Post

InterTabac Exhibition dan Peluang Cerutu Indonesia

(Tulisan ini untuk menyambut Pameran Inter Tabac, 18-20 September di Dortmund, Jerman – foto: InterTabac)

Elok Mahbub (cigar and tobacco enthusiast)

Latar Belakang Global dan Sejarah

Perdagangan tembakau dunia mengalami pergeseran ruang dan momentum. Pada abad ke-17 hingga awal abad ke-20, Bremen, Jerman, menjadi pusat lelang daun tembakau internasional. Dari kota pelabuhan inilah tembakau-tembakau terbaik dunia—termasuk dari Deli (Sumatra) dan Besuki (Jawa Timur, Indonesia)—dikenal dan dipasarkan. Namun, sejak akhir 1970-an, peta perdagangan mulai berubah.

Tahun 1978, lahir InterTabac di Dortmund Jerman, sebuah pameran internasional yang tidak lagi sekadar menampilkan daun mentah, tetapi produk jadi, cerutu, rokok, hingga teknologi pengolahan. Pergeseran ini menandai transisi: dari Bremen sebagai simbol sejarah lelang daun, ke Dortmund sebagai etalase global tren industri tembakau modern. Dalam konteks ini, Indonesia punya posisi unik: tetap dikenal sebagai penyedia daun bersejarah, sekaligus berpeluang menempatkan cerutu jadinya di panggung dunia.

InterTabac sebagai Barometer Industri Dunia

InterTabac kini disebut sebagai pameran tembakau terbesar di dunia. Tahun 2024 Intertabac diikuti 800 peserta dari 70 negara, jumlah pengunjung 14.500 – mulai dari pabrikan cerutu premium, distributor, hingga pelaku teknologi pengolahan. Pameran ini menjadi ajang barometer: siapa pemain baru, merek mana yang menguat, dan tren konsumsi ke arah mana bergerak (premiumisasi, diversifikasi rasa, hingga tren gaya hidup). Bagi Indonesia, kehadiran di forum ini bukan sekadar pamer produk, melainkan menunjukkan eksistensi di tengah pemain besar seperti Kuba, Republik Dominika, dan Nikaragua.

Posisi Indonesia di Pasar Global

Indonesia memiliki dua modal utama:

  • Daun tembakau Besuki Na-Oogst (BNO) yang sejak lama diakui kualitasnya untuk pembalut (wrapper) cerutu dunia.
  • Pabrik dan merek cerutu domestik seperti Taru Martani (Yogyakarta), BIN Cigar (Jember), Besuki Raya Cigar (Jember), hingga merek-merek yang mulai bereksperimen dengan branding kontemporer.

Namun, Indonesia belum maksimal dalam “cerutu jadi” di pasar internasional. Daun tembakau kita dipakai di cerutu Kuba, Dominika, atau Eropa, tetapi nama “Indonesia” jarang muncul di banderol cerutu. InterTabac bisa menjadi ruang untuk memperbaiki kondisi itu.

Tantangan dan Peluang

Ada beberapa tantangan utama:

  • Branding: Indonesia masih lebih dikenal sebagai pemasok bahan, bukan pemain utama produk jadi.
  • Regulasi dan Cukai: Pajak tinggi, baik domestik maupun di negara tujuan ekspor, membatasi penetrasi pasar.
  • Promosi: Belum ada kampanye kolektif seperti “Cuban Cigars” atau “Dominican Cigars”.

Namun, peluang juga nyata:

  • Tren premiumisasi di pasar cerutu dunia mendorong konsumen mencari flavor dan cerita baru—ruang yang bisa diisi Indonesia dengan narasi tembakau bersejarah dari Deli dan Besuki.
  • Diversifikasi produk: Cerutu handmade Indonesia dengan cita rasa khas bisa menembus segmen niche, khususnya di Eropa dan Asia.
  • Pameran global: Kehadiran rutin di InterTabac memberi kredibilitas dan jaringan langsung dengan buyer internasional.

Strategi ke Depan

Untuk mengoptimalkan peluang, Indonesia perlu:

  1. Membangun branding kolektif: “Indonesian Cigars” sebagai identitas, seperti kopi Indonesia yang kini punya merek global.
  2. Menghadirkan cerita (storytelling): Mengangkat kisah Deli, Besuki, atau tradisi tembakau di Nusantara, agar konsumen tidak sekadar membeli produk, tetapi juga sejarah.
  3. Meningkatkan kualitas produksi dan konsistensi: Standar internasional harus jadi acuan, baik untuk ekspor maupun pasar dalam negeri.
  4. Kolaborasi dengan buyer dan distributor global: Bukan hanya menjual produk, tapi membangun jejaring permanen.
  5. Memanfaatkan event seperti InterTabac sebagai panggung tahunan untuk eksistensi dan penetrasi pasar baru.


Nikmati Cerutu & Kopi dalam Perjalanan Wisata Budaya

Sebagai agen cerutu terbesar di Jawa Timur, Griyacerutu terus berinovasi untuk menghadirkan pengalaman terbaik bagi para penikmat cerutu. Pada bulan Oktober ini, Griyacerutu resmi memperluas jangkauan pemasarannya melalui kerja sama strategis dengan Sam Java Tour, agen perjalanan wisata yang berfokus pada wisatawan mancanegara.

Kolaborasi ini menghadirkan layanan wisata unik bagi para traveller yang ingin menikmati cerutu dan kopi lokal di tengah program tur mereka. Para wisatawan diajak untuk berbincang santai mengenai budaya tembakau, cerutu, dan kopi langsung di kawasan Jember dan sekitarnya — wilayah yang dikenal sebagai salah satu sentra tembakau terbaik di Indonesia.

