Post

Industri Cerutu Indonesia: Potensi Besar di Tengah Tantangan Global

Industri cerutu di Indonesia memiliki sejarah panjang yang berakar dari kejayaan komoditas tembakau Nusantara. Sejak awal abad ke-20, tembakau Indonesia telah dikenal luas di pasar internasional karena kualitasnya yang khas. Namun hingga hari ini, perkembangan industri cerutu nasional masih menghadapi berbagai tantangan, mulai dari regulasi hingga persaingan global.

Awal Mula Industri Cerutu di Indonesia

Perkembangan industri cerutu di Indonesia dapat ditelusuri sejak sekitar tahun 1918, ketika komoditas tembakau dari Nusantara mulai mendapatkan pengakuan di pasar internasional. Pada masa itu, berbagai fasilitas pengolahan tembakau mulai dibangun, terutama di wilayah Jawa Tengah dan Jawa Timur, yang dikenal sebagai pusat perkebunan tembakau berkualitas tinggi.

Pabrik-pabrik tersebut tidak hanya memproduksi cerutu, tetapi juga melakukan proses sortasi dan pengolahan daun tembakau untuk kemudian diekspor ke berbagai negara. Daun tembakau Indonesia—seperti dari daerah Jember, Besuki, dan Deli—memiliki karakter unik yang membuatnya banyak digunakan sebagai bahan pembungkus (wrapper) maupun filler dalam industri cerutu dunia.

Pada masa itu, perdagangan tembakau menjadi salah satu sektor yang sangat menguntungkan dan berkontribusi besar terhadap ekspor Indonesia.

Produksi Tembakau Indonesia di Panggung Dunia

Indonesia saat ini termasuk salah satu produsen tembakau terbesar di dunia. Dalam beberapa laporan industri, Indonesia sering disebut sebagai salah satu dari lima produsen tembakau terbesar secara global, bahkan produksi nasionalnya melampaui beberapa negara yang terkenal di dunia cerutu seperti Kuba dalam hal volume tembakau mentah.

Pada tahun 2019, produksi tembakau Indonesia mencapai sekitar 269.803 ton, meningkat dibandingkan beberapa tahun sebelumnya. Namun, seperti banyak sektor lainnya, industri ini sempat mengalami penurunan produksi pada 2020 dan 2021 akibat dampak pandemi COVID-19 yang memengaruhi distribusi, ekspor, dan aktivitas ekonomi secara umum.

Meskipun demikian, kualitas tembakau Indonesia tetap diakui secara global, terutama untuk jenis tembakau cerutu yang digunakan oleh banyak produsen internasional.

Pasar Cerutu Domestik yang Masih Kecil

Menariknya, meskipun Indonesia memiliki jumlah perokok yang sangat besar, pasar cerutu domestik masih relatif kecil dibandingkan dengan pasar rokok. Hal ini membuat pertumbuhan industri cerutu dalam negeri berjalan lebih lambat dibandingkan negara-negara produsen cerutu lainnya.

Namun dalam beberapa tahun terakhir, mulai terlihat tren pertumbuhan minat terhadap cerutu, terutama sejak sekitar 2017. Beberapa produsen lokal mulai mencoba strategi baru dengan menargetkan konsumen muda dan pemula, memperkenalkan cerutu dengan ukuran lebih kecil, rasa yang lebih ringan, serta harga yang lebih terjangkau.

Pendekatan ini perlahan membantu memperluas basis konsumen cerutu di Indonesia.

Persaingan dengan Industri Cerutu Global

Dalam skala global, industri cerutu Indonesia masih menghadapi persaingan kuat dari perusahaan-perusahaan besar yang telah lama mendominasi pasar dunia. Beberapa perusahaan multinasional bahkan memiliki pendapatan yang jauh lebih besar dibandingkan nilai ekspor tembakau Indonesia.

Salah satu contohnya adalah Scandinavian Tobacco Group, perusahaan asal Denmark yang merupakan salah satu produsen tembakau olahan terbesar di dunia. Pada tahun 2020, perusahaan ini mencatat pendapatan sekitar USD 963 juta.

Selain itu, pasar cerutu premium global juga didominasi oleh perusahaan-perusahaan besar seperti:

  • Habanos S.A. (Kuba)
  • General Cigar Company (Amerika Serikat)
  • Imperial Brands (Inggris)
  • Swedish Match (Swedia)

Kondisi ini menimbulkan pertanyaan penting bagi masa depan industri cerutu Indonesia: apakah Indonesia akan terus menjadi pemasok bahan baku tembakau, atau mulai membangun merek cerutu nasional yang mampu bersaing di pasar global.

Tantangan Regulasi dan Kampanye Anti-Rokok

Industri tembakau global mulai menghadapi tekanan besar sejak 1990, ketika berbagai organisasi kesehatan internasional termasuk WHO mulai mengkampanyekan gerakan anti-merokok karena dampaknya terhadap kesehatan.

Di Indonesia sendiri, industri tembakau juga menghadapi berbagai kebijakan pemerintah seperti:

  • kenaikan cukai rokok hampir setiap tahun,
  • pembatasan iklan produk tembakau,
  • serta kampanye kesehatan publik terkait bahaya merokok.

Menurut Abdul Kahar Muzakir, seorang ahli tembakau cerutu sekaligus pendiri BIN Cigar, kondisi tersebut membuat perkembangan industri cerutu non-rokok di Indonesia menjadi tidak mudah.

Usulan Pembentukan Dewan Tembakau Nasional

Dalam tulisannya yang berjudul “Challenges and Opportunities for Cigar Tobacco Agribusiness”, Herry Budiarto mengemukakan gagasan penting mengenai masa depan industri tembakau Indonesia.

Ia menyarankan pembentukan Dewan Tembakau Nasional yang berfungsi sebagai lembaga independen untuk:

  • melakukan penelitian dan pengembangan industri tembakau
  • mengoordinasikan para pemangku kepentingan
  • membantu merumuskan kebijakan industri yang lebih terarah
  • mendukung kesejahteraan petani tembakau

Dengan adanya lembaga semacam ini, diharapkan industri tembakau—termasuk cerutu—dapat berkembang lebih terstruktur dan berkelanjutan.

Dampak Pandemi dan Perubahan Konsumsi

Pandemi COVID-19 juga memberikan dampak yang berbeda pada berbagai produk tembakau. Penjualan rokok mengalami penurunan volume pada tahun 2020, sementara tembakau iris (fine cut tobacco) justru mengalami peningkatan permintaan. Produk ini memiliki basis konsumen yang besar, terutama di daerah pedesaan, di mana tembakau sering disajikan bersama kertas rokok dalam berbagai acara sosial dan pertemuan keluarga.

Menariknya, permintaan terhadap cerutu tetap relatif stabil, bahkan menunjukkan pertumbuhan kecil selama periode pandemi. Meskipun jumlah konsumennya jauh lebih sedikit dibandingkan rokok, para penikmat cerutu cenderung merupakan konsumen loyal yang tetap membeli produk tersebut meskipun kondisi ekonomi sedang sulit.

