Post

JKCI 2025: Kolaborasi, Tradisi, dan Komitmen Nyata

Agenda di lokasi utama lahan perkebunan ini adalah perayaan atas hasil bumi Jember yang sesungguhnya. Festival Jember Kota Cerutu Indonesia (JKCI) 2025 mencapai titik gempita yang luar biasa.

Di balik kemegahan yang tersaji, panitia membagikan cerita tentang effort masif tim di balik layar. Area panggung dan lanskap lapangan di tengah kebun ini rupanya telah dipersiapkan sejak 3 bulan sebelum acara dimulai—meliputi persiapan lahan selama 2 bulan dan penataan tanaman tembakau dekoratif selama 40 hari. Sebuah dedikasi luar biasa agar para peserta bisa meresapi keindahan budaya tembakau secara utuh.

Panggung Kolaborasi Lintas Negara dan Lintas Industri

Sesuai dengan semangat “Savoring Tradition, Embracing the Future,” festival hari itu mempertemukan keberagaman dari berbagai belahan dunia dan elemen industri. Tidak tanggung-tanggung, perwakilan dari empat negara sahabat—yaitu Malaysia, Australia, Hong Kong, dan Cina—turut hadir memadati barisan kursi undangan.

Namun, yang membuat JKCI 2025 terasa sangat istimewa adalah kentalnya atmosfer persatuan. Di tempat ini, egosektoral dileburkan. Berbagai pabrikan besar cerutu dan produsen tembakau nasional duduk berdampingan, mulai dari kelompok tani lokal, PTPN, Tembakau Medan, Tarumartani, hingga Wismilak.

“Tahun ini adalah tahun kolaborasi demi Merah Putih. Tidak ada kompetisi di antara kita. Kita semua berkumpul di sini sebagai sesama penyigar dan pemerhati cerutu untuk bersama-sama memajukan tembakau Indonesia,” ujar panitia dengan penuh semangat.

Sentuhan Tradisi Jember yang Memukau

Puncak festival disemarakkan oleh perpaduan seni tradisional dan modern yang memukau mata para tamu internasional. Sesuai temanya, tradisi Jember disajikan secara megah melalui penampilan Jember Fashion Carnaval (JFC) yang ikonik, tarian tradisional Cemara Biru, hingga dentuman musik perkusi khas Jember, MusikPatrol – Beko’Kereng. Kehadiran seni budaya ini seolah mempertegas bahwa tembakau dan kebudayaan lokal di Jember adalah dua hal yang tumbuh beriringan dan tidak bisa dipisahkan.

Komitmen dan Speech Bupati Jember: Tembakau adalah Jiwa Pedesaan

Kemeriahan acara semakin lengkap dengan hadirnya Bupati Jember yang memberikan pidato (speech) penting di atas panggung utama. Beliau menyampaikan apresiasi mendalam atas konsistensi penyelenggaraan JKCI yang membawa dampak nyata bagi daerah.

“Event JKCI ini sangat berarti buat Kabupaten Jember, karena sebuah daerah yang maju biasanya ditandai dengan wisatanya yang juga maju. Selain itu, JKCI adalah event yang berhasil mengorbitkan sektor pertembakauan kita. Tembakau ini adalah industri yang menyerap banyak sekali tenaga kerja, khususnya masyarakat pedesaan, yaitu para petani kita,” ungkap Gus Fawait.

Lebih dari sekadar apresiasi, Pemerintah Kabupaten Jember menegaskan komitmennya untuk terus bersinergi dengan panitia JKCI guna memberikan perlindungan terbaik bagi garda terdepan industri ini. Komitmen nyata tersebut dibuktikan secara simbolis di atas panggung melalui penyerahan kartu asuransi ketenagakerjaan kepada 40.000 petani tembakau di Kabupaten Jember. Sebuah langkah visioner untuk memastikan masa depan para petani lebih terjamin.

Tak Terhentikan oleh Hujan

Meskipun di tengah-tengah acara langit Jember gemerintik – gempita dan antusiasme di outdoor stage sama sekali tidak surut. Di bawah rintik hujan, rangkaian parade budaya tetap berjalan anggun, dan para tamu dari berbagai negara tetap bertahan di tempat duduk mereka dengan senyuman lebar, menikmati setiap momen magis yang tersaji.

Hari kedua JKCI 2025 di lahan Ambulu ini sukses membekaskan kesan mendalam tentang arti sebuah harmoni. Industri cerutu bukan lagi sekadar komoditas asap premium di ruang tertutup, melainkan sebuah jembatan yang menyatukan diplomasi internasional, pelestarian budaya lokal, kolaborasi lintas pabrikan, hingga perlindungan nyata bagi puluhan ribu petani pedesaan.

Bagi kita di GriyaCerutu, puncak acara JKCI 2025 ini memberikan kita alasan untuk bangga pada cerutu nusantara. Di dalam setiap batang yang kita nikmati, ada komitmen sebuah bangsa, keindahan seni budaya, dan jaminan kesejahteraan bagi mereka yang menanamnya.

Maju terus tembakau Indonesia, sejahteralah para petani kita. Salam Cigar, Salam Sehat, Salam Bahagia!


Sumber tulisan: kunjungan kami saat acara berlangsung dan youtube O’Sersan Channel

JKCI 2025: Curing Barn dan Inovasi

Setelah cukup menjelajahi kebun TBN di bawah naungan paranet, perjalanan para peserta Festival Jember Kota Cerutu Indonesia (JKCI) 2025 berlanjut ke destinasi ketiga yang tidak kalah krusial. Ini adalah jembatan yang menghubungkan antara jerih payah di ladang dengan sortasi bahan cerutu: proses pascapanen di dalam gudang pengeringan atau curing barn.

Inovasi Gudang Knockdown dan Rahasia Menguapkan Air

Begitu memasuki area gudang, kami langsung disuguhkan pemandangan struktur bangunan yang unik. Berbeda dengan gudang konvensional zaman dahulu, gudang yang digunakan saat ini telah mendapatkan inovasi modern dan didaftarkan Hak Kekayaan Intelektualnya (HAKI).

Gudang ini menggunakan sistem knockdown (bongkar-pasang) berbahan bambu yang fleksibel. Jika musim panen telah usai, struktur bambunya bisa dibongkar, disimpan, atau dipindahkan ke lokasi lain untuk meminimalkan kerusakan dan memudahkan operasional pertanian. Hebatnya, inovasi desain ini mampu meningkatkan kapasitas tampung ruang hingga 120% sampai 130% lebih banyak dibanding gudang kuno.

