Tahun ini tepat 10 tahun kala erupsi Gunung Raung 2015 dikenang sebagai realita bencana alam yang pemberitaannya tak terbatas pada penerbangan yang dibatalkan, abu vulkanik yang sampai ke Bali, dan masyarakat terdampak yang setiap hari harus mengenakan masker dan sebagian masyarakat sekitar memperbaiki atap rumahnya.
Tetapi bagi petani tembakau di wilayah terutama Jember, Bondowoso, dan sekitarnya, erupsi Raung 2015 dikenang dengan istilah lain: mereka menyebutnya Musim Abu.
Turun perlahan dan bergerak menyebar disapu angin bukan datang sebagai bencana yang meledak, gerakan yang senyap perlahan, menempel di atap rumah, menutupi halaman dan yang paling menyakitkan: melekat di daun tembakau yang sedang dibesarkan dengan harapan.
Raung meletus berbulan-bulan. Aktivitasnya memuncak sekitar Juni–Juli 2015 dan terus berlangsung hingga sekitar enam bulan lebih dalam status waspada. Setiap pagi petani bangun bukan untuk merawat tanaman, tetapi menebak arah angin. Sebab arah angin menentukan: hari itu kebun membaik, atau kembali kelabu.
Di beberapa desa, orang-orang mulai hidup berdampingan dengan abu. Menyapu halaman, lantai teras; menjadi rutinitas. Sebagian mereka menutupi properti mereka dengan terpal.
Tetapi tembakau harus dibiarkan terbuka dan tak mungkin di bersihkan tiap hari
Seperti tahun tahun sebelumnya, petani dengan optimis menanam tembakau sampai musim panen tiba. Benih ditebar, lahan dirawat, pupuk dibeli, tenaga kerja dibayar. Semua dilakukan dengan keyakinan bahwa saat panen datang, hasilnya bisa mengembalikan biaya satu musim.
Namun musim 2015 arahnya beda.
Abu vulkanik menempel pada daun. Sebagian daun mengalami perubahan kualitas. Penampilan fisik yang biasanya menjadi penentu mutu mulai terganggu.
Ketika panen tiba, hasil yang mereka bawa tidak lagi bernilai seperti yang dibayangkan. Harga turun.
Kerugian sektor tembakau saat itu diperkirakan mencapai ratusan miliar rupiah. Angka yang sering disebut mencapai sekitar Rp340 miliar. Tetapi angka sebesar itu tidak pernah benar-benar menjelaskan isi dapur petani. Yang mereka tahu hanya satu: musim tak berpihak mereka yang ada adalah tagihan.
Saat itu bertepatan musim kampanye: biasalah janji-janji bantuan, perhatian, dan pembicaraan tentang kompensasi untuk petani terdampak. Tetapi seperti kampanye sebelumnya, menguap di kursi dewan.
Gudang dan pabrikan juga menghadapi persoalan baru. Debu vulkanik yang melekat pada daun memaksa penanganan tambahan.
Abu halus menempel pada permukaan daun dan memerlukan penanganan tambahan agar tidak mengganggu proses berikutnya.
Sortasi diperketat. Pembersihan bertambah. Tenaga kerja meningkat. Biaya produksi naik.
Musim itu menghadirkan situasi yang jarang terjadi: Industri mengeluarkan ongkos lebih besar. Petani menerima harga lebih rendah.
Erupsi Raung 2015 bukan sekadar catatan geologi bagi kawasan tembakau. Ia adalah bagian dari ingatan kolektif petani, tentang musim tembakau dan abu vulkanik.
