Di dunia cerutu, ada beberapa momen yang terasa seperti pertemuan pertama dengan karakter baru—penuh rasa penasaran dan ekspektasi. Salah satu momen itu hadir ketika The Ambassador Grand Corona Tubos dari BIN Cigar pertama kali diperkenalkan.
Cerutu ini diluncurkan pada Juli 2022 dalam acara Jember Komunitas Cigar Indonesia IJKCI) di Jember, sebuah kota yang dikenal sebagai salah satu pusat tembakau di Indonesia. Sejak awal kemunculannya, The Ambassador langsung menarik perhatian para penikmat cerutu karena tampilannya yang gagah dan dimensinya impresif.
Dengan panjang mencapai 6,7 inci dan ring gauge 48, cerutu ini memiliki proporsi yang elegan sekaligus berkarakter. Begitu dipegang, permukaan wrapper-nya terasa lembut dan sedikit berminyak, dengan urat daun yang moderat serta semburat kemerahan gelap yang menawan.
Sebelum dinyalakan, aroma yang muncul dari cerutu ini langsung menggoda indera penciuman. Catatan bubuk kakao, tanah lembap, dan karamel terasa jelas pada pre-light aroma. Cap dibuat dengan ketelitian tinggi—ketika dipotong, terbuka dengan rapi dan memberikan cold draw yang halus dan nyaman.
Begitu api menyentuh ujung cerutu, profil rasa mulai berkembang dengan indah. Sejak puff pertama, muncul inti rasa yang familiar namun memikat: kakao, dark cherry, lada hitam, café au lait, baking spices, dan karamel yang creamy. Pada edisi ini, terdapat nuansa kayu cedar yang kering yang terasa lebih dominan, terutama pada bagian akhir hisapan.
Teksturnya terasa tebal dan leathery, memberikan sensasi mulut yang kaya. Sentuhan lada hitam berpadu dengan karakter rempah yang kuat, menjadikan Grand Corona ini salah satu format tubos paling kuat saat ini di serial produk BIN Cigar.
Kompleksitas rasanya terasa jelas dan sangat menyenangkan untuk diikuti. Bahkan aroma asap yang tersisa di udara memiliki manis yang menggoda, membuat pengalaman merokok terasa semakin memikat.
Dari sisi performa, cerutu ini juga menunjukkan kualitas konstruksi yang sangat baik. Burn line lurus, produksi asap di atas rata-rata, draw mudah, dan abu yang terbentuk padat serta bertahan cukup lama di ujung cerutu.
Secara keseluruhan, The Ambassador Grand Corona Tubos adalah cerutu medium-bodied yang menghadirkan keseimbangan antara kekuatan, kompleksitas, dan kenikmatan rasa.
Terkadang kejutan terbaik datang dari ukuran kecil. Itulah kesan pertama ketika melihat Malecon 20 Mini Cigarillos, sebuah rilisan unik dari Besuki Raya Cigar yang kembali menghadirkan inovasi setelah sukses dengan seri El Gaucho Cigars.
Di tengah kesibukan mengembangkan kreasi baru bagi para aficionado setianya, perusahaan cerutu yang berbasis di Jember ini menghadirkan sesuatu yang berbeda—cerutu mini yang tidak hanya praktis, tetapi juga sarat cerita.
Nama Malecon sendiri bukan dipilih tanpa alasan. Ia terinspirasi dari Malecón, sebuah jalan esplanade panjang yang membentang di sepanjang pesisir kota tua Havana. Nama ini menjadi simbol hubungan diplomatik yang telah terjalin antara Indonesia dan Cuba sejak tahun 1960-an—sebuah koneksi sejarah yang kemudian diwujudkan dalam bentuk cerutu kecil penuh karakter.
Melalui Malecon, Besuki Raya Cigar seolah mengajak penikmatnya berimajinasi berjalan di sepanjang tembok laut Havana, menikmati angin laut tropis sambil menghisap cerutu dengan santai.