Di dalam rumah curing inilah keajaiban sains terjadi secara alami. Lembaran daun tembakau yang baru dipetik dari pohon dalam kondisi hijau segar akan melewati beberapa tahapan teknis:

  • Proses Sujen dan Dolok: Daun-daun hijau tersebut ditusuk dan diikat (sujen) dalam satu untaian (renceng) dengan jumlah presisi, yaitu 30 lembar daun. Untaian ini kemudian diletakkan di atas penopang (tatang) dengan jarak tidak lebih dari 30 cm untuk menjaga sirkulasi udara, sebelum nantinya dikelompokkan ke dalam bilah bambu (dolok) di mana satu dolok berisi empat renceng daun.
  • Pertaruhan Angka dan Air: Satu kamar gudang ini mampu menampung hingga 520 tali renceng. Jika diakumulasikan, total bobotnya setara dengan 7 kintal daun basah, yang setelah mengering hanya akan menyisakan sekitar 70 kilogram tembakau kering. Artinya, sekitar 90% kandungan di dalam daun tembakau segar murni berbentuk air yang harus diuapkan secara perlahan di dalam gudang ini.
  • Proses Perubahan Warna (Curing): Untuk mengubah daun dari hijau segar menjadi cokelat matang, tembakau membutuhkan waktu rata-rata 20 hingga 22 hari melalui sistem pengeringan udara (air-curing). Kuncinya ada pada pengaturan kelembapan udara. Kelembapan tinggi hanya ditoleransi pada dua hari pertama. Setelah itu, kelembapan harus diturunkan secara ketat ke angka 70% hingga 80% agar lamina (badan daun) perlahan berubah warna dari hijau, menguning, hingga menjadi cokelat sempurna, diikuti oleh bagian gagang daun yang mengering. Setelah lamina dan gagang benar-benar kering, daun baru boleh diturunkan untuk masuk ke tahap sortasi (pemilahan) dan fermentasi.

Edukasi Mindful Smoking: Menikmati dengan Imajinasi dan Penghargaan

Di sela-sela penjelasan teknis di dalam rumah curing, terselip sebuah refleksi mendalam mengenai esensi dari festival JKCI itu sendiri. Panitia menekankan bahwa kekuatan terbesar dari perhelatan tahunan ini bukanlah sekadar pesta pora, membakar cerutu mahal, makan mewah, atau bernyanyi bersama. Nilai paling berharga yang dibawa pulang oleh setiap peserta ke daerah asal mereka adalah edukasi dan respek.

Menikmati cerutu premium sejatinya adalah sebuah aktivitas mindful. Ketika kita menyulut sebatang cerutu, kita diajak untuk menggunakan imajinasi dan menarik garis ingatan kita mundur ke belakang: membayangkan bagaimana cerutu tersebut berawal dari sebutir benih kecil di rumah semai, dirawat intensif selama puluhan hari di ladang, diuji oleh cuaca, digantung dengan presisi di dalam rumah curing, hingga akhirnya digulung oleh tangan terampil para torcedor.

“Prosesnya sangat panjang dan membutuhkan effort (usaha) yang luar biasa besar dari teman-teman petani lokal. Itulah mengapa kita harus memberi penghargaan tertinggi pada setiap batang cerutu yang kita nikmati dan kita bakar,” ungkap panitia memberi pesan kuat agar kita tidak menyia-nyiakan setiap hembusan.

Testimoni Peserta Perdana: “Amazing and Incredible Day”

Keseruan hari kedua tidak berhenti pada teori saja. Panitia bahkan menantang para peserta untuk merasakan langsung sensasi menjadi pekerja gudang dengan memanjat struktur bambu setinggi lebih dari 3 meter untuk menggantungkan dolok-dolok tembakau ke langit-langit gudang.

Salah seorang peserta wanita yang baru pertama kali hadir di festival JKCI memberanikan diri menerima tantangan ekstrim tersebut. Sambil tersenyum lebar setelah berhasil turun, ia membagikan kesan emosionalnya selama mengikuti rangkaian acara hari itu.

“Naik ke atas tadi rasanya menegangkan tapi seru banget, seperti flashback kala itu! Ini adalah tahun pertama aku datang ke JKCI, dan seluruh rangkaian acaranya benar-benar membuatku terkejut. Mulai dari melihat ladang tembakau yang luas, berinteraksi langsung dengan para petani, sampai melihat proses di dalam gudang ini. This is an amazing, incredible day! Aku pasti ingin kembali lagi tahun depan. Terima kasih untuk BIN Cigar dan JKCI, sukses selalu!” ceritanya penuh antusias.

Bersiap untuk Malam Puncak

Hari kedua yang produktif di area pascapanen ini ditutup dengan sesi foto bersama, makan siang, dan tawa renyah di antara barisan bambu rumah curing. Langkah kaki para peserta kemudian bersiap ditarik menuju rangkaian acara berikutnya pada sore dan malam hari yang menjanjikan atmosfer yang lebih meriah.

Bagi kita di GriyaCerutu, edukasi dari curing barn ini mengetuk kesadaran kita sebagai penikmat. Di balik kemewahan cita rasa sebatang cerutu, ada sains, keringat, pengeringan udara, serta dedikasi tanpa batas dari bumi Jember untuk dunia.

Mari nikmati cerutu Anda hari ini dengan penuh rasa hormat: Salam Cigar, Salam Sehat, Salam Bahagia!


Sumber tulisan: kunjungan kami saat acara berlangsung dan youtube O’Sersan Channel

JKCI 2025: Teknologi Kebun Paranet dan Bahan Cerutu Premium

Melangkah lebih jauh di hari kedua, kali ini kami diajak memasuki sebuah area yang sangat eksklusif dan sarat teknologi: perkebunan tembakau bawah naungan TBN (Tembakau Bawah Naungan).

Bagi para penikmat cerutu, momen ini adalah kesempatan langka karena tidak sembarang orang bisa mendapatkan akses masuk ke area krusial ini. Di sinilah, edukasi sesungguhnya dari hulu ke hilir dimulai.

Sentuhan Teknologi Amerika di Balik Lembaran Wrapper Sempurna

Di dalam kebun yang dinaungi rajutan jaring hitam raksasa (paranet) ini, sebuah rahasia besar dibagikan kepada para peserta. Teknologi modifikasi lahan ini rupanya telah diadaptasi sejak tahun 1984, berkaca dari metode pertanian di Amerika Serikat.

Tujuannya sangat spesifik dan ambisius: menaikkan rasio hasil panen daun wrapper (pembungkus luar) berkualitas premium.