Selain menikmati keindahan alam dan destinasi wisata ikonik Jawa Timur, peserta tur juga akan mendapatkan kesempatan eksklusif untuk:

  • Mencicipi kopi khas lokal dari perkebunan sekitar.
  • Menikmati cerutu premium koleksi Griyacerutu.com
  • Mengenal lebih dekat sejarah dan budaya tembakau di Jember.
  • Berinteraksi langsung dengan komunitas lokal dan pelaku industri tembakau.

Galeri Pengalaman

  • Wisatawan menikmati suasana perkebunan tembakau, proses penggulungan cerutu di pabrik dan mencoba cita rasa cerutu saat tur berlangsung.

Rasakan Pengalaman Otentik Cerutu & Kopi Jawa Timur

Jadikan perjalanan Anda lebih dari sekadar wisata — alami budaya tembakau dan kopi secara langsung bersama Griyacerutu dan Sam Java Tour. Pesan Tur Sekarang

Cerutu Indonesia: Semangat Kemerdekaan dalam Setiap Hisapan

Dalam rangka memperingati Hari Ulang Tahun Kemerdekaan Republik Indonesia yang ke-80, kita merayakan bukan hanya sejarah perjuangan bangsa, tetapi juga warisan budaya yang mengakar dalam kehidupan masyarakat Indonesia. Salah satu produk kebanggaan negeri ini yang semakin mendunia adalah cerutu Indonesia—sebuah simbol ketekunan, keahlian, dan cita rasa tinggi yang tercipta dari tangan-tangan terampil para pengrajin lokal.

Seperti semangat kemerdekaan yang diwariskan oleh para pahlawan, cerutu Indonesia hadir dengan karakter kuat, elegan, dan berkualitas. Dibuat dari tembakau pilihan yang ditanam di tanah subur Nusantara, setiap batang cerutu membawa aroma khas yang merefleksikan kekayaan alam dan kearifan lokal. Para pengrajin cerutu di berbagai daerah, seperti Jember dan Temanggung, terus menjaga tradisi ini dengan penuh dedikasi, menghasilkan produk yang tak hanya bernilai ekonomis tinggi, tetapi juga membanggakan Indonesia di kancah internasional.

Cerutu Edisi Dirgahayu Indonesia ke-80 Sebagai bentuk penghormatan terhadap semangat perjuangan bangsa, edisi spesial cerutu Dirgahayu Indonesia ke-80 hadir dengan desain eksklusif yang mencerminkan kebanggaan nasional. Dengan bungkus berwarna merah dan putih, serta motif batik khas Indonesia, cerutu ini menjadi simbol persatuan dan kemakmuran.

Setiap hisapan cerutu edisi khusus ini mengingatkan kita pada nilai-nilai perjuangan: ketahanan, keuletan, dan semangat untuk terus maju. Cerutu bukan sekadar produk, tetapi bagian dari identitas budaya yang terus berkembang. Semoga panjang umur, damai, dan sejahtera bagi bangsa ini.

Jayalah Cerutu Indonesia!

Ritual Tenang: Journaling, Kopi, dan Cerutu

Di dunia yang terus menuntut kecepatan, produktivitas, dan perhatian tanpa henti, banyak orang mencari cara untuk melambat tanpa kehilangan makna dalam hidupnya. Salah satu ritual sederhana namun kuat adalah menggabungkan journaling, secangkir kopi, dan menikmati cerutu dengan tenang. Ketiganya dapat menciptakan momen yang tidak hanya produktif, tetapi juga bersifat terapeutik.

Sering kali ritual seperti ini diasosiasikan dengan laki-laki. Gambaran seseorang yang duduk santai dengan buku catatan, kopi, dan cerutu memang kerap muncul dalam budaya populer. Namun sebenarnya, praktik refleksi melalui journaling bukanlah milik satu gender saja. Baik pria maupun wanita dapat menikmati manfaatnya sebagai cara untuk menemukan ketenangan dan kejernihan pikiran.

Menulis sebagai Terapi

Journaling

Banyak penelitian ilmiah menunjukkan bahwa menulis dapat membantu seseorang memproses pikiran dan emosinya. Journaling bukan sekadar mencatat kejadian sehari-hari, tetapi juga menjadi percakapan jujur dengan diri sendiri.

Ketika menulis secara rutin, kita mulai mengurai pikiran yang sebelumnya terasa berantakan. Stres, kekhawatiran, ide, dan harapan perlahan menemukan bentuknya di atas kertas. Proses ini dapat mengurangi tekanan mental dan membantu kita memahami diri sendiri dengan lebih baik.

Jika olahraga adalah latihan bagi tubuh, maka menulis adalah latihan bagi pikiran.

Tekanan dalam Kehidupan Modern

Kehidupan modern sering kali menuntut kita untuk selalu sibuk. Tanggung jawab pekerjaan, tekanan finansial, dan ekspektasi sosial membuat banyak orang hidup dalam ritme yang cepat dan penuh tekanan. Tidak sedikit orang yang akhirnya mengabaikan kesehatan mental mereka. Jam kerja yang panjang dan sedikit waktu untuk refleksi membuat stres menumpuk tanpa disadari.

Di sinilah journaling dapat menjadi penyeimbang yang sederhana namun efektif.

Dengan meluangkan waktu bahkan hanya 10 menit sehari untuk menulis, kita memberi ruang bagi pikiran untuk melepaskan beban yang selama ini dipendam. Menulis membantu memperlambat arus pikiran dan melihat berbagai situasi dengan perspektif yang lebih tenang.

Ritual: Kopi, Cerutu, dan Refleksi

Menggabungkan journaling dengan sebuah ritual kecil membuat pengalaman ini terasa lebih bermakna.

Aroma kopi yang hangat dapat membangkitkan indera dan menghadirkan suasana tenang. Sementara itu, menikmati cerutu secara perlahan mendorong kita untuk tidak terburu-buru. Cerutu memiliki ritme yang lambat—setiap hisapan mengajak kita untuk berhenti sejenak dan merenung.