Begitu cerutu mini ini dinyalakan, pengalaman rasa langsung terasa menyenangkan. Pada awal hisapan, muncul karakter halus dan creamy, memberikan kesan ringan namun tetap kaya. Perlahan, rasa berkembang menuju profil yang lebih kompleks—perpaduan kayu manis dan karamel creamyringan yang familiar.
Memasuki pertengahan hingga akhir, sensasi espresso mulai terasa lebih dominan, memberikan kedalaman rasa yang elegan. Teksturnya terasa leathery dan cukup tebal, sementara lada hitam menghadirkan sentuhan pedas sedikit yang berpadu dengan mouthfeel rempah yang kaya. Hasilnya adalah perjalanan rasa yang surprisingly kompleks untuk ukuran mini cigarillos.
Seolah membawa imajinasi berkeliling kota tua Havana, sensasi akhirnya terasa santai dan menenangkan—seperti duduk di kursi belakang Chevy Bel Air convertible, menyusuri jalan pesisir dengan mata terpejam menikmati angin laut Karibia.
Malecon mini cigarillos dibuat secara handmade menggunakan daun tembakau pilihan dari wilayah Vuelta Abajo di Pinar del Río—daerah yang dikenal sebagai salah satu penghasil tembakau terbaik di dunia.
Dengan harga sekitar IDR 80.000 per box, cerutu mini ini menawarkan pengalaman yang jauh melampaui ukurannya. Kecil, praktis, namun tetap menghadirkan kompleksitas rasa yang memuaskan.
Bagi para penikmat cerutu yang ingin sesuatu yang berbeda, Malecon 20 Mini Cigarillos adalah hadiah kecil yang layak dicoba. Jangan ragu untuk pesan di Griyacerutu—kotak kecil yang menghubungkan dengan petualangan Anda selanjutnya.
Hari Minggu pagi ini aku sempat terbangun sebentar. Seperti kebanyakan orang, refleks pertama adalah membuka ponsel dan melihat sekilas apa yang terjadi di dunia. Tapi rasanya masih terlalu nyaman untuk benar-benar bangun. Aku pun kembali menarik selimut dan melanjutkan tidur, membiarkan mimpi yang setengah jalan itu berlalu begitu saja. Kadang mimpi yang tidak selesai justru terasa lucu—nanggung tapi tetap menyenangkan.
Sekitar pukul sebelas aku benar-benar bangun. Cuaca di luar mendung, udara terasa lebih dingin dari biasanya. Saat duduk bersila di lantai keramik kamar, dinginnya langsung terasa di kaki. Mungkin ini efek dari semalam tidur cukup larut setelah menyelesaikan satu artikel cigar review.
Aku belum langsung bergegas ke kamar mandi. Meski sebenarnya sudah cukup kebelet pipis, aku sempat menancapkan charger ke iPhone dan receiver bluetooth agar terisi sebagian baterainya. Setelah itu barulah mandi. Air yang menyentuh tubuh membuat badan kembali segar.
Hari Minggu ini tidak ada agenda mendesak. Orderan craft sudah selesai dikemas, nanti malam tinggal kuantar ke agen ekspedisi. Jadi pagi ini benar-benar terasa lapang.
Kopi, Cerutu, dan Ritme yang Pelan
Aku duduk di kursi kayu dan membuka sebatang cerutu half corona. Namun baru sadar kalau aku belum sarapan. Kue semalam yang masih tersisa di piring segera aku kunyah sambil menyalakan kompor untuk memanaskan air. Dalam hitungan menit air mendidih, lalu kutuangkan ke dripper V60 dengan ukuran mug.
Metode ini memang favoritku. Ritmenya pelan—air menetes sedikit demi sedikit melewati bubuk kopi. Kita dipaksa menunggu. Tapi justru di situ kenikmatannya. Ketika tetesan terakhir turun, suhu kopi biasanya sudah pas: tidak terlalu panas, dan aromanya langsung terasa.
Koreknya pun kunyalakan. Ujung cerutu half corona itu perlahan memerah sempurna. Punggungku kusandarkan pada kursi kayu menghadap keluar rumah.
Rasanya ada satu elemen lagi yang belum lengkap: musik.