  • Bagaimana cara kerjanya? Jaring paranet yang membentang di atas kebun berfungsi mereduksi intensitas cahaya matahari langsung hingga 30%. Pengurangan cahaya ini sengaja dilakukan untuk menciptakan kelembaban ideal di dalam kebun.
  • Hasilnya? Tanaman tembakau dirangsang untuk menumbuhkan daun yang jauh lebih lebar, tipis, namun tetap lentur. Selain itu, kebersihan daun terjaga dan risiko serangan hama penyakit dapat direduksi secara signifikan. Seluruh struktur paranet ini ditopang kokoh menggunakan jaringan kawat baja agar mampu bertahan dari hantaman angin kencang.
  • Lonjakan Kualitas: Lewat sentuhan teknologi ini, efisiensi kebun melonjak drastis. Jika penanaman biasa hanya menghasilkan sekitar 20% daun yang layak menjadi wrapper, kebun TBN ini mampu mendongkrak hasilnya hingga menyentuh angka 70%.

Lantas, bagaimana dengan sisa daun yang tidak lolos seleksi menjadi wrapper? Di industri tembakau berprinsip: tidak boleh ada tembakau yang terbuang. Sisa daun yang memiliki karakter rasa terlalu kuat (strong) dialokasikan untuk tembakau kunyah (chewing tobacco atau susur). Bahkan, bagian batang atau gagang tembakau yang dikeringkan pun laku keras untuk diekspor ke Belanda sebagai bahan alami sarang burung merpati. Sebuah industri yang benar-benar memanfaatkan seluruh bagian tanaman tanpa sisa.

Pengalaman Pertama Menjadi “Petani Sehari”

Keseruan festival makin memuncak saat para peserta tidak hanya menjadi penonton, melainkan diajak merasakan langsung peluh dan usaha keras para petani di balik sebatang cerutu. Salah satu atraksi wisata yang paling mencuri perhatian adalah kesempatan menjajal alat bajak tanah mekanis (kultivator).

Seorang peserta wanita yang bekerja di industri cerutu membagikan kesan mendalamnya setelah mencoba mengendalikan mesin pembajak tersebut. “Ini pengalaman pertama aku ke JKCI dan bagus banget untuk menambah knowledge. Tadi sempat nyobain pakai kultivator, dan ternyata itu berat banget! Susah jalannya. Jujur, aku jadi makin respek sama effort luar biasa para petani di sini,” ungkapnya dengan penuh decak kagum.

Usia 30 Hari: Pertaruhan di Titik Krusial Tanaman

Menjelang akhir kunjungan di kebun TBN, kami disuguhkan pemandangan barisan tembakau yang menginjak usia tepat 30 hari. Ini adalah fase paling kritis yang menentukan hidup-mati atau berhasil-tidaknya panen.

Tanda tanaman tembakau tumbuh dengan sehat pada fase ini bisa dilihat dari munculnya tekstur berkerut atau ringkel-ringkel pada permukaan daunnya. Kerutan tersebut menandakan bahwa sel-sel daun sedang mengalami proses pembesaran yang masif.

Pada usia 30 hari ini, ketelitian petani diuji. Tanaman sama sekali tidak boleh diberi pupuk lagi karena pemupukan yang terlambat justru akan merusak kualitas petikan pertama. Kunci kesuksesan di fase ini murni bertumpu pada kematangan pengolahan tanah, pemupukan awal, dan manajemen pengairan pada minggu-minggu sebelumnya.

Perjalanan musim tanam kali ini pun bukannya tanpa hambatan. Panitia menceritakan tantangan cuaca ekstrem menjelang JKCI, di mana curah hujan yang tinggi sempat membuat tingkat keasaman tanah (pH) drop di bawah angka 6 dengan kelembapan mencapai 100%. Akibatnya, masa semai benih terpaksa diperpanjang hingga 55 hari sebelum akhirnya siap dipindahkan ke lahan, membuat pertumbuhan tanaman sedikit terlambat dari jadwal normalnya. Namun, berkat evaluasi harian yang ketat sejak usia 5 hari hingga masa penyulaman tanaman yang mati, hamparan TBN ini tetap mampu berdiri rata dan hijau royo-royo.

Lebih dari Sekadar Nyigar dan Bersenang-senang

Catatan perjalanan siang itu di kebun TBN membawa makna baru sebagai ooleh-oleh seluruh peserta. Festival JKCI 2025 sukses membuktikan bahwa acara ini bukan sekadar ajang kumpul-kumpul komunal untuk nyigar (smoking cigar) dan bersenang-senang semata.

Ada muatan edukasi mendalam yang diselipkan di setiap langkah kaki menyusuri kebun. Peserta diajak menghargai proses yang panjang, rumit, dan penuh cinta yang dialami oleh selembar daun tembakau—mulai dari benih kecil di rumah semai, perawatan ketat di bawah naungan paranet, hingga nantinya masuk ke gudang pengeringan untuk difermentasi.

Bagi penikmat di GriyaCerutu, setiap batang cerutu Jember yang kita sulut kini terasa jauh lebih berharga, karena di dalamnya terdapat jalinan teknologi, sejarah ratusan tahun, dan peluh keringat para petani tangguh Indonesia.

Sampai jumpa di kisah perjalanan berikutnya: Salam Cigar, Salam Sehat, Salam Bahagia!


Sumber tulisan: kunjungan kami saat acara berlangsung dan youtube O’Sersan

JKCI 2025: Hamparan Emas Hijau Besuki Na-Oogst Jember

Hari kedua Festival Jember Kota Cerutu Indonesia (JKCI) 2025 membawa kami langsung ke sumber dari segalanya: tanah tempat bertumbuhnya tradisi itu.

Destinasi pertama para peserta pagi itu menuju wilayah legendaris, tepatnya di Kecamatan Ambulu. Sejauh mata memandang, hamparan hijau daun-daun tembakau lebar berdiri kokoh, menyelimuti area perkebunan seluas hampir 3.000 hektar.

Mengenal Besuki Na-Oogst: Sang Wrapper Dunia

Berjalan di antara barisan tanaman, kami mendapatkan wawasan baru yang begitu berharga mengenai tembakau lokal kebanggaan Jember: Besuki Na-Oogst (Bes-NO).

Bagi kalangan awam, tembakau mungkin terlihat sama, tetapi tanah Jember memiliki pembagian karakter yang spesifik. Bes-NO yang ditanam lebih awal ini dirawat dengan perlakuan khusus karena peruntukannya yang krusial, yaitu sebagai wrapper (daun pembungkus luar) cerutu. Kehalusan tekstur dan elastisitas daun di area Ambulu ini menjadikannya salasatu bahan wrapper terbaik di dunia. Berbeda dengan tembakau yang ditanam di area Jember bagian utara pada bulan Juli ke atas, yang biasanya diproyeksikan untuk mengisi bagian binder (pengikat) hingga filler (isi) cerutu – karena memiliki karakter rasa yang lebih kuat.