Masa Depan Cerutu Indonesia

Melihat potensi tembakau berkualitas yang dimiliki Indonesia, industri cerutu nasional sebenarnya memiliki peluang besar untuk berkembang lebih jauh. Dengan dukungan kebijakan yang tepat, investasi yang lebih besar, serta pengembangan merek lokal yang kuat, bukan tidak mungkin cerutu Indonesia dapat memperoleh posisi yang lebih penting di pasar global.

Jika langkah-langkah tersebut dapat diwujudkan, produsen cerutu lokal memiliki peluang untuk tumbuh dan bersaing dengan perusahaan-perusahaan besar dunia, sekaligus mengangkat kembali kejayaan tembakau Nusantara di industri cerutu internasional.

Dari Marketplace ke Website Sendiri: Cerita Bertahan di Dunia Cerutu Saat dan Setelah COVID-19

Awal Pandemi dan Order Meningkat

Tahun 2020 sampai 2022 adalah masa yang sulit bagi banyak orang. Tapi di tengah situasi pandemi COVID-19, ada momen yang justru membuat penjualan cerutu kami meningkat cukup drastis. Saat itu order datang hampir setiap hari dan notifikasi berbunyi dari dua platform besar: Tokopedia dan Shopee.

Waktu itu aturan untuk produk tembakau dan cerutu di marketplace belum seketat sekarang. Tetapi menurutku bukan hanya itu faktor utamanya. Ada momentum yang ikut mendorong semuanya berjalan begitu cepat.

Saat lockdown diberlakukan, orang-orang dibatasi untuk keluar rumah. Banyak yang tidak bisa nongkrong di coffee shop, pergi ke bar, atau sekadar menikmati malam di luar rumah. Aktivitas hiburan berubah total, mereka dipaksa untuk berdiam diri di rumah tak tahu sampai kapan, bosan. Mereka mencoba alternatif untuk membuat rileks, kemudian cerutu menjadi salah satu alternatif kecil untuk menikmati waktu di rumah.

Pada rentang masa covid dan di berlakukan lockdown itulah BRC membawa momentum meluncurkan cerutu robusto seri Mylockdown, launching cerutu ini sebagai pembakar semangat buat para penggiat cerutu dan industri tembakau.

My Lockdown, terinspirasi ditengah pembatasan karena pandemi

Aku melihat banyak orang yang sebelumnya bukan penikmat cerutu mulai mencoba membeli secara online. Mereka punya waktu lebih banyak di rumah, punya sedikit ruang untuk menikmati sesuatu dengan lebih pelan. Sebagian membeli hanya karena penasaran, sebagian lagi benar-benar menikmati pengalaman baru itu.

Pada masa itu, omset kami benar-benar naik dibanding tahun-tahun sebelumnya.


Setelah Pandemi: Mengalami Penurunan

Tetapi seperti halnya banyak momentum bisnis, tidak semuanya bertahan selamanya.

Setelah pandemi mulai mereda, penjualan tentu mengalami penurunan. Pembeli yang sebenarnya bukan pencerutu perlahan hilang. Mereka kembali ke rutinitas normal. Namun ada juga kabar baiknya. Sebagian pembeli ternyata mulai serius menikmati cerutu dan beralih dari rokok ke cerutu; terasa beda dan mereka bisa membuat jeda, kapan saat yang tepat menikmatinya. Mereka inilah yang kemudian menjadi repeat order.

Di sisi lain, tantangan baru mulai muncul.

Sekitar tahun 2023 sampai 2024, marketplace mulai menaikkan komisi penjualan. Tidak hanya itu, beberapa toko yang menjual produk tembakau, rokok, dan cerutu mulai terkena banned atau pembatasan permanen. Ruang gerak kami sebagai agen cerutu resmi menjadi semakin sempit.


Ketika Marketplace Tidak Lagi Sehat

Lalu masuk ke tahun 2024 hingga 2025, fee komisi dari marketplace semakin tinggi. Angkanya cukup besar, bahkan bisa mencapai 10 sampai 15 persen. Bagi bisnis niche seperti cerutu, margin keuntungan menjadi sangat tipis.

Di titik itu aku mulai berpikir bahwa kami tidak bisa terus bergantung pada marketplace.

Akhirnya kami memutuskan membangun website sendiri: Griyacerutu.com

Tentu saja membangun website bukan berarti traffic langsung datang begitu saja. Aku harus mulai belajar banyak hal yang sebelumnya tidak pernah benar-benar kupelajari secara serius. Mulai dari desain website, tampilan halaman produk, pengalaman pengguna, hingga bagaimana menyajikan tulisan yang membuat pengunjung betah membaca cerita di dalamnya.

Sedikit demi sedikit aku belajar memahami bahwa website berbeda dengan toko online. Website adalah rumah digital yang terus di rawat.


Belajar Membangun Rumah Digital

Kami mulai memperkenalkan website melalui Instagram. Lewat story, caption, dan link yang kami bagikan perlahan. Follower mulai mengunjungi website. Sebagian datang untuk memastikan, sebagian lain langsung melakukan order cerutu.

Pelan, tetapi terasa lebih sehat.

Sekarang, di tahun 2025–2026, menurutku ruang menjual cerutu lewat marketplace hampir mustahil. Regulasi semakin ketat dan pembatasan semakin jelas. Karena itu satu-satunya cara yang paling masuk akal adalah membangun platform sendiri melalui website.

Karena itulah aku mulai rutin membuat konten tulisan dan cerita.

Bukan hanya tentang cerutu, tetapi juga tentang kopi, perjalanan, suasana desa, slow living, dan pengalaman menikmati waktu dengan lebih tenang.

Aku menyebutnya:

“Discover Stories of Cigar, Coffee, and Slow Journeys with Us.”


Angin Segar untuk Dunia Cerutu Indonesia

Di tengah semua tantangan itu, ada kabar baik tentunya yang membuatku optimis.

Beberapa produsen cerutu di Jember mulai mengeluarkan varian baru dengan kualitas yang jauh lebih baik dibanding sebelumnya. Menurutku ini menjadi angin segar bagi dunia cerutu Indonesia. Perlahan kualitas meningkat, pilihan semakin menarik, dan penikmat cerutu di Indonesia juga mulai tumbuh dengan selera yang lebih matang.

Perjalanan ini masih panjang.

Tetapi sekarang aku mulai memahami bahwa membangun sesuatu yang bertahan lama memang membutuhkan proses yang pelan, konsisten, dan penuh cerita.

The Best Seller Award 2023

Cara Memadukan Cerutu dan Kopi

Ada sebuah ungkapan populer di kalangan pecinta kopi: hari yang buruk dengan kopi tetap lebih baik daripada hari yang baik tanpa kopi. Bagi banyak orang, kopi sudah menjadi tradisi rutinitas harian—sama halnya dengan cerutu bagi para aficionado.

