Post

Cigar & Slow Living: Menikmati Ritme yang Tepat, Bukan yang Cepat

Cerutu dan Realitas Kehidupan Sehari-hari

Banyak yang mengira penggemar cerutu identik dengan gaya hidup berlebih, party, dan untuk mereka yang mampu. Namun tidak selalu.

Sebagian memang sudah berada di titik di mana kebutuhan pokok—makan, kebutuhan harian, dan utilitas—tidak lagi menjadi beban pikiran utama. Mereka produktif, punya pekerjaan tetap, dan menjalani hidup dengan ritme yang stabil.

Hari ini, bahkan seorang fresh graduate pun bisa menikmatinya dengan cara yang sederhana. Sebatang cerutu ukuran medium half corona, dengan harga terjangkau 10k IDR, bisa menjadi pelengkap ngopi.

Sepulang kerja, saat tubuh lelah dan pikiran penuh, duduk sejenak dengan kopi dan cerutu bisa menjadi bentuk terapi sederhana. Bukan untuk melarikan diri, tapi untuk meredakan.

Memberi ruang. Menurunkan ritme.


Dari Cerutu ke Slow Living

Di titik inilah aku mulai melihat hubungan yang lebih dalam.

Antara cerutu, kopi, dan slow living.

Kita sering mengira hidup yang baik adalah hidup yang selalu aktif. Selalu hadir. Selalu terlibat dalam banyak hal dan difollow banyak orang.

Padahal, tidak selalu begitu.

Kadang, justru dengan sedikit mundur—menjauh dari keramaian—kita menemukan ritme yang lebih tepat.

Energi yang tidak perlu dikeluarkan untuk hal-hal yang tidak penting, bisa dialihkan ke sesuatu yang lebih bermakna. Sesuatu yang lebih produktif. Bahkan, sesuatu yang bisa membentuk karya.

Slow living bukan tentang menjadi lambat. Tapi tentang menemukan pergerakan yang sesuai.


Ciri Sederhana dari Slow Living

Dalam perjalananku sejak mengenal cerutu dan kopi, aku mulai mengidentifikasi beberapa hal yang terasa berubah:

Hadir sepenuhnya (mindfulness)
Menikmati kopi tanpa distraksi. Duduk dengan cerutu tanpa tergesa. Fokus pada satu hal dalam satu waktu.

Memilih kualitas, bukan kuantitas
Lebih baik sedikit, tapi bermakna. Baik dalam barang, konsumsi, kepemilikan, maupun pengalaman, 

Hidup dengan sengaja (intentional)
Menentukan ritme sendiri, bukan mengikuti tren sosial atau sekadar takut ketinggalan.

Berani berkata “tidak”
Tidak semua undangan dan ajakan harus diikuti. Tidak semua peluang harus diambil.

Menikmati proses
Memasak sendiri, berjalan kaki, membersihkan dan merapikan ruangan, atau sekadar duduk lebih lama—semua menjadi bagian dari pengalaman, bukan sekadar hasil.

Mengurangi konsumsi impulsif
Lebih sadar dalam membeli. Lebih dekat dengan yang lokal, handmade bukan produksi massal, yang cukup.

Menjaga keseimbangan waktu
Ada ruang untuk bekerja, tapi juga ada ruang untuk diam. Untuk diri sendiri, dan untuk orang terdekat. Terapkan konsep minimalis pada ruangan dengan mengurangi distraksi pada barang.


Kenapa Cerutu Selaras dengan Slow Living

Cerutu, secara alami, tidak bisa dinikmati dengan terburu-buru.

Ia menuntut waktu.
Menuntut perhatian. Memilih tempat yang cocok.
Dan secara tidak langsung, mengajak kita untuk hadir dinikmati sendiri atau dengan grup kecil.

Itulah sebabnya kebiasaan ini terasa selaras dengan slow living.

Bukan karena cerutu itu “wah”, tapi karena prosesnya memaksa kita untuk melambat.

Dan saat kita melambat, banyak hal menjadi lebih jelas:

  • mana yang penting
  • mana yang hanya gangguan
  • mana yang layak diberi energi

Bagi sebagian orang yang lebih menghargai ketenangan, slow living menjadi pilihan yang relevan karena menekankan kesadaran penuh dalam menjalani setiap aktivitas. Gaya hidup ini juga cocok bagi mereka yang sedang mengalami burnout atau merasa jenuh dengan rutinitas yang padat. Menariknya, slow living tetap bisa diterapkan di kota besar, meskipun pada praktiknya seringkali terasa lebih mudah dijalani di lingkungan pedesaan.


Hidup dengan Sengaja, Bukan Sekadarnya

Cigar & slow living bukan tentang gaya hidup tertentu.

Mereka hanya medium.

Yang sebenarnya kita cari adalah ruang:

  • Ruang untuk berpikir
  • Ruang untuk bernapas.
  • Ruang untuk memilih dengan sadar.

Ini tentang cara kita mengatur ritme hidup.

  • Bahwa tidak semua harus cepat.
  • Tidak semua harus banyak.
  • Dan tidak semua harus terlihat.

Setelah memahami bagaimana menjalani gaya hidup slow living, kita bisa mulai mempertimbangkan untuk menerapkannya. Gaya hidup ini tidak menghalangi kita untuk tetap berkarya atau meraih kesuksesan—justru membantu menjalani hidup dengan ritme yang lebih manusiawi.

cigar & slow living: menikmati ritme yang tepat, bukan yang cepat

Empat Mahasiswa, Cerutu, dan Malam yang Panjang di Jember

Hari itu, empat mahasiswa dari Universitas Trunojoyo Madura datang berkunjung. Mereka adalah Habibi, Wahab, dan dua rekannya. Kedatangan mereka ke Jember bukan tanpa alasan—sejak sebulan lalu, mereka sedang menjalani magang di PT. Mangli Djaya Raya, Petung – satu fase belajar yang perlu ditempuh agar lebih dekat dengan dunia tembakau dari hulu.

Ketertarikan mereka membawa langkah ke Griyacerutu. Bukan hanya karena ingin mencoba cerutu, tapi juga karena rasa ingin tahu yang lebih dalam: tentang industri, budaya, dan bagaimana tembakau menjadi bagian dari sejarah panjang Jember.


