Kopi, Tembakau, dan Cerutu dari Jember

Pada kesempatan kali ini, Griyacerutu berbincang dengan Izul, seorang pecinta kopi dan tembakau yang tinggal di Jember.

Awal Ketertarikan pada Kopi dan Cerutu

Mulai kapan seorang Izul berminat di dunia cerutu dan kopi?

Untuk kopi, sebenarnya saya sudah berminat sejak lama, cuma dulu belum menemukan kopi yang benar-benar pas. Karena yang umum ditemui kan kopi sachet, jadi kecenderungannya ke kopi sachet. Setelah ketemu dengan Griyacerutu.com, literasi kopi meningkat lagi.

Kalau cerutu, awalnya jelas karena kecintaan saya pada tembakau. Saya memang perokok tembakau linting—pecinta tembakau. Tembakau dari Jember atau luar Jember, sedikit banyak sudah pernah saya coba. Lalu setelah ketemu Griyacerutu.com, saya pikir ada relasi kuat antara tembakau, rokok, dan cerutu. Tinggal memperdalam ke cerutunya saja.

Pandangan Tentang Jember sebagai Kota Cerutu Indonesia

Bagaimana pendapat atau sikap Izul tentang Jember sebagai kota cerutu Indonesia?

Saya sangat setuju dengan Jember dinobatkan sebagai kota cerutu Indonesia. Keberagaman tembakau di wilayah Jember itu banyak macamnya. Bahan baku cerutu bisa diambil dari petani lokal Jember, sehingga menghasilkan cita rasa cerutu yang variatif.

Dengan adanya cerutu, komoditas tembakau bisa naik level. Dulu Jember dikenal sebagai kota tembakau saja. Tapi dengan adanya produk cerutu yang bervariatif, harapannya bisa menembus pasar internasional.

Sumber Pengetahuan tentang Cerutu

Selama ini pengetahuan tentang cerutu didapat dari mana saja? Selain dari Griyacerutu.com, apakah ada kunjungan ke pabrik-pabrik cerutu?

Kalau kunjungan ke pabrik cerutu, masih menunggu ajakan dari Griyacerutu.com dong. Hehe.

Kesan Mengikuti Acara Cigarnight

Sebelumnya sempat ikut acara Cigarnight. Bagaimana kesan terhadap nuansa acara dan peserta yang sebagian besar generasi muda?

Kesan saya, suasananya seperti kembali ke rumah. Seperti suasana dapur zaman dulu di pedesaan—ngebul, penuh aroma tembakau murni. Dulu, saat harga rokok pabrikan masih mahal, banyak orang meracik tembakau sendiri, aromanya khas sekali.

Waktu di Cigarnight, perasaan itu muncul lagi. Apalagi acaranya banyak dihadiri anak-anak muda usia 20–30-an, bahkan ada yang masih mahasiswa. Ada live music dari Pak Imam juga. Menurut saya, luar biasa sekali untuk mengenalkan tembakau dan cerutu kepada generasi muda. Ini menegaskan bahwa Jember memang kota cerutu.

Cerutu itu milik kita, warga Jember. Kitalah yang harus memajukan komoditas tembakau di sini, bukan hanya jadi tempat singgah para miliarder untuk mencari untung.

Aroma Cerutu dan Kenangan

Saya sering menggambarkan bahwa aroma tembakau cerutu Jember bisa menghadirkan kembali kenangan atau suasana tertentu. Apakah Izul juga merasakan hal serupa?

Setuju. Aroma itu bisa menjadi pengingat. Bisa muncul kenangan-kenangan manis: waktu itu bersama siapa, di mana, dan suasana apa. Waktu itu tidak akan terulang, tapi aromanya bisa memanggil kembali memori itu.

Tadi sempat menyinggung tentang suasana “zero mind”. Maksudnya bagaimana?

Iya, “zero mind” itu maksudnya suasana ketika kita menikmati cigar dan kopi, apalagi dengan background lagu-lagu tertentu… wah itu luar biasa. Keren banget. Atmosfernya dapat sekali.

Wah ini mengingatkanku pada Inner Child pada seseorang meski telah dewasa, menurutmu gimana

Iya. Menurut saya, manusia itu sampai tua tetap membawa sifat “child”—anak kecilnya. Mainannya saja yang berubah. Nah, Inner child of mind itu berlaku untuk semua usia. Itu sifat psikologis manusia yang memang tidak hilang.