Ketika dipadukan dengan journaling, terciptalah ruang refleksi yang sangat personal.

Bayangkan duduk di teras pada pagi hari atau di penghujung sore. Secangkir kopi di samping Anda, buku catatan terbuka, dan pikiran mengalir melalui tulisan. Cerutu dalam konteks ini bukan sekadar simbol gaya hidup, tetapi pengingat untuk menikmati momen secara perlahan.

Membuka Kreativitas

Journaling juga dapat menjadi sumber kreativitas yang luar biasa.

Banyak pengusaha, penulis, dan pemikir menggunakan jurnal sebagai tempat mencatat ide. Ketika kita menulis tanpa tekanan, pikiran menjadi lebih bebas untuk mengeksplorasi berbagai kemungkinan.

Sering kali, solusi terhadap masalah pekerjaan, ide bisnis baru, atau konsep kreatif muncul dari catatan sederhana yang ditulis saat merenung.

Tulisan membantu mengubah pikiran yang samar menjadi gagasan yang lebih jelas.

Praktik untuk Siapa Saja

Walaupun budaya cerutu sering dikaitkan dengan ruang maskulin, refleksi melalui journaling bersifat universal. Semakin banyak wanita juga menikmati ritual tenang yang memberi ruang untuk berpikir, berkreativitas, dan merawat kesehatan mental.

Intinya bukan pada stereotipnya, tetapi pada ruang yang tercipta.

Sebuah momen hening.
Minuman hangat.
Buku catatan.
Dan waktu untuk berpikir.

Membentuk Kebiasaan

Jika ingin memulai, Anda tidak perlu membuatnya rumit:
• Sisihkan 10–15 menit setiap hari
• Tulis apa saja yang muncul di pikiran tanpa khawatir soal struktur atau tata bahasa
• Gunakan topik seperti rasa syukur, ide, refleksi, atau rencana
• Temani dengan ritual kecil yang menenangkan—kopi, teh, atau suasana yang tenang

Seiring waktu, journaling akan berubah dari sekadar kebiasaan menjadi ruang pribadi untuk menemukan kejernihan pikiran.

Nilai Sebenarnya

Manfaat terbesar dari journaling bukanlah jumlah halaman yang Anda tulis, melainkan kejernihan yang Anda dapatkan.

Pikiran menjadi lebih teratur.
Stres lebih mudah dikelola.
Ide mulai bermunculan.

Baik Anda seorang profesional yang menghadapi tekanan pekerjaan, seorang pengusaha yang mencari inspirasi, atau siapa pun yang ingin menemukan momen bermakna dalam keseharian—journaling dapat menjadi terapi yang sederhana namun mendalam. Sering kali, wawasan terbaik justru muncul dalam momen paling sederhana: sebuah buku catatan, secangkir kopi, dan waktu untuk berhenti sejenak.

BIN Cigar X Java Jive: Stay Gold Trompeta – Kolaborasi Cerutu dan Musik

Jember, 12 Juli 2025

Dalam sebuah langkah kolaboratif berkelas yang bertepatan dengan event tahunan Jember Kota Cerutu Indonesia (JKCI) 2025, produsen cerutu premium BIN Cigar secara resmi meluncurkan Stay Gold Trompeta, sebuah lini cerutu eksklusif yang dirilis sesuai dengan judul album dari band legendaris Indonesia, Java Jive— juga bertajuk “Stay Gold” (2008).

Mengusung tema Simfoni Kemewahan, Stay Gold Trompeta merupakan cerutu berbentuk piramida dengan profil rasa klasik, mewah, dan lembut. Cerutu ini diciptakan bagi mereka yang memahami seni menikmati hidup dengan perlahan dan penuh makna.

“Cerutu bukan sekadar produk, tapi pengalaman,” ujar Bapak Imam Wahyudi Direktur Utama BIN Cigar dalam peluncuran resmi. “Kolaborasi dengan Java Jive adalah cara kami menyatukan dua elemen keindahan: rasa dan nada.”. “Kami beberapa tahun sebelumnya telah mengundang Java Jive dalam event penting BIN Cigar, saat ini adalah moment mempererat jalinan persahabatan dengan cerutu dan musik”

Java Jive sendiri telah merilis album berjudul “Stay Gold”, dengan lagu di album itu membawa semangat keabadian dalam nilai, emosi, dan gaya hidup otentik. Judul dan makna dari lagu ini menjadi inspirasi utama dalam melabeli cerutu ini.

“Bagi kami, Stay Gold adalah pesan untuk tetap bersinar dengan cara kita sendiri. Kolaborasi ini menjadi bentuk perayaan akan hal itu,” ujar Capung, gitaris Java Jive.


Tentang BIN Cigar

bin cigar x java jive: stay gold trompeta – kolaborasi cerutu dan musik

BIN Cigar adalah produsen cerutu premium asal Indonesia yang dikenal dengan pendekatan artistik dalam setiap rilis produknya. Setiap lini cerutu BIN Cigar merupakan eksplorasi rasa dan kualitas, ditujukan untuk para penikmat sejati.

Tentang Java Jive

bin cigar x java jive: stay gold trompeta – kolaborasi cerutu dan musik

Java Jive adalah band pop legendaris Indonesia yang dikenal dengan warna musik manis, jazzy, dan bernuansa nostalgia. Hits seperti “Gerangan Cinta”, “Kau Yang Terindah”, dan “Permataku” telah menjadi anthem lintas generasi.