Ketika berbicara tentang pairing minuman dengan cerutu, kebanyakan orang langsung memikirkan whisky, bourbon, atau beer. Namun sebenarnya ada pasangan lain yang tak kalah menarik: kopi dan cerutu. Kombinasi ini bahkan bisa dinikmati kapan saja, baik di pagi hari maupun setelah makan malam.

Mengapa Kopi dan Cerutu Cocok Dipadukan?

Kopi dan tembakau memiliki banyak kesamaan, mulai dari asal geografis hingga proses produksinya.

Baik kopi maupun tembakau sangat dipengaruhi oleh faktor tanah, iklim, dan lingkungan tempat tanaman tumbuh. Kondisi tersebut berperan besar dalam menentukan karakter rasa dan kualitas hasil akhirnya.

Proses pengolahannya juga memiliki kemiripan. Daun tembakau yang melalui proses curing mengalami perubahan kimia yang mirip dengan biji kopi saat natural process atau washed process. Walaupun durasi prosesnya berbeda, reaksi kimianya memiliki pola yang serupa.

Selain itu, keduanya juga memiliki kesamaan dalam cara kita menikmatinya. Baik cerutu maupun kopi mampu merangsang indera penciuman dan perasa, menghadirkan kompleksitas aroma serta rasa yang membuat pengalaman menikmatinya menjadi lebih mendalam.

Prinsip Dasar Pairing Kopi dan Cerutu

Cerutu biasanya digambarkan melalui tasting notes, seperti:

  • nutty
  • creamy
  • woody
  • bitter-sweet
  • spicy-herbs

Sementara itu, kopi juga memiliki karakter rasa yang mirip dan biasanya dikategorikan sebagai:

  • floral
  • bitter
  • mellow
  • acidic

Kunci utama pairing antara kopi dan cerutu adalah menemukan keseimbangan antara kekuatan (strength) dan kompleksitas (body) rasa dari keduanya.

Sebagai contoh:

  • Cerutu yang terlalu full-bodied dipadukan dengan kopi yang terlalu ringan bisa membuat rasa kopi tertutup oleh karakter tembakau.
  • Sebaliknya, kopi yang sangat kuat dapat mendominasi cerutu yang terlalu mild.

Karena itu, penting untuk memilih kombinasi yang saling melengkapi agar keduanya dapat dinikmati secara maksimal.

Pairing yang Bersifat Personal

Seperti pairing cerutu dengan minuman lainnya, tidak ada aturan mutlak dalam memadukan cerutu dengan kopi. Selera setiap orang berbeda, dan pengalaman pairing yang ideal sering kali ditemukan melalui eksplorasi pribadi.

Namun secara umum, memilih cerutu dan kopi dengan tingkat kekuatan yang seimbang akan membantu menciptakan pengalaman yang lebih harmonis.

Dengan sedikit percobaan, Anda mungkin akan menemukan kombinasi kopi dan cerutu yang menjadi favorit pribadi—berikut panduan cepat untuk sajian kopi dan pairing cerutu yang cocok:

Espresso dan Cerutu Full-Bodied

Espresso dikenal memiliki rasa yang kuat, pekat, dan intens. Karakter kopi seperti ini sangat cocok dipadukan dengan cerutu yang memiliki body penuh (full-bodied).

Cerutu dengan profil rasa yang kaya seperti earthy, spicy, atau cocoa akan berpadu baik dengan kekuatan espresso. Kombinasi ini sering menjadi pilihan bagi para penikmat cerutu yang ingin pengalaman rasa yang lebih bold dan kompleks.

Espresso juga cocok dinikmati setelah makan malam, menjadikannya pasangan alami untuk cerutu yang lebih kuat.

Cappuccino atau Latte dengan Cerutu Creamy

Jika Anda lebih menyukai kopi dengan tekstur lembut seperti cappuccino atau latte, maka cerutu dengan karakter rasa yang lebih mild hingga medium biasanya menjadi pasangan yang lebih seimbang.

Kopi dengan susu memiliki rasa creamy yang halus. Karena itu, cerutu dengan profil rasa seperti:

  • creamy
  • nutty
  • cedar
  • sedikit manis

akan menciptakan pengalaman pairing yang harmonis tanpa membuat salah satunya terlalu dominan.

Kombinasi ini sering menjadi pilihan ideal untuk pagi hari atau sore santai.

Kopi Hitam Medium Roast dan Cerutu Medium Body

Medium roast coffee menawarkan keseimbangan antara acidity, sweetness, dan bitterness. Karakter ini menjadikannya pasangan yang fleksibel untuk cerutu medium-bodied.

Cerutu dengan profil rasa seperti:

  • toasted nuts
  • cocoa ringan
  • woody notes

akan berpadu dengan baik dengan kopi jenis ini. Pairing seperti ini sering dianggap sebagai titik tengah yang aman bagi mereka yang baru mulai bereksperimen dengan kopi dan cerutu.

Kopi Nusantara dan Cerutu Indonesia

Bagi penikmat cerutu di Indonesia, pairing yang menarik tentu saja melibatkan kopi lokal.

Indonesia dikenal memiliki berbagai kopi dengan karakter unik, seperti:

Gayo Coffee – Aceh

Kopi Arabika dari dataran tinggi Gayo terkenal dengan body yang kuat, aroma earthy, serta sentuhan rasa herbal dan cokelat. Profil ini sangat cocok dipadukan dengan cerutu medium hingga full-bodied yang memiliki karakter woody atau cocoa.

Toraja Coffee – Sulawesi

Kopi Toraja memiliki kompleksitas rasa yang tinggi, dengan kombinasi earthy, spicy, dan sedikit fruity acidity. Karakter ini cocok dipasangkan dengan cerutu yang memiliki profil spice dan leather, sehingga menciptakan pengalaman rasa yang lebih berlapis.

Kintamani Coffee – Bali

Arabika Kintamani memiliki karakter yang unik dengan acidity cerah, serta aroma citrus dan fruity yang segar. Kopi ini biasanya diproses dengan metode wet processing, menghasilkan rasa yang bersih dan ringan. Pairing yang cocok adalah cerutu ringan hingga medium yang memiliki karakter cedar atau creamy.

Kopi Ijen–Raung – Jawa Timur

Wilayah pegunungan Ijen–Raung menghasilkan dua jenis kopi utama:

  • Arabika Ijen–Raung
    Memiliki aroma floral, acidity yang bersih, serta sentuhan rasa citrus dan caramel ringan. Kopi ini cocok dipadukan dengan cerutu mild hingga medium-bodied yang memiliki karakter creamy atau nutty.
  • Robusta Ijen–Raung
    Dikenal dengan body yang tebal, rasa cokelat pahit, serta karakter earthy yang kuat. Profil ini sangat cocok dipadukan dengan cerutu maduro atau cerutu dengan body kuat.