Belajar dari Tanah, Bukan Hanya dari Buku

Selama empat bulan ke depan, mereka akan menjalani proses yang tidak sederhana:

  • melihat bibit tembakau,
  • memindahkannya ke tray,
  • menanam di lahan,
  • merawat hingga masa panen tiba.

Sebuah perjalanan yang mungkin tidak mereka temukan sepenuhnya di ruang kelas.

Menariknya, mereka berasal dari beberapa kota di Jawa Timur —dan dosen mereka merekomendasikan Jember sebagai tempat belajar. Ada satu hal yang dicari di sini: pengalaman langsung dari grower, dari tanah yang benar-benar diolah, dari praktik yang hidup.


Cerutu sebagai Pintu Cerita

Ini bukan kunjungan pertama. Sudah tiga kali mereka datang, dan setiap kunjungan selalu disertai rasa penasaran yang sama.

Mereka mencoba beberapa cerutu kecil—ringan, sebagai pembuka. Sebagian dibawa pulang sebagai oleh-oleh. Tapi yang lebih mereka nikmati bukan hanya rasanya, melainkan cerita di baliknya.

Tentang bagaimana budaya tembakau di Jember telah tumbuh sejak masa kolonial. Tentang bagaimana ketertarikan pada cerutu bisa bermula dari sesuatu yang sederhana—seperti yang kami alami sejak 2017.

Malam itu, cerutu menjadi medium sebagai pertukaran cerita.


Mencari Arah di Tengah Jalan

Di sela obrolan, muncul satu pertanyaan yang cukup jujur:

Seberapa besar pendidikan akademik berpengaruh pada kehidupan kerja?

Ada sedikit kekhawatiran di sana. Bahwa apa yang dipelajari di bangku kuliah seolah belum menjamin jalan hidup setelahnya.

Jawabanku sederhana:
tidak perlu terlalu dikhawatirkan.

Yang penting sekarang adalah menyelesaikan kuliah dengan maksimal. Lulus tepat waktu. Karena setidaknya, mereka yang menempuh pendidikan S1 sudah dibekali satu hal penting: cara berpikir analitis.

Dan itu bekal untuk bertahan.

Aku juga mengingatkan:
jangan terlalu sering membandingkan diri—baik dengan teman satu jurusan, maupun dengan cerita sukses orang lain. Di situlah sering kali kegelisahan justru muncul.

Realita kehidupan tidak berjalan seragam.


Tentang Jalan yang Tidak Selalu Lurus

Ada kemungkinan nanti:

  • pekerjaan tidak sesuai jurusan,
  • arah hidup berubah,
  • atau bahkan minat bergeser jauh dari apa yang dulu dipelajari di kelas perkuliahan.

Dan itu tidak apa-apa.

Yang penting, jalani dulu. Sampai nanti tiba di satu titik di mana keputusan berikutnya bisa diambil dengan lebih sadar—apakah akan tetap melanjutkan, atau mencari jalan lain.

Aku juga sempat bercerita, apa yang terbesit dipikiran: Kadang terlihat enak mereka yang bekerja kantoran dengan gaji tetap. Sementara aku harus terus menyesuaikan dengan ritme usaha, dengan order yang tidak selalu pasti.

Tapi di situlah hidup bekerja, tak bisa memilih – jalani saja.


Jember, Libur Lebaran, dan Rekomendasi Rute Rekreasi.

Di luar aktivitas magang, mereka juga memanfaatkan waktu di Jember dengan baik. Saat libur lebaran, mereka sempat mengunjungi Pantai Papuma dan Watu Ulo.

Aku sempat menyarankan satu tempat lagi:
ke arah utara, sekitar 14 km dari sini—Gunung Pasang.

Sebuah desa yang tenang, cocok untuk menikmati alam… atau sekadar menghisap cerutu dengan ritme yang lebih pelan.

Di sana ada Rimba Camp, di ketinggian sekitar 505 mdpl. Tempat yang cukup ideal jika mereka ingin melanjutkan perjalanan kecil menuju air terjun Tancak.

Salah satu dari mereka tampak antusias. Kata dia, sejak semester dua sudah menyukai aktivitas luar ruang.


Malam yang Terlalu Cepat Larut

Tanpa terasa, waktu berjalan. Jam sudah lewat tengah malam.

Obrolan masih bisa dilanjutkan, tapi malam itu kami sepakat untuk menyudahi.

Mereka berpamitan, lalu pulang berboncengan motor, menembus jalan malam Jember yang sudah sepi.


Tentang Harapan yang Sederhana

Sebelum mereka pergi, aku hanya mengingatkan satu hal:

jangan pernah benar-benar meninggalkan ilmu yang pernah dipelajari.

Walaupun nanti jalan hidup berubah, setidaknya tetap ikuti perkembangan keilmuan itu—sedikit demi sedikit walau tak semua. Karena di situlah bekal jangka panjang sebenarnya.

Sebab banyak juga yang akhirnya berjalan jauh dari jurusan kuliahnya, dan perlahan kehilangan koneksi dengan ilmu yang dulu pernah dipelajari, itulah realita.


Seperti biasa, setiap tamu yang datang selalu membawa satu hal:
Cerita baru atau update yang menarik.

Semoga langkah mereka dimudahkan. Semoga apa yang mereka usahakan hari ini, suatu saat benar-benar bisa membuat orang tua mereka bangga.


.

Cerita Pelan tentang Cerutu, Kopi, dan Hidup Secukupnya

Dulu, aku tidak benar-benar mempertanyakannya.

Uang datang, lalu pergi. Cepat. Hampir tanpa jeda—seperti telur panas yang dikupas sesaat setelah matang.

Setiap keluar rumah selalu ada saja yang ingin dibeli. Hal kecil semacam akssesoris, tapi sering. Bukan karena butuh, tapi karena terasa “ingin”. Dan keinginan itu, entah bagaimana, selalu terasa mendesak.

Seolah harus segera dipenuhi.

Waktu itu, aku pikir itu hal yang biasa. Sampai suatu hari, ritme itu mulai berubah.