Stay Gold


Stay Live, Stay Gold

JKCI 2025: Malam Puncak, Stay Gold dan Panggung Slow Smoke

Puncak penutupan Festival Jember Kota Cerutu Indonesia (JKCI) 2025 bertransformasi menjadi sebuah simfoni yang anggun, hangat, dan penuh kemewahan. Ruang utama tempat gala dinner dipadati oleh para tokoh penting, diplomat, pelaku industri, hingga pencinta cerutu dunia yang bersiap menyaksikan klimaks dari perayaan tembakau terbesar di Indonesia ini.

Tiga Perspektif, Satu Visi: Sambutan para Tokoh

Malam puncak dibuka oleh rentetan sambutan hangat yang memberikan pandangan mendalam mengenai masa depan cerutu Indonesia di panggung global.

  • Bapak Ir. Imam Wahyudi (Direktur Utama BIN Cigar): Dalam sambutannya, beliau menyampaikan rasa terima kasih mendalam atas sinergi luar biasa yang tercipta selama JKCI 2025. Beliau menegaskan bahwa BIN Cigar berkomitmen untuk terus menjadi lokomotif inovasi yang tidak hanya memproduksi cerutu premium, tetapi juga menjaga marwah Jember sebagai ibu kota cerutu yang disegani secara internasional.
  • Bapak Muhammad Fawait, S.E., M.Sc. (Bupati Jember): Kembali menegaskan dukungan penuh pemerintah daerah. Beliau menyampaikan rasa bangganya melihat bagaimana industri cerutu mampu menyatukan berbagai elemen masyarakat dan menjadi pilar ekonomi serta pariwisata yang kokoh bagi Kabupaten Jember.
  • Bapak Dr. Bebeb A.K. Nugraha Djunjunan (Duta Besar RI untuk Yunani): Memberikan perspektif diplomasi yang kuat. Beliau menekankan bahwa cerutu Jember bukan lagi sekadar komoditas pertanian, melainkan instrumen diplomasi budaya yang luar biasa. Kualitas cerutu Indonesia kini telah memiliki paspor yang sah untuk merebut hati para penikmat cerutu premium di pasar Eropa dan dunia.

Soft Launching “Stay Gold”: Saat Cerutu Bertemu Alunan Musik Java Jive

Kejutan yang paling dinanti-nanti akhirnya tiba. Setelah memperkenalkan Don Juan di malam pertama, BIN Cigar melakukan gebrakan besar di malam penutupan dengan meluncurkan produk kolaborasi mahakarya terbaru mereka: “Stay Gold”.

Produk ini merupakan buah kolaborasi eksklusif antara BIN Cigar dengan band pop-legend tanah air, Java Jive. Nama Stay Gold sendiri diambil sebagai simbol keemasan—sebuah doa dan perwujudan agar kualitas tembakau Indonesia tetap berkilau dan abadi layaknya karya musik Java Jive yang tak lekang oleh waktu. Dengan karakter blend yang dikurasi secara presisi, cerutu ini menjanjikan pengalaman mengisap yang harmonis, elegan, dan penuh cita rasa, sangat cocok dinikmati sembari mendengarkan alunan musik pop dan berkelas.

Slow Smoke Championship: Dominasi dan Ketenangan 

Keseruan malam itu mencapai titik ketegangan tertinggi saat kompetisi paling bergengsi dalam dunia cerutu dimulai: Slow Smoke Championship (Lomba Mengisap Cerutu Terlama). Berbeda dengan lomba abu terpanjang, kompetisi ini menuntut ketenangan, teknik menjaga bara api sekecil mungkin tanpa membiarkannya mati, dan kontrol napas yang luar biasa konstan.

Panggung kompetisi kali ini mencetak sejarah baru yang sangat membanggakan. Gelar juara utama berhasil direbut oleh seorang perempuan, Mbak Elok. Di tengah kepulan asap dan persaingan ketat dari para penyigar senior domestik maupun internasional, ketenangan mental Mbak Elok terbukti tak tergoyahkan. Keberhasilannya menjadi pemenang membuktikan sekali lagi bahwa seni menikmati cerutu kini telah meleburkan batas gender dan melahirkan mentor-mentor baru yang penuh talenta.

Tirai Ditutup: Sampai Jumpa di JKCI 2026!

Malam berganti larut, ditutup dengan kegembirtaan, foto bersama, dan komitmen kolaborasi yang semakin solid di antara para peserta lintas negara. Tirai JKCI 2025 resmi diturunkan dengan sejuta cerita manis, pengetahuan berharga dari hulu ke hilir, dan rasa respek yang semakin mendalam terhadap sebatang cerutu.

Bagi kita semua di GriyaCerutu, festival tahun ini telah menaikkan standar industri cerutu Indonesia ke level yang lebih tinggi. Membawa kebanggaan daun emas dari bumi Jember akan terus bersinar di peta dunia.

Terima kasih Jember, terima kasih BIN Cigar, dan terima kasih para petani tembakau Indonesia. Sampai jumpa di kemegahan Festival Jember Kota Cerutu Indonesia (JKCI) 2026!

Salam Cigar, Salam Sehat, Salam Bahagia! Stay Gold!


Sumber tulisan: kunjungan kami saat acara berlangsung dan youtube O’Sersan Channel

JKCI 2025: Kolaborasi, Tradisi, dan Komitmen Nyata

Agenda di lokasi utama lahan perkebunan ini adalah perayaan atas hasil bumi Jember yang sesungguhnya. Festival Jember Kota Cerutu Indonesia (JKCI) 2025 mencapai titik gempita yang luar biasa.

Di balik kemegahan yang tersaji, panitia membagikan cerita tentang effort masif tim di balik layar. Area panggung dan lanskap lapangan di tengah kebun ini rupanya telah dipersiapkan sejak 3 bulan sebelum acara dimulai—meliputi persiapan lahan selama 2 bulan dan penataan tanaman tembakau dekoratif selama 40 hari. Sebuah dedikasi luar biasa agar para peserta bisa meresapi keindahan budaya tembakau secara utuh.