Kalau dikaitkan dengan industri cerutu dan kopi, ini sangat nyambung. Orang tetap butuh permainan, butuh “game”, hanya saja disesuaikan dengan usia dan status sosialnya. Kalau waktu kecil mainannya mobil-mobilan, setelah dewasa punya pendapatan, punya status sosial, bentuk “mainannya” berubah. Dan cerutu itu bisa menjadi salah satu bentuk permainan orang dewasa.

Itu juga berkaitan dengan hierarki kebutuhan Maslow. Ketika kebutuhan dasar sudah terpenuhi, orang mencari kesenangan yang lebih tinggi, termasuk pengalaman, lifestyle, dan kenikmatan seperti cerutu dan kopi.

Komunitas dan Rutinitas

Selain acara offline, apakah ada rencana membentuk komunitas rutin?

Ada. Komunitas cerutu yang ngumpul sebulan sekali itu sangat mungkin. Ide itu sudah masuk, dan menurut saya realistis. Bahkan minimal bisa dibuat dalam bentuk podcast audio.

Podcast dalam bentuk rekaman?

Iya. Tidak perlu setting berlebihan. Ada narasumber, ada moderator, lalu direkam apa adanya. Ambience suaranya itu yang bikin live. Supaya pendengarnya bisa merasakan suasananya.


Oke, nice untuk sesi kali ini. Terima kasih banyak, Izul.

Siap. Terima kasih kembali.

Nikmati Cerutu & Kopi dalam Perjalanan Wisata Budaya

Sebagai agen cerutu terbesar di Jawa Timur, Griyacerutu terus berinovasi untuk menghadirkan pengalaman terbaik bagi para penikmat cerutu. Pada bulan Oktober ini, Griyacerutu resmi memperluas jangkauan pemasarannya melalui kerja sama strategis dengan Sam Java Tour, agen perjalanan wisata yang berfokus pada wisatawan mancanegara.

Kolaborasi ini menghadirkan layanan wisata unik bagi para traveller yang ingin menikmati cerutu dan kopi lokal di tengah program tur mereka. Para wisatawan diajak untuk berbincang santai mengenai budaya tembakau, cerutu, dan kopi langsung di kawasan Jember dan sekitarnya — wilayah yang dikenal sebagai salah satu sentra tembakau terbaik di Indonesia.

Selain menikmati keindahan alam dan destinasi wisata ikonik Jawa Timur, peserta tur juga akan mendapatkan kesempatan eksklusif untuk:

  • Mencicipi kopi khas lokal dari perkebunan sekitar.
  • Menikmati cerutu premium koleksi Griyacerutu.com
  • Mengenal lebih dekat sejarah dan budaya tembakau di Jember.
  • Berinteraksi langsung dengan komunitas lokal dan pelaku industri tembakau.

Galeri Pengalaman

  • Wisatawan menikmati suasana perkebunan tembakau, proses penggulungan cerutu di pabrik dan mencoba cita rasa cerutu saat tur berlangsung.

Rasakan Pengalaman Otentik Cerutu & Kopi Jawa Timur

Jadikan perjalanan Anda lebih dari sekadar wisata — alami budaya tembakau dan kopi secara langsung bersama Griyacerutu dan Sam Java Tour. Pesan Tur Sekarang

Ritual Minggu: Kopi, Cerutu, dan Menyusun Pikiran


Hari yang Lambat

Hari Minggu pagi ini aku sempat terbangun sebentar. Seperti kebanyakan orang, refleks pertama adalah membuka ponsel dan melihat sekilas apa yang terjadi di dunia. Tapi rasanya masih terlalu nyaman untuk benar-benar bangun. Aku pun kembali menarik selimut dan melanjutkan tidur, membiarkan mimpi yang setengah jalan itu berlalu begitu saja. Kadang mimpi yang tidak selesai justru terasa lucu—nanggung tapi tetap menyenangkan.

Sekitar pukul sebelas aku benar-benar bangun. Cuaca di luar mendung, udara terasa lebih dingin dari biasanya. Saat duduk bersila di lantai keramik kamar, dinginnya langsung terasa di kaki. Mungkin ini efek dari semalam tidur cukup larut setelah menyelesaikan satu artikel cigar review.