Kopi Argopuro – Jawa Timur

Pegunungan Argopuro menghasilkan kopi Arabika dan Robusta dengan karakter yang berbeda:

  • Arabika Argopuro
    Memiliki profil rasa mild hingga medium body, dengan aroma cokelat, kacang, dan sedikit fruity acidity. Cocok dipadukan dengan cerutu medium yang memiliki karakter woody atau nutty.
  • Robusta Argopuro
    Memiliki body yang kuat, rasa bold dan earthy, dengan bitterness yang lebih tegas. Kopi ini cocok dipasangkan dengan cerutu full-bodied seperti maduro.

Pairing kopi lokal dengan cerutu Indonesia juga memberikan pengalaman yang lebih autentik karena keduanya berasal dari terroir tropis yang serupa.

Eksplorasi Adalah Kunci

Seperti banyak hal dalam dunia cerutu, pairing kopi dan cerutu adalah perjalanan eksplorasi rasa.

Tidak ada satu kombinasi yang dianggap paling benar. Beberapa orang mungkin lebih menyukai kopi ringan dengan cerutu medium, sementara yang lain menikmati kopi kuat dengan cerutu yang lebih kompleks.

Yang terpenting adalah mencoba berbagai kombinasi hingga Anda menemukan pairing yang paling sesuai dengan selera Anda.

Karena pada akhirnya, baik kopi maupun cerutu memiliki satu kesamaan: keduanya dibuat untuk dinikmati secara perlahan—memberi ruang untuk menghargai aroma, rasa, dan momen yang tercipta di antaranya.

Mengenal Asal-usul Cerutu dan Wilayah Tembakau Terbaik di Dunia

Panduan untuk Penikmat Cerutu Pemula

Cerutu bukan sekadar tembakau yang digulung dan dihisap. Di balik setiap batang cerutu terdapat sejarah panjang, tradisi, serta karakter rasa yang terbentuk dari tanah tempat tembakau itu tumbuh. Bagi para penikmat cerutu, memahami asal-usul dan wilayah produksi tembakau adalah langkah awal untuk lebih menghargai setiap hisapan.

Awal Mula Cerutu

Jejak cerutu dapat ditelusuri hingga peradaban kuno suku Maya di Amerika Tengah. Mereka dikenal sebagai masyarakat pertama yang menggulung daun tembakau dan menghisapnya. Kata cigar sendiri dipercaya berasal dari kata “sikar”, istilah dalam bahasa Maya yang berarti menghisap daun tembakau yang digulung.

Ketika bangsa Eropa mulai menjelajahi dunia baru, tembakau pun ikut ditemukan. Pada tahun 1492, penjelajah Spanyol Christopher Columbus tiba di Kepulauan Bahama dan menerima hadiah dari penduduk lokal berupa daun kering beraroma khas. Awalnya daun tersebut dianggap tidak berguna, bahkan sempat dibuang ke laut.

Namun ketika rombongan Columbus melanjutkan perjalanan ke Cuba, mereka melihat masyarakat setempat menggunakan daun tembakau tersebut dengan cara dihisap. Kebiasaan ini kemudian dibawa kembali ke Eropa dan perlahan menjadi populer di seluruh benua. Dalam beberapa dekade, cerutu telah menyebar luas dan menjadi bagian dari budaya sosial masyarakat Eropa.

Kuba: Tanah Legendaris Cerutu

Jika ada satu negara yang identik dengan cerutu, jawabannya hampir pasti Cuba. Negara ini dikenal sebagai tanah kelahiran cerutu premium dengan reputasi yang telah terbangun selama berabad-abad.

Iklim tropis yang hangat, suhu rata-rata sekitar 23°C, serta tanah yang kaya mineral menjadikan Kuba tempat ideal untuk menanam tembakau berkualitas tinggi. Teknik budidaya dan produksi cerutu di negara ini bahkan telah diwariskan dari generasi ke generasi sejak masa pemerintahan Philip II of Spain.

Tembakau Kuba terkenal memiliki karakter rasa yang kuat, kompleks, dan penuh rempah, sering kali disertai nuansa floral yang khas.

Republik Dominika: Pusat Cerutu Modern

Selain Kuba, Dominican Republic kini menjadi salah satu produsen cerutu terbesar di dunia. Perkembangan industri cerutu di negara ini semakin pesat ketika banyak ahli tembakau Kuba pindah ke sana setelah embargo perdagangan Amerika Serikat terhadap Kuba.

Perpaduan pengalaman para torcedor Kuba dan kondisi tanah yang subur membuat Republik Dominika berkembang menjadi pusat produksi cerutu premium dengan karakter rasa yang lebih halus dan seimbang.

Nikaragua dan Honduras: Karakter Tembakau yang Kuat

Dua negara di Amerika Tengah, Nicaragua dan Honduras, juga dikenal sebagai produsen cerutu dengan karakter yang khas.

Di Nikaragua, kota Estelí sering dijuluki sebagai ibu kota cerutu. Tanah vulkanik di wilayah ini kaya akan nutrisi, menghasilkan tembakau dengan karakter manis, earthy, dan kompleks.

Sementara itu di Honduras, wilayah Jamastran Valley menjadi pusat budidaya tembakau. Banyak cerutu premium dari negara ini menggunakan benih tembakau asal Kuba yang menghasilkan profil rasa kuat dengan sentuhan pedas.

Amerika Serikat dan Warisan Tembakau Connecticut

Meski sering dianggap hanya sebagai pasar cerutu, United States juga memiliki sejarah panjang dalam budidaya tembakau cerutu.

Wilayah Connecticut River Valley terkenal dengan tembakau shade-grown wrapper yang menghasilkan pembungkus cerutu berwarna terang dan halus. Selain itu, varietas Connecticut Broadleaf yang ditanam di bawah sinar matahari sering digunakan sebagai wrapper untuk cerutu maduro yang lebih gelap dan kaya rasa.

Indonesia: Surga Tembakau di Tanah Vulkanik

Bagi pecinta cerutu, Indonesia memiliki tempat istimewa dalam peta tembakau dunia. Tanah vulkanik yang subur serta iklim tropis menjadikan negeri kepulauan ini sangat cocok untuk budidaya tembakau berkualitas tinggi.

Sejarah tembakau di Indonesia berawal sejak masa penjelajahan Ferdinand Magellan pada abad ke-16, namun produksi besar-besaran baru berkembang pada masa kolonial Belanda pada abad ke-19.

Pulau Sumatra terkenal dengan tembakau wrapper berkualitas tinggi yang banyak digunakan dalam cerutu premium dunia. Sementara itu di Jawa Timur, khususnya wilayah Jember, tembakau Besuki menjadi salah satu varietas yang sangat dihargai oleh industri cerutu.

Tembakau Besuki bahkan dibedakan menjadi dua jenis panen:
• Vroege Oogst (VO) – panen awal
• Na Oogst (NO) – panen akhir dengan karakter aroma manis dan lebih aromatik

Menikmati Cerutu dengan Perspektif Baru

Setiap cerutu memiliki cerita yang berbeda. Tanah tempat tembakau tumbuh, iklim yang mempengaruhi tanaman, hingga teknik pengolahan yang diwariskan turun-temurun semuanya berkontribusi pada karakter rasa yang kita nikmati.