Panggung Kolaborasi Lintas Negara dan Lintas Industri

Sesuai dengan semangat “Savoring Tradition, Embracing the Future,” festival hari itu mempertemukan keberagaman dari berbagai belahan dunia dan elemen industri. Tidak tanggung-tanggung, perwakilan dari empat negara sahabat—yaitu Malaysia, Australia, Hong Kong, dan Cina—turut hadir memadati barisan kursi undangan.

Namun, yang membuat JKCI 2025 terasa sangat istimewa adalah kentalnya atmosfer persatuan. Di tempat ini, egosektoral dileburkan. Berbagai pabrikan besar cerutu dan produsen tembakau nasional duduk berdampingan, mulai dari kelompok tani lokal, PTPN, Tembakau Medan, Tarumartani, hingga Wismilak.

“Tahun ini adalah tahun kolaborasi demi Merah Putih. Tidak ada kompetisi di antara kita. Kita semua berkumpul di sini sebagai sesama penyigar dan pemerhati cerutu untuk bersama-sama memajukan tembakau Indonesia,” ujar panitia dengan penuh semangat.

Sentuhan Tradisi Jember yang Memukau

Puncak festival disemarakkan oleh perpaduan seni tradisional dan modern yang memukau mata para tamu internasional. Sesuai temanya, tradisi Jember disajikan secara megah melalui penampilan Jember Fashion Carnaval (JFC) yang ikonik, tarian tradisional Cemara Biru, hingga dentuman musik perkusi khas Jember, MusikPatrol – Beko’Kereng. Kehadiran seni budaya ini seolah mempertegas bahwa tembakau dan kebudayaan lokal di Jember adalah dua hal yang tumbuh beriringan dan tidak bisa dipisahkan.

Komitmen dan Speech Bupati Jember: Tembakau adalah Jiwa Pedesaan

Kemeriahan acara semakin lengkap dengan hadirnya Bupati Jember yang memberikan pidato (speech) penting di atas panggung utama. Beliau menyampaikan apresiasi mendalam atas konsistensi penyelenggaraan JKCI yang membawa dampak nyata bagi daerah.

“Event JKCI ini sangat berarti buat Kabupaten Jember, karena sebuah daerah yang maju biasanya ditandai dengan wisatanya yang juga maju. Selain itu, JKCI adalah event yang berhasil mengorbitkan sektor pertembakauan kita. Tembakau ini adalah industri yang menyerap banyak sekali tenaga kerja, khususnya masyarakat pedesaan, yaitu para petani kita,” ungkap Gus Fawait.

Lebih dari sekadar apresiasi, Pemerintah Kabupaten Jember menegaskan komitmennya untuk terus bersinergi dengan panitia JKCI guna memberikan perlindungan terbaik bagi garda terdepan industri ini. Komitmen nyata tersebut dibuktikan secara simbolis di atas panggung melalui penyerahan kartu asuransi ketenagakerjaan kepada 40.000 petani tembakau di Kabupaten Jember. Sebuah langkah visioner untuk memastikan masa depan para petani lebih terjamin.

Tak Terhentikan oleh Hujan

Meskipun di tengah-tengah acara langit Jember gemerintik – gempita dan antusiasme di outdoor stage sama sekali tidak surut. Di bawah rintik hujan, rangkaian parade budaya tetap berjalan anggun, dan para tamu dari berbagai negara tetap bertahan di tempat duduk mereka dengan senyuman lebar, menikmati setiap momen magis yang tersaji.

Hari kedua JKCI 2025 di lahan Ambulu ini sukses membekaskan kesan mendalam tentang arti sebuah harmoni. Industri cerutu bukan lagi sekadar komoditas asap premium di ruang tertutup, melainkan sebuah jembatan yang menyatukan diplomasi internasional, pelestarian budaya lokal, kolaborasi lintas pabrikan, hingga perlindungan nyata bagi puluhan ribu petani pedesaan.

Bagi kita di GriyaCerutu, puncak acara JKCI 2025 ini memberikan kita alasan untuk bangga pada cerutu nusantara. Di dalam setiap batang yang kita nikmati, ada komitmen sebuah bangsa, keindahan seni budaya, dan jaminan kesejahteraan bagi mereka yang menanamnya.

Maju terus tembakau Indonesia, sejahteralah para petani kita. Salam Cigar, Salam Sehat, Salam Bahagia!


Sumber tulisan: kunjungan kami saat acara berlangsung dan youtube O’Sersan Channel

JKCI 2025: Curing Barn dan Inovasi

Setelah cukup menjelajahi kebun TBN di bawah naungan paranet, perjalanan para peserta Festival Jember Kota Cerutu Indonesia (JKCI) 2025 berlanjut ke destinasi ketiga yang tidak kalah krusial. Ini adalah jembatan yang menghubungkan antara jerih payah di ladang dengan sortasi bahan cerutu: proses pascapanen di dalam gudang pengeringan atau curing barn.

Inovasi Gudang Knockdown dan Rahasia Menguapkan Air

Begitu memasuki area gudang, kami langsung disuguhkan pemandangan struktur bangunan yang unik. Berbeda dengan gudang konvensional zaman dahulu, gudang yang digunakan saat ini telah mendapatkan inovasi modern dan didaftarkan Hak Kekayaan Intelektualnya (HAKI).

Gudang ini menggunakan sistem knockdown (bongkar-pasang) berbahan bambu yang fleksibel. Jika musim panen telah usai, struktur bambunya bisa dibongkar, disimpan, atau dipindahkan ke lokasi lain untuk meminimalkan kerusakan dan memudahkan operasional pertanian. Hebatnya, inovasi desain ini mampu meningkatkan kapasitas tampung ruang hingga 120% sampai 130% lebih banyak dibanding gudang kuno.

