melintas berbagai wilayah tembakau terbaik di dunia.

Dengan tagline “we have so far to go”, El Gaucho bukan sekadar produk, melainkan representasi dari pencarian rasa yang tiada henti. Ia memadukan warisan tembakau Indonesia dengan karakter daun dari berbagai negara penghasil tembakau terbaik.

Di dalamnya terdapat filler Dominican Criollo, kemudian dibungkus dengan binder Brazilian Arapiraca yang terkenal kaya karakter, dan akhirnya diselimuti wrapper Ecuadorian Habanos. Semua diracik dan digulung oleh tangan-tangan torcedor berpengalaman yang memahami seni meracik cerutu.

Hasilnya adalah cerutu yang menghadirkan perjalanan rasa dari berbagai sudut Tropical Belt dunia dalam satu batang.


Lahirnya El Gaucho

Cerutu ini resmi diperkenalkan oleh Besuki Raya Cigar pada 30 Maret 2022. Perusahaan yang dipimpin oleh Christian Njoto tersebut meluncurkan seri El Gaucho dalam sebuah acara yang meriah sekaligus momen berkumpulnya para aficionado untuk merayakan lahirnya cerutu yang digadang-gadang akan menjadi salah satu karya ikonik dari Besuki Raya.

Peluncuran ini dihadiri oleh pejabat pemerintah, tokoh publik, serta komunitas afficionado dari berbagai kota seperti Jakarta, Jember, Surabaya, Bandung, hingga Denpasar di Bali.


Dua Seri: Fantastico dan Premium

El Gaucho hadir dalam dua seri utama:

Keduanya mengusung blend tembakau internasional yang memadukan daun dari Ekuador, Kuba, Brasil, Republik Dominika, dan Indonesia. Kombinasi ini memberikan kompleksitas rasa yang sejak awal sudah mendapatkan penilaian tinggi dari para penikmat cerutu.

Namun satu hal yang selalu menjadi ciri khas cerutu dari Besuki Raya adalah kualitas konstruksinya. Wrapper yang halus tanpa cacat, gulungan yang rapat dan presisi, tarikan yang nyaman, serta pembakaran yang stabil menjadi standar yang selalu dijaga.

Pada seri El Gaucho, kualitas tersebut terasa mencapai puncaknya.


Catatan Rasa

Sejak penyalaan pertama, cerutu ini langsung menghadirkan ledakan aroma floral dan herbal yang cukup segar. Perlahan-lahan kekuatan dan kompleksitasnya berkembang seiring membaur asapnya.

Ada nuansa unik ketika dinikmati bersama kudapan pisang bakar oles keju coklat, karakter rasa cerutu ini semakin terasa hidup.

Memasuki pertengahan, profilnya berubah menjadi medium-full bodied, dengan kombinasi rasa manis alami (bitter-sweet), tanah (earthy), sentuhan lada hitam (spicy), serta tekstur creamy yang lembut.

Menjelang akhir, cerutu ini menutup perjalanan rasanya dengan sentuhan kayu manis dan espresso, meninggalkan kesan hangat dan elegan.


Cerutu untuk Dinikmati Perlahan

El Gaucho Fantastico Toro adalah hasil dari pengalaman panjang lebih dari enam dekade dalam dunia tembakau dan cerutu. Ia bukan cerutu yang terburu-buru untuk dihabiskan.

Ambillah waktu. Duduklah dengan nyaman. Seduh secangkir teh pekat hangat, putar musik dari playlist album Jazz di smartphone dan hadapkan speaker bluetooth mengarah ke ruangan – biarkan waktu berjalan perlahan.

Semestinya, El Gaucho bukan tentang cerutu dengan durasi panjang—tetapi juga cerutu yang mengalir bersama waktu Anda.