Romantisme Sejarah “Daun Emas” yang Mendunia

Di tengah kebun, kami beruntung bisa berbincang dengan salah satu pakar yang memahami betul industri ini, Dr. Iryono. Beliau membagikan kisah romantis tentang bagaimana Jember bisa bertransformasi menjadi Kota Cerutu seperti sekarang.

Sejarah mencatat, perjalanan ini dimulai jauh pada tahun 1859 ketika beberapa pengusaha asal Belanda melihat potensi luar biasa dari tanah Jember. Lebih dari 160 tahun yang lalu, sistem pertanian modern (Good Agricultural Practices) mulai diperkenalkan di sini. Jember—yang dalam arti bahasa lokalnya sebenarnya merujuk pada daerah basah atau rawa-rawa—ternyata memiliki kantong-kantong lahan kering yang luar biasa ramah bagi tanaman tembakau.

“Dulu, para pengusaha Belanda meraup keuntungan yang sangat masif dari perkebunan di Jember ini. Saking bernilainya, tembakau Besuki Na-Oogst sampai dijuluki sebagai ‘Daun Emas’ atau ‘Emas Hijau’ yang tumbuh di persawahan,” kisah Dr. Iryono dengan binar bangga.

Bahkan dalam catatan sejarah keemasannya, luas lahan tembakau di Jember pernah menyentuh angka fantastis, yakni 36.000 hektar—hampir setengah dari total kapasitas wilayah Jember saat itu. Catatan ini mengukuhkan Jember di posisi elite sebagai salah satu dari tiga kota cerutu utama di Indonesia, bersanding dengan Deli (Sumatera Utara) dan Klaten (Jawa Tengah).

Decak Kagum dan Sentuhan Kemanusiaan di Tiap Helai

Matahari makin beranjak naik ketika rombongan peserta—termasuk Bupati Jember—tiba di lokasi utama perkebunan. Alunan musik hiburan tradisional dan sajian kuliner lokal segera menyambut kehadiran mereka, mencairkan suasana hangat di tengah ladang.

Bagi banyak peserta, terutama mereka yang baru pertama kali menginjakkan kaki di perkebunan tembakau Jember, momen ini menghadirkan experience yang membuat mereka terpukau. “Gila, seru banget! Gua sampai kaget, ternyata pohon tembakau itu tinggi-tinggi banget dan ukuran daunnya luar biasa gede,” ujar salah satu peserta sembari sibuk mengabadikan momen untuk diunggah di Instagram.

Di sela-sela aktivitas menjelajah kebun, panitia JKCI 2025 bersama Bapak Dr. Bebeb A.K. Nugraha Djunjunan meluangkan waktu untuk melakukan aksi sosial dan berbagi bersama para petani lokal.

“Ini adalah bagian dari tanggung jawab kita yang memahami industri ini untuk merawat budaya lokal sekaligus memperhatikan petani lokal. Kalau petaninya sehat dan sejahtera, maka seluruh ekosistem industri cerutu ini pasti akan berjalan dengan sangat baik,” ungkap Bapak Bebeb dengan bijak.

Petualangan Berikutnya

Setelah puas mengeksplorasi hamparan kebun, menikmati makan siang, dan bercengkerama langsung dengan sejarah hidup sang daun emas, rombongan bersiap untuk bergerak ke lokasi kedua yang hanya berjarak beberapa menit dari Ambulu. Petualangan hari kedua ini masih menyimpan banyak cerita tersembunyi yang siap digali.

Melihat langsung bagaimana selembar daun dirawat dari tanah Jember hingga menjadi cerutu premium di jemari kita menimbulkan rasa hormat yang mendalam terhadap setiap isapan yang kita nikmati.

Sampai jumpa di catatan perjalanan JKCI berikutnya: Salam Cigar, Salam Sehat, Salam Bahagia!

Sumber tulisan: kunjungan kami saat acara berlangsung dan youtube O’Sersan

JKCI 2025: Perhelatan Tahunan Malam Pertama

Jember kembali membuktikan dirinya sebagai sentra bagi masyarakat tembakau. Tanggal 11 Juli yang lalu menjadi penanda dimulainya sebuah perhelatan yang dinanti, sebagai ruang kumpul tahunan: Festival Jember Kota Cerutu Indonesia (JKCI) 2025

Atmosfer hari pertama ini terasa begitu magis. Sejak sore, gerbang festival sudah diramaikan oleh langkah kaki para tamu yang datang dari berbagai penjuru, siap untuk merayakan sebuah tradisi yang terjaga.

Malam itu bukan sekadar acara seremonial, melainkan sebuah ruang silaturahmi yang hidup. Di bawah langit Jember, para supplier, distributor, hingga komunitas penyigar berkumpul melingkari meja, ditemani aroma sedap asap tipis dan hidangan makan malam spesial yang diracik langsung oleh tangan berbakat alumni MasterChef Indonesia

Merawat Sejarah, Memeluk Masa Depan

Ada rasa bangga yang kental saat menatap tema yang diusung tahun ini: Savoring Tradition, Embracing the Future.

Lewat dialog-dialog hangat di sudut acara, tersurat sebuah pesan mendalam. JKCI 2025 bukan hanya tentang menikmati cerutu, melainkan sebuah komitmen untuk menjaga sejarah panjang tembakau Jember sembari melangkah mantap menuju masa depan.

Menariknya, festival kali ini memperluas ruang komunalnya. Jember tidak lagi hanya ingin dikenal lewat cerutunya saja, tetapi juga ingin memamerkan pesona pariwisata, geliat UMKM, dan potensi daerah lainnya. Sebuah ekosistem yang dibangun bersama-sama demi satu tujuan mulia: membawa kesejahteraan langsung untuk petani tembakau lokal.

Malam itu, ruang acara dipenuhi oleh keberagaman yang luar biasa. Mulai dari kehadiran Bapak Dr. Bebeb A.K. Nugraha Djunjunan (Duta Besar RI untuk Yunani), jajaran anggota DPR, hingga sahabat-sahabat komunitas cerutu internasional yang terbang jauh-jauh dari Malaysia, Hong Kong, Afrika Selatan, hingga Australia.

Wajah Baru di Balik Asap Cerutu

Bergeser ke area pameran, mata kami tertuju oleh deretan koleksi terbaik dari Boss Image Nusantara (BIN) Cigar bersama rekanan produksinya. Produk-produk maklon yang dipajang menjadi prestasi kualitas cerutu buatan Indonesia – kini sudah sejajar di panggung dunia.