Di dalam rumah curing inilah keajaiban sains terjadi secara alami. Lembaran daun tembakau yang baru dipetik dari pohon dalam kondisi hijau segar akan melewati beberapa tahapan teknis:

  • Proses Sujen dan Dolok: Daun-daun hijau tersebut ditusuk dan diikat (sujen) dalam satu untaian (renceng) dengan jumlah presisi, yaitu 30 lembar daun. Untaian ini kemudian diletakkan di atas penopang (tatang) dengan jarak tidak lebih dari 30 cm untuk menjaga sirkulasi udara, sebelum nantinya dikelompokkan ke dalam bilah bambu (dolok) di mana satu dolok berisi empat renceng daun.
  • Pertaruhan Angka dan Air: Satu kamar gudang ini mampu menampung hingga 520 tali renceng. Jika diakumulasikan, total bobotnya setara dengan 7 kintal daun basah, yang setelah mengering hanya akan menyisakan sekitar 70 kilogram tembakau kering. Artinya, sekitar 90% kandungan di dalam daun tembakau segar murni berbentuk air yang harus diuapkan secara perlahan di dalam gudang ini.
  • Proses Perubahan Warna (Curing): Untuk mengubah daun dari hijau segar menjadi cokelat matang, tembakau membutuhkan waktu rata-rata 20 hingga 22 hari melalui sistem pengeringan udara (air-curing). Kuncinya ada pada pengaturan kelembapan udara. Kelembapan tinggi hanya ditoleransi pada dua hari pertama. Setelah itu, kelembapan harus diturunkan secara ketat ke angka 70% hingga 80% agar lamina (badan daun) perlahan berubah warna dari hijau, menguning, hingga menjadi cokelat sempurna, diikuti oleh bagian gagang daun yang mengering. Setelah lamina dan gagang benar-benar kering, daun baru boleh diturunkan untuk masuk ke tahap sortasi (pemilahan) dan fermentasi.

Edukasi Mindful Smoking: Menikmati dengan Imajinasi dan Penghargaan

Di sela-sela penjelasan teknis di dalam rumah curing, terselip sebuah refleksi mendalam mengenai esensi dari festival JKCI itu sendiri. Panitia menekankan bahwa kekuatan terbesar dari perhelatan tahunan ini bukanlah sekadar pesta pora, membakar cerutu mahal, makan mewah, atau bernyanyi bersama. Nilai paling berharga yang dibawa pulang oleh setiap peserta ke daerah asal mereka adalah edukasi dan respek.

Menikmati cerutu premium sejatinya adalah sebuah aktivitas mindful. Ketika kita menyulut sebatang cerutu, kita diajak untuk menggunakan imajinasi dan menarik garis ingatan kita mundur ke belakang: membayangkan bagaimana cerutu tersebut berawal dari sebutir benih kecil di rumah semai, dirawat intensif selama puluhan hari di ladang, diuji oleh cuaca, digantung dengan presisi di dalam rumah curing, hingga akhirnya digulung oleh tangan terampil para torcedor.

“Prosesnya sangat panjang dan membutuhkan effort (usaha) yang luar biasa besar dari teman-teman petani lokal. Itulah mengapa kita harus memberi penghargaan tertinggi pada setiap batang cerutu yang kita nikmati dan kita bakar,” ungkap panitia memberi pesan kuat agar kita tidak menyia-nyiakan setiap hembusan.

Testimoni Peserta Perdana: “Amazing and Incredible Day”

Keseruan hari kedua tidak berhenti pada teori saja. Panitia bahkan menantang para peserta untuk merasakan langsung sensasi menjadi pekerja gudang dengan memanjat struktur bambu setinggi lebih dari 3 meter untuk menggantungkan dolok-dolok tembakau ke langit-langit gudang.

Salah seorang peserta wanita yang baru pertama kali hadir di festival JKCI memberanikan diri menerima tantangan ekstrim tersebut. Sambil tersenyum lebar setelah berhasil turun, ia membagikan kesan emosionalnya selama mengikuti rangkaian acara hari itu.

“Naik ke atas tadi rasanya menegangkan tapi seru banget, seperti flashback kala itu! Ini adalah tahun pertama aku datang ke JKCI, dan seluruh rangkaian acaranya benar-benar membuatku terkejut. Mulai dari melihat ladang tembakau yang luas, berinteraksi langsung dengan para petani, sampai melihat proses di dalam gudang ini. This is an amazing, incredible day! Aku pasti ingin kembali lagi tahun depan. Terima kasih untuk BIN Cigar dan JKCI, sukses selalu!” ceritanya penuh antusias.

Bersiap untuk Malam Puncak

Hari kedua yang produktif di area pascapanen ini ditutup dengan sesi foto bersama, makan siang, dan tawa renyah di antara barisan bambu rumah curing. Langkah kaki para peserta kemudian bersiap ditarik menuju rangkaian acara berikutnya pada sore dan malam hari yang menjanjikan atmosfer yang lebih meriah.

Bagi kita di GriyaCerutu, edukasi dari curing barn ini mengetuk kesadaran kita sebagai penikmat. Di balik kemewahan cita rasa sebatang cerutu, ada sains, keringat, pengeringan udara, serta dedikasi tanpa batas dari bumi Jember untuk dunia.

Mari nikmati cerutu Anda hari ini dengan penuh rasa hormat: Salam Cigar, Salam Sehat, Salam Bahagia!


Sumber tulisan: kunjungan kami saat acara berlangsung dan youtube O’Sersan Channel

JKCI 2025: Teknologi Kebun Paranet dan Bahan Cerutu Premium

Melangkah lebih jauh di hari kedua, kali ini kami diajak memasuki sebuah area yang sangat eksklusif dan sarat teknologi: perkebunan tembakau bawah naungan TBN (Tembakau Bawah Naungan).

