Setelah cukup menjelajahi kebun TBN di bawah naungan paranet, perjalanan para peserta Festival Jember Kota Cerutu Indonesia (JKCI) 2025 berlanjut ke destinasi ketiga yang tidak kalah krusial. Ini adalah jembatan yang menghubungkan antara jerih payah di ladang dengan sortasi bahan cerutu: proses pascapanen di dalam gudang pengeringan atau curing barn.
Inovasi Gudang Knockdown dan Rahasia Menguapkan Air
Begitu memasuki area gudang, kami langsung disuguhkan pemandangan struktur bangunan yang unik. Berbeda dengan gudang konvensional zaman dahulu, gudang yang digunakan saat ini telah mendapatkan inovasi modern dan didaftarkan Hak Kekayaan Intelektualnya (HAKI).
Gudang ini menggunakan sistem knockdown (bongkar-pasang) berbahan bambu yang fleksibel. Jika musim panen telah usai, struktur bambunya bisa dibongkar, disimpan, atau dipindahkan ke lokasi lain untuk meminimalkan kerusakan dan memudahkan operasional pertanian. Hebatnya, inovasi desain ini mampu meningkatkan kapasitas tampung ruang hingga 120% sampai 130% lebih banyak dibanding gudang kuno.
Di dalam rumah curing inilah keajaiban sains terjadi secara alami. Lembaran daun tembakau yang baru dipetik dari pohon dalam kondisi hijau segar akan melewati beberapa tahapan teknis:
- Proses Sujen dan Dolok: Daun-daun hijau tersebut ditusuk dan diikat (sujen) dalam satu untaian (renceng) dengan jumlah presisi, yaitu 30 lembar daun. Untaian ini kemudian diletakkan di atas penopang (tatang) dengan jarak tidak lebih dari 30 cm untuk menjaga sirkulasi udara, sebelum nantinya dikelompokkan ke dalam bilah bambu (dolok) di mana satu dolok berisi empat renceng daun.
- Pertaruhan Angka dan Air: Satu kamar gudang ini mampu menampung hingga 520 tali renceng. Jika diakumulasikan, total bobotnya setara dengan 7 kintal daun basah, yang setelah mengering hanya akan menyisakan sekitar 70 kilogram tembakau kering. Artinya, sekitar 90% kandungan di dalam daun tembakau segar murni berbentuk air yang harus diuapkan secara perlahan di dalam gudang ini.
- Proses Perubahan Warna (Curing): Untuk mengubah daun dari hijau segar menjadi cokelat matang, tembakau membutuhkan waktu rata-rata 20 hingga 22 hari melalui sistem pengeringan udara (air-curing). Kuncinya ada pada pengaturan kelembapan udara. Kelembapan tinggi hanya ditoleransi pada dua hari pertama. Setelah itu, kelembapan harus diturunkan secara ketat ke angka 70% hingga 80% agar lamina (badan daun) perlahan berubah warna dari hijau, menguning, hingga menjadi cokelat sempurna, diikuti oleh bagian gagang daun yang mengering. Setelah lamina dan gagang benar-benar kering, daun baru boleh diturunkan untuk masuk ke tahap sortasi (pemilahan) dan fermentasi.
Edukasi Mindful Smoking: Menikmati dengan Imajinasi dan Penghargaan
Di sela-sela penjelasan teknis di dalam rumah curing, terselip sebuah refleksi mendalam mengenai esensi dari festival JKCI itu sendiri. Panitia menekankan bahwa kekuatan terbesar dari perhelatan tahunan ini bukanlah sekadar pesta pora, membakar cerutu mahal, makan mewah, atau bernyanyi bersama. Nilai paling berharga yang dibawa pulang oleh setiap peserta ke daerah asal mereka adalah edukasi dan respek.
Menikmati cerutu premium sejatinya adalah sebuah aktivitas mindful. Ketika kita menyulut sebatang cerutu, kita diajak untuk menggunakan imajinasi dan menarik garis ingatan kita mundur ke belakang: membayangkan bagaimana cerutu tersebut berawal dari sebutir benih kecil di rumah semai, dirawat intensif selama puluhan hari di ladang, diuji oleh cuaca, digantung dengan presisi di dalam rumah curing, hingga akhirnya digulung oleh tangan terampil para torcedor.
“Prosesnya sangat panjang dan membutuhkan effort (usaha) yang luar biasa besar dari teman-teman petani lokal. Itulah mengapa kita harus memberi penghargaan tertinggi pada setiap batang cerutu yang kita nikmati dan kita bakar,” ungkap panitia memberi pesan kuat agar kita tidak menyia-nyiakan setiap hembusan.
Testimoni Peserta Perdana: “Amazing and Incredible Day”
Keseruan hari kedua tidak berhenti pada teori saja. Panitia bahkan menantang para peserta untuk merasakan langsung sensasi menjadi pekerja gudang dengan memanjat struktur bambu setinggi lebih dari 3 meter untuk menggantungkan dolok-dolok tembakau ke langit-langit gudang.
Salah seorang peserta wanita yang baru pertama kali hadir di festival JKCI memberanikan diri menerima tantangan ekstrim tersebut. Sambil tersenyum lebar setelah berhasil turun, ia membagikan kesan emosionalnya selama mengikuti rangkaian acara hari itu.
“Naik ke atas tadi rasanya menegangkan tapi seru banget, seperti flashback kala itu! Ini adalah tahun pertama aku datang ke JKCI, dan seluruh rangkaian acaranya benar-benar membuatku terkejut. Mulai dari melihat ladang tembakau yang luas, berinteraksi langsung dengan para petani, sampai melihat proses di dalam gudang ini. This is an amazing, incredible day! Aku pasti ingin kembali lagi tahun depan. Terima kasih untuk BIN Cigar dan JKCI, sukses selalu!” ceritanya penuh antusias.
Bersiap untuk Malam Puncak
Hari kedua yang produktif di area pascapanen ini ditutup dengan sesi foto bersama, makan siang, dan tawa renyah di antara barisan bambu rumah curing. Langkah kaki para peserta kemudian bersiap ditarik menuju rangkaian acara berikutnya pada sore dan malam hari yang menjanjikan atmosfer yang lebih meriah.
Bagi kita di GriyaCerutu, edukasi dari curing barn ini mengetuk kesadaran kita sebagai penikmat. Di balik kemewahan cita rasa sebatang cerutu, ada sains, keringat, pengeringan udara, serta dedikasi tanpa batas dari bumi Jember untuk dunia.
Mari nikmati cerutu Anda hari ini dengan penuh rasa hormat: Salam Cigar, Salam Sehat, Salam Bahagia!
Sumber tulisan: kunjungan kami saat acara berlangsung dan youtube O’Sersan Channel