Bagi para penikmat cerutu, memahami asal-usul tembakau bukan hanya menambah pengetahuan, tetapi juga memperkaya pengalaman saat menikmati setiap batang cerutu.

Karena pada akhirnya, cerutu bukan sekadar asap yang perlahan menghilang di udara—melainkan perjalanan rasa yang berasal dari berbagai penjuru dunia.

Food and Cigar Pairing: Menikmati Cerutu Saat Dinner

Ada sebuah tradisi menarik yang dikenal sebagai “Cigar Dinner.” Acara ini biasanya berupa makan malam khusus di mana para tamu tidak hanya menikmati hidangan dan minuman berkualitas, tetapi juga cerutu yang dapat dinikmati sepanjang acara.

Namun sejak berbagai negara mulai memberlakukan larangan merokok di ruang tertutup, tradisi ini perlahan mengalami penurunan. Meski begitu, konsep menikmati cerutu bersama makanan tetap menjadi bagian menarik dalam budaya cerutu di berbagai komunitas.

Tradisi Cigar Dinner

Tradisi cigar dinner berkembang terutama di United States, di mana acara makan malam ini dirancang untuk menciptakan suasana elegan sekaligus santai. Para tamu berkumpul untuk merayakan the good life—menikmati makanan lezat, wine berkualitas, dan cerutu pilihan.

Acara seperti ini biasanya memiliki nuansa formal. Para tamu mengenakan smoking jacket atau bahkan black tie, yang menambah kesan eksklusif pada malam tersebut.

Dalam beberapa acara, setiap hidangan bahkan dipasangkan dengan jenis cerutu yang berbeda. Namun tidak semua orang memilih untuk merokok cerutu sambil makan. Bagi sebagian penikmat, cerutu justru lebih nikmat dinikmati setelah hidangan selesai. Pada akhirnya, pilihan ini sepenuhnya kembali pada preferensi masing-masing.

Prinsip Dasar Food and Cigar Pairing

Konsep pairing antara makanan dan cerutu sebenarnya tidak jauh berbeda dengan pairing makanan dan wine/ coffee. Kunci utamanya adalah keseimbangan struktur dan intensitas rasa.

Beberapa prinsip dasarnya adalah:

  • Cerutu ringan dan berukuran kecil sebaiknya dipasangkan dengan hidangan yang tidak terlalu kompleks.
  • Cerutu dengan body yang lebih kuat atau format yang lebih besar cocok dipadukan dengan makanan yang memiliki rasa lebih kuat dan struktur lebih kaya.

Tujuannya adalah agar rasa makanan dan cerutu saling melengkapi, bukan saling mendominasi.

Tips Umum Pairing Cerutu Saat Dinner

Berikut beberapa panduan sederhana yang bisa digunakan ketika mencoba food and cigar pairing saat makan malam.

1. Hindari saus terlalu berminyak atau asam

Bumbu yang terlalu berminyak atau memiliki tingkat keasaman tinggi dapat merusak keseimbangan rasa cerutu.

2. Batasi jumlah cerutu

Idealnya, jumlah cerutu yang dinikmati dalam satu acara makan malam tidak lebih dari tiga batang. Hal ini penting agar palate tidak terlalu lelah dan tetap bisa menikmati profil rasa dengan baik.

3. Cerutu ringan untuk aperitif

Jika acara dimulai dengan aperitif atau minuman pembuka, pilihlah cerutu dengan body ringan agar tidak terlalu mendominasi rasa.

4. Pasta dengan cerutu medium body

Hidangan pasta biasanya cocok dipadukan dengan cerutu medium-bodied yang memiliki struktur rasa seimbang.

5. Daging panggang

Menu seperti steak atau chops yang dipanggang sangat cocok dipadukan dengan cerutu medium-bodied dengan karakter rasa yang cukup kuat.

6. Seafood

Hidangan laut seperti lobster, udang, kerang, atau tiram juga dapat dipasangkan dengan cerutu medium body agar rasa laut yang lembut tetap terasa.

7. Game meat dan smoked meat

Untuk hidangan dengan karakter rasa kuat seperti daging buruan atau daging asap, cerutu full-bodied adalah pasangan yang ideal karena mampu menyeimbangkan intensitas rasa makanan tersebut.

Menemukan Kombinasi Favorit Anda

Pairing cerutu dengan makanan sebenarnya adalah pengalaman eksplorasi. Tidak ada aturan yang benar-benar kaku—yang terpenting adalah menemukan kombinasi rasa yang paling sesuai dengan selera Anda.

Bagi sebagian orang, cerutu setelah makan malam tetap menjadi pilihan terbaik. Namun bagi yang ingin mencoba pengalaman berbeda, pairing cerutu dengan hidangan tertentu bisa membuka dimensi rasa baru yang menarik.

Cerutu dan Dessert: Kombinasi yang Tidak Selalu Mudah

Memadukan cerutu dengan hidangan penutup sebenarnya cukup menantang. Hal ini karena profil rasa dessert biasanya sangat kontras dengan karakter cerutu.

Rasa manis yang kuat pada dessert sering kali bertabrakan dengan rasa tembakau, rempah, atau earthy dari cerutu. Oleh karena itu, banyak penikmat cerutu memilih menghindari dessert jika mereka berencana melanjutkan cerutu setelah makan malam.

Namun jika tetap ingin mencoba pairing, pilihan yang lebih aman biasanya adalah dessert yang sederhana seperti:

  • Dark chocolate
  • Buah segar
  • Sorbet atau dessert ringan berbasis buah

Jenis makanan ini memiliki rasa yang tidak terlalu kompleks sehingga masih dapat berpadu dengan karakter cerutu.

Cigar pairing:

Cerutu dengan ukuran kecil dan body ringan cocok untuk tahap pembuka karena tidak terlalu membebani palate.


Contoh Sajian

Contoh hidangan berupa olahan mie atau spagheti dengan taburan keju dan lada hitam yang khas. Hidangan ini biasanya dipadukan dengan red wine muda dengan body medium.

Untuk tahap ini, cerutu dengan body medium menjadi pilihan yang ideal agar tidak mengalahkan rasa pasta.


Contoh hidangan utama adalah olahan daging bumbu selada atau steak. Hidangan ini memiliki rasa yang kuat dan biasanya dipasangkan dengan red wine yang full-bodied dan berstruktur.

Cigar pairing:

Cerutu dengan body lebih kuat akan mampu menyeimbangkan karakter rasa daging dan wine yang intens.


Coffee dan Digestif

Setelah hidangan utama, acara biasanya ditutup dengan secangkir kopi, teh atau minuman soda

Pada tahap ini, cerutu yang lebih kuat dan aromatik sering menjadi pilihan yang tepat untuk menemani suasana santai setelah makan malam.