Bukan karena aku mulai belajar budgeting. Bukan karena ajaran buku finansial.

Tapi aku mulai temukan saat duduk lebih lama, masuk ke ritme yang pelan – dengan secangkir kopi dan sebatang cerutu.


cerita pelan tentang cerutu, kopi, dan hidup secukupnya

Jeda yang Sering Kita Abaikan

Ada sesuatu yang berbeda ketika kita duduk dengan secangkir kopi dan menikmati cerutu yang baik.

Kita tidak terburu-buru. Kita tidak mengonsumsinya secara asal. Selalu pilih dan tentukan waktu dan tempat yang cocok.

Duduk diam, tanpa tergesa. Menyalakan cerutu dengan pelan, menghirup aromanya sebelum benar-benar dibakar. Lalu satu dua hisapan, tidak terburu-buru.

Kopi di samping, masih hangat. terdengar senandung musik lirih.

Waktu terasa melambat, di situlah aku menemukan satu hal yang selama ini hilang: jeda.

  • Jeda antara ingin dan membeli.
  • Jeda antara impuls dan keputusan.

Dari situ, perlahan aku mulai berubah. Setiap kali muncul keinginan untuk membeli sesuatu, aku mulai belajar menunda. Bukan dengan menahan secara keras, tapi dengan mengalihkan—duduk sejenak, menyalakan cerutu, menyeduh kopi.

Memberi waktu untuk mencerna, memberi pertimbangan:

  • Apakah aku benar-benar butuh ini? 
  • Apakah benar-benar harus diganti? 
  • Bisakah menunda untuk memberikan masa pakai lebih panjang?  
  • Atau hanya ingin karena fitur yang lebih lengkap dan canggih?

Dan seringkali, jawabannya datang dengan sendirinya.

Tidak perlu.

Di dunia yang terus mendorong kita untuk lebih cepat, lebih banyak, dan sikap mesti dapat sekarang juga—ritme pelan terasa seperti sesuatu yang langka.

Yang kita butuhkan adalah kopi yang kita sajikan sesuai versi masing-masing, bukan gaya petualang tanpa arah mencoba dari kedai satu ke kedai lain. Begitu juga dengan cerutu; simpan secukupnya saja dan order kembali saat stock menipis —ini juga untuk menjaga kualitas tetap optimal.


Simbol yang Berbeda.

Selama bergelut dengan industri cerutu, aku menyadari bahwa cerutu bukan lagi simbol kemewahan, juga bukan tentang selebrasi. Dan jelas bukan untuk dipamerkan.

Tidak ada yang benar-benar peduli kita menghisap cerutu atau tidak. Tidak ada dampaknya ke orang lain, ke follower, atau ke siapa pun di luar diri kita.

Dan justru di situlah letak kejujurannya. Cerutu adalah pengalaman yang personal.
Dan cukup dibagikan seperlunya saja dengan sesama penggemar cerutu dam kopi.


cerita pelan tentang cerutu, kopi, dan hidup secukupnya

Sebagai seseorang yang tinggal di Jember—yang terkenal sebagai Kota Cerutu Indonesia—aku melihat ini dengan cara yang lebih sederhana.

Budaya cerutu seharusnya tidak jauh dari akar kerakyatannya.

Bukan eksklusif. Bukan mahal yang dipersulit, namun begitu dekat dan terjangkau.

Seperti duduk di teras. Seperti ngobrol santai. Seperti menikmati sore yang berlalu begitu saja.


Hidup Sesuai Kemampuan, Tanpa Merasa Kekurangan

Dari kebiasaan sederhana ini, aku belajar memberi ruang untuk menunggu sebelum mengambil keputusan:

  • Tidak semua keinginan harus diikuti.
  • Tidak semua peluang harus diambil.

Kopi dan cerutu, dengan cara yang sederhana, mengajarkan ruang itu.

Menikmatinya tidak harus sering. Tidak harus banyak.

Cukup di waktu dan tempat yang tepat—sebagai bentuk apresiasi terhadap diri sendiri.


Ini tentang belajar hidup sesuai kemampuan.

Tentang memilih dengan sadar. Tentang menikmati tanpa berlebihan.

Tentang menemukan kembali ritme yang pelan—di tengah dunia yang terus bergerak cepat, di situlah letak kemewahan yang sebenarnya:

Punya ruang untuk berhenti, tanpa perlu menunjukkannya ke siapa pun.

A Quiet Escape This Lebaran: Cerutu, Kopi, dan Aliran Sungai di Alam Terbuka.

Hari kedua Idul Fitri tahun ini terasa berbeda. Tidak terprogram, tidak ada itinerary yang disusun rapi. Semuanya berjalan begitu saja—mengalir seperti aliran yang nantinya akan kami temui di ketinggian.

Pagi itu, kami keduluan keluarga dari Surabaya datang mampir sejenak ke rumah. Mereka berencana pergi ke Mini Zoo bersama keponakan-keponakan. Kami tidak ikut dalam satu mobil. Entah agak siangan kami menyusul yang sebelumnya memang sedianya pagi ini kami bertandang duluan.

Kami bergegas bertandang ke rumah Mbak Sri, beberapa blok ke arah selatan. Di sana, kami bertemu Mbak Sri dan Wasid. Ucapan selamat hari raya mengalir hangat, diselingi cerita ringan—tentang hari ini, dan sedikit kilas balik cerita masa lalu menceritakan anak-anak mbak Sri saat kuliah, menjemput mereka malamnya, dan waktu berlalu sekarang mereka sudah berkeluarga.

Ada satu hal sederhana yang justru cukup menarik: suguhan kue yang berbeda dari yang kami punya di rumah. Kami mencicipinya satu per satu, perlahan, tanpa tergesa – yang ini menjadi guyonan kami. Hal kecil, tapi cukup untuk membuat pagi terasa lengkap di ruang itu yang tertata minimalis.

Waktu berjalan tanpa terasa. Kami berpamitan, beranjak siang, mendekati duhur. Kami sempat terpikir untuk menyusul rombongan keluarga ke Mini Zoo.