Ritual ini selalu terasa lebih pas dengan iringan lagu dari Michael Franks atau Sade. Musik yang lembut, santai, dan tidak terburu-buru—seperti suasana Minggu pagi itu sendiri.
Aku mencabut charger ponsel. Baterainya sudah menunjukkan angka di atas 80 persen. Cukup untuk memutar podcast atau musik dari YouTube sepanjang hari dalam mode layar mati.
Dari headphone bluetooth, alunan lagu demi lagu terdengar jernih dan stereo. Tidak berisik bagi sekitar. Hanya ada aku, kopi, cerutu, dan musik.
Menyusun Pikiran di Hari Minggu
Waktu berjalan tanpa terasa. Satu jam berlalu begitu saja.
Di sela-sela itu, aku sesekali melihat layar ponsel. Dunia ternyata tetap bergerak cepat. Berita internasional menampilkan ketegangan baru konflik perang Rusia – Ukraina: serangan ke berbagai kota besar di Ukraina di barengi dengan Krisis Energi: Konflik memicu lonjakan harga minyak mentah dunia US$113,50 per barel.
Saat membaca berita itu, aku sempat terdiam. Betapa kontrasnya suasana yang sedang aku rasakan dengan realitas di tempat lain.
Di sinilah momen menyusun pikiran itu terjadi.
Ritual sederhana seperti kopi dan cerutu ternyata memberi ruang untuk menata kembali isi kepala. Dalam kesibukan sehari-hari, pikiran sering penuh dengan hal kecil: pekerjaan, pesan masuk, rencana yang belum selesai. Tapi ketika duduk diam, menghirup aroma kopi dan kepulan cerutu, semuanya perlahan melambat.
Aku mulai memikirkan apa saja yang ingin kulakukan minggu ini. Artikel apa yang ingin kutulis. Ide apa yang bisa dikembangkan. Bahkan hal kecil seperti bagaimana mengatur ritme kerja agar tetap sederhana tapi produktif.
Kadang menyusun pikiran tidak membutuhkan tempat mewah. Cukup kursi kayu, secangkir kopi, dan sebatang cerutu.
Mensyukuri Hal-Hal Sederhana
Sementara di belahan dunia lain konflik masih terjadi, kita di Indonesia pada hari Minggu ini masih diberi kesempatan menikmati ketenangan.
Kesempatan untuk bersyukur atas hal-hal sederhana.
Kopi yang hangat. Cerutu yang perlahan habis terbakar. Dan waktu yang cukup untuk menata kembali arah langkah.
Mungkin inilah esensi kecil dari sebuah ritual Minggu: berhenti sejenak dari hiruk pikuk dunia, lalu kembali menemukan ritme hidup yang lebih tenang.
Semoga kita semua selalu diberi kesehatan dan semangat untuk menjalani hari-hari ke depan.
Ada cerutu yang sekadar dinikmati, dan ada cerutu yang membawa cerita. El Gaucho Cigars termasuk dalam kategori kedua—sebuah cerutu yang lahir dari perjalanan panjang melintas berbagai wilayah tembakau terbaik di dunia.
Dengan tagline “we have so far to go”, El Gaucho bukan sekadar produk, melainkan representasi dari pencarian rasa yang tiada henti. Ia memadukan warisan tembakau Indonesia dengan karakter daun dari berbagai negara penghasil tembakau terbaik.
Di dalamnya terdapat filler Dominican Criollo, kemudian dibungkus dengan binder Brazilian Arapiraca yang terkenal kaya karakter, dan akhirnya diselimuti wrapper Ecuadorian Habanos. Semua diracik dan digulung oleh tangan-tangan torcedor berpengalaman yang memahami seni meracik cerutu.
Hasilnya adalah cerutu yang menghadirkan perjalanan rasa dari berbagai sudut Tropical Belt dunia dalam satu batang.
Lahirnya El Gaucho
Cerutu ini resmi diperkenalkan oleh Besuki Raya Cigar pada 30 Maret 2022. Perusahaan yang dipimpin oleh Christian Njoto tersebut meluncurkan seri El Gaucho dalam sebuah acara yang meriah sekaligus momen berkumpulnya para aficionado untuk merayakan lahirnya cerutu yang digadang-gadang akan menjadi salah satu karya ikonik dari Besuki Raya.
