Hari itu, empat mahasiswa dari Universitas Trunojoyo Madura datang berkunjung. Mereka adalah Habibi, Wahab, dan dua rekannya. Kedatangan mereka ke Jember bukan tanpa alasan—sejak sebulan lalu, mereka sedang menjalani magang di Petung Mangli Djaya Raya, sebuah fase belajar yang membawa mereka lebih dekat dengan dunia tembakau dari hulu.
Ketertarikan mereka membawa langkah ke Griyacerutu. Bukan hanya karena ingin mencoba cerutu, tapi juga karena rasa ingin tahu yang lebih dalam: tentang industri, tentang budaya, dan tentang bagaimana tembakau menjadi bagian dari sejarah panjang Jember.
Belajar dari Tanah, Bukan Hanya dari Buku
Selama empat bulan ke depan, mereka akan menjalani proses yang tidak sederhana:
- melihat bibit tembakau,
- memindahkannya ke tray,
- menanam di lahan,
- merawat hingga masa panen tiba.
Sebuah perjalanan yang mungkin tidak mereka temukan sepenuhnya di ruang kelas.
Menariknya, mereka berasal dari Madura—daerah yang juga dikenal sebagai penghasil tembakau. Namun, dosen mereka justru merekomendasikan Jember sebagai tempat belajar. Ada satu hal yang dicari di sini: pengalaman langsung dari grower, dari tanah yang benar-benar diolah, dari praktik yang hidup.
Cerutu sebagai Pintu Cerita
Ini bukan kunjungan pertama. Sudah tiga kali mereka datang, dan setiap kunjungan selalu disertai rasa penasaran yang sama.
Mereka mencoba beberapa cerutu kecil—ringan, sebagai pembuka. Sebagian dibawa pulang sebagai oleh-oleh. Tapi yang lebih mereka nikmati bukan hanya rasanya, melainkan cerita di baliknya.
Tentang bagaimana budaya tembakau di Jember telah tumbuh sejak masa kolonial. Tentang bagaimana ketertarikan pada cerutu bisa bermula dari sesuatu yang sederhana—seperti yang kami alami sejak 2017.
Malam itu, cerutu hanya menjadi medium. Yang terjadi sebenarnya adalah pertukaran cerita.
Mencari Arah di Tengah Jalan
Di sela obrolan, muncul satu pertanyaan yang cukup jujur:
Seberapa besar pendidikan akademik berpengaruh pada kehidupan kerja?
Ada sedikit kekhawatiran di sana. Bahwa apa yang dipelajari di bangku kuliah belum tentu menjamin jalan hidup setelahnya.
Jawabanku sederhana:
tidak perlu terlalu sering dikhawatirkan.
Yang penting sekarang adalah menyelesaikan kuliah dengan maksimal. Lulus tepat waktu. Karena setidaknya, mereka yang menempuh pendidikan S1 sudah dibekali satu hal penting: cara berpikir analitik.
Dan itu cukup untuk bertahan.
Aku juga mengingatkan:
jangan terlalu sering membandingkan diri—baik dengan teman satu jurusan, maupun dengan cerita sukses orang lain. Di situlah sering kali kegelisahan justru muncul.
Realita kehidupan tidak berjalan seragam.
Tentang Jalan yang Tidak Selalu Lurus
Ada kemungkinan nanti:
- pekerjaan tidak sesuai jurusan,
- arah hidup berubah,
- atau bahkan minat bergeser jauh dari apa yang dulu dipelajari.
Dan itu tidak apa-apa.
Yang penting, jalani dulu. Sampai nanti tiba di satu titik di mana keputusan berikutnya bisa diambil dengan lebih sadar—apakah akan tetap melanjutkan, atau mencari jalan lain.
Aku juga sempat bercerita:
kadang terlihat enak mereka yang bekerja kantoran dengan gaji tetap. Sementara aku harus terus menyesuaikan dengan ritme usaha, dengan order yang tidak selalu pasti.
Tapi di situlah pilihan hidup bekerja.
Jember, Libur Lebaran, dan Rekomendasi Jalan Sunyi
Di luar aktivitas magang, mereka juga memanfaatkan waktu di Jember dengan baik. Saat libur lebaran, mereka sempat mengunjungi Pantai Papuma dan Watu Ulo.