Sesampainya di sana, instingku justru mencari satu hal: tempat yang nyaman untuk duduk dan menikmati cerutu. Tapi tidak kami temukan. Tidak ada ruang yang benar-benar terasa pas—tidak ada kursi dengan sandaran yang mengundang untuk stay dan berlama-lama.

Kami tidak masuk ke wahana. Tidak tertarik dengan tiket terusan atau keramaian di dalamnya. Kami hanya mengambil beberapa foto satwa, mengirim pesan bahwa kami sudah sampai, lalu membiarkan grup enjoy dengan kerumunan yang mengalir bersama satwa. Mereka menikmati, dan kami bergeser mencari spot foto lainnya.

Di tengah itu, istriku mengingatkan—sejak pagi kami belum sarapan. Perut perlu diisi dulu.

Kami pun mencari sesuatu yang sederhana. Bakso atau rujak mungkin, yang jelas banyak warung yang tutup. Suasana Lebaran memang seperti itu—hampir semua orang menikmati quality time bersama keluarga, dalam hati kami bergumam itu tidak berlaku buat kebanyakan warung Madura yang tetap buka, meski dalam keadaan genting sekalipun – begitu kelakar kami bersama Supra X125 – berkendara sekaligus test ride untuk rem depan cakram dan karburator yang baru saja di servis sebelum lebaran.

Aku mengusulkan satu hal sederhana:
“Ya sudah, kita jalan saja ke arah utara. Kalau ada yang menarik, kita berhenti.”

Kami sepakat.

Perjalanan berlanjut. Lalu lintas lengang. Kami sempat berhenti untuk sholat duhur, memberi jeda yang menenangkan sebelum melanjutkan perjalanan, agar hati lebih ringan.

Arah kami menuju kawasan Gunung Pasang. Dalam pikiranku, tempat itu biasanya ramai—orang-orang kota datang untuk melepas penat.

Namun kali ini berbeda.

Tidak banyak motor terparkir, apalagi mobil. Justru di situlah kami menemukan sesuatu kebalikannya, dimana justru tempat wisata alam bukan menjadi destinasi populer.

Sepi.

Untungnya kami melihat motor penjual cilok setelah kami hampiri lebih dekat, dan kedai pop mie yang masih buka.

Di ketinggian sekitar 400 mdpl, dengan udara yang sejuk dan suasana teduh, pop mie panas dan cilok dengan bumbu kecap hangat terasa lebih dari cukup. Bukan soal rasa mewah, tapi soal momen yang tepat.

Dan di sinilah, akhirnya, aku benar-benar ingin menikmati cerutu.

Aku keluarkan sebatang Lonsdale dari kotak kecil, aku sempat berhenti sejenak—meraba wrapper-nya, menghirup aromanya, lalu mengambil satu foto sebagai pengingat dari perjalanan ini.

Di depan kami, aliran sungai terdengar jernih. beberapa anak kecil bermain air. Gemericik mengalir melewati batu-batu, dengan jembatan bambu yang tampak sederhana namun tertata alami. Tidak dibuat berlebihan, tidak dipoles menjadi atraksi besar. Playground istimewa bukan soal tiket mahal dan menawarkan banyak wahana—tapi memberikan sesuatu yang lebih esensial: ruang untuk benar-benar hadir.

Sebagai penutup perjalanan kecil ini, kami sepakat naik sedikit lebih tinggi, menuju sekitar 510 mdpl. Di sana ada sebuah tempat yang dikelola oleh pemerintah daerah dan Perhutani, Rimba Camp—sebuah kafe lengkap dengan camping ground dan cottage kabin segitiga yang muat sampai 5 orang.

Beberapa pengunjung terlihat di sana. Ada sekelompok laki-laki yang baru saja turun dari Tancak, tubuh mereka masih berkeringat dan menuntaskan pengalamannya dengan berendam di saluran kali -terdengar gurauannya.

Kami memesan kopi robusta dan pisang goreng.

Menyalakan sebatang Joker Lonsdale yang disusul dengan Rojo Blanco Panatela. Mengambil angel yang tepat untuk jejak digital di galeri ini.

Duduk, diam sejenak, lalu bercengkrama.

Momen ini sederhana. Alami. Tapi terasa mahal.

Kenapa mahal?

Karena belum tentu sebulan sekali kami bisa berada di titik ini. Padahal jaraknya hanya sekitar 14 kilometer dari rumah. Bukan jauh, tapi tetap saja tidak selalu terjangkau oleh waktu dan rutinitas.

Perjalanan ini bahkan tidak direncanakan jauh-jauh hari.

Dan mungkin, justru itu yang membuatnya berarti.

Di sela obrolan dan diam yang nyaman, pikiran mulai bergerak. Ide-ide kecil muncul disela gemericik—tentang langkah berikutnya, agenda selanjutnya dengan tambahan hiking ke Tancak, tentang usaha online cerutu yang ingin kami perkuat, tentang update konten website Griyacerutu dan Debako.

Mood yang ringan membuka ruang untuk berpikir lebih jernih.

Menjelang waktu ashar, kami bersiap pulang. Hujan sempat turun cukup deras, membasahi perjalanan kami sejenak setelah meninggalkan masjid. Tapi tidak lama.

Dan entah kenapa, semua terasa pas.

Kami pulang dengan hati yang riang. Plong.

Di perjalanan, aku sempat melirik dan tersenyum kecil pada Supra X125, ia sudah teruji di rute ini—dari awal hingga pulang, tanpa banyak drama.

Perjalanan sederhana. Tanpa rencana besar.

Tapi penuh makna.

Sampai jumpa di perjalanan berikutnya.

Enjoy your favorite cigar and coffee.
Good luck 👍

Cerutu Out of Stock Saat Traveler Tiba di Bali (Part 2)

Beberapa hari kemudian dia kembali menghubungiku.

Kali ini suasananya mendesak karena beberapa cigar favoritnya masih belum tersedia dari pabrik.

“Hey Aan, any update?”

Aku mencoba mengecek ulang stok ke factory. Aku sudah tahu cerutu apa yang dia tanyakan.

“Okay, availability will be in stock next week.”

Masalahnya, dia sudah berada di Bali dan dia tidak bisa menunggu lebih lama.

“I come on 1st February and leave on 6th February. Will there be stock in time?”