Cigar pairing:


Kesimpulan

Dalam dunia cerutu, pairing dengan makanan sebenarnya memiliki dua pandangan utama: ada yang percaya bahwa cerutu dan makanan bisa saling melengkapi, dan ada juga yang berpendapat bahwa cerutu sebaiknya dinikmati setelah makan.

Apa pun pandangannya, konsep Cigar Dinner pada dasarnya adalah perayaan gaya hidup yang menghargai rasa, tradisi, dan momen kebersamaan. Melalui artikel ini kita telah melihat beberapa prinsip dasar pairing serta contoh menu makan malam yang dipadukan dengan cerutu.

Pada akhirnya, pairing terbaik tetaplah yang paling sesuai dengan selera pribadi. Dunia cerutu selalu membuka ruang eksplorasi—dan setiap kombinasi baru bisa menghadirkan pengalaman yang berbeda

12 Tahap Sortasi Daun Tembakau: Seni Menentukan Kualitas Cerutu Sejak dari Lembarannya

Di balik sebatang cerutu dengan taste sempurna, ada proses panjang yang jarang terlihat. Bukan hanya soal menanam dan memanen, justru tentang bagaimana setiap lembar daun tembakau diperlakukan dengan prosedur bertahap.

Di dunia cerutu premium, kualitas tidak ditentukan secara instan. Ia lahir dari proses seleksi berlapis—bahkan sejak daun masih lembaran basah. Salah satu tahap paling krusial adalah sortasi, di mana setiap daun dinilai, dipilah, dan ditempatkan sesuai peruntukkannya.

Menariknya, dalam praktik di pabrik pengolahan—termasuk sentra tembakau di Jember—terdapat hingga 12 tahap sortasi yang dilakukan secara bertahap dan penuh ketelitian.


1. Sortasi Ukuran

Langkah awal adalah memisahkan daun berdasarkan ukuran.
Daun yang lebih lebar dan utuh biasanya memiliki potensi sebagai wrapper (kulit luar cerutu), sementara yang lebih kecil digunakan sebagai filler.


2. Warna Dasar

Warna awal daun menjadi indikator pertama kualitas curing.
Daun dengan warna cokelat merata menandakan proses pengeringan yang baik, namum perlu ada sortasi lanjutan. Sementara warna yang tidak merata – hijau kekuningan berarti belum matang, perlu perhatian lebih lanjut.


3. Sortasi Letak Daun

Setiap daun memiliki karakter berbeda tergantung posisinya di batang:

  • Kaki (bawah)Volado: ringan, mudah terbakar
  • TengahSeco: seimbang, kaya aroma
  • Pucuk (atas)Ligero: kuat, tinggi nikotin

Tahap ini menentukan peran daun dalam komposisi cerutu.


4. Kesap – Klimis

Istilah lokal ini menggambarkan kondisi permukaan, elastisitas, dan minyak alami daun:

  • Klimis: berminyak, lentur, berkualitas tinggi – banyak digunakan sebagai wrapper
  • Kesap: kering, cenderung kaku – banyak digunakan sebagai filler

5. Ketebalan (Tipis – Sedang – Tebal)

Ketebalan daun mempengaruhi fleksibilitas dan fungsi:

  • Tipis → wrapper
  • Sedang → binder
  • Tebal → filler

6. Tekstur Daun

Daun dengan permukaan rata dan serat halus lebih ideal, terutama untuk estetika cerutu premium.

  • Rata → ideal untuk wrapper
  • Tebal/urat kasar → filler

7. Tua – Muda

Tingkat kematangan saat panen sangat berpengaruh:

  • Daun matang → rasa lebih kompleks
  • Daun muda → lebih ringan, kurang berkarakter

8. Halus – Kasar

Permukaan daun kembali diperiksa:

  • Halus → nilai tinggi, premium
  • Kasar → biasanya diturunkan grade-nya

Sortasi ini spesifik untuk menentukan grade wrapper


9. Bersih – Kotor

Seleksi ini memastikan daun bebas dari:

  • Jamur
  • Noda
  • Kerusakan akibat kutu

Tahap eliominasi pada daun kualitas rendah


10. Warna Dasar Kedua

Setelah melalui proses lanjutan seperti fermentasi awal, warna daun diperiksa kembali. Perubahan warna bisa terjadi dan mempengaruhi kualitas akhir.


11. Warna Jadi

Ini adalah tahap penentuan warna final:

  • Terang hingga gelap
  • Menentukan karakter visual dan segmentasi cerutu

Warna akhir sering menjadi daya tarik pertama sebelum cerutu dinikmati.


12. Tambangan (Sortasi Akhir)

Tahap terakhir adalah penyempurnaan:

  • Pengelompokan akhir
  • Penentuan fungsi: wrapper, binder, atau filler
  • Penyesuaian kualitas sebelum masuk produksi

Di sinilah nilai ekonomi daun benar-benar ditentukan.


Lebih dari Sekadar Daun

Melihat 12 tahap ini, kita memahami bahwa cerutu bukan sekadar produk, melainkan hasil dari proses pengulangan, konsistensi, dan rasa.

Setiap lembar daun membawa kemungkinan—dan hanya melalui proses seleksi yang bertahap, ia bisa mencapai kualitas terbaiknya. Dalam dunia cerutu, kualitas bukan hasil kebetulan. Ia adalah akumulasi dari keputusan-keputusan kecil yang dilakukan dengan konsisten.


Bagi para penikmat cerutu, memahami proses ini memberi perspektif baru: bahwa setiap hisapan bukan hanya tentang rasa, tetapi juga tentang perjalanan panjang dari daun yang dipilih dengan cermat.

Di situlah letak kenikmatannya—pada detail yang tidak selalu terlihat namun terasa.

The Ambassador: Elegan Performa Gagah

Di dunia cerutu, ada beberapa momen yang terasa seperti pertemuan pertama dengan karakter baru—penuh rasa penasaran dan ekspektasi. Salah satu momen itu hadir ketika The Ambassador Grand Corona Tubos dari BIN Cigar pertama kali diperkenalkan.

Cerutu ini diluncurkan pada Juli 2022 dalam acara Jember Komunitas Cigar Indonesia IJKCI) di Jember, sebuah kota yang dikenal sebagai salah satu pusat tembakau di Indonesia. Sejak awal kemunculannya, The Ambassador langsung menarik perhatian para penikmat cerutu karena tampilannya yang gagah dan dimensinya impresif.

Dengan panjang mencapai 6,7 inci dan ring gauge 48, cerutu ini memiliki proporsi yang elegan sekaligus berkarakter. Begitu dipegang, permukaan wrapper-nya terasa lembut dan sedikit berminyak, dengan urat daun yang moderat serta semburat kemerahan gelap yang menawan.

Sebelum dinyalakan, aroma yang muncul dari cerutu ini langsung menggoda indera penciuman. Catatan bubuk kakao, tanah lembap, dan karamel terasa jelas pada pre-light aroma. Cap dibuat dengan ketelitian tinggi—ketika dipotong, terbuka dengan rapi dan memberikan cold draw yang halus dan nyaman.