Di sela-sela semerbak asap, kami sempat berbincang dengan Rian dari CerutuJakarta. Ada sebuah kabar baik yang ia bagikan mengenai tren saat ini. Industri cerutu tanah air kini sedang mengalami peremajaan. “Makin banyak pemula dan anak-anak muda yang mulai belajar nyigar,” ujarnya sembari tersenyum.

Cerutu kini bukan lagi konsumsi eksklusif generasi tua, melainkan gaya hidup baru yang dinamis bagi anak muda kota besar.

Keberagaman ini makin nyata saat kami menuju area kompetisi. Di sana, menikmati cerutu telah melebur batasan gender. Sista-sista penikmat cerutu—salasatunya Bu Nana dari Wismilak Cigar—tampak duduk santai berdampingan dengan para penyigar senior lainnya, menikmati setiap hisapan dengan penuh keanggunan.

Ketegangan di Long Ash Contest

Malam mencapai puncak keseruannya saat Long Ash Contest (Lomba Abu Terpanjang) dimulai. Aturan mainnya sederhana namun butuh ketenangan tingkat tinggi: dalam waktu 25 menit, peserta harus mempertahankan abu cerutu mereka agar tetap panjang, lurus, dan tidak patah saat miring.

Tantangan kali ini terbilang berat karena panitia memilih The Ambassador, sebuah cerutu dengan ukuran yang cukup panjang. Diperlukan presisi, kontrol napas, dan ketenangan terukur untuk menjaganya tetap utuh.

Dunia cerutu selalu ada kejutan. Di tengah ketegangan para afficionado yang sudah ikut festival ini berkali-kali, gelar juara justru jatuh ke tangan seorang pemula yang baru pertama kali mencicipi panggung kompetisi. Saat ditanya apa rahasianya, ia hanya tertawa renyah, “Nggak pakai latihan khusus, modal nekat aja!”. Sebuah pembuktian bahwa adakalanya keberuntungan dan ketenangan alami mengalahkan kebiasaan.

Kejutan di Penghujung Malam: Don Juan untuk Sang Pemula

Sebelum gelaran hari pertama usai, BIN Cigar memberikan sebuah kejutan manis yang memicu penasaran. Soft launching untuk lini produk terbaru mereka: Don Juan.

Mempunyai karakter yang bersahabat, Don Juan hadir sebagai jawaban untuk para penikmat pemula (entry-level) atau mereka yang mencari morning cigar—cerutu ringan untuk menemani secangkir kopi di pagi hari, atau dinikmati di sela-sela jadwal sibuk yang singkat. Kehadirannya seolah menegaskan komitmen industri untuk merangkul pasar kawula muda.

Hari pertama JKCI 2025 berakhir dengan tawa yang renyah dan jabat tangan yang hangat. Ini barulah awal dari sebuah perayaan besar. Masih ada agenda esok yang menjanjikan kisah perkebunan si daun emas.

GriyaCerutu selalu mendukung industri lokal, cerutu tanah air, dan kesejahteraan petani tembakau Indonesia.

Salam Cigar, Salam Sehat, Salam Bahagia!


Sumber tulisan: kunjungan kami saat acara berlangsung dan youtube O’Sersan

Food & Type of Cigar Pairing: Memilih Cerutu yang Tepat untuk Hidangan

Sebagian penikmat cerutu menikmati cerutu sebagai penutup setelah makan malam. Namun ada juga yang memilih menikmati cerutu bersamaan dengan hidangan mereka.

Jika Anda tertarik mencoba pairing cerutu dengan makanan, salah satu cara paling sederhana untuk memulainya adalah dengan memahami jenis dan warna wrapper cerutu. Wrapper adalah daun tembakau terluar pada cerutu yang sangat memengaruhi rasa, aroma, dan karakter keseluruhan cerutu.

Secara umum, kita bisa menyederhanakan jenis cerutu ke dalam tiga kategori utama, ditambah satu kategori tambahan untuk cerutu beraroma.


1. Natural (Regular)

Cerutu Natural, biasanya memiliki warna cokelat muda hingga cokelat sedang dengan profil rasa yang seimbang dan relatif halus.

Karakter cerutu ini bisa dianalogikan seperti rosé wine—fleksibel dan cocok dipadukan dengan berbagai jenis makanan.

Cerutu Natural dapat dinikmati dalam berbagai ukuran, misalnya:

  • Panatela to Half Corona; untuk makan siang singkat
  • Robusto to Churchill; untuk dinner yang lebih panjang dan santai

Jenis cerutu ini cukup serbaguna sehingga bisa dipadukan dengan banyak jenis hidangan tanpa terlalu mendominasi rasa makanan.


2. Maduro

Jika Anda menyukai hidangan dengan rasa kuat seperti daging merah, maka cerutu Maduro bisa menjadi pasangan yang ideal.

Maduro memiliki wrapper berwarna cokelat tua hingga hampir hitam karena melalui proses fermentasi yang lebih lama. Proses ini memberikan karakter rasa yang lebih kaya, lebih manis, dan lebih kuat dibanding wrapper yang lebih terang.

Beberapa hidangan yang cocok dipadukan dengan cerutu Maduro antara lain:

  • Steak, Filet mignon, Hidangan daging dengan saus kaya rasa

Jika ingin mencoba pairing yang lebih berani, cerutu dengan wrapper Oscuro—yang lebih gelap dan kuat—juga dapat dipadukan dengan hidangan seperti lamb atau duck.

Perpaduan antara rasa daging yang kaya dan karakter cerutu Maduro yang intens sering menghasilkan pengalaman pairing yang sangat memuaskan.


3. Candela

Cerutu Candela memiliki wrapper berwarna hijau terang yang dihasilkan dari proses curing cepat yang mempertahankan klorofil pada daun tembakau.

Cerutu ini dikenal memiliki karakter rasa yang:

  • ringan
  • sedikit manis
  • dengan nuansa herbal atau grassy

Karena sifatnya yang ringan dan segar, Candela sangat cocok dipadukan dengan hidangan yang lebih ringan seperti:

  • salad
  • hidangan ayam
  • salad Caesar
  • salad dengan dressing ringan seperti Italian atau bleu cheese

Kombinasi ini menciptakan keseimbangan rasa tanpa membuat cerutu atau makanan saling mendominasi.


4. Flavored Cigars (Kategori Tambahan)

Selain cerutu klasik, ada juga kategori flavored cigars yang memiliki tambahan aroma seperti vanilla, chocolate, rum, atau cherry.

Jenis cerutu ini biasanya paling cocok dipadukan dengan dessert, misalnya:

Beberapa flavored cigars dengan aroma vanilla juga bisa dipadukan dengan dessert seperti custard.