Aku cukup ragu waktu itu.

Karena penyebabnya keterlambatan cukai bukan dari produksi factory, kemungkinan cigar belum juga daapat dipastikan. Aku mencoba memberi pilihan lain.

“I still have Boslucks 5 Series in stock.”

Dia kembali bertanya soal beberapa varian pack kecil.

Namun bahkan kemasan Boslucks 3 Maduro juga ternyata habis. Stock belum siap edar di semua seri Boslucks Maduro yang paling dicari.

Aku mulai sadar sesuatu: ternyata traveler asing cukup mengenal seri Boslucks cigar, bahkan mereka mencari varian yang sangat spesifik.

Bukan hanya membeli asal-asalan. Mereka benar-benar memilih blend, ukuran, dan karakter smoke yang mereka sukai.

Dan dari situ aku mulai melihat peranan dari griyacerutu.com.

Bukan sekadar menjual cerutu, lebih dari itu keberadaanku menghubungkan pengalaman traveling di Indonesia dengan cigar culture dari Jember.

Karena sebagian traveler itu tidak hanya mencari produk. Mereka mencari suasana dan knowledge dari seorang yang benar-benar menggeluti di bidang cerutu sejak lama.

Dan semuanya ternyata bisa dimulai hanya dari satu chat sederhana di WhatsApp.

Bayangkan …

Menikmati cigar besar di villa Seminyak.
Menikmati draw perlahan setelah sunset Bali.
Berlanjut membuka satu box cigar varian lain sambil menikmati kopi dan angin laut.

Traveler Australia, Cerutu Jember, dan Pengiriman ke Bali (Part 1)

Aku menerima sebuah pesan WhatsApp masuk dari website griyacerutu.com.

“Salam Alaikum Aan, I am wondering if I am able to purchase these cigars from Bali. I’m coming to Bali soon and I’m interested in purchasing a few boxes.”

Aku langsung membalasnya.

“Waalaikumsalam. Sounds great. Let me know what cigars you prefer — small, medium, or big.”

Beberapa menit kemudian dia bertanya lagi.

“Are you able to deliver to Bali? How can I buy from Bali?”

Aku menjawab dengan sederhana.

“Sure. Just leave cigars of your choice. Payment via bank transfer or Wise. Provide me with complete address.”

Dia rupanya traveler asal Australia yang akan datang ke Bali dan ingin menerima paket cerutu tepat selama ia tinggal di Bali.

Aku juga menjelaskan kalau pengiriman dari Jember ke Bali biasanya memakan waktu sekitar 2–3 hari menggunakan JNE.

Dia terlihat senang dengan respons cepat itu.

Lalu tiba-tiba muncul satu kalimat yang membuatku tak terbiasa.

“Is cash on delivery possible in any way as my order is over 5 million.”

Dalam hati aku berpikir, wah, ini order besar juga untuk awal bulan.

Seketika itu aku merespon dengan tenang.

“It’s possible via bank transfer or QRIS payment. We don’t accept cash on delivery.”

Dia memahami sistemnya dan lanjut bertanya soal waktu kedatangannya di Bali.

“Hey Aan, I arrive in Bali on 1st February. When should I order from you, so the cigars arrive on the 1st?”

Aku mencoba menghitung estimasi pengiriman dari Jember menuju Seminyak.

“Usually it takes around 2–3 days delivery. It should be safe.”

Dari situ percakapan mulai terasa lancar namun masih belum tahu cerutu apa saja yang ada dalam wishlist-nya.

Dia mulai memilih beberapa cigarlist dari website. Namun ada kendala kecil.

Beberapa seri ternyata sedang kosong.

Boslucks Maduro 6 Robusto dan Boslucks Escuro 44 Maduro belum tersedia terkendala cukai 2026 belum tersedia juga.

Dia kembali bertanya.

“Will everything be available if I order on Friday?”

Aku tidak ingin memberikan janji yang belum pasti.

“Let me inform you on Monday after checking with factory.”


Beberapa hari kemudian dia kembali menghubungiku.

“Hey boss, any update?”

Aku langsung menjawab.

“For today, Bosluck Maduro and Escuro are not available yet.”

Untungnya dia cukup fleksibel.

“Instead, I will get another box of Bosluck Corona and another Sampler 10 Robusto.”

Di situ aku mencoba menawarkan alternatif lain.

“Do you want Elbomba? It’s our best alternative.”

Elbomba memang salah satu cigar besar yang cukup premium dan cocok untuk dengan body lebih tebal dibanding Robusto biasa.

Aku juga mengirimkan link deskripsi cigar melalui website.

Tidak lama kemudian dia menjawab.

“Okay, I add Elbomba as well.”

Dari situ order mulai tertata. Dia mengirim daftar final dan bertanya:

“Is everything available in stock? If yes, I’m ready to place order.”

Aku mulai menyiapkan semuanya satu per satu. Aku foto semua cigar yang akan dikirim agar dia merasa aman. Beberapa menit kemudian dia membalas.

“Yes, perfect. Thank you boss.”

Aku membuat invoice PDF lengkap beserta total pembayaran dan mulai meminta alamat lengkap villa tempat dia menginap di Seminyak, Bali.

Yang menarik sekarang, pembayaran dari traveler luar negeri ternyata jauh lebih mudah dibanding beberapa tahun lalu.

Sebagian customer asing menggunakan Wise karena mereka tidak memiliki rekening bank lokal Indonesia. Ekosistem pembayaran sekarang membuat transaksi lintas negara terasa jauh lebih praktis.

Setelah pembayaran selesai, aku langsung packing semuanya dengan secure double wrap dan mengirim foto paket ketika sudah tiba di JNE.

Dia kembali membalas singkat.

“Perfect. Thank you boss.”

Di tahap itu aku merasa ada sesuatu yang menarik. Cerutu dari Jember ternyata bisa sampai ke tangan traveler Australia yang sedang menikmati liburan di Bali hanya dalam beberapa hari.

Semuanya terasa sederhana: Jember, cerutu, Bali, sunset, dan percakapan kecil lewat WhatsApp.


Tembakau Folklore: Kisah dan Jejak Tembakau Jember

Di kota Jember, tembakau bukan sekadar tanaman. Ia adalah cerita panjang tentang tanah, manusia, dan tradisi yang diwariskan lintas generasi. Di balik hamparan daun tembakau yang menguning di bawah matahari, ada banyak tangan yang bekerja—termasuk tangan para perempuan.

Salah satu sosok yang ikut menjaga cerita itu tetap hidup adalah Elok, seorang pemerhati tembakau yang perlahan menemukan jalannya ke dunia cerutu melalui perjalanan yang bertahap.

Tumbuh Bersama Cerita Tembakau

tembakau folklore: kisah dan jejak tembakau jember

Bagi Ibu Elok, dunia tembakau bukanlah sesuatu yang datang tiba-tiba. Hidup di Jember, yang dikenal sebagai salah satu kota tembakau di Indonesia, membuatnya sejak lama akrab dengan berbagai lapisan masyarakat yang berkaitan dengan industri ini—mulai dari petani, buruh, pekerja pabrik, akademisi, hingga pelaku bisnis.

Sekitar dua dekade lalu, ia terlibat aktif dalam program pemberdayaan anak-anak komunitas tembakau yang didukung organisasi internasional seperti UNICEF dan International Labour Organization. Dari sana, ia mulai semakin dekat dengan dinamika sosial yang mengelilingi industri tembakau.

Perjalanan itu berlanjut ke dunia riset dan penulisan. Beberapa penelitian tentang tembakau yang ia lakukan mendapat dukungan dari berbagai lembaga, termasuk Ford Foundation, serta kolaborasi dengan peneliti dari Leiden University yang meneliti sejarah sosial perkebunan tembakau.

Melalui proses itu, Ibu Elok tidak hanya melihat tembakau sebagai komoditas ekonomi, tetapi juga sebagai bagian dari sejarah dan budaya masyarakat.

Mengenal Lebih Dekat Industri Cerutu

Langkahnya semakin berlanjut ketika pada tahun 2012 ia terlibat dalam pengelolaan majalah Tobacco Information Center (TIC) di bawah Lembaga Tembakau Jember, sebuah unit yang berada di bawah naungan Dinas Perindustrian dan Perdagangan Provinsi Jawa Timur.

Melalui peran tersebut, ia mulai mengenal lebih dekat berbagai pabrik cerutu di Jember serta para pelaku industrinya.

Namun keputusan untuk benar-benar masuk ke bisnis cerutu baru muncul beberapa tahun kemudian. Sekitar 2018, ketika dunia digital dan marketplace mulai terbentukt, ia melihat peluang baru.

Dari sana, ia mulai belajar—memahami produk, pasar, hingga bagaimana memasarkan cerutu secara lebih luas. Sedikit demi sedikit, langkah itu berkembang hingga menjadi usaha yang ia tekuni sampai sekarang.

Empat Prinsip dalam Memilih Jalan

Bagi Ibu Elok, memilih pekerjaan bukan soal laki-laki atau perempuan. Ia memiliki empat prinsip sederhana sebelum memutuskan menekuni sesuatu: kemampuan, kemauan, peluang, dan sistem pendukung.

Jika keempat hal itu ada, maka sebuah pekerjaan layak untuk dijalani.

Karena itulah ia tidak melihat industri cerutu sebagai dunia yang hanya milik satu gender. Siapa pun—baik pria maupun perempuan—bisa terlibat selama memiliki kesiapan dalam empat hal tersebut.

Perempuan dan Industri Cerutu

Dalam pandangannya, pemberdayaan perempuan dalam industri cerutu tidak berbeda dengan dunia bisnis lainnya. Ada beberapa hal penting yang harus dimiliki:

  • meningkatkan kemampuan dan keterampilan
  • memahami produk secara mendalam
  • menguasai manajemen dan pemasaran
  • membangun jaringan dan relasi
  • mengembangkan branding
  • memahami dinamika persaingan pasar

Menurutnya, prinsip-prinsip ini berlaku bagi siapa saja yang ingin serius di dunia usaha—baik perempuan maupun laki-laki.

Dampak yang Lebih Luas

Bagi Ibu Elok, pemberdayaan perempuan bukan sekadar konsep. Ia melihatnya sebagai proses yang nyata.

Ketika seorang perempuan mampu memberdayakan dirinya dan menjalankan bisnis dengan baik, maka dampaknya akan terasa lebih luas. Dalam industri cerutu, hal itu berarti semakin banyak perempuan yang tetap memiliki pekerjaan—baik di sektor tembakau, pengolahan, hingga produksi cerutu.

Dengan kata lain, keberhasilan satu usaha dapat membuka peluang bagi banyak orang di belakangnya.

Makna Kesuksesan

Bagi sebagian orang, kesuksesan mungkin terlihat berbeda. Namun dalam dunia bisnis, menurut Ibu Elok, ada ukuran yang cukup jelas: target usaha.

Kesuksesan dapat dilihat dari beberapa hal sederhana—seperti pertumbuhan omzet, pangsa pasar, dan yang paling penting, kepercayaan pelanggan.

Selama seseorang terus belajar, memperkuat diri, dan berusaha mencapai target bisnisnya, maka peluang untuk berhasil akan selalu terbuka.


Di tengah cerita panjang industri tembakau Jember, sosok seperti Tembakau Folklore mengingatkan kita bahwa dunia cerutu bukan hanya tentang daun tembakau yang digulung dengan rapi. Ia juga tentang manusia, pengetahuan, dan keberanian untuk mengambil peran—termasuk oleh para perempuan yang bekerja di baliknya.

Kopi, Tembakau, dan Cerutu dari Jember

Pada kesempatan kali ini, Griyacerutu berbincang dengan Izul, seorang pecinta kopi dan tembakau yang tinggal di Jember.

Awal Ketertarikan pada Kopi dan Cerutu

Mulai kapan seorang Izul berminat di dunia cerutu dan kopi?

Untuk kopi, sebenarnya saya sudah berminat sejak lama, cuma dulu belum menemukan kopi yang benar-benar pas. Karena yang umum ditemui kan kopi sachet, jadi kecenderungannya ke kopi sachet. Setelah ketemu dengan Griyacerutu.com, literasi kopi meningkat lagi.

Kalau cerutu, awalnya jelas karena kecintaan saya pada tembakau. Saya memang perokok tembakau linting—pecinta tembakau. Tembakau dari Jember atau luar Jember, sedikit banyak sudah pernah saya coba. Lalu setelah ketemu Griyacerutu.com, saya pikir ada relasi kuat antara tembakau, rokok, dan cerutu. Tinggal memperdalam ke cerutunya saja.

Pandangan Tentang Jember sebagai Kota Cerutu Indonesia

Bagaimana pendapat atau sikap Izul tentang Jember sebagai kota cerutu Indonesia?

Saya sangat setuju dengan Jember dinobatkan sebagai kota cerutu Indonesia. Keberagaman tembakau di wilayah Jember itu banyak macamnya. Bahan baku cerutu bisa diambil dari petani lokal Jember, sehingga menghasilkan cita rasa cerutu yang variatif.

Dengan adanya cerutu, komoditas tembakau bisa naik level. Dulu Jember dikenal sebagai kota tembakau saja. Tapi dengan adanya produk cerutu yang bervariatif, harapannya bisa menembus pasar internasional.

Sumber Pengetahuan tentang Cerutu

Selama ini pengetahuan tentang cerutu didapat dari mana saja? Selain dari Griyacerutu.com, apakah ada kunjungan ke pabrik-pabrik cerutu?

Kalau kunjungan ke pabrik cerutu, masih menunggu ajakan dari Griyacerutu.com dong. Hehe.

Kesan Mengikuti Acara Cigarnight

Sebelumnya sempat ikut acara Cigarnight. Bagaimana kesan terhadap nuansa acara dan peserta yang sebagian besar generasi muda?

Kesan saya, suasananya seperti kembali ke rumah. Seperti suasana dapur zaman dulu di pedesaan—ngebul, penuh aroma tembakau murni. Dulu, saat harga rokok pabrikan masih mahal, banyak orang meracik tembakau sendiri, aromanya khas sekali.

Waktu di Cigarnight, perasaan itu muncul lagi. Apalagi acaranya banyak dihadiri anak-anak muda usia 20–30-an, bahkan ada yang masih mahasiswa. Ada live music dari Pak Imam juga. Menurut saya, luar biasa sekali untuk mengenalkan tembakau dan cerutu kepada generasi muda. Ini menegaskan bahwa Jember memang kota cerutu.

Cerutu itu milik kita, warga Jember. Kitalah yang harus memajukan komoditas tembakau di sini, bukan hanya jadi tempat singgah para miliarder untuk mencari untung.

Aroma Cerutu dan Kenangan

Saya sering menggambarkan bahwa aroma tembakau cerutu Jember bisa menghadirkan kembali kenangan atau suasana tertentu. Apakah Izul juga merasakan hal serupa?

Setuju. Aroma itu bisa menjadi pengingat. Bisa muncul kenangan-kenangan manis: waktu itu bersama siapa, di mana, dan suasana apa. Waktu itu tidak akan terulang, tapi aromanya bisa memanggil kembali memori itu.

Tadi sempat menyinggung tentang suasana “zero mind”. Maksudnya bagaimana?

Iya, “zero mind” itu maksudnya suasana ketika kita menikmati cigar dan kopi, apalagi dengan background lagu-lagu tertentu… wah itu luar biasa. Keren banget. Atmosfernya dapat sekali.

Wah ini mengingatkanku pada Inner Child pada seseorang meski telah dewasa, menurutmu gimana

Iya. Menurut saya, manusia itu sampai tua tetap membawa sifat “child”—anak kecilnya. Mainannya saja yang berubah. Nah, Inner child of mind itu berlaku untuk semua usia. Itu sifat psikologis manusia yang memang tidak hilang.

Kalau dikaitkan dengan industri cerutu dan kopi, ini sangat nyambung. Orang tetap butuh permainan, butuh “game”, hanya saja disesuaikan dengan usia dan status sosialnya. Kalau waktu kecil mainannya mobil-mobilan, setelah dewasa punya pendapatan, punya status sosial, bentuk “mainannya” berubah. Dan cerutu itu bisa menjadi salah satu bentuk permainan orang dewasa.

Itu juga berkaitan dengan hierarki kebutuhan Maslow. Ketika kebutuhan dasar sudah terpenuhi, orang mencari kesenangan yang lebih tinggi, termasuk pengalaman, lifestyle, dan kenikmatan seperti cerutu dan kopi.

Komunitas dan Rutinitas

Selain acara offline, apakah ada rencana membentuk komunitas rutin?

Ada. Komunitas cerutu yang ngumpul sebulan sekali itu sangat mungkin. Ide itu sudah masuk, dan menurut saya realistis. Bahkan minimal bisa dibuat dalam bentuk podcast audio.

Podcast dalam bentuk rekaman?

Iya. Tidak perlu setting berlebihan. Ada narasumber, ada moderator, lalu direkam apa adanya. Ambience suaranya itu yang bikin live. Supaya pendengarnya bisa merasakan suasananya.


Oke, nice untuk sesi kali ini. Terima kasih banyak, Izul.

Siap. Terima kasih kembali.

Traveler Malaysia di Bali Order Cerutu Indonesia

Tanggal 25 November 2025 sekitar pukul tiga sore, sebuah WhatsApp masuk ke nomor saya.

“Hi, can I ask if you shipped to Bali?”

Pesan singkat, langsung, menanyakan pengiriman dan seketika aku yakin dia mau order cerutu di kirim ke Bali. Sekarang, banyak traveler mancanegara mencari cerutu Indonesia untuk dinikmati selama liburan atau dibawa pulang sebagai oleh-oleh.

Saya membalas singkat.

“Sure, provide us with complete address. Have you found cigar of your choice?”

Tak lama kemudian dia langsung mengirim alamat pengiriman di Bali. Dari respon singkatnya, saya merasa dia sudah cukup tahu tentang cerutu yang ingin dicari. Dia juga mengirim wishlist beberapa varian cerutu yang ingin dibeli.

Saya cek satu per satu.

“All right, all are available.”

Percakapan kemudian berlanjut soal pengiriman dan pembayaran.

“How much is shipping and do you take online card payment or bank transfer only, or do you provide COD?”

Saya memilih menjawab singkat dan jelas.

“Please proceed via bank transfer. I will prepare the cigars and send athe picture to make sure all are available.”

Tak lama kemudian dia menjawab lagi.

“All right, thank you.”

Menariknya, setelah aku kirim gambarnya, dia kembali menambahkan dua varian cerutu lainnya ke dalam order. Ini pembeli benar-benar serius dan antusias.

Saya jawab sederhana.

“Oke.”

Saya kemudian memastikan ulang seluruh pesanan. Totalnya ada sepuluh item cerutu. Sebelum dikirim, saya foto semuanya agar buyer bisa mengecek kembali pilihan yang sudah disiapkan.

Ordernya cukup besar, jadi saya memutuskan memberikan bonus free ongkir.

Tak lama kemudian dia kembali bertanya.

“May I ask how long it’ll take to arrive?”

Saya jawab:

“2–3 days via JNE. Payment via bank transfer.”

Dia juga sempat bertanya apakah masih ada biaya cukai tambahan. Saya jawab tentu saja tidak ada karena dikirim di wilayah Indonesia.

Menariknya, sebelum transaksi benar-benar selesai, dia kembali menambahkan satu varian lagi: Joker Mareva. Akhirnya semua pesanan saya hitung ulang sesuai total terbaru.

Setelah semuanya fix, saya mengabarkan bahwa paket akan dikirim keesokan paginya.

“We ship the package tomorrow morning. Thank you.”

Sebelum packing ditutup, saya kembali mengirim foto dan memastikan alamat penerima.

“Please check once again for the recipient address.”

Dia menjawab:

“Perfect, thank you so much.”

Itu artinya alamat sudah benar. Lalu ada satu kalimat yang menurut saya cukup berkesan.

“And thank you for taking the time to pack everything and send pictures. Really appreciate the level of professionalism.”

Bagi saya, hal kecil seperti mengirim foto packing, memastikan alamat, dan menjelaskan detail pengiriman memang penting. Terutama untuk pembeli luar negeri yang sedang traveling di Bali dan mungkin baru pertama kali membeli cerutu Indonesia secara online.

Keesokan harinya paket dikirim dan nomor resi langsung saya berikan agar bisa ditracking.

Tanggal 28 November 2025 status paket dinyatakan terkirim. Saya kemudian menghubunginya kembali.

“Have you received the package?”

Dia menjawab dengan antusias.

“Yes, I have. Thank you so much for all of your help. The cigars look absolutely amazing and I cannot wait to dive into them. And you can definitely expect another order to come in the near future.”

Saya membalas singkat.

“Sure, you’re welcome.”

Dari percakapan sederhana itu saya menyadari satu hal: traveler yang datang ke Bali ternyata tidak hanya mencari pantai, sunset, atau beach club. Sebagian dari mereka juga mencari pengalaman menikmati cerutu sambil menikmati suasana tropis Indonesia.

Ada yang menikmatinya langsung selama liburan di Bali. Ada juga yang membawa pulang beberapa batang sebagai oleh-oleh dan aroma rasa perjalanan mereka di Indonesia.

Dan bagi saya, setiap paket cerutu yang berangkat ke Bali selalu membawa cerita kecil seperti ini.

malaysian travelers in bali

El Bomba: Perjalanan Rasa Bombastis

Ketika berbicara tentang karakter yang kuat, EL Bomba dari BIN Cigar benar-benar sesuai dengan namanya. Cerutu asal Indonesia ini dibuat untuk para penikmat yang menghargai intensitas dan kompleksitas rasa, menghadirkan pengalaman merokok yang kuat dan meninggalkan kesan mendalam.

Sejak tarikan pertama, EL Bomba langsung menunjukkan kehalusannya dengan aliran asap yang sangat lancar dan hampir tanpa hambatan. Memasuki sepertiga pertama, profil rasa yang kuat segera muncul. Nuansa kopi pahit dan dark chocolate mendominasi, menciptakan pembukaan yang kaya dan berkarakter.

Seiring waktu, karakter rasa kacang (nutty) mulai muncul, terutama terasa saat melakukan retrohale. Memasuki sepertiga kedua, rasa kacang tersebut perlahan menjadi lebih dominan, menggantikan nuansa kopi pahit dan cokelat yang sebelumnya hadir. Saat asap ditahan selama beberapa detik, sensasi yang terasa menjadi lebih padat dan penuh, menegaskan karakter cerutu yang kuat dan kompleks.

Menjelang sepertiga terakhir, profil rasa kembali berubah. Nuansa kacang mulai memudar dan digantikan oleh sentuhan pedas yang memberi penutup yang lebih hidup. Perpaduan daun seco dan ligero dalam cerutu ini terasa sangat seimbang. Daun ligero memberikan kekuatan dan karakter yang tegas, sementara daun seco membantu menjaga pembakaran tetap stabil sehingga cerutu tidak mudah padam.

el bomba 5 petit gordo

EL Bomba bukanlah cerutu untuk pemula. Dengan body medium hingga full dan kekuatan rasa yang konsisten, cerutu ini lebih cocok untuk penikmat yang sudah terbiasa dengan cerutu berkarakter kuat. Menikmatinya setelah makan malam menjadi pilihan yang ideal, karena kekayaan rasanya dapat berkembang dengan lebih maksimal.

Secara keseluruhan, EL Bomba menghadirkan perjalanan rasa yang dinamis dengan perubahan karakter yang menarik sepanjang menikmati cerutu. Sebuah pengalaman yang benar-benar bombastis dan layak dicoba hingga ujung terakhir.


Detail:

Brand: Boss Image Nusantara
Series: El Bomba

  • Hardbox of 5
  • Ring Gauge: 58 (23 mm)
  • Length: 4.1″ (105 mm)
  • Cigar Shape: Parejo
  • Duration: 50 – 60 minutes
  • Taste: Cuban Taste
  • Strength: 8/9
  • Wrapper: Havana
  • Binder: Havana
  • Filler: Havana

el bomba: perjalanan rasa bombastis