Begitu api menyentuh ujung cerutu, profil rasa mulai berkembang dengan indah. Sejak puff pertama, muncul inti rasa yang familiar namun memikat: kakao, dark cherry, lada hitam, café au lait, baking spices, dan karamel yang creamy. Pada edisi ini, terdapat nuansa kayu cedar yang kering yang terasa lebih dominan, terutama pada bagian akhir hisapan.

Teksturnya terasa tebal dan leathery, memberikan sensasi mulut yang kaya. Sentuhan lada hitam berpadu dengan karakter rempah yang kuat, menjadikan Grand Corona ini salah satu format tubos paling kuat saat ini di serial produk BIN Cigar.

Kompleksitas rasanya terasa jelas dan sangat menyenangkan untuk diikuti. Bahkan aroma asap yang tersisa di udara memiliki manis yang menggoda, membuat pengalaman merokok terasa semakin memikat.

Dari sisi performa, cerutu ini juga menunjukkan kualitas konstruksi yang sangat baik. Burn line lurus, produksi asap di atas rata-rata, draw mudah, dan abu yang terbentuk padat serta bertahan cukup lama di ujung cerutu.

Secara keseluruhan, The Ambassador Grand Corona Tubos adalah cerutu medium-bodied yang menghadirkan keseimbangan antara kekuatan, kompleksitas, dan kenikmatan rasa.

Ritual Minggu: Kopi, Cerutu, dan Menyusun Pikiran


Hari yang Lambat

Hari Minggu pagi ini aku sempat terbangun sebentar. Seperti kebanyakan orang, refleks pertama adalah membuka ponsel dan melihat sekilas apa yang terjadi di dunia. Tapi rasanya masih terlalu nyaman untuk benar-benar bangun. Aku pun kembali menarik selimut dan melanjutkan tidur, membiarkan mimpi yang setengah jalan itu berlalu begitu saja. Kadang mimpi yang tidak selesai justru terasa lucu—nanggung tapi tetap menyenangkan.

Sekitar pukul sebelas aku benar-benar bangun. Cuaca di luar mendung, udara terasa lebih dingin dari biasanya. Saat duduk bersila di lantai keramik kamar, dinginnya langsung terasa di kaki. Mungkin ini efek dari semalam tidur cukup larut setelah menyelesaikan satu artikel cigar review.

Aku belum langsung bergegas ke kamar mandi. Meski sebenarnya sudah cukup kebelet pipis, aku sempat menancapkan charger ke iPhone dan receiver bluetooth agar terisi sebagian baterainya. Setelah itu barulah mandi. Air yang menyentuh tubuh membuat badan kembali segar.

Hari Minggu ini tidak ada agenda mendesak. Orderan craft sudah selesai dikemas, nanti malam tinggal kuantar ke agen ekspedisi. Jadi pagi ini benar-benar terasa lapang.


Kopi, Cerutu, dan Ritme yang Pelan

Aku duduk di kursi kayu dan membuka sebatang cerutu half corona. Namun baru sadar kalau aku belum sarapan. Kue semalam yang masih tersisa di piring segera aku kunyah sambil menyalakan kompor untuk memanaskan air. Dalam hitungan menit air mendidih, lalu kutuangkan ke dripper V60 dengan ukuran mug.

Metode ini memang favoritku. Ritmenya pelan—air menetes sedikit demi sedikit melewati bubuk kopi. Kita dipaksa menunggu. Tapi justru di situ kenikmatannya. Ketika tetesan terakhir turun, suhu kopi biasanya sudah pas: tidak terlalu panas, dan aromanya langsung terasa.

Koreknya pun kunyalakan. Ujung cerutu half corona itu perlahan memerah sempurna. Punggungku kusandarkan pada kursi kayu menghadap keluar rumah.

Rasanya ada satu elemen lagi yang belum lengkap: musik.

Ritual ini selalu terasa lebih pas dengan iringan lagu dari Michael Franks atau Sade. Musik yang lembut, santai, dan tidak terburu-buru—seperti suasana Minggu pagi itu sendiri.

Aku mencabut charger ponsel. Baterainya sudah menunjukkan angka di atas 80 persen. Cukup untuk memutar podcast atau musik dari YouTube sepanjang hari dalam mode layar mati.

Dari headphone bluetooth, alunan lagu demi lagu terdengar jernih dan stereo. Tidak berisik bagi sekitar. Hanya ada aku, kopi, cerutu, dan musik.


Menyusun Pikiran di Hari Minggu

Waktu berjalan tanpa terasa. Satu jam berlalu begitu saja.

Di sela-sela itu, aku sesekali melihat layar ponsel. Dunia ternyata tetap bergerak cepat. Berita internasional menampilkan ketegangan baru konflik perang Rusia – Ukraina: serangan ke berbagai kota besar di Ukraina di barengi dengan Krisis Energi: Konflik memicu lonjakan harga minyak mentah dunia US$113,50 per barel.

Saat membaca berita itu, aku sempat terdiam. Betapa kontrasnya suasana yang sedang aku rasakan dengan realitas di tempat lain.

Di sinilah momen menyusun pikiran itu terjadi.

Ritual sederhana seperti kopi dan cerutu ternyata memberi ruang untuk menata kembali isi kepala. Dalam kesibukan sehari-hari, pikiran sering penuh dengan hal kecil: pekerjaan, pesan masuk, rencana yang belum selesai. Tapi ketika duduk diam, menghirup aroma kopi dan kepulan cerutu, semuanya perlahan melambat.

Aku mulai memikirkan apa saja yang ingin kulakukan minggu ini. Artikel apa yang ingin kutulis. Ide apa yang bisa dikembangkan. Bahkan hal kecil seperti bagaimana mengatur ritme kerja agar tetap sederhana tapi produktif.

Kadang menyusun pikiran tidak membutuhkan tempat mewah. Cukup kursi kayu, secangkir kopi, dan sebatang cerutu.


Mensyukuri Hal-Hal Sederhana

Sementara di belahan dunia lain konflik masih terjadi, kita di Indonesia pada hari Minggu ini masih diberi kesempatan menikmati ketenangan.

Kesempatan untuk bersyukur atas hal-hal sederhana.

Kopi yang hangat.
Cerutu yang perlahan habis terbakar.
Dan waktu yang cukup untuk menata kembali arah langkah.

Mungkin inilah esensi kecil dari sebuah ritual Minggu: berhenti sejenak dari hiruk pikuk dunia, lalu kembali menemukan ritme hidup yang lebih tenang.

Semoga kita semua selalu diberi kesehatan dan semangat untuk menjalani hari-hari ke depan.

Salam dari Griyacerutu.