Aku sempat menyarankan satu tempat lagi:
ke arah utara, sekitar 14 km dari sini—Gunung Pasang.
Sebuah desa yang tenang, cocok untuk menikmati alam… atau sekadar menghisap cerutu dengan ritme yang lebih pelan.
Di sana ada Rimba Camp, di ketinggian sekitar 510 mdpl. Tempat yang cukup ideal jika mereka ingin melanjutkan perjalanan kecil menuju air terjun Tancak.
Salah satu dari mereka tampak antusias. Katanya, sejak semester dua sudah menyukai aktivitas luar ruang.
Malam yang Terlalu Cepat Larut
Tanpa terasa, waktu berjalan. Jam sudah lewat tengah malam.
Obrolan masih bisa dilanjutkan, tapi malam itu kami sepakat untuk menyudahinya dulu.
Mereka berpamitan, lalu pulang berboncengan motor, menembus jalan malam Jember yang mulai sepi.
Tentang Harapan yang Sederhana
Sebelum mereka pergi, aku hanya mengingatkan satu hal:
jangan pernah benar-benar meninggalkan ilmu yang pernah dipelajari.
Walaupun nanti jalan hidup berubah, setidaknya tetap ikuti perkembangan keilmuan itu—sedikit demi sedikit tanpa merasa surut. Karena di situlah bekal jangka panjang sebenarnya.
Sebab banyak juga yang akhirnya berjalan jauh dari jurusan kuliahnya, dan perlahan kehilangan koneksi dengan ilmu yang dulu pernah dipelajari, itulah realita.
Malam itu ditutup dengan sederhana.
Dan seperti biasa, setiap tamu yang datang selalu membawa satu hal:
cerita baru, dan cara pandang yang ikut bertumbuh.
Semoga langkah mereka dimudahkan.
Semoga apa yang mereka usahakan hari ini, suatu saat benar-benar bisa membuat orang tua mereka bangga.
Empat Mahasiswa, Cerutu, dan Malam yang Panjang di Jember
Hari itu, empat mahasiswa dari Universitas Trunojoyo Madura datang berkunjung. Mereka adalah Habibi, Wahab, dan dua rekannya. Kedatangan mereka ke Jember bukan tanpa alasan—sejak sebulan lalu, mereka sedang menjalani magang di Petung Mangli Djaya Raya, sebuah fase belajar yang membawa mereka lebih dekat dengan dunia tembakau dari hulu.
Ketertarikan mereka membawa langkah ke GRIYACERUTU. Bukan hanya karena ingin mencoba cerutu, tapi juga karena rasa ingin tahu yang lebih dalam: tentang industri, tentang budaya, dan tentang bagaimana tembakau menjadi bagian dari sejarah panjang Jember.
Belajar dari Tanah, Bukan Hanya dari Buku
Selama empat bulan ke depan, mereka akan menjalani proses yang tidak sederhana:
- melihat bibit tembakau,
- memindahkannya ke tray,
- menanam di lahan,
- merawat hingga masa panen tiba.
Sebuah perjalanan yang mungkin tidak mereka temukan sepenuhnya di ruang kelas.
Menariknya, mereka berasal dari Madura—daerah yang juga dikenal sebagai penghasil tembakau. Namun, dosen mereka justru merekomendasikan Jember sebagai tempat belajar. Ada satu hal yang dicari di sini: pengalaman langsung dari grower, dari tanah yang benar-benar diolah, dari praktik yang hidup.
Cerutu sebagai Pintu Cerita
Ini bukan kunjungan pertama. Sudah tiga kali mereka datang, dan setiap kunjungan selalu disertai rasa penasaran yang sama.
Mereka mencoba beberapa cerutu kecil—ringan, sebagai pembuka. Sebagian dibawa pulang sebagai oleh-oleh. Tapi yang lebih mereka nikmati bukan hanya rasanya, melainkan cerita di baliknya.
Tentang bagaimana budaya tembakau di Jember telah tumbuh sejak masa kolonial. Tentang bagaimana ketertarikan pada cerutu bisa bermula dari sesuatu yang sederhana—seperti yang kami alami sejak 2017.