Menemukan Pairing yang Tepat

Memadukan cerutu dengan makanan sebenarnya bukan soal aturan yang kaku, melainkan eksplorasi rasa.

Sebagian orang mungkin lebih suka menikmati cerutu setelah makan, sementara yang lain menikmati pengalaman cerutu bersamaan dengan hidangan mereka.

Yang terpenting adalah memahami karakter cerutu yang Anda pilih—baik dari segi body, wrapper, maupun profil rasa—dan mencocokkannya dengan intensitas hidangan.

Dengan sedikit eksperimen, Anda mungkin akan menemukan pairing yang membuat pengalaman menikmati cerutu menjadi jauh lebih menarik.


Erupsi Raung dan Petani Tembakau Bertahan


Tahun ini tepat 10 tahun kala erupsi Gunung Raung 2015 dikenang sebagai realita bencana alam yang pemberitaannya tak terbatas pada penerbangan yang dibatalkan, abu vulkanik yang sampai ke Bali, dan masyarakat terdampak yang setiap hari harus mengenakan masker dan sebagian masyarakat sekitar memperbaiki atap rumahnya.

Tetapi bagi petani tembakau di wilayah terutama Jember, Bondowoso, dan sekitarnya, erupsi Raung 2015 dikenang dengan istilah lain: mereka menyebutnya Musim Abu.

Turun perlahan dan bergerak menyebar disapu angin bukan datang sebagai bencana yang meledak, gerakan yang senyap perlahan, menempel di atap rumah, menutupi halaman dan yang paling menyakitkan: melekat di daun tembakau yang sedang dibesarkan dengan harapan.

Raung meletus berbulan-bulan. Aktivitasnya memuncak sekitar Juni–Juli 2015 dan terus berlangsung hingga sekitar enam bulan lebih dalam status waspada. Setiap pagi petani bangun bukan untuk merawat tanaman, tetapi menebak arah angin. Sebab arah angin menentukan: hari itu kebun membaik, atau kembali kelabu.

Di beberapa desa, orang-orang mulai hidup berdampingan dengan abu. Menyapu halaman, lantai teras; menjadi rutinitas. Sebagian mereka menutupi properti mereka dengan terpal.

Tetapi tembakau harus dibiarkan terbuka dan tak mungkin di bersihkan tiap hari


Seperti tahun tahun sebelumnya, petani dengan optimis menanam tembakau sampai musim panen tiba. Benih ditebar, lahan dirawat, pupuk dibeli, tenaga kerja dibayar. Semua dilakukan dengan keyakinan bahwa saat panen datang, hasilnya bisa mengembalikan biaya satu musim.

Namun musim 2015 arahnya beda.

Abu vulkanik menempel pada daun. Sebagian daun mengalami perubahan kualitas. Penampilan fisik yang biasanya menjadi penentu mutu mulai terganggu.

Ketika panen tiba, hasil yang mereka bawa tidak lagi bernilai seperti yang dibayangkan. Harga turun.


Kerugian sektor tembakau saat itu diperkirakan mencapai ratusan miliar rupiah. Angka yang sering disebut mencapai sekitar Rp340 miliar. Tetapi angka sebesar itu tidak pernah benar-benar menjelaskan isi dapur petani. Yang mereka tahu hanya satu: musim tak berpihak mereka yang ada adalah tagihan.

Saat itu bertepatan musim kampanye: biasalah janji-janji bantuan, perhatian, dan pembicaraan tentang kompensasi untuk petani terdampak. Tetapi seperti kampanye sebelumnya, menguap di kursi dewan.


Gudang dan pabrikan juga menghadapi persoalan baru. Debu vulkanik yang melekat pada daun memaksa penanganan tambahan.

Abu halus menempel pada permukaan daun dan memerlukan penanganan tambahan agar tidak mengganggu proses berikutnya.

Sortasi diperketat. Pembersihan bertambah. Tenaga kerja meningkat. Biaya produksi naik.

Musim itu menghadirkan situasi yang jarang terjadi: Industri mengeluarkan ongkos lebih besar. Petani menerima harga lebih rendah.


Erupsi Raung 2015 bukan sekadar catatan geologi bagi kawasan tembakau. Ia adalah bagian dari ingatan kolektif petani, tentang musim tembakau dan abu vulkanik.

Food & Cigar Pairing: Memadukan Cerutu dengan Hidangan

Sebagian penikmat cerutu lebih suka menikmati cerutu setelah makan malam. Sebagian lainnya justru menikmatinya sebelum makan, atau bahkan tidak terlalu memikirkan waktu makan sama sekali.

Namun ditemukan pada beberapa komunitas, muncul tren baru di dunia cerutu: memadukan cerutu dengan makanan, mirip seperti pairing antara makanan dengan whisky atau wine.

Tentu saja, tren ini memunculkan dua kubu. Ada yang percaya bahwa makanan dan cerutu dapat saling melengkapi, dan ada juga yang merasa cerutu sebaiknya dinikmati terpisah dari makanan.

Terlepas dari perdebatan tersebut, mencoba pairing cerutu dengan makanan bisa menjadi pengalaman yang menarik. Cerutu sendiri mampu memperkaya momen apa pun, jadi tidak ada salahnya mencoba menemukan kombinasi rasa yang cocok.

Kunci utama dalam food and cigar pairing adalah menyamakan intensitas rasa. Prinsipnya sederhana: padukan rasa yang seimbang.

Sama seperti Anda tidak akan memasangkan red wine dengan salad ringan, cerutu juga sebaiknya dipilih dengan mempertimbangkan karakter hidangan yang akan dinikmati.

Cerutu memiliki profil rasa yang kuat dan bisa meninggalkan aftertaste cukup lama di lidah. Karena itu, memilih makanan yang dapat melengkapi karakter smoky dari cerutu menjadi sangat penting agar keduanya dapat dinikmati secara optimal.

Tujuan akhirnya adalah sederhana: meningkatkan pengalaman rasa dari cerutu dan hidangan secara bersamaan.


Memulai Pairing Cerutu Saat Makan

Banyak aficionado menikmati cerutu di sela-sela hidangan makan malam. Jika Anda makan di restoran atau mengadakan dinner sendiri, pilihan terbaik biasanya adalah cerutu berukuran kecil sekelas Panatela setelah menyelesaikan hidangan pembuka.

Menu pembuka yang ringan—terutama yang terinspirasi dari gaya Mediterranean antipasti—merupakan pasangan yang ideal untuk cerutu ringan. Hidangan seperti:

  • olives
  • cheese
  • smoked meats
  • sayuran segar

memiliki karakter rasa asin dan smoky yang secara alami cocok dengan cerutu kecil-medium seperti Boslucks Half Corona.