Bagi para penikmat cerutu, momen ini adalah kesempatan langka karena tidak sembarang orang bisa mendapatkan akses masuk ke area krusial ini. Di sinilah, edukasi sesungguhnya dari hulu ke hilir dimulai.

Sentuhan Teknologi Amerika di Balik Lembaran Wrapper Sempurna

Di dalam kebun yang dinaungi rajutan jaring hitam raksasa (paranet) ini, sebuah rahasia besar dibagikan kepada para peserta. Teknologi modifikasi lahan ini rupanya telah diadaptasi sejak tahun 1984, berkaca dari metode pertanian di Amerika Serikat.

Tujuannya sangat spesifik dan ambisius: menaikkan rasio hasil panen daun wrapper (pembungkus luar) berkualitas premium.

  • Bagaimana cara kerjanya? Jaring paranet yang membentang di atas kebun berfungsi mereduksi intensitas cahaya matahari langsung hingga 30%. Pengurangan cahaya ini sengaja dilakukan untuk menciptakan kelembaban ideal di dalam kebun.
  • Hasilnya? Tanaman tembakau dirangsang untuk menumbuhkan daun yang jauh lebih lebar, tipis, namun tetap lentur. Selain itu, kebersihan daun terjaga dan risiko serangan hama penyakit dapat direduksi secara signifikan. Seluruh struktur paranet ini ditopang kokoh menggunakan jaringan kawat baja agar mampu bertahan dari hantaman angin kencang.
  • Lonjakan Kualitas: Lewat sentuhan teknologi ini, efisiensi kebun melonjak drastis. Jika penanaman biasa hanya menghasilkan sekitar 20% daun yang layak menjadi wrapper, kebun TBN ini mampu mendongkrak hasilnya hingga menyentuh angka 70%.

Lantas, bagaimana dengan sisa daun yang tidak lolos seleksi menjadi wrapper? Di industri tembakau berprinsip: tidak boleh ada tembakau yang terbuang. Sisa daun yang memiliki karakter rasa terlalu kuat (strong) dialokasikan untuk tembakau kunyah (chewing tobacco atau susur). Bahkan, bagian batang atau gagang tembakau yang dikeringkan pun laku keras untuk diekspor ke Belanda sebagai bahan alami sarang burung merpati. Sebuah industri yang benar-benar memanfaatkan seluruh bagian tanaman tanpa sisa.

Pengalaman Pertama Menjadi “Petani Sehari”

Keseruan festival makin memuncak saat para peserta tidak hanya menjadi penonton, melainkan diajak merasakan langsung peluh dan usaha keras para petani di balik sebatang cerutu. Salah satu atraksi wisata yang paling mencuri perhatian adalah kesempatan menjajal alat bajak tanah mekanis (kultivator).

Seorang peserta wanita yang bekerja di industri cerutu membagikan kesan mendalamnya setelah mencoba mengendalikan mesin pembajak tersebut. “Ini pengalaman pertama aku ke JKCI dan bagus banget untuk menambah knowledge. Tadi sempat nyobain pakai kultivator, dan ternyata itu berat banget! Susah jalannya. Jujur, aku jadi makin respek sama effort luar biasa para petani di sini,” ungkapnya dengan penuh decak kagum.

Usia 30 Hari: Pertaruhan di Titik Krusial Tanaman

Menjelang akhir kunjungan di kebun TBN, kami disuguhkan pemandangan barisan tembakau yang menginjak usia tepat 30 hari. Ini adalah fase paling kritis yang menentukan hidup-mati atau berhasil-tidaknya panen.

Tanda tanaman tembakau tumbuh dengan sehat pada fase ini bisa dilihat dari munculnya tekstur berkerut atau ringkel-ringkel pada permukaan daunnya. Kerutan tersebut menandakan bahwa sel-sel daun sedang mengalami proses pembesaran yang masif.

Pada usia 30 hari ini, ketelitian petani diuji. Tanaman sama sekali tidak boleh diberi pupuk lagi karena pemupukan yang terlambat justru akan merusak kualitas petikan pertama. Kunci kesuksesan di fase ini murni bertumpu pada kematangan pengolahan tanah, pemupukan awal, dan manajemen pengairan pada minggu-minggu sebelumnya.

Perjalanan musim tanam kali ini pun bukannya tanpa hambatan. Panitia menceritakan tantangan cuaca ekstrem menjelang JKCI, di mana curah hujan yang tinggi sempat membuat tingkat keasaman tanah (pH) drop di bawah angka 6 dengan kelembapan mencapai 100%. Akibatnya, masa semai benih terpaksa diperpanjang hingga 55 hari sebelum akhirnya siap dipindahkan ke lahan, membuat pertumbuhan tanaman sedikit terlambat dari jadwal normalnya. Namun, berkat evaluasi harian yang ketat sejak usia 5 hari hingga masa penyulaman tanaman yang mati, hamparan TBN ini tetap mampu berdiri rata dan hijau royo-royo.

Lebih dari Sekadar Nyigar dan Bersenang-senang

Catatan perjalanan siang itu di kebun TBN membawa makna baru sebagai ooleh-oleh seluruh peserta. Festival JKCI 2025 sukses membuktikan bahwa acara ini bukan sekadar ajang kumpul-kumpul komunal untuk nyigar (smoking cigar) dan bersenang-senang semata.

Ada muatan edukasi mendalam yang diselipkan di setiap langkah kaki menyusuri kebun. Peserta diajak menghargai proses yang panjang, rumit, dan penuh cinta yang dialami oleh selembar daun tembakau—mulai dari benih kecil di rumah semai, perawatan ketat di bawah naungan paranet, hingga nantinya masuk ke gudang pengeringan untuk difermentasi.

Bagi penikmat di GriyaCerutu, setiap batang cerutu Jember yang kita sulut kini terasa jauh lebih berharga, karena di dalamnya terdapat jalinan teknologi, sejarah ratusan tahun, dan peluh keringat para petani tangguh Indonesia.