Malecon 20 Mini Cigarillos: Petualangan Singkat dalam Ukuran Mini

Terkadang kejutan terbaik datang dari ukuran kecil. Itulah kesan pertama ketika melihat Malecon 20 Mini Cigarillos, sebuah rilisan unik dari Besuki Raya Cigar yang kembali menghadirkan inovasi setelah sukses dengan seri El Gaucho Cigars.

Di tengah kesibukan mengembangkan kreasi baru bagi para aficionado setianya, perusahaan cerutu yang berbasis di Jember ini menghadirkan sesuatu yang berbeda—cerutu mini yang tidak hanya praktis, tetapi juga sarat cerita.

Nama Malecon sendiri bukan dipilih tanpa alasan. Ia terinspirasi dari Malecón, sebuah jalan esplanade panjang yang membentang di sepanjang pesisir kota tua Havana. Nama ini menjadi simbol hubungan diplomatik yang telah terjalin antara Indonesia dan Cuba sejak tahun 1960-an—sebuah koneksi sejarah yang kemudian diwujudkan dalam bentuk cerutu kecil penuh karakter.

Melalui Malecon, Besuki Raya Cigar seolah mengajak penikmatnya berimajinasi berjalan di sepanjang tembok laut Havana, menikmati angin laut tropis sambil menghisap cerutu dengan santai.

Begitu cerutu mini ini dinyalakan, pengalaman rasa langsung terasa menyenangkan. Pada awal hisapan, muncul karakter halus dan creamy, memberikan kesan ringan namun tetap kaya. Perlahan, rasa berkembang menuju profil yang lebih kompleks—perpaduan kayu manis dan karamel creamy ringan yang familiar.

Memasuki pertengahan hingga akhir, sensasi espresso mulai terasa lebih dominan, memberikan kedalaman rasa yang elegan. Teksturnya terasa leathery dan cukup tebal, sementara lada hitam menghadirkan sentuhan pedas sedikit yang berpadu dengan mouthfeel rempah yang kaya. Hasilnya adalah perjalanan rasa yang surprisingly kompleks untuk ukuran mini cigarillos.

Seolah membawa imajinasi berkeliling kota tua Havana, sensasi akhirnya terasa santai dan menenangkan—seperti duduk di kursi belakang Chevy Bel Air convertible, menyusuri jalan pesisir dengan mata terpejam menikmati angin laut Karibia.

Malecon mini cigarillos dibuat secara handmade menggunakan daun tembakau pilihan dari wilayah Vuelta Abajo di Pinar del Río—daerah yang dikenal sebagai salah satu penghasil tembakau terbaik di dunia.

Dengan harga sekitar IDR 80.000 per box, cerutu mini ini menawarkan pengalaman yang jauh melampaui ukurannya. Kecil, praktis, namun tetap menghadirkan kompleksitas rasa yang memuaskan.

Bagi para penikmat cerutu yang ingin sesuatu yang berbeda, Malecon 20 Mini Cigarillos adalah hadiah kecil yang layak dicoba. Jangan ragu untuk pesan di Griyacerutu—kotak kecil yang menghubungkan dengan petualangan Anda selanjutnya.

El Gaucho Cigars: Perjalanan Rasa dari Bentang Tropis Dunia

Ada cerutu yang sekadar dinikmati, dan ada cerutu yang membawa cerita. El Gaucho Cigars termasuk dalam kategori kedua—sebuah cerutu yang lahir dari perjalanan panjang melintas berbagai wilayah tembakau terbaik di dunia.

Dengan tagline “we have so far to go”, El Gaucho bukan sekadar produk, melainkan representasi dari pencarian rasa yang tiada henti. Ia memadukan warisan tembakau Indonesia dengan karakter daun dari berbagai negara penghasil tembakau terbaik.

Di dalamnya terdapat filler Dominican Criollo, kemudian dibungkus dengan binder Brazilian Arapiraca yang terkenal kaya karakter, dan akhirnya diselimuti wrapper Ecuadorian Habanos. Semua diracik dan digulung oleh tangan-tangan torcedor berpengalaman yang memahami seni meracik cerutu.

Hasilnya adalah cerutu yang menghadirkan perjalanan rasa dari berbagai sudut Tropical Belt dunia dalam satu batang.


Lahirnya El Gaucho

Cerutu ini resmi diperkenalkan oleh Besuki Raya Cigar pada 30 Maret 2022. Perusahaan yang dipimpin oleh Christian Njoto tersebut meluncurkan seri El Gaucho dalam sebuah acara yang meriah sekaligus momen berkumpulnya para aficionado untuk merayakan lahirnya cerutu yang digadang-gadang akan menjadi salah satu karya ikonik dari Besuki Raya.

Peluncuran ini dihadiri oleh pejabat pemerintah, tokoh publik, serta komunitas afficionado dari berbagai kota seperti Jakarta, Jember, Surabaya, Bandung, hingga Denpasar di Bali.


Dua Seri: Fantastico dan Premium

El Gaucho hadir dalam dua seri utama:

Keduanya mengusung blend tembakau internasional yang memadukan daun dari Ekuador, Kuba, Brasil, Republik Dominika, dan Indonesia. Kombinasi ini memberikan kompleksitas rasa yang sejak awal sudah mendapatkan penilaian tinggi dari para penikmat cerutu.

Namun satu hal yang selalu menjadi ciri khas cerutu dari Besuki Raya adalah kualitas konstruksinya. Wrapper yang halus tanpa cacat, gulungan yang rapat dan presisi, tarikan yang nyaman, serta pembakaran yang stabil menjadi standar yang selalu dijaga.

Pada seri El Gaucho, kualitas tersebut terasa mencapai puncaknya.


Catatan Rasa

Sejak penyalaan pertama, cerutu ini langsung menghadirkan ledakan aroma floral dan herbal yang cukup segar. Perlahan-lahan kekuatan dan kompleksitasnya berkembang seiring membaur asapnya.

Ada nuansa unik ketika dinikmati bersama kudapan pisang bakar oles keju coklat, karakter rasa cerutu ini semakin terasa hidup.

Memasuki pertengahan, profilnya berubah menjadi medium-full bodied, dengan kombinasi rasa manis alami (bitter-sweet), tanah (earthy), sentuhan lada hitam (spicy), serta tekstur creamy yang lembut.

Menjelang akhir, cerutu ini menutup perjalanan rasanya dengan sentuhan kayu manis dan espresso, meninggalkan kesan hangat dan elegan.


Cerutu untuk Dinikmati Perlahan

El Gaucho Fantastico Toro adalah hasil dari pengalaman panjang lebih dari enam dekade dalam dunia tembakau dan cerutu. Ia bukan cerutu yang terburu-buru untuk dihabiskan.

Ambillah waktu. Duduklah dengan nyaman. Seduh secangkir teh pekat hangat, putar musik dari playlist album Jazz di smartphone dan hadapkan speaker bluetooth mengarah ke ruangan – biarkan waktu berjalan perlahan.

Semestinya, El Gaucho bukan tentang cerutu dengan durasi panjang—tetapi juga cerutu yang mengalir bersama waktu Anda.