Selain itu, cerutu ringan juga dapat membantu menonjolkan kesegaran sayuran atau hidangan pembuka lainnya.


Pairing dengan Hidangan Ringan

Saat memadukan cerutu dengan makanan, hal terpenting adalah tidak membiarkan salah satunya mendominasi.

Hidangan ringan atau creamy seperti:

  • ayam
  • ikan
  • pasta

biasanya lebih cocok dipadukan dengan cerutu yang mellow dan berukuran kecil.

Mini cigars bahkan bisa menjadi pilihan menarik untuk hidangan seperti ini. Beberapa contoh yang sering digunakan dalam pairing ringan adalah:

Hidangan ikan juga merupakan pasangan yang menarik untuk cerutu. Ada alasan mengapa ikan sering diasap dalam proses kuliner—rasa smoky dari cerutu dapat menambah dimensi rasa pada hidangan tersebut.


Pairing dengan Hidangan Daging

Jika Anda memilih cerutu full-bodied, maka pasangan terbaiknya adalah hidangan daging.

Rasa yang kuat dari cerutu jenis ini akan seimbang dengan karakter daging seperti:

  • steak
  • lamb
  • slow roasted meats

Apalagi jika disajikan dengan saus kaya rasa atau kentang creamy.

Ingat prinsip dasar pairing: like with like. Jika Anda menikmati steak berkualitas tinggi, padukan dengan cerutu premium agar rasa dari keduanya tetap seimbang.

Beberapa cerutu yang sering direkomendasikan untuk hidangan steak antara lain:

Untuk pengalaman yang lebih menarik, Anda juga bisa memasukkan minuman pairing ke dalam masakan. Misalnya:

  • menambahkan red wine ke dalam saus atau gravy
  • menggunakan bourbon sebagai glaze pada daging

Cara ini membantu menciptakan kesinambungan rasa antara makanan, minuman, dan cerutu.


Barbecue dan Cerutu

Daging barbecue adalah salah satu pasangan paling alami untuk cerutu.

Karakter smoky dari daging panggang seperti:

  • chargrilled sausages
  • brisket
  • ribs

sangat cocok dengan cerutu yang memiliki profil rasa kuat dan sedikit pedas.

Aroma daging panggang biasanya cukup dominan, sehingga cerutu ringan bisa dengan mudah “tenggelam”. Oleh karena itu, cerutu dengan body lebih berat sering menjadi pilihan yang lebih tepat.

Walaupun barbecue sering diasosiasikan dengan musim panas, hidangan ini juga populer di musim dingin karena sifatnya yang mengenyangkan dan kaya rasa.


Menemukan Pairing Favorit Anda

Seperti banyak hal dalam dunia cerutu, pairing dengan makanan adalah soal eksplorasi selera pribadi.

Tidak ada aturan mutlak yang harus diikuti. Beberapa orang menikmati cerutu setelah makan, sementara yang lain lebih suka mencobanya bersama hidangan tertentu.

Yang terpenting adalah menemukan kombinasi yang membuat Anda menikmati kedua elemen tersebut—baik cerutu maupun makanan—secara maksimal.

Karena pada akhirnya, cerutu selalu tentang menikmati momen dengan lebih baik.

Cara Memadukan Cerutu dan Kopi

Ada sebuah ungkapan populer di kalangan pecinta kopi: hari yang buruk dengan kopi tetap lebih baik daripada hari yang baik tanpa kopi. Bagi banyak orang, kopi sudah menjadi tradisi rutinitas harian—sama halnya dengan cerutu bagi para aficionado.

Ketika berbicara tentang pairing minuman dengan cerutu, kebanyakan orang langsung memikirkan whisky, bourbon, atau beer. Namun sebenarnya ada pasangan lain yang tak kalah menarik: kopi dan cerutu. Kombinasi ini bahkan bisa dinikmati kapan saja, baik di pagi hari maupun setelah makan malam.

Mengapa Kopi dan Cerutu Cocok Dipadukan?

Kopi dan tembakau memiliki banyak kesamaan, mulai dari asal geografis hingga proses produksinya.

Baik kopi maupun tembakau sangat dipengaruhi oleh faktor tanah, iklim, dan lingkungan tempat tanaman tumbuh. Kondisi tersebut berperan besar dalam menentukan karakter rasa dan kualitas hasil akhirnya.

Proses pengolahannya juga memiliki kemiripan. Daun tembakau yang melalui proses curing mengalami perubahan kimia yang mirip dengan biji kopi saat natural process atau washed process. Walaupun durasi prosesnya berbeda, reaksi kimianya memiliki pola yang serupa.

Selain itu, keduanya juga memiliki kesamaan dalam cara kita menikmatinya. Baik cerutu maupun kopi mampu merangsang indera penciuman dan perasa, menghadirkan kompleksitas aroma serta rasa yang membuat pengalaman menikmatinya menjadi lebih mendalam.

Prinsip Dasar Pairing Kopi dan Cerutu

Cerutu biasanya digambarkan melalui tasting notes, seperti:

  • nutty
  • creamy
  • woody
  • bitter-sweet
  • spicy-herbs

Sementara itu, kopi juga memiliki karakter rasa yang mirip dan biasanya dikategorikan sebagai:

  • floral
  • bitter
  • mellow
  • acidic

Kunci utama pairing antara kopi dan cerutu adalah menemukan keseimbangan antara kekuatan (strength) dan kompleksitas (body) rasa dari keduanya.

Sebagai contoh:

  • Cerutu yang terlalu full-bodied dipadukan dengan kopi yang terlalu ringan bisa membuat rasa kopi tertutup oleh karakter tembakau.
  • Sebaliknya, kopi yang sangat kuat dapat mendominasi cerutu yang terlalu mild.

Karena itu, penting untuk memilih kombinasi yang saling melengkapi agar keduanya dapat dinikmati secara maksimal.

Pairing yang Bersifat Personal

Seperti pairing cerutu dengan minuman lainnya, tidak ada aturan mutlak dalam memadukan cerutu dengan kopi. Selera setiap orang berbeda, dan pengalaman pairing yang ideal sering kali ditemukan melalui eksplorasi pribadi.

Namun secara umum, memilih cerutu dan kopi dengan tingkat kekuatan yang seimbang akan membantu menciptakan pengalaman yang lebih harmonis.

Dengan sedikit percobaan, Anda mungkin akan menemukan kombinasi kopi dan cerutu yang menjadi favorit pribadi—berikut panduan cepat untuk sajian kopi dan pairing cerutu yang cocok:

Espresso dan Cerutu Full-Bodied

Espresso dikenal memiliki rasa yang kuat, pekat, dan intens. Karakter kopi seperti ini sangat cocok dipadukan dengan cerutu yang memiliki body penuh (full-bodied).

