Beberapa hari kemudian dia kembali menghubungiku.
Kali ini suasananya mendesak karena beberapa cigar favoritnya masih belum tersedia dari pabrik.
“Hey Aan, any update?”
Aku mencoba mengecek ulang stok ke factory. Aku sudah tahu cerutu apa yang dia tanyakan.
“Okay, availability will be in stock next week.”
Masalahnya, dia sudah berada di Bali dan dia tidak bisa menunggu lebih lama.
“I come on 1st February and leave on 6th February. Will there be stock in time?”
Aku cukup ragu waktu itu.
Karena penyebabnya keterlambatan cukai bukan dari produksi factory, kemungkinan cigar belum juga daapat dipastikan. Aku mencoba memberi pilihan lain.
“I still have Boslucks 5 Series in stock.”
Dia kembali bertanya soal beberapa varian pack kecil.
Namun bahkan kemasan Boslucks 3 Maduro juga ternyata habis. Stock belum siap edar di semua seri Boslucks Maduro yang paling dicari.
Aku mulai sadar sesuatu: ternyata traveler asing cukup mengenal seri Boslucks cigar, bahkan mereka mencari varian yang sangat spesifik.
Bukan hanya membeli asal-asalan. Mereka benar-benar memilih blend, ukuran, dan karakter smoke yang mereka sukai.
Dan dari situ aku mulai melihat peranan dari griyacerutu.com.
Bukan sekadar menjual cerutu, lebih dari itu keberadaanku menghubungkan pengalaman traveling di Indonesia dengan cigar culture dari Jember.
Karena sebagian traveler itu tidak hanya mencari produk. Mereka mencari suasana dan knowledge dari seorang yang benar-benar menggeluti di bidang cerutu sejak lama.
Dan semuanya ternyata bisa dimulai hanya dari satu chat sederhana di WhatsApp.
Bayangkan …
Menikmati cigar besar di villa Seminyak.
Menikmati draw perlahan setelah sunset Bali.
Berlanjut membuka satu box cigar varian lain sambil menikmati kopi dan angin laut.