Peluncuran ini dihadiri oleh pejabat pemerintah, tokoh publik, serta komunitas afficionado dari berbagai kota seperti Jakarta, Jember, Surabaya, Bandung, hingga Denpasar di Bali.
Keduanya mengusung blend tembakau internasional yang memadukan daun dari Ekuador, Kuba, Brasil, Republik Dominika, dan Indonesia. Kombinasi ini memberikan kompleksitas rasa yang sejak awal sudah mendapatkan penilaian tinggi dari para penikmat cerutu.
Namun satu hal yang selalu menjadi ciri khas cerutu dari Besuki Raya adalah kualitas konstruksinya. Wrapper yang halus tanpa cacat, gulungan yang rapat dan presisi, tarikan yang nyaman, serta pembakaran yang stabil menjadi standar yang selalu dijaga.
Pada seri El Gaucho, kualitas tersebut terasa mencapai puncaknya.
Catatan Rasa
Sejak penyalaan pertama, cerutu ini langsung menghadirkan ledakan aroma floral dan herbal yang cukup segar. Perlahan-lahan kekuatan dan kompleksitasnya berkembang seiring membaur asapnya.
Ada nuansa unik ketika dinikmati bersama kudapan pisang bakar oles keju coklat, karakter rasa cerutu ini semakin terasa hidup.
Memasuki pertengahan, profilnya berubah menjadi medium-full bodied, dengan kombinasi rasa manis alami (bitter-sweet), tanah (earthy), sentuhan lada hitam (spicy), serta tekstur creamy yang lembut.
Menjelang akhir, cerutu ini menutup perjalanan rasanya dengan sentuhan kayu manis dan espresso, meninggalkan kesan hangat dan elegan.
Cerutu untuk Dinikmati Perlahan
El Gaucho Fantastico Toro adalah hasil dari pengalaman panjang lebih dari enam dekade dalam dunia tembakau dan cerutu. Ia bukan cerutu yang terburu-buru untuk dihabiskan.
Ambillah waktu. Duduklah dengan nyaman. Seduh secangkir teh pekat hangat, putar musik dari playlist album Jazz di smartphone dan hadapkan speaker bluetooth mengarah ke ruangan – biarkan waktu berjalan perlahan.
Semestinya, El Gaucho bukan tentang cerutu dengan durasi panjang—tetapi juga cerutu yang mengalir bersama waktu Anda.
FESTIVAL JEMBER KOTA CERUTU INDONESIA (JKCI) 2021 JEMBER, EAST JAVA – 26-28 NOVEMBER 2021
Pada akhir November 2021, udara Jember terasa sedikit berbeda. Aroma cerutu semerbak dengan semangat para pecinta cerutu, pengusaha, dan tamu dari berbagai negara. Selama tiga hari, dari 26 hingga 28 November, kota di ujung timur Jawa Timur ini menjadi tuan rumah Jember Cigar City of Indonesia Festival (JKCI) yang ketiga—sebuah perayaan yang bukan sekadar festival, tetapi juga cerita tentang identitas dan masa depan Jember.
Kota yang Tumbuh Bersama Tembakau
Bagi masyarakat Jember, tembakau bukan hanya komoditas. Ia adalah bagian dari sejarah panjang yang membentuk budaya lokal. Sejak masa kolonial, daerah ini sudah dikenal sebagai penghasil tembakau berkualitas yang diekspor ke berbagai penjuru dunia.
Bupati Jember, Hendy Siswanto, dalam sambutannya pada pembukaan festival, menegaskan bahwa Jember memiliki dua wajah yang saling melengkapi. Di satu sisi, kota ini dikenal luas sebagai kota karnaval berkat Jember Fashion Carnaval. Namun di sisi lain, Jember juga memiliki identitas kuat sebagai kota tembakau dan cerutu.