Cerutu dengan profil rasa yang kaya seperti earthy, spicy, atau cocoa akan berpadu baik dengan kekuatan espresso. Kombinasi ini sering menjadi pilihan bagi para penikmat cerutu yang ingin pengalaman rasa yang lebih bold dan kompleks.

Espresso juga cocok dinikmati setelah makan malam, menjadikannya pasangan alami untuk cerutu yang lebih kuat.

Cappuccino atau Latte dengan Cerutu Creamy

Jika Anda lebih menyukai kopi dengan tekstur lembut seperti cappuccino atau latte, maka cerutu dengan karakter rasa yang lebih mild hingga medium biasanya menjadi pasangan yang lebih seimbang.

Kopi dengan susu memiliki rasa creamy yang halus. Karena itu, cerutu dengan profil rasa seperti:

  • creamy
  • nutty
  • cedar
  • sedikit manis

akan menciptakan pengalaman pairing yang harmonis tanpa membuat salah satunya terlalu dominan.

Kombinasi ini sering menjadi pilihan ideal untuk pagi hari atau sore santai.

Kopi Hitam Medium Roast dan Cerutu Medium Body

Medium roast coffee menawarkan keseimbangan antara acidity, sweetness, dan bitterness. Karakter ini menjadikannya pasangan yang fleksibel untuk cerutu medium-bodied.

Cerutu dengan profil rasa seperti:

  • toasted nuts
  • cocoa ringan
  • woody notes

akan berpadu dengan baik dengan kopi jenis ini. Pairing seperti ini sering dianggap sebagai titik tengah yang aman bagi mereka yang baru mulai bereksperimen dengan kopi dan cerutu.

Kopi Nusantara dan Cerutu Indonesia

Bagi penikmat cerutu di Indonesia, pairing yang menarik tentu saja melibatkan kopi lokal.

Indonesia dikenal memiliki berbagai kopi dengan karakter unik, seperti:

Gayo Coffee – Aceh

Kopi Arabika dari dataran tinggi Gayo terkenal dengan body yang kuat, aroma earthy, serta sentuhan rasa herbal dan cokelat. Profil ini sangat cocok dipadukan dengan cerutu medium hingga full-bodied yang memiliki karakter woody atau cocoa.

Toraja Coffee – Sulawesi

Kopi Toraja memiliki kompleksitas rasa yang tinggi, dengan kombinasi earthy, spicy, dan sedikit fruity acidity. Karakter ini cocok dipasangkan dengan cerutu yang memiliki profil spice dan leather, sehingga menciptakan pengalaman rasa yang lebih berlapis.

Kintamani Coffee – Bali

Arabika Kintamani memiliki karakter yang unik dengan acidity cerah, serta aroma citrus dan fruity yang segar. Kopi ini biasanya diproses dengan metode wet processing, menghasilkan rasa yang bersih dan ringan. Pairing yang cocok adalah cerutu ringan hingga medium yang memiliki karakter cedar atau creamy.

Kopi Ijen–Raung – Jawa Timur

Wilayah pegunungan Ijen–Raung menghasilkan dua jenis kopi utama:

  • Arabika Ijen–Raung
    Memiliki aroma floral, acidity yang bersih, serta sentuhan rasa citrus dan caramel ringan. Kopi ini cocok dipadukan dengan cerutu mild hingga medium-bodied yang memiliki karakter creamy atau nutty.
  • Robusta Ijen–Raung
    Dikenal dengan body yang tebal, rasa cokelat pahit, serta karakter earthy yang kuat. Profil ini sangat cocok dipadukan dengan cerutu maduro atau cerutu dengan body kuat.

Kopi Argopuro – Jawa Timur

Pegunungan Argopuro menghasilkan kopi Arabika dan Robusta dengan karakter yang berbeda:

  • Arabika Argopuro
    Memiliki profil rasa mild hingga medium body, dengan aroma cokelat, kacang, dan sedikit fruity acidity. Cocok dipadukan dengan cerutu medium yang memiliki karakter woody atau nutty.
  • Robusta Argopuro
    Memiliki body yang kuat, rasa bold dan earthy, dengan bitterness yang lebih tegas. Kopi ini cocok dipasangkan dengan cerutu full-bodied seperti maduro.

Pairing kopi lokal dengan cerutu Indonesia juga memberikan pengalaman yang lebih autentik karena keduanya berasal dari terroir tropis yang serupa.

Eksplorasi Adalah Kunci

Seperti banyak hal dalam dunia cerutu, pairing kopi dan cerutu adalah perjalanan eksplorasi rasa.

Tidak ada satu kombinasi yang dianggap paling benar. Beberapa orang mungkin lebih menyukai kopi ringan dengan cerutu medium, sementara yang lain menikmati kopi kuat dengan cerutu yang lebih kompleks.

Yang terpenting adalah mencoba berbagai kombinasi hingga Anda menemukan pairing yang paling sesuai dengan selera Anda.

Karena pada akhirnya, baik kopi maupun cerutu memiliki satu kesamaan: keduanya dibuat untuk dinikmati secara perlahan—memberi ruang untuk menghargai aroma, rasa, dan momen yang tercipta di antaranya.

Nikmati Cerutu dan Momen Puasa dengan Penuh Makna

Kadang, keinginan terhadap makanan bukan cuma soal menikmati rasanya semata. Ada hal lain yang turut memperkaya pengalaman itu—seperti tempat yang nyaman, suasana yang hangat, atau bahkan kerinduan akan orang-orang terdekat. Hal ini juga berlaku bagi kenikmatan merokok cerutu.

Nikmat cerutu sejatinya lebih dari sekadar asap dan rasa; itu tentang suasana di sekitarnya, tahu siapa pembuatnya, dan proses pembuatan yang penuh ketelitian. Seperti Gran Cigarro yang disimpan dua tahun—rasanya luar biasa nikmatnya! Sempurna dinikmati setelah berbuka puasa bersama lauk sederhana ikan asin dan telur, serta dipadukan dengan minuman hangat wedang lemon sereh dan teh rosella yang menyegarkan. Rasanya benar-benar mantap!

Melalui setiap hisapan cerutu, kita diajak mengalami sebuah cerita, menghayati tradisi, dan menyambut kebahagiaan kecil yang membuat momen puasa semakin istimewa.

Selamat menjalankan ibadah puasa, semoga ridho Allah selalu mengiringi langkah dan niat kita.


Untuk informasi lebih lanjut tentang cerutu, Anda bisa mengunjungi:
www.debako.com dan www.griyacerutu.com.