Malam itu, cerutu hanya menjadi medium. Yang terjadi sebenarnya adalah pertukaran cerita.
Mencari Arah di Tengah Jalan
Di sela obrolan, muncul satu pertanyaan yang cukup jujur:
Seberapa besar pendidikan akademik berpengaruh pada kehidupan kerja?
Ada sedikit kekhawatiran di sana. Bahwa apa yang dipelajari di bangku kuliah belum tentu menjamin jalan hidup setelahnya.
Jawabanku sederhana:
tidak perlu terlalu sering dikhawatirkan.
Yang penting sekarang adalah menyelesaikan kuliah dengan maksimal. Lulus tepat waktu. Karena setidaknya, mereka yang menempuh pendidikan S1 sudah dibekali satu hal penting: cara berpikir analitik.
Dan itu cukup untuk bertahan.
Aku juga mengingatkan:
jangan terlalu sering membandingkan diri—baik dengan teman satu jurusan, maupun dengan cerita sukses orang lain. Di situlah sering kali kegelisahan justru muncul.
Realita kehidupan tidak berjalan seragam.
Tentang Jalan yang Tidak Selalu Lurus
Ada kemungkinan nanti:
- pekerjaan tidak sesuai jurusan,
- arah hidup berubah,
- atau bahkan minat bergeser jauh dari apa yang dulu dipelajari.
Dan itu tidak apa-apa.
Yang penting, jalani dulu. Sampai nanti tiba di satu titik di mana keputusan berikutnya bisa diambil dengan lebih sadar—apakah akan tetap melanjutkan, atau mencari jalan lain.
Aku juga sempat bercerita:
kadang terlihat enak mereka yang bekerja kantoran dengan gaji tetap. Sementara aku harus terus menyesuaikan dengan ritme usaha, dengan order yang tidak selalu pasti.
Tapi di situlah pilihan hidup bekerja.
Jember, Libur Lebaran, dan Rekomendasi Jalan Sunyi
Di luar aktivitas magang, mereka juga memanfaatkan waktu di Jember dengan baik. Saat libur lebaran, mereka sempat mengunjungi Pantai Papuma dan Watu Ulo.
Aku sempat menyarankan satu tempat lagi:
ke arah utara, sekitar 14 km dari sini—Gunung Pasang.
Sebuah desa yang tenang, cocok untuk menikmati alam… atau sekadar menghisap cerutu dengan ritme yang lebih pelan.
Di sana ada Rimba Camp, di ketinggian sekitar 510 mdpl. Tempat yang cukup ideal jika mereka ingin melanjutkan perjalanan kecil menuju air terjun Tancak.
Salah satu dari mereka tampak antusias. Katanya, sejak semester dua sudah menyukai aktivitas luar ruang.
Malam yang Terlalu Cepat Larut
Tanpa terasa, waktu berjalan. Jam sudah lewat tengah malam.
Obrolan masih bisa dilanjutkan, tapi malam itu kami sepakat untuk menyudahinya dulu.
Mereka berpamitan, lalu pulang berboncengan motor, menembus jalan malam Jember yang mulai sepi.
Penutup: Tentang Harapan yang Sederhana
Sebelum mereka pergi, aku hanya mengingatkan satu hal:
jangan pernah benar-benar meninggalkan ilmu yang pernah dipelajari.
Walaupun nanti jalan hidup berubah, setidaknya tetap ikuti perkembangan keilmuan itu—sedikit demi sedikit. Karena di situlah bekal jangka panjang sebenarnya.
Banyak yang akhirnya berjalan jauh dari jurusan kuliahnya, dan perlahan kehilangan koneksi dengan ilmu yang dulu pernah dipelajari.
Sayang sekali.
Malam itu ditutup dengan sederhana.
Dan seperti biasa, setiap tamu yang datang selalu membawa satu hal:
cerita baru, dan cara pandang yang ikut bertumbuh.
Semoga langkah mereka dimudahkan.
Semoga apa yang mereka usahakan hari ini, suatu saat benar-benar bisa membuat orang tua mereka bangga.