Di kota ini berdiri sejumlah produsen cerutu nasional yang telah berkontribusi pada industri tembakau Indonesia. Di antaranya adalah Mangli Djaya Raya yang berdiri sejak 1960, Koperasi Kartanegara yang lahir pada 1989, Boss Image Nusantara sejak 2013, serta Dwipa Nusantara Tobacco yang berdiri pada 2019.
Selain itu, dua perusahaan cerutu internasional juga memilih Jember sebagai basis produksinya: Burger Söhne AG dan Villiger Söhne AG. Kehadiran mereka semakin menegaskan posisi Jember sebagai salah satu pusat cerutu di Indonesia.
Festival yang Membuka Pintu Dunia
Festival JKCI bukan sekadar pertemuan pecinta cerutu. Acara ini dirancang sebagai jembatan antara industri tembakau, pariwisata, dan ekonomi kreatif. Melalui festival ini, Jember ingin memperkenalkan potensi daerahnya kepada dunia.
Para tamu datang dari berbagai negara—mulai dari Laos, Nigeria, Peru, Ukraina, hingga Jerman dan Australia. Kehadiran mereka menjadi bukti bahwa cerutu dari Jember mulai mendapat perhatian global.
Menurut Febrian Kahar, Presiden Komisaris PT Boss Image Nusantara sekaligus ketua panitia festival, tema tahun ini adalah “Welcome to Jember”. Tema ini menjadi simbol kebangkitan Jember sebagai kota yang kreatif, produktif, dan terbuka bagi dunia.
Sejak 2019, pemerintah melalui Dewan Perwakilan Daerah Republik Indonesia juga telah menetapkan Jember sebagai Kota Cerutu Indonesia. Predikat ini semakin memperkuat identitas kota yang sebelumnya dikenal sebagai World Carnival City sekaligus pusat kopi robusta di Indonesia.
Pertemuan Ide, Bisnis, dan Budaya
Festival tahun ini dihadiri oleh sekitar 218 peserta. Sebagian besar berasal dari kalangan swasta, pengusaha, serta komunitas pecinta cerutu. Sekitar 12 persen peserta datang dari luar negeri, menjadikan festival ini sebagai ruang pertemuan lintas budaya dan peluang bisnis.
Tak hanya industri cerutu yang ditampilkan. Sekitar 20 pelaku UMKM lokal juga turut diperkenalkan kepada perwakilan beberapa kedutaan yang hadir. Ini menjadi langkah penting untuk memperluas pasar produk unggulan Jember ke luar negeri, dengan Malaysia sebagai salah satu target awal.
Bagi Jember, cerutu bukan hanya produk ekspor. Ia juga menjadi alat diplomasi ekonomi yang membuka peluang baru bagi masyarakat.
Tiga Hari yang Berkesan
Selama tiga hari, festival ini dipenuhi berbagai agenda yang dirancang untuk memberikan pengalaman khas Jember.
Hari pertama dimulai dengan Opening Ceremony dan Welcome Dinner, sebuah momen hangat untuk mempertemukan para tamu dari berbagai negara.
Hari kedua menghadirkan pengalaman unik melalui Cigar Trip—mengajak peserta melihat langsung perjalanan cerutu dari kebun hingga menjadi produk siap nikmati. Hari itu ditutup dengan Sunset Smoking, ketika para tamu menikmati cerutu sambil menyaksikan matahari terbenam di lanskap Jember yang tenang.
Pada hari terakhir, peserta diajak menjelajahi kota melalui Jember Trip, mengenal lebih dekat budaya, kuliner, dan kehidupan masyarakat setempat.
Masa Depan Kota Cerutu
Festival ini sekali lagi membuktikan bahwa Jember bukan sekadar kota kecil di Jawa Timur. Ia adalah tempat di mana tradisi tembakau, kreativitas masyarakat, dan peluang ekonomi bertemu.
Dengan semakin kuatnya branding sebagai kota cerutu, Jember berharap dapat terus menarik wisatawan, investor, dan pecinta cerutu dari berbagai penjuru dunia.
Dan bagi mereka yang pernah datang ke festival ini, satu hal yang pasti: Jember bukan hanya tempat untuk menikmati cerutu—tetapi juga tempat untuk merasakan cerita di baliknya.