Aku belum langsung bergegas ke kamar mandi. Meski sebenarnya sudah cukup kebelet pipis, aku sempat menancapkan charger ke iPhone dan receiver bluetooth agar terisi sebagian baterainya. Setelah itu barulah mandi. Air yang menyentuh tubuh membuat badan kembali segar.

Hari Minggu ini tidak ada agenda mendesak. Orderan craft sudah selesai dikemas, nanti malam tinggal kuantar ke agen ekspedisi. Jadi pagi ini benar-benar terasa lapang.


Kopi, Cerutu, dan Ritme yang Pelan

Aku duduk di kursi kayu dan membuka sebatang cerutu half corona. Namun baru sadar kalau aku belum sarapan. Kue semalam yang masih tersisa di piring segera aku kunyah sambil menyalakan kompor untuk memanaskan air. Dalam hitungan menit air mendidih, lalu kutuangkan ke dripper V60 dengan ukuran mug.

Metode ini memang favoritku. Ritmenya pelan—air menetes sedikit demi sedikit melewati bubuk kopi. Kita dipaksa menunggu. Tapi justru di situ kenikmatannya. Ketika tetesan terakhir turun, suhu kopi biasanya sudah pas: tidak terlalu panas, dan aromanya langsung terasa.

Koreknya pun kunyalakan. Ujung cerutu half corona itu perlahan memerah sempurna. Punggungku kusandarkan pada kursi kayu menghadap keluar rumah.

Rasanya ada satu elemen lagi yang belum lengkap: musik.

Ritual ini selalu terasa lebih pas dengan iringan lagu dari Michael Franks atau Sade. Musik yang lembut, santai, dan tidak terburu-buru—seperti suasana Minggu pagi itu sendiri.

Aku mencabut charger ponsel. Baterainya sudah menunjukkan angka di atas 80 persen. Cukup untuk memutar podcast atau musik dari YouTube sepanjang hari dalam mode layar mati.

Dari headphone bluetooth, alunan lagu demi lagu terdengar jernih dan stereo. Tidak berisik bagi sekitar. Hanya ada aku, kopi, cerutu, dan musik.


Menyusun Pikiran di Hari Minggu

Waktu berjalan tanpa terasa. Satu jam berlalu begitu saja.

Di sela-sela itu, aku sesekali melihat layar ponsel. Dunia ternyata tetap bergerak cepat. Berita internasional menampilkan ketegangan baru konflik perang Rusia – Ukraina: serangan ke berbagai kota besar di Ukraina di barengi dengan Krisis Energi: Konflik memicu lonjakan harga minyak mentah dunia US$113,50 per barel.

Saat membaca berita itu, aku sempat terdiam. Betapa kontrasnya suasana yang sedang aku rasakan dengan realitas di tempat lain.

Di sinilah momen menyusun pikiran itu terjadi.

Ritual sederhana seperti kopi dan cerutu ternyata memberi ruang untuk menata kembali isi kepala. Dalam kesibukan sehari-hari, pikiran sering penuh dengan hal kecil: pekerjaan, pesan masuk, rencana yang belum selesai. Tapi ketika duduk diam, menghirup aroma kopi dan kepulan cerutu, semuanya perlahan melambat.

Aku mulai memikirkan apa saja yang ingin kulakukan minggu ini. Artikel apa yang ingin kutulis. Ide apa yang bisa dikembangkan. Bahkan hal kecil seperti bagaimana mengatur ritme kerja agar tetap sederhana tapi produktif.

Kadang menyusun pikiran tidak membutuhkan tempat mewah. Cukup kursi kayu, secangkir kopi, dan sebatang cerutu.


Mensyukuri Hal-Hal Sederhana

Sementara di belahan dunia lain konflik masih terjadi, kita di Indonesia pada hari Minggu ini masih diberi kesempatan menikmati ketenangan.

Kesempatan untuk bersyukur atas hal-hal sederhana.

Kopi yang hangat.
Cerutu yang perlahan habis terbakar.
Dan waktu yang cukup untuk menata kembali arah langkah.

Mungkin inilah esensi kecil dari sebuah ritual Minggu: berhenti sejenak dari hiruk pikuk dunia, lalu kembali menemukan ritme hidup yang lebih tenang.

Semoga kita semua selalu diberi kesehatan dan semangat untuk menjalani hari-hari ke depan.

Salam dari Griyacerutu.