Sampai jumpa di kisah perjalanan berikutnya: Salam Cigar, Salam Sehat, Salam Bahagia!


Sumber tulisan: kunjungan kami saat acara berlangsung dan youtube O’Sersan

JKCI 2025: Hamparan Emas Hijau Besuki Na-Oogst Jember

Hari kedua Festival Jember Kota Cerutu Indonesia (JKCI) 2025 membawa kami langsung ke sumber dari segalanya: tanah tempat bertumbuhnya tradisi itu.

Destinasi pertama para peserta pagi itu menuju wilayah legendaris, tepatnya di Kecamatan Ambulu. Sejauh mata memandang, hamparan hijau daun-daun tembakau lebar berdiri kokoh, menyelimuti area perkebunan seluas hampir 3.000 hektar.

Mengenal Besuki Na-Oogst: Sang Wrapper Dunia

Berjalan di antara barisan tanaman, kami mendapatkan wawasan baru yang begitu berharga mengenai tembakau lokal kebanggaan Jember: Besuki Na-Oogst (Bes-NO).

Bagi kalangan awam, tembakau mungkin terlihat sama, tetapi tanah Jember memiliki pembagian karakter yang spesifik. Bes-NO yang ditanam lebih awal ini dirawat dengan perlakuan khusus karena peruntukannya yang krusial, yaitu sebagai wrapper (daun pembungkus luar) cerutu. Kehalusan tekstur dan elastisitas daun di area Ambulu ini menjadikannya salasatu bahan wrapper terbaik di dunia. Berbeda dengan tembakau yang ditanam di area Jember bagian utara pada bulan Juli ke atas, yang biasanya diproyeksikan untuk mengisi bagian binder (pengikat) hingga filler (isi) cerutu – karena memiliki karakter rasa yang lebih kuat.

Romantisme Sejarah “Daun Emas” yang Mendunia

Di tengah kebun, kami beruntung bisa berbincang dengan salah satu pakar yang memahami betul industri ini, Dr. Iryono. Beliau membagikan kisah romantis tentang bagaimana Jember bisa bertransformasi menjadi Kota Cerutu seperti sekarang.

Sejarah mencatat, perjalanan ini dimulai jauh pada tahun 1859 ketika beberapa pengusaha asal Belanda melihat potensi luar biasa dari tanah Jember. Lebih dari 160 tahun yang lalu, sistem pertanian modern (Good Agricultural Practices) mulai diperkenalkan di sini. Jember—yang dalam arti bahasa lokalnya sebenarnya merujuk pada daerah basah atau rawa-rawa—ternyata memiliki kantong-kantong lahan kering yang luar biasa ramah bagi tanaman tembakau.

“Dulu, para pengusaha Belanda meraup keuntungan yang sangat masif dari perkebunan di Jember ini. Saking bernilainya, tembakau Besuki Na-Oogst sampai dijuluki sebagai ‘Daun Emas’ atau ‘Emas Hijau’ yang tumbuh di persawahan,” kisah Dr. Iryono dengan binar bangga.

Bahkan dalam catatan sejarah keemasannya, luas lahan tembakau di Jember pernah menyentuh angka fantastis, yakni 36.000 hektar—hampir setengah dari total kapasitas wilayah Jember saat itu. Catatan ini mengukuhkan Jember di posisi elite sebagai salah satu dari tiga kota cerutu utama di Indonesia, bersanding dengan Deli (Sumatera Utara) dan Klaten (Jawa Tengah).

Decak Kagum dan Sentuhan Kemanusiaan di Tiap Helai

Matahari makin beranjak naik ketika rombongan peserta—termasuk Bupati Jember—tiba di lokasi utama perkebunan. Alunan musik hiburan tradisional dan sajian kuliner lokal segera menyambut kehadiran mereka, mencairkan suasana hangat di tengah ladang.

Bagi banyak peserta, terutama mereka yang baru pertama kali menginjakkan kaki di perkebunan tembakau Jember, momen ini menghadirkan experience yang membuat mereka terpukau. “Gila, seru banget! Gua sampai kaget, ternyata pohon tembakau itu tinggi-tinggi banget dan ukuran daunnya luar biasa gede,” ujar salah satu peserta sembari sibuk mengabadikan momen untuk diunggah di Instagram.

Di sela-sela aktivitas menjelajah kebun, panitia JKCI 2025 bersama Bapak Dr. Bebeb A.K. Nugraha Djunjunan meluangkan waktu untuk melakukan aksi sosial dan berbagi bersama para petani lokal.

“Ini adalah bagian dari tanggung jawab kita yang memahami industri ini untuk merawat budaya lokal sekaligus memperhatikan petani lokal. Kalau petaninya sehat dan sejahtera, maka seluruh ekosistem industri cerutu ini pasti akan berjalan dengan sangat baik,” ungkap Bapak Bebeb dengan bijak.

Petualangan Berikutnya

Setelah puas mengeksplorasi hamparan kebun, menikmati makan siang, dan bercengkerama langsung dengan sejarah hidup sang daun emas, rombongan bersiap untuk bergerak ke lokasi kedua yang hanya berjarak beberapa menit dari Ambulu. Petualangan hari kedua ini masih menyimpan banyak cerita tersembunyi yang siap digali.

Melihat langsung bagaimana selembar daun dirawat dari tanah Jember hingga menjadi cerutu premium di jemari kita menimbulkan rasa hormat yang mendalam terhadap setiap isapan yang kita nikmati.

Sampai jumpa di catatan perjalanan JKCI berikutnya: Salam Cigar, Salam Sehat, Salam Bahagia!

Sumber tulisan: kunjungan kami saat acara berlangsung dan youtube